
"Aku udah janji sama Holly untuk gak kasih informasi apapun, kamu juga gak pernah nanya... itu aja... gak ada niat lain..."
"Karena aku gak terpikir kalian yang membantu Holly, Nuella sok sedih begitu... pintar kalian main drama di depanku..."
"Nuella gak tau..."
"Bohong... dia ada dengan kalian..."
"Dia gak tahu, Holly juga gak di sini selama ini, Nuella dan Holly belum pernah ketemu lagi sejak Holly pulang dari kampungnya waktu itu..."
"Jadi Holly di mana?"
"Selama ini Holly tinggal di tempat orangtua aku, jagain ponakan aku..."
"Alamatnya di mana..."
"Holly udah gak di sana sekarang..."
"Jangan berputar-putar lagi Rommel... kamu bilang dia kerja jagaian ponakanmu tapi tadi malam mamaku lihat dia dengan seragam katering... gak usah sembunyiin Holly lagi..."
"Aku hanya berusaha menjelaskan, tadi malam dia bantuin kak Keke aja, itu bukan pekerjaan dia sebenernya... tapi tadi pagi dia minta berhenti..."
"Rommel, ini bukan sinetron, ngomong yang jelas..."
Kekesalan Tenry memuncak, tapi ini di luar di depan ruko dan Tenry berusaha menjaga kewarasannya untuk tidak meninju Rommel.
"Apanya yang kurang jelas... Holly berhenti kerja tadi pagi, sekarang dia gak ada di sini..."
"Aneh kan... pas aku nyari dia udah pergi..."
"Gak ada yang aneh, tanya yang di atas kenapa skenarionya kayak gitu... dia pulang ke tempat Hanie... udah sana susul pacarmu biar dramanya gak lebih panjang lagi... kamu udah kayak mau ninju aku dari tadi..."
Rommel masuk ke dalam ruko, dia paling tidak suka jika situasi mulai panas, tidak suka berdebat dengan orang.
Tenry lega mendengar informasi terakhir, lega karena Holly memilih kembali ke toko bukan ke tempat lain yang tak terjangkau, apa dia lelah bersembunyi sekarang...
Tenry memacu kendaraannya lebih cepat dari biasa, hatinya berdebar dan menghangat, gadis itu benar-benar cinta buat dia, berpisah seperti ini membuat dia semakin merasakan cinta itu adalah Holly, Lingling, bukan gadis yang lain.
.
🌱
.
Di toko...
Tenry bertemu Hanie di ujung tangga.
"Lingling di sini kan?"
__ADS_1
"Iya..."
Hanie menepuk bahu Tenry lalu turun ke toko, dia baru membantu Holly mengangkat kopernya. Langkah Tenry panjang-panjang melewati ruangan, desakan rindu dan sayang menggelegak bahkan tumpah sekarang menguasai seluruh indranya.
Pintu kamar tidak tertutup, dan tubuh kecil yang sedang berdiri di depan lemari disambar Tenry langsung masuk sepenuhnya dalam pelukan.
Tak ada kata yang terucapkan selama beberapa detik, Tenry hanya memeluk menyalurkan semua rasa yang dimiliki untuk Holly, kangen dan sayang tercurah sekarang dalam satu definisi, cinta kembali ke tempat terbaiknya, tempat di mana cinta itu harus ada.
Holly hanya berurai airmata saat menyadari kehadiran Tenry, kangen berat pada pelukan ini tapi di sisi lain dia menguatkan hati untuk tidak terhanyut, walau ada rasa takut yang lebih besar tapi sisi hatinya yang merindukan Tenry membiarkan Tenry melakukan ini, Tenry yang memeluk erat dan kemudian menciumi kepalanya berkali-kali.
"My baby... sayangku..."
Ciuman yang terus menerus di seluruh wajahnya, kalimat sayang yang terus diucapkan Tenry untuknya membuat Holly melupakan resah yang tadi berkecamuk dalam hatinya. Kekakuannya luruh kemudian tanpa dia sadari dua tangan kecilnya kini ikut memeluk Tenry, matanya kini menatap wajah yang dirindukan yang hampir tidak pernah lepas dari ingatannya. Dua insan yang menatap dalam cinta, dengan segera perasaan kuat itu menguasai dan mengikat mereka lagi, Tenry perlahan mendekatkan wajahnya lalu mulai menye*sap lembut bibi*r mungil itu... perasaan indah kemudian menjalar ke seluruh jiwa mereka berdua.
Detik-detik mempertemukan rindu, Tenry tak ingin selesai dengan cepat tapi Holly mundur melepaskan diri lalu duduk tertunduk di tempat tidur.
Tenry menatap dengan senyum kecil lalu berjongkok dengan bertumpuh pada sebelah lututnya, belum puas memandang wajah kesayangan. Tangannya langsung terulur mengeringkan airmata di pipi Holly.
"Maaf, Ko Tenry... Holly..."
"Ssst... gak ada yang perlu dimaafkan, semua sudah terjadi dan sekarang kita udah bertemu..."
Tenry memilih gak mengungkit apapun, gak ingin rasa bersalah Holly terangkat ke permukaan, yang terpenting baginya kini adalah menjaga apa yang harus dia jaga, jika Holly gak punya kekuatan itu, dia sendiri yang akan melakukan karena dia gak ingin ada perpisahan lagi.
Holly masih menunduk.
"Holly harus minta maaf, Holly gak tahu mau pergi ke mana jadi Holly datang ke sini. Tapi Holly janji gak akan mengganggu Ko Tenry. Holly hanya minta tolong biarkan Holly tinggal di sini sampai Holly selesai kuliah, Holly cape pergi lagi..."
"Ko Tenry jangan kasih perhatian lagi sama Holly, Holly gak berhak untuk itu..."
Dia pernah berjanji gak akan menangis lagi, tapi kenyataannya dia selalu meneteskan airmata. Dengan jengkel Holly menghapus airmatanya, jengkel karena tidak tahu bagaimana menghentikan tangisnya sendiri.
"Heiii... kenapa ngomongnya aneh begini... ada apa?"
Tangan kanan Tenry menangkat dagu Holly sehingga mata mereka bersitatap.
"Ada apa lagi di sini sekarang? Mikir apa mmm? Harusnya kita saling lepas kangen sekarang..."
Tenry memegang kepala Holly tapi Holly menggeliat melepaskan diri lalu berdiri dan menuju pintu.
"Ko Tenry gak boleh ada di sini... Ko Tenry pulang aja..."
Rasa heran dengan sikap Holly bercampur rasa gemas yang lama tersimpan tapi sadar ada yang tidak beres dengan semua kalimat Holly, Tenry berdiri dan mengejar Holly yang sudah keluar dari kamar.
"Ling... jelasin ke Koko... kenapa Koko gak boleh perhatian sama pacar Koko sendiri, kenapa Koko gak boleh ada di sini bersama pacar Koko..."
Tenry meraih tangan Holly dan menggenggam erat lalu menuntun Holly ke sofa yang ada di situ. Tenry duduk berjongkok di depan Holly dengan dua kakinya mengapit kaki Holly, ingin Holly tidak pergi sebelum menjelaskan padanya. Dua tangannya memegang dua tangan Holly.
"Jelaskan..."
__ADS_1
Holly gak sanggup menantang mata Tenry walaupun lembut tapi begitu menguasai dirinya meminta kejujurannya sekaligus penanda gak akan melepaskan dirinya meskipun dia meminta.
Dengan berat seberat perasaanya Holly berusaha mengucapkan keresahan di hati...
"Ko Tenry udah punya calon istri, Holly akan tetap memegang janji Holly sama Ci Cun untuk gak ngerusak rencana Ci Cun... jadi Ko Tenry bantu Holly, tinggalkan Holly aja, jangan mencari Holly lagi, bantu Holly melupakan Ko Tenry dengan cara itu... karena Holly gak sanggup untuk pergi lagi..."
"Dari mana pikiran bodoh itu, mmm... siapa yang punya calon istri? Emang Lingling tahu apa rencana mama?"
Tenry berkata lembut sambil menggoyangkan dua tangan yang dipegangnya. Pelan Holly mengangkat wajahnya.
"Kalau pun Koko punya calon istri, itu kamu... Lingling aja bukan yang lain. Calon istri Koko itu Holly Yulvyana Chandra... paham sekarang?"
Sesuatu menjalar di dada, rasa senang tak terkira, perkataan Tenry terlalu indah di telinganya, tapi masih ada rasa takut di sebahagian hatinya menghalangi hatinya untuk sepenuhnya bahagia.
"Tapi... semalam, cewek cantik itu bilang... dia calon istri Ko Tenry, dia akrab dengan Ci Cun... itu kan rencana Ci Cun buat Ko Tenry... jangan me..."
Tenry membungkam mulut Holly dengan sebuah kecupan gemas, itu toch alasannya. Astaga pertemuan yang seharusnya indah selalu saja ada ganjelan -gak seru Koko, kalau langsung ketemu gitu aja, langsung cium-cium peluk-peluk, drama dulu lah... pembaca aja paham-
"Gemes deh, Koko... Berapa kali udah Koko bilang, Ci Cun itu baik, mama terbaik buat Koko, gak mungkin mama membuat Koko gak bahagia... mama tahu kebahagiaan Koko adalah bersama Lingling..."
"Ko Tenry gak dijodohkan? Kayaknya cewek itu anak bu Gub..."
"Gak... sayang... semalam itu dia bohong, Koko aja baru kenalan waktu itu, dan semalam Ci Cun nelpon Koko mau bilang bertemu Lingling di sana... tapi Koko gak angkat... jadi baru bertemu hari ini..."
"Ko Tenry..."
Sebuah kecupan lagi, masih gemes....
"Apa Ko Tenry-Ko Tenry dari tadi... panggil Koko... bilang sekarang... Koko..."
Tenry menatap penuh ancaman, mengancam untuk meneruskan ciumannya ke tingkat lain maksudnya karena bibirnya sudah mendekat ke bibir Holly.
"Koko... ahh... udah, dari tahu cium Lingling terus..."
"Hehe... senengnya... pacar Koko kembali..."
Gak mungkin ditahan lah ya... ciuman tetap disegerakan, sekian bulan gak melakukan itu...
"Kita nikah aja yaa?"
"Hahhh?"
Holly mendorong bahu Tenry dengan semua kekuatannya hingga Tenry terjengkang ke lantai.
"Astaga... Lingling..."
.
🦋
__ADS_1
.