Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 79. Kalau Kita Nikah


__ADS_3

Holly memandang dengan mata terpesona pada semua yang ada di ruangan yang sangat besar ini. Semua keindahan dan kemilau gemerlap menunjukkan kemegahan tempat resepsi yang ditangkap indranya masuk di otaknya, mendorong dirinya untuk semakin memimpikan tentang pernikahan. Alam pikirannya mulai berisi segala macam fantasi tentang semua ini.


"Koko..."


Holly berbisik... sudah ada keluarga besar Tenry di sekitar mereka. Resepsi baru akan dimulai satu jam lagi, mereka baru saja tiba dari tempat Pemberkatan Nikah Beyvie dan Yongky.


"Apa sayang..."


Tenry mencondongkan kepalanya dekat dengan kepala Holly, mereka duduk berdua dekat dengan meja penerima tamu undangan.


"Kalau kita nikah... di sini juga?"


Tenry memandang Holly dan ingin tertawa. Tapi Holly sibuk mengagumi tangga yang ada di ujung ruangan ini yang penuh dengan bunga warna putih di dua dua sisinya sampai ke lantai atas, di mana pasangan penganten sebentar akan keluar dari sana. Matanya menulusuri bentangan bunga kiri kanan membentuk lorong sampai ke bagian puade yang sungguh cantik.


Apa yang ada dalam pikirannya, sejak tadi banyak bertanya dengan menyertakan kalimat 'kalau kita nikah'?


Tenry membatin sebelum menjawab.


"Mungkin aja... kita belum tahu kan... lihat gimana nanti ya?"


Holly menutup mulutnya, si Koko sejak tadi hanya sekedar menjawab gak pernah serius menanggapi pertanyaannya. Raut kecewa muncul, binar harap di mata dengan cepat meredup. Sekarang tubuh kecil itu menjauh dari Tenry, tatapan mengarah ke tempat lain. Perlahan tangannya dia tarik dari genggaman Tenry, dan menjadi kesal sendiri karena Tenry beralih mengeluarkan ponselnya dan fokus pada benda itu sekarang.


Katanya udah mau ngelamar pas ulang tahunku dua bulan lagi, katanya udah mau nikah, kenapa tiap ditanya soal nikah malah kayak gak berminat. Udah kalau gitu... gak jadi nikah, Lingling mau terusin kuliah, bodoh...


Holly yang kesal mengamuk rusuh sendiri dalam hatinya. Matanya menangkap sosok Hanie bersama Meili di sebuah photobooth, tanpa bicara dia beranjak ke sana. Tenry membiarkan saat tahu ke mana langkah Holly pergi.


"Holly..."


Meili tersenyum menyapa.


"Sini foto bertiga..."


Akhirnya kekesalan Holly hilang lenyap setelah beberapa kali foto di sana bersama kakaknya dan Meili.


"Foto sama aku juga, Holly... mumpung kita seragaman... Eh Ko Han juga ya..."


Sekarang Ivy yang datang mendekati mereka dengan riang. Beberapa pose diambil kemudian.


"Udah De... udah banyak yang ngantri..."


Banyak tamu mulai berdatangan sekarang. Hanie mendorong Ivy dan Holly keluar dari area cantik photobooth itu.


"Ya Ko Han... belum foto sama Holly..."


"Gantian... atau ke sana aja..."


Hanie menunjuk photobooth yang lain.


"Ahh di situ dekornya sama warnanya sama gaun kita... gak bagus hasilnya entar..."


Ivy memberengut saat niatnya harus dicut sama Hanie.


"Ivy... mana Tenry... kalian harus naik ke atas, persiapan mau prosesi di belakang penganten..."


Seorang anggota keluarga memanggil Ivy. Mendengar itu, Holly gak jadi balik pada Tenry terlebih rasa kesalnya tiba-tiba muncul lagi, dia kini mengekori Hanie dan Meili yang mengambil tempat duduk di area sudut belakang.


Ruang resepsi diatur di mana setiap undangan akan duduk mengitari sebuah meja bundar yang muat untuk delapan orang. Sementara meja prasmanan terletak di beberapa area.

__ADS_1


Acara dimulai. Setelah prosesi, Tenry dan Ivy duduk berdua di bagian paling depan, di area khusus keluarga inti dan beberapa undangan penting lainnya. Ada keluarga orang nomor satu di provinsi ini, meja yang lain di deretan yang sama ada keluarga walikota, dan banyak pejabat tinggi dan orang penting lainnya.


Sementara acara berlangsung, Tenry yang melihat meja mereka begitu kosong segera berdiri.


"Koko mau ke mana, masa Dede sendiri di sini..."


"Mau cari Lingling... bentar..."


Setelah mencari di banyak meja, akhirnya Tenry menemukan gadisnya.


"Baby... ayo... kita duduknya di depan..."


Tenry menarik lembut tangan Holly tapi menahan sekuat tenaga gak mau ikut berdiri.


"Gak mau... di sini aja..."


Jawaban ketus dan muka cemberut membuat Tenry mengernyit.


"Ayo sayang... Han... kamu juga pindah, ajak Mei..."


"Di depan meja keluarga Ten... kita di sini aja..."


"Itu termasuk kalian... ayo udah diwanti-wanti ibu suri tadi..."


"Gak enak, udah banyak orang penting di depan..."


"Cuek aja... lagian udah tahu duduknya di depan kenapa malah sembunyi di sini... tuh banyak orang yang masih mencari tempat duduk, kasihan kalau mereka harus berdiri kayak gitu..."


Hanie hanya bisa menarik Meili dengan perasaan jengah karena banyak sorot mata memperhatikan mereka, mengikuti Tenry yang sudah berjalan dengan tangan menggenggam erat Holly.


Mata yang sama menjadi penasaran dan terusik melihat lelaki yang sudah mengambil semua kekagumannya untuk seorang pria, menggandeng posesif tangan seorang gadis kecil. Dari posisinya gadis yang datang dengan dandanan yang paling cantik dan mewah bisa melihat Tenry duduk begitu dekat dengan tangan yang tak melepaskan genggamannya.


Sebenarnya di sepanjang waktu tangan Holly tak dilepaskan Tenry seolah-olah Tenry takut Holly hilang di ballroom ini, atau mungkin sebuah rasa bahagia yang berwujud pada tindakan posesifnya. Hanya Holly sendiri yang melepaskan tadi.


"Kenapa sih... kayak yang sedang kesel mukanya..."


Tenry berbisik pada Holly, setelah beberapa kali melihat wajah Holly yang tanpa senyum dan gak seriang tadi.


"Gak papa, jangan ganggu... Holly lagi serius..."


Holly balas berbisik dengan ketus.


"Serius apa?"


"Ya ngikutin acaranya..."


Cara menjawab dan nada suara serta muka bete Holly membuat Tenry meneruskan menyelidiki perubahan Holly, tadi begitu antusias dan begitu cerewet bertanya ini-itu.


"Kenapa... pengen perhatiin ya biar nanti nikah udah tahu kayak gimana..."


Tenry tergelak kecil mengingat tema percakapan Holly sejak di tempat Pemberkatan tadi.


"Gak... Holly gak mau nikah sekarang... Koko aja yang nikah sendiri..."


"Loh? Tadi kayaknya semangat banget pengen tahu kalau kita nikah nanti gimana..."


"Gak lagi... gak pengen lagi sekarang, udah gak berminat..."

__ADS_1


"Kenapa? Udah iya loh kemaren sama Koko, masa berubah?"


Sekarang Tenry menjadi serius, sejak pindah ke sini setengah jam yang lalu gadisnya diam dengan muka ditekuk, beberapa kali melepaskan tangannya walau setelahnya menyerah karena setiap kali Tenry mengambil lagi tangan mungil itu dan diletakkan di atas paha Tenry sendiri menggenggam lembut dan erat.


"Koko gak serius ngajak Lingling nikah..."


"Koko serius, kenapa ambil kesimpulan seperti itu?"


"Abisnya dari tadi Lingling tanyain, Koko ngejawab, nanti aja, liat nanti... itu berarti gak serius kan..."


Tenry tersadar, memang dari tadi dia hanya sekedar menanggapi santai setiap pertanyaan berjudul kalau kita nikah, karena berpikir praktis aja belum waktunya membahas itu, tapi rupanya ditanggapi berbeda oleh Holly.


Tenry jadi sadar siapa gadisnya haha... Jadi pembicaraan yang sebenar tercetus begitu saja, baru sekedar wacana, belum berpikir untuk diseriusi sebenarnya, telah ditanggapi Holly dengan serius, dan parahnya dia telah berpikir itu akan terealisasi dalam waktu dekat.


Dia merasa melakukan kesalahan sekarang... ke depan harus lebih hati-hati berbicara tentang hal seperti ini karena Holly belum bisa menanggapi secara dewasa. Tenry menarik napas dalam, gak ada niat mempermainkan gadis ini, serius juga ingin mengikat gadis ini sehingga gak pergi lagi, dia siap untuk hubungan serius.


"Koko serius, tapi bukan saatnya bicara itu, nanti ya? Kan memang nikah itu butuh perencanaan, harus dibicarakan dengan baik... itu menyangkut orang tua kita juga. Lingling ngerti?"


Tenry berbisik lembut sambil membelai tangan dalam genggamannya itu. Kepala Holly mengangguk perlahan.


"Sekarang senyum dong... masa cemberut dari tadi..."


Wajah itu sekarang sumringah saat saling tatap beberapa detik.


"Gitu dong... jadi cantik lagi..."


Spontan Tenry merangkul bahu Holly dan memberikan ciuman sayang di kepala bagian samping.


"Diihh... Koko apaan mesra-mesra di sini... diliatin banyak orang loh... lagian jangan nyuri scene nya penganten dong..."


Ivy yang duduk di sisi lain Kokonya memukul lengan Tenry, risih dia sejak tadi si Koko bisik-bisik mesra terlebih sempat menangkap tatapan orang-orang sekitar pada pasangan itu. Tenry tergelak, tapi Holly menunduk malu.


"Kayak Koko yang nikah deh, jadi Koko yang lebih mesra dari pada pasangan di atas sana..."


Di tempat lain seorang gadis manis meradang, setelah adegan manis untuk pasangan itu tapi tidak untuknya, konklusinya bahwa yang digandeng Tenry adalah keluarga dekat jadi gugur.


.


Beyvie menikah akhirnya dengan pria pilihannya bukan pilihan sang mama. Pria yang bertemu dirinya justru di saat paling terpuruk dalam hidupnya. Pria yang memberi keteguhan dalam diri Beyvie tentang ketulusan niatnya.


Banyak hati yang terbebas karena hal ini, pertama tentu ibu suri sebuah julukan lain yang suka disematkan Tenry untuk mamanya, kemudian tentu saja Tenry yang cintanya sudah tertambat sepenuhnya pada Holly, dan terakhir adalah Hanie yang gak tersandung lagi untuk kembali pada cinta indahnya semasa SMA.


Bahagia berpendar di banyak hati malam ini, di sebuah ballroom berkapasitas seribu dan hanya terisi 40 persen sebagaimana persyaratan berkumpul yang harus dipatuhi. Di sini kehadiran Holly menjadi salah satu fokus perhatian dan banyak mendapat sorot penasaran karena sikap romantis Tenry.


Ada waktu untuk bahagia... Di sela-sela itu Tenry menyadari Holly sudah punya angan untuk menikah dan itu berawal dari pernyataannya sendiri. Mungkin dia harus memikirkan dengan serius tentang hal itu sekarang, walau dalam hati kecil masih terbersit keraguan karena sekarang ini masih memandang Holly sebagai pacar imut kekanakan yang perlu dimanja, bukan sebagai wanita yang akan menjadi partner hidupnya untuk membangun masa depan. Dia sungguh-sungguh dengan niatnya tapi dia mempertimbangkan kesiapan Holly baik mental maupun fisiknya.


.


🦋


.


Hi... kemaren gak up karena blank nih otak... aku gak biasa nulis pakai outline, terbiasa nulis ide yang datang... baru pagi ini bisa merangkainya dan gak sadar lebih dari 1500 kata. Maaf jika gak menarik isinya...


.


.

__ADS_1


__ADS_2