Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 36. Terperosok


__ADS_3

Holly berjalan tak tentu arah dengan menenteng tas plastik berisi tiga botol besar air mineral. Airmata terus menetes, ada rasa sakit tak tertahankan menyebabkan dia gak bisa menghentikan airmatanya. Entah ada di bagian mana rumah sakit ini, akhirnya Holly berhenti di sebuah tempat terbuka ada bangku-bangku yang tersedia di sana. Gak jauh darinya ada orang-orang berkelompok duduk di beberapa tempat, ada orang lain membuat dia gak nyaman dengan kondisinya yang lagi sedih, tapi dia bingung gak tahu harus jalan ke mana lagi, akhirnya Holly duduk di sana, melepaskan kantong plastik di sampingnya.


Aku juga gak tahu harus gimana, Han... Koko...


Rasa sakit itu datang menusuk saat mendengar Ci Cun meminta Tenry mencari gadis yang lain. Kalimat itu terlalu jelas, Tenry harus ikut menolong Cicinya, Hanie juga... dan rasa sakit semakin menusuk saat merasa dia bukan pilihan terbaik bagi semua orang di sini, dia hanyalah penghalang untuk orang lain di sini.


Sekuat tenaga Holly menahan suara tangisnya. Tapi di kejauhan dia mendengar ada suara tangis orang-orang juga, Holly mengangkat mukanya dan membaca sebuah papan penunjuk lokasi, dia tersesat di ruangan pemulasaraan jenazah.


Ada rombongan kecil orang lewat di depannya juga sedang menangis, akhirnya Holly tidak mampu menahan dirinya, menangis di tempat duduknya dengan suara kecilnya. Tentu saja tangisan Holly bukan karena kepergian seseorang yang dia sayang... ini karena hatinya berkata dia mau tidak mau harus mengalah, meskipun dia sayang Koko dan Koko juga sayang dia, tapi hubungan mereka tidak boleh berlanjut. Holly mencurahkan semua kepedihan hatinya di bangkunya, biarlah orang menyangka dia sedang menangisi seseorang di kamar jenazah, gak masalah, karena dia juga punya kesedihan yang layak ditangisi.


Berbagai pikiran datang kemudian...


Dia tahu jika dia sedih maka Hanie akan menolak keinginan Ci Cun. Hanie udah begitu baik buatnya dan halangan terbesar Hanie adalah dirinya. Dia harus bantu Hanie, Hanie pernah bilang dia boros airmata dan gak semua harus dibawa sedih. Yaa... dia gak boleh nunjukin sedihnya di hadapan Hanie, dia harus mendukung Hanie untuk mendapatkan yang baik juga, selama ini Hanie udah sayang dia dan mendukung cita-citanya. Tapi apa yang bisa dia lakukan untuk Hanie?


Mengenai Koko... ahhh dia langsung menangis lagi. Ini baru pertama kali merasakan disayang, dicintai sebesar cinta Koko, cinta ternyata sakit juga, sedih juga, terlebih saat dia sadar jika dia gak boleh memiliki cinta Koko.


.


Di depan sebuah kamar vvip di lantai empat rumah sakit Medika...


"Ten... maafkan aku, aku gak tahu harus apa Ten..."


Hanie dan Tenry sedang duduk berdua di luar kamar Beyvie. Keadan sempat tegang tadi. Insiden kecil Ci Cun yang pingsan karena kelelahan baik raga maupun jiwanya, akhirnya Ci Cun bisa siuman dan sudah membaik sekarang dan sedang istirahat di kamar, Beyvie juga sudah dipindahkan ke kamar vvip itu.


"Kenapa kamu gak menolak tegas sih?"


"Ten... please... apa aku bisa? Kamu yang anak aja gak tega juga kan lihat Ci Cun seperti itu, aku siapa Ten... tolong ngerti posisiku, mungkin sama halnya Ci Cun yang gak mau lihat Cici Bey melakukan hal yang fatal... sama Ten, kalau aku bisa memilih, aku gak mau Lingling hancur... dia udah banyak tersakiti... Kamu sayang dia, aku lebih sayang lagi, kami punya hubungan darah Ten, ke mana pun dan bagaimana pun kami berdua akan terikat itu. Maaf jika aku bilang ini... suatu saat kamu mungkin bisa lupain dia, tapi aku gak bisa... Ini berat juga buatku, apalagi kalau dia denger sendiri perkataan Ci Cun... ehh jangan-jangan dia udah denger... oh my God..."


Hanie teringat Holly.


"Lingling di sini?"


"Iya... aku ke sini sama dia..."


Hanie berlari menuju lift. Tenry menyusul.


"Lingling di mana, Han?"


"Aku gak tahu, tadi di depan ICU kan kita... kamu gak lihat dia tadi?"


"Gak ada Lingling tadi kan... cuma kamu sama mama di sana..."


Keduanya berlari saat keluar dari lift di lantai satu itu dan bisa bernapas lega saat menemukan gadis kecil yang mereka cari duduk diam di tempat duduk yang tadi mereka duduki.


"Ling..."

__ADS_1


Tenry melangkah cepat lalu meraih tubuh Holly dan memeluk dari samping saat Holly berdiri sempurna.


"Kamu dari tadi di sini?"


"Ehh iya... abis Holly gak tau mau ke mana..."


Holly memberikan senyum terbaik untuk kedua pria yang begitu sayang padanya. Hanie coba membaca raut wajah adiknya, terlihat biasa gak ada beban, Hanie akhirnya senyum lega, walau gak punya gambaran gimana dan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Dari mana? Tadi Koko gak lihat Lingling di sini..."


"Dari kafetaria beliin air minum buat Ci Cun..."


Holly mengangkat plastik di tangannya yang segera diambil alih oleh Tenry, sebelah tangannya masih merangkul Holly, mereka sekarang menuju lift.


"Ling... Lingling habis nangis?"


Hanie memperhatikan wajah Holly sekarang, kenapa jadi Tenry yang lebih peka terhadap adiknya?


"Ehh... iiya, tadi itu Holly waktu mau balik ke sini salah jalan, Holly tersesat ke kamar jenazah, kasihan ada anak perempuan seumuran Holly yang meninggal, banyak yang nangis, Holly jadi ikut nangis..."


"Hahh serius? Kenapa bisa ikutan gitu?"


"Gak tahu... orang-orang banyak yang nangis, tau-tau Holly nangis juga... jadi ingat Cici juga... untungnya Cicinya selamat ya..."


Tenry hanya bisa mengecup sayang kepala gadis kecil ini dengan semua rasa yang sedang bergulat di hatinya, terutama merasa gak mungkin mengorban gadis kecilnya, dia mungkin bisa menahan sedih, menahan hancurnya cinta mereka jika itu pilihan yang harus dia ambil... tapi gadis ini, dia telah melihat sendiri gimana gadis ini di saat tersedih dalam hidupnya.


Sepanjang jalan, beberapa kali Tenry mengecup ujung kepala Holly, Holly menikmati pelukan hangat Tenry dan menahan dengan sekuat hati agar gak terlihat sedihnya oleh dua lelaki ini. Sementara Hanie hanya diam tak bersuara. Ketiga orang itu kemudian berjalan dalam diam, masing-masing dengan pikirannya.


"Lingling gak masuk?"


Tenry bertanya saat di depan pintu kamar vvip itu Holly menghentikan langkah dan melepaskan diri dari rangkulan Tenry.


"Udah lihat Cici belum?"


Sambung Tenry lagi saat Holly ragu menjawab.


"Belum sih..."


"Ayo..."


Tenry meraih tangan Holly, tapi keburu dilepas lagi sambil menggeleng saat Tenry melirik. Mereka bertiga akhirnya masuk tanpa suara.


Ci Cun sedang tidur di tempat tidur penjaga, Beyvie juga masih tertidur. Ko Siong udah pulang sejak tadi, banyak urusan yang gak bisa ditinggalkan terlebih istrinya harus fokus pada Beyvie. Hanya ada art yang duduk di sofa dengan ponsel di tangan.


Tenry menyimpan plastik berisi air mineral di meja makan. Holly mendekati brankar tempat Beyvie berbaring. Melihat gimana keadaan Cici Bey, Holly langsung menitikkan airmata, rasa sedih yang coba dia simpan sekarang terbuka kembali, sekaligus membuat hatinya berdarah, karena dia harus memilih melupakan cintanya sekarang. Apa dia mampu?

__ADS_1


"Kenapa Ling?"


Tenry mengusap kepala Holly di sampingnya.


"Gak papa... sedih aja..."


Tenry merasa sakit di dadanya, melihat orang meninggal gadisnya sedih, melihat Cicinya sedih juga, apalagi jika mereka terpaksa harus putus, Tenry gak bisa membayangkan gimana sedihnya Holly. Hanie sendiri mulai curiga tentang sesuatu. Dia memperhatikan adiknya yang beberapa kali menghapus airmata di pipi.


"Ten... kami pulang aja ya... udah siang... biasanya hari gini toko suka ramai..."


"Gak suruh buka aja sama mereka?"


"Udah... udah dibuka Opo Rully sih..."


"Koko... Holly pulang ya..."


Tenry tak menjawab, meraih tangan Holly dan membawa Holly keluar kamar, Hanie mengikuti dari belakang.


"Kalian naik apa?"


Tenry masih mengikuti sampai lift.


"Naik motor lah..."


Hanie menjawab. Dan setelahnya gak ada yang bicara lagi sampai di parkiran.


"Koko pengen anterin Lingling pulang, tapi mama lagi butuh Koko, tadi mama sempat pingsan... nanti siang Koko ke toko ya?"


"Iya... gak papa kok Koko gak dateng juga, jagain Ci Cun sama Cici aja... Koko telpon aja gak usah ke toko..."


Tenry tersenyum lalu meraih helm yang disodorkan Hanie pada Holly, merapihkan sejenak ponie di sekitaran mata, mengecup ringan jidat Holly lalu memasangkan helm di kepala Holly.


Aktivitas yang terlalu manis itu membuat Hanie memalingkan mukanya, dia ingin sekali adiknya bahagia, tapi kejadian Cici Bey ini justru membuat dia seperti terperosok ke sebuah lubang dan gak bisa keluar dari sana tanpa mengorbankan seseorang. Siapa yang harus dia korbankan? Lagipula apa dia punya keberanian untuk mengorbankan orang yang dia hormati dan orang yang dia sayang?


.


🦋


.


Double up...


Salam sayang... jangan lupa komen dan likenya 😁😁🥰🥰👍👍


.

__ADS_1


__ADS_2