
"Kenapa gak mau pulang ke toko?"
Kedua tangan Tenry berada di setir mobil, tadi dia tidak menggunakan motor karena di lokasi rumah mereka hujan, ternyata di daerah kampus tidak. Untungnya kost Valentina milik bu Rikha akses jalannya cukup lebar.
"Iya... Holly mau belajar tinggal sendiri dulu..."
"Hanya itu?"
Tenry masih menatap serius, mobil sudah terparkir di depan sebuah ruko tapi Tenry belum mengijinkan Holly turun, masih ingin membujuk Holly supaya pulang ke toko aja. Dia sudah menelpon Hanie tadi dan dua pria sepakat Holy gak usah ngekost, tapi gadis ini justru punya keinginan lain.
"Ling?"
"Emmhm... Lingling takut bertemu Ci Cun..."
"Emang takut diapain?"
"Takut Ci Cun marahin karena masih jadi pacar Koko..."
"Ci Cun baik tau... hanya sekarang lagi khawatir sama Cici aja..."
"Emang Koko gak takut?"
"Gak... kenapa harus takut..."
"Tapi itu Koko ngelawan orang tua...Lingling gak suka Koko begitu..."
Tenry senyum kecil, jelas sekali sikap anak ini gak mau macam-macam, gak mau orang lain kena masalah karena dirinya, dan sekarang gak ingin Tenry bermasalah dengan orang tuanya. Tenry mengusap pipi Holly yang tetap aja kecil gak berisi, terlalu kurus bahkan.
"Sayang... Koko bukan mau melawan Ci Cun... Koko mau memperjuangkan cinta Koko..."
"Ihh... Koko barusan bilang mamanya dengan nama, kan gak baik... itu bibit-bibit ngelawan udah ada..."
"Apa sih bibit, emang tanaman... udah biasa Koko, buat godain mama juga jadi suka sebut mama dengan Ci Cun..."
"Masa?"
"Iya. Ling, denger ya... Koko juga sama gak mau melawan orang tua, tapi Koko juga gak mau dipaksa ngikutin mama suruh lepasin Lingling, gak mau lagi nyari perempuan lain untuk jadi istri..."
"Ihh... Ko, Lingling belum pengen merit, mau kuliah dulu, masih lama..."
Mata Holly membulat dengan bibir memberengut... Tenry yang gemas dengan perkataan Holly hanya bisa menjepit hidung bangir itu...
"Iyaaaa... belum sekarang meritnya nona manissss... nanti selesai Lingling kuliah... Koko tungguin... maksudnya Koko gak mau disuruh mama nyari yang lain... ngerti?"
"Koko mau nungguin?"
"Iya..."
"Itu berapa tahun ya?"
"Empat... Lima?"
"Hahh? Koko mau menunggu selama itu?"
"Iya..."
__ADS_1
"Koko bisa?"
"Iya sayangggg...."
"Koko yakin bisa nunggu selama itu?"
"Iihh nih anak kecil... bikin Koko gemes dehh..."
Maka hujan ciuman datang kemudian membasahi pipi tirus yang kemudian memerah.
"Kokooo... udah..."
Gadis kecil itu mendorong tubuh tinggi yang belum menghentikan aktivitas mengurai rindunya di seluruh wajah mungilnya. Tenry menjauh dengan mata masih menatap gemas seolah masih ingin meneruskan lebih intim lagi.
"Ko... nanti kalau Ci Cun tahu kita gimana..."
Keinginan Tenry terpecah dengan kalimat yang berisi rasa khawatir gadisnya. Tenry bersandar di joknya dan menatap lurus ke depan.
"Kita menunggu sampai Ci Cun memberi izin, kan Lingling juga masih kuliah... empat atau lima tahun ke depan itu masih sangat panjang, banyak hal yang bisa terjadi termasuk mendapatkan restu mama... Lingling sabar ya? Kita jalani aja seperti ini..."
"Jadi... kita... kita backstreet ya?"
Suara Holly begitu pelan masih ragu hal ini adalah sesuatu yang benar.
"Gak kok... Koko gak akan sembunyiin hubungan kita dari mama, Koko tetep akan jujur soal kita, Koko gak suka nutupin apapun tentang Koko dari keluarga... gak usah Lingling pikirkan ini, nanti Koko yang hadepin mama... Oke?"
"Iya..."
"Pasti ada jalan kok..."
"Iya... Kita turun aja? Kak Nul udah berapa kali bolak-balik depan mobil tuh..."
"Iya udah yakin... dari tadi Lingling udah ngomong kan... Koko yang gak yakin..."
Holly menjawab yakin, memang gak mau berubah lagi soal pilihannya kali ini, dia tahu dirinya gampang berubah jika orang lain ngasih argumentasi. Sebenarnya dia gak mau ke toko karena gak ingin bertemu Ci Cun, terlebih hubungan ini pasti akan menyakiti Ci Cun. Jujur dia senang Tenry berkeinginan memperjuangkan hubungan ini, makanya dia gak ingin melhat atau terlihat Ci Cun sampai restu itu datang, walau mungkin masih sangat lama untuk itu.
"Itu karena Koko gak mau Lingling jauh di luar jangkauan Koko..."
"Ini kan Koko tahu tempat kostnya, nanti kalau dapat yang dekat kampus juga Lingling kasih tau..."
Tenry memandang mencari kesungguhan pernyataan itu, waspada aja jangan sampai gadis ini pergi tanpa sepotong berita, bukan gak mungkin dia menyerah lagi di kemudian hari, memahami gadis kecilnya masih di fase bernama remaja labil.
"Janji dulu... kalau mau pindah harus bilang..."
"Iya... janji..."
"Gak akan mengulangi lagi pergi diam-diam..."
"Iya... tadi udah janji kan gak akan ninggalin Koko... lupa?"
"Ingat kok... biar tambah yakin aja..."
"Ya udah... Lingling janji gak pergi lagi..."
"Bener ya... ayo turun..."
__ADS_1
Di luar mobil, terlihat Rommel keluar dari ruko tempat mereka memarkirkan mobil.
"Ini tempat kostnya?"
Holly bertanya sambil melongok ke dalam ruko yang sudah tertutup hanya menyisakan bukaan kecil.
"Bukan... ini ruko tempat tinggal kak Mel... kita ke sini karena di lorong ini banyak kost-kostan, ada yang perhari... ceritanya kita ke sini karena emergency kan... besok aja baru kita nyari biar lebih bisa milih yang bagus fasilitasnya..."
"Kalau cuma sehari mending ke toko aja Ling... kembali ke kamar kamu aja... ajak Nuella nginap di toko..."
Tenry menaikkan tangannya merangkul bahu Holly sambil menatap lembut, masih berusaha membawa Holly ke toko.
"Gak Ko... nanti ditahan Hanie kan... nanti batal ngekostnya..."
"Padahal aku udah ijin kak Keke biar kalian nginap di sini aja, kan semalam doang... ada kamar tamu kok..."
Rommel berkata, masih di pintu ruko sambil memandang pacarnya.
"Gak ahh, aku pantang nginap di rumah pacar..."
Nuella menjawab sewot dengan sorot tajam lalu sedikit menjauh dari posisi Rommel.
"Masih saklek aja... biasa aja Nuella... Ayo kalau gitu, kita ke kost sebelah... mau berapa hari di situ?"
Rommel menanggapi kalem perkataan pacarnya sambil bergerak menutup pintu.
"Rommel... ada gak kost yang fasilitasnya bagus dan bersih, yang bisa masuk malam ini lah... biar gak usah pindah-pindah..."
Akhirnya Tenry mengiyakan niat hati Holly mau ngekost yang nampaknya udah bulat.
"Ko... Kak Nul mau nyari di kampus tuh... di sini kejauhan kan..."
"Ohh... Koko pikir sekalian aja biar gak repot nyari lagi besok..."
"Kak Nul sih udah gak penting deket kampus apa jauh, palingan ke sana buat bimbingan skripsi aja, justru kamu yang tiap hari ke sana..."
"Iya ya... tapi rencananya mau ngambil motor aja... jadi gak masalah ngekost di mana aja... kalau naik motor dari sini deket kok ke kampusnya..."
"Kalau begitu di sini aja, ada kost-an yang bagus... biar deket sama aku..."
Rommel senyum sumringah ke arah pacarnya.
"Diih... modus kan..."
"Emang... gak masalah buat kamu kan? Biar gak jauh-jauh kalau bawain makanan... yang untung juga kamu kok... jangan sok polos..."
"Apaan... nyebelin..."
"Gak tuh... ngangenin... kamu aja yang suka pura-pura gak kangen aku..."
"Diiiih..."
Nuella mengejar Rommel lalu mendaratkan sebuah pukulan manja di punggung cowok itu. Tenry dan Holly senyum-senyum melihat sepasang kekasih saling ledek depan mereka. Holly surprise melihat tingkah Nuella yang berbeda, dewasa di depan Holly tapi bisa manja gitu depan pacarnya.
.
__ADS_1
🦋
.