
"Holly??"
"Ehh?? Kak Brill?"
Brill menoleh cepat di kejauhan, Tenry sudah tak kelihatan, lalu mengamati Holly. Tangannya menarik tangan Holly.
"Maaf kak... prokesnya kita gak boleh bersentuhan."
Holly menarik tangannya.
"Apa sih... kangen tahu..."
"Ihh, kak Brill siapa sih bisa kangen aku..."
"Emang kangen, sumpah... sembilan bulan gak lihat kamu..."
Holly risih mendengar kalimat Brill, mengetahui dari sorot matanya bahwa ternyata cowok itu masih menyimpan rasa untuknya
"Maaf kak... gak boleh kayak gitu, permisi... aku ada kerjaan."
Holly kemudian menuju mobil boks milik katering, dia baru selesai menata meja di bagian dalam rumah besar itu. Brill mengikuti, penasaran dengan situasi barusan ada Tenry di sini dan mengapa Holly menggunakan seragam sama dengan beberapa orang yang mengatur meja di dalam. Setahu dia Holly kehidupannya berkecukupan.
"Holly..."
Brill menjejeri langkah Holly. Holly mempercepat langkahnya, dan menjadi kesal karena Brill masih berjalan bersama dirinya.
"Kak Brill jangan ngikutin aku..."
"Aku pengen nanya sesuatu..."
"Gak ada yang perlu aku jawab..."
"Diih... aku belum nanya..."
"Udah aku kasih tahu dari awal, jadi gak usaha nanya-nanya..."
"Ly... kamu gak cocok judes kayak gitu, tahu gak..."
"Biarin..."
"Kamu itu udah manis, terlalu manis bahkan... tetap kayak gitu aja..."
"Kak Brill gak jelas..."
"Hehehe... judes gimana pun tetep manis..."
"Kak Brill aneh dari dulu..."
"Karena kamu aja aku kayak gini..."
Holly melirik sebal. Sembilan bulan ternyata Brill masih sama masih menjadi sosok yang mengganggu.
Holly bergabung dengan karyawan Keke's Katering lainnya yang mengasoh sejenak setelah menyelesaikan penataan katering, nanti saat jamuan makan dimulai baru beberapa orang akan masuk lagi.
"Kamu kerja sekarang?"
Brill menarik sebuah kursi plastik ke dekat Holly lalu duduk di sana dengan santai. Holly mendelik, dibilang judes ya judes sekalian aja. Lagi pula Holly mulai mendapatkan tatapan ingin tahu dari beberapa temannya karyawan Keke.
__ADS_1
"Ly... kamu kerja ya?"
Brill memutar badannya dan sekarang dekat dengan wajah Holly.
"Apa sih deket-deket..."
Holly menjauhkan kursinya, gerakan yang diikuti Brill sehingga jarak mereka kembali deket.
"Makanya kalau aku nanya jawab..."
Holly tak menanggapi. Sebenarnya cowok ini punya tampang yang enak dilihat juga, apalagi kalau sedang nyanyi, penghayatannya pada setiap lagu ditambah keahliannya memainkan guitar memancarkan pesona tersendiri, untuk jadi pacar gak mungkin lah udah ada si Koko walau sekarang hubungan mereka masih ngambang, tapi untuk dijadikan teman sih lumayan sebenernya,
Tapi Brill sejak awal udah terus terang mengenai rasa sukanya dan tetap aja mengejar meskipun tahu Holly udah punya Tenry, itu yang membuat Holly ilfeel. Sembilan bulan dia lupa soal Brill hingga malam ini...
"Kirain kamu datang bareng Ten..."
Brill tidak meneruskan kalimatnya. Saat Holly menatap dengan penasaran, Brill hanya mengangkat bahu. Pikiran cepatnya langsung menyimpulkan sesuatu, kemungkinan Tenry gak tahu, atau jika tahu kenapa pergi harusnya tetap aja di sini jika sayang sama pacar, atau... jadi penasaran untuk mengulik sesuatu.
"Tenry apa kabar?"
Brill bertanya sambil menatap lekat ingin tahu reaksi Holly.
"Ehh ya?"
"Tenry... pacar kamu..."
"Mmm... baik sih..."
Ada keraguan di sana dan ada riak sedih yang terbaca oleh mata jeli Brill.
Apa dia gak tahu ada Tenry di sini juga?
Bierna sepupunya datang mendekat dengan langkah pendek-pendek karena gaun panjang ketat membentuk tubuh dan karena heelsnya.
"Tenry mana? Lama amat cuma ke toilet?"
Tenry? Koko? Koko di sini?
Holly memperhatikan gadis manis dengan balutan dress blink blink warna perak, seperti seragam semua keluarga. Brill menatap wajak Holly sebentar, dia jadi tahu sesuatu, Holly dan Tenry tak saling tahu.
"Tenry?"
"Iya...Tenry Tanos yang tadi..."
Ada yang gak bisa menahan debar, rasa kangen setelah nama Tenry disebut jelas bukan Tenry yang lain. Apa akan bertemu malam ini?
"Gak tahu..."
"Loh... tadi dia sama kamu?"
Sekarang Holly menghujani Brill dengan tatapan penuh tanya...
Apa maksud tadi menanyakan Koko kalau sebenarnya barusan bersama-sama?
Walau tanpa suara seolah Brill bisa memahami pertanyaan Holly saat dia melirik Holly dalam sekejab.
"Brill... ihh ditanyain malah bengong!"
__ADS_1
Perasaan kesal tuan putri cantik di depan nyata pada suara kerasnya.
"Gak tahu, dibilangin juga..."
"Gimana sih kamu... "
Brill menatap cuek pada sepupunya yang menyentak kaki semakin kesal.
"Cariin Brill..."
"Hahh? Males ahh... Orangnya udah pergi, ya pergi aja..."
"Brill! Dia orang penting buatku..."
"Penting? Emang siapanya kamu?"
"Calon suami... makanya cariin..."
Suara sekarang berganti dengan nada manja khas putri-putri. Di sisi lain seseorang tersentak, kalimat itu begitu jelas, sangat jelas ditangkap semua indranya dan dengan cepat diolah di pusat otaknya, tubuhnya dengan cepat bereaksi menghasilkan rasa sakit di dada dan menyebabkan matanya memanas, ingin berdiri dari sini dan pergi ke mana aja agar bisa melepaskan emosinya, tapi kedua kakinya terlalu lemas sekarang.
Holly hanya menunduk dalam, ternyata dia tak punya kesempatan, Kokonya sudah punya calon istri, padahal dia sudah berharap hubungan mereka akan tetap sama, ternyata tidak. Tapi juga ada suara hati yang menyalahkan diri sendiri, jika Kokonya akhirnya beralih pada wanita lain penyebabnya adalah dirinya sendiri.
Dua tetes airmata jatuh. Brill melihat itu. Sebenarnya dia tahu bahwa itu tadi perkataan tak berdasar dari Bierna. Dia tahu persis kebenarannya tak ada hubungan apapun antara Tenry dan sepupunya.
Barangkali benar ada pembicaraan tentang Tenry di tengah keluarga yang dia tidak tahu, mungkin ada jodoh-jodohan, tapi menilik sikap Tenry, nampaknya gak singkron dengan pernyataan "calon suami" si Bierna.
Hatinya berperang antara menjelaskan pada Holly atau membiarkan kesalapahaman terjadi, tumbuh niat sekarang, seperti ada celah untuk mendapatkan Holly.
"Brill... cariin dong..."
"Gak ahh, aku lagi ada urusan... cari aja sendiri, telpon kalau dia calon suami masa gak bisa nelpon suruh balik ke sini..."
"Urusan apa sih? Lagian ngapain kamu di sini, mau jadi pelayan juga di pesta? Awas aku kasih tahu mami Inggrid kamu... atau ini pacar kamu ya?"
Bierna memperhatikan dengan seksama ada gadis yang duduk sebelahan dengan Brill, duduk terlalu dekat.
Brill mengangkat bahu, tapi sesungguhnya hatinya mulai terpengaruhi dengan reaksi Holly yang dia tahu sedang berusaha keras untuk tidak menangis.
"Brill... mulai aneh-aneh lagi kamu, jangan pacaran sama perempuan yang gak selevel..."
Bierna pergi dengan kesal karena Brill tak mempedulikan permintaannya.
.
Kenapa sih Holly sedih melulu, bosen thor....
Gimana dong... emang karakternya....
Kasihan kan sama Holly??
Kasihan juga sama author yg suka kehabisan ide... jadi segini aja dulu yaaa...
Terima kasih semuanya.....
.
🦋
__ADS_1
.