Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 28. Ada Sesuatu


__ADS_3

Hanie berusaha mengatasi tekanan di hatinya, berusaha tenang meskipun hatinya meradang. Di sisi yang lain, Ci Cun melihat Holly seperti sedang mencari sesuatu.


"Holly, cari apa?"


"Emm, Holly nyari toilet Ci Cun..."


"Oh... di depan aja, tuh agak masuk di sebelah kamar tamu, ada toilet di situ. Setelah itu Holly ke dapur ya... bantuin Ci Cun..."


"Iya..."


Tak berselang lama, Holly sudah ada di dapur bersih rumah itu, dapur berwarna putih kombinasi hitam untuk beberapa barang elektonik khusus untuk keperluan dapur, yang bagi Holly sayang untuk dikotori atau digunakan, terlalu bagus. Holly berdiri diam dan canggung dan ada rasa malu berkecamuk berhadapan dengan Ci Cun sekarang. Di pantry itu ada Ci Cun dan dua orang ART sedang sibuk memotong bermacam-macam buah untuk salad nampaknya, serta ada dua orang perempuan cantik seusia Ci Cun sedang duduk santai di kursi tinggi menghadap semacam bar mini sedang menikmati es buah segar.


Ci Cun menyadari kehadiran Holly...


"Holly... sini, nak... bantuin menakar buah ke dalam gelas-gelas ini ya..."


Ci Cun menunjuk cawan berukuran pendek yang banyak di atas meja dapur yang memanjang serta es buah yang ada di wadah tupperwa*re jumbo warna hijau stabilo berbentuk persegi panjang. Tak menjawab, Holly mendekati tempat yang ditunjuk oleh Ci Cun.


"Siapa, Cun?"


Salah satu ibu dengan gaya cetar mirip seorang artis bertanya dengan ekor mata mengarah pada Holly.


"Adik bungsunya Hanie..."


Si ibu tetap makan hanya mengangguk sedikit.


"Enak kamu Cun, punya karyawan kayak Hanie, masih muda tapi udah bisa jadi andalan..."


"Ikat terus biar gak lepas, susah loh nyari orang seperti Hanie..."


Ibu yang satu ikut menimpali diikuti suara tawa pendek Ci Cun. Sementara Holly hanya menyimak sambil mengerjakan sesuai contoh yang Ci Cun ajarkan tadi, ada rasa bangga menyusup di hati Holly kakaknya dipuji-puji di sini.


"Iya diikat aja, angkat anak aja kalau aku sih... dia senang kita senang, dia untung kita untung, kalau jelas hubungannya udah pasti dia takut nipu kita nanti, malah jadi lebih bertanggung jawab karena rasa memiliki untuk uang yang dia kelola udah ada..."


"Hanie udah seperti itu, lebih dari itu malah..."


Ci Cun menjawab senang.


"Tulus gak dia? Kamu gak tahu hatinya kan Cun, suatu saat ada yang nawarin gaji lebih tinggi fasilitas lebih banyak, dia bisa pergi Cun..."


Ci Cun menghela napas, dia sih berharap Hanie tetap seperti itu, tetap bekerja untuknya, dia juga gak mau kehilangan seorang Hanie, sosok yang sudah jadi ibaratnya salah satu tangan kanannya. Bukan hanya urusan toko bangunan saja, kadang Hanie suka disuruh menagih pembayaran dan pinjaman dan umumnya koleganya akan membayar atau mengembalikan tanpa banyak kata, padahal belum tentu sama jika Ci Cun sendiri yang menagih langsung.


"Aku sedang mengusahakan sesuatu yang lebih dari sekedar mengangkat anak sekarang... tapi nampaknya gak semudah keinginanku, soalnya gak terbaca perasaan Hanie..."


Ibu-ibu asyik membahas tentang Hanie, mungkin lupa ada Holly di sana. Holly masih melakukan tugasnya dengan lancar, gampang aja membagi es buah itu di wadah yang tersedia, malah sekarang hampir selesai.


"Maksudmu apa Cun?"


"Mmmm.... Holly?"


Ci Cun gak menjawab malah menatap Holly...


"Iya Ci? Ini hampir selesai, masih ada wadah lain?"


"Segitu aja dulu, nanti diteruskan sama mbak-mbak ini kalau mereka udah selesai motong buah..."


"Baik Ci..."


"Mmm... Ci pengen tahu sesuatu tentang Hanie..."


"Iya Ci?"


Holly sekarang menatap Ci Cun...


"Apa Hanie punya pacar?"


"Itu... Holly gak tahu, tapi..."


"Tapi apa?"


"Hanie gak pernah Holly lihat keluar bareng temen cewek sih..."


Holly menjawab pelan ada rasa ragu muncul setelahnya, jangan-jangan gak baik buat Hanie.

__ADS_1


"Oh... mudah-mudahan dia belum punya pacar, jadi Ci gak merasa bersalah kalau melanjutkan rencana ini..."


Ci Cun tersenyum lega, dia sungkan menanyakan langsung pada Hanie soal ini, sedikit takut juga jika malah Hanie jujur menjawab punya pacar.


"Kamu punya rencana apa Cun?"


"Iya... jangan bilang kamu mau..."


Ibu-ibu jadi kepo.


"Hush... jangan ngomong ke mana-mana dulu ya, aku udah rencanin mau jodohin Hanie sama Cici..."


"Hah?? Gak aneh itu? Beyvie lebih tua loh kayaknya? Seumuran Tenry kan si Hanie?"


"Gak masalah Cici lebih tua dua tahun, dari pada dia terus-menerus ditipu pacar-pacarnya, dia payah soal memilih pacar, naif... terpukau sama penampilan dan suka gak sadar kalau udah dimanfaatin..."


"Ya udah... terserah emak yang punya anak sih..."


"Jangan bilang siapa-siapa dulu, aku gak mau rame sebelum mereka pasti punya hubungan... Hanie janji mau usaha deketin Cici..."


"Iya... kapan kita suka ngegosip Cun..."


"Ahh... kamu suka ember mulutnya kadang-kadang..."


Dua ibu saling berbalas juga saling tertawa, sebuah informasi baru dan menarik yang layak diperbincangkan di kalangan keluarga baru saja mereka terima, dalam hati gak janji kalau kelepasan ngomong lalu jadi bahan pembicaraan di keluarga besar mereka nantinya.


Gak perlu seisi dunia tahu rencana Ci Cun, hanya ada mereka berenam di dapur mewah ini, tapi dunia seperti mau runtuh buat Holly, sepotong berita yang gak akan mengemparkan jagat raya tapi langsung memporak-porandakan hatinya yang baru mulai menikmati indahnya sebuah dunia yang Tenry tawarkan sebulan belakangan, dia seperti baru melihat galaksi yang begitu menakjubkan tapi sekarang hatinya serasa tertarik masuk ke pusaran lubang besar yang gelap. Kenyataan yang dia dengar tadi seperti tusukan sembilu pada hatinya.


Tak ada yang tahu kondisi hati Holly sekarang, dia langsung lemas di tempat dia berdiri, untung tugasnya sudah selesai jadi dia gak membuat kekacauan karena sebenarnya tangannya udah seperti mati rasa.


"Ci... Holly keluar sebentar..."


Holly pamit dengan suara gemetar, masih coba bertahan untuk pamit dengan sopan walau matanya sudah memanas.


"Oh iya Holly, makasih ya... tapi bantu Hanie bagi kaos ya..."


Jadi, dia gak boleh punya harapan pada Ko Tenry, mamanya Ko Tenry punya keinginan Hanie menikahi Cicinya Ko Tenry, dia baru lihat sepintas tadi di ruang depan ada jejeran foto keluarga, di antaranya ada foto close up masing-masing, pasti foto perempuan mirip Ivy sangat cantik itu yang dimaksud mamanya Ko Tenry. Holly sedih banget, dia memang gak bisa memiliki apapun itu kenyataannya, itu seperti jadi nasibnya selama ini, lagipula mana ada yang kakak beradik nikah sama kakak beradik juga, lalu apa keluarga Ko Tenry mau?


Di ujung ruangan mendekati pintu keluar Holly berhenti lalu menghapus airmata yang sudah lolos mengalir, dia gak ingin jadi perhatian orang dengan raut wajah menangisnya. Dia menghela napas lalu membuang kasar setelah yakin airmata gak akan mengalir lagi dia melanjutkan langkah.


"Ling..."


"Han... kita pulang ya..."


Suara sedih langsung keluar tapi sekuat tenaga coba menahan buliran kristal untuk jatuh dari matanya. Hanie langsung tahu, ada yang gak beres.


"Kenapa?"


"Pulang sekarang aja ya..."


Masih berbisik tapi sedikit menyembunyikan wajahnya di dekat Hanie. Berpikir sejenak sambil memperhatikan raut wajah adiknya, akhirnya...


"Nanti dicariin Tenry..."


"Gak papa... aku pengen pulang, Han..."


"Ya udah... aku gak bawa motor kan, kamu duluan ke gerbang aku pinjam motor di sini..."


Holly berjalan ke tempat yang Hanie maksud, dia udah gak tahan, emosinya semakin mendesak airmatanya, untungnya udah ada yang nyanyi-nyanyi di panggung jadi perhatian orang-orang ada di sana.


Di jalan sambil memeluk pinggang Hanie airmatanya langsung tercurah, suara isakan bisa didengar Hanie di jalanan sepi itu, terlebih gak ada kendaraan lain yang mereka temui membuat suara isakan Holly mendominasi selain suara motor milik pembantu rumah itu. Hanie masih mengira-ngira apa yang menyebabkan Holly sedih, apa dia bertemu Beyvie yang juga menyindir Holly karena tahu Holly adiknya?


Dengan kesedihan yang sama Hanie memacu motor di jalanan sepi yang belum ada lampu penerang di sepanjang jalan. Rumah milik keluarga Tenry ini berada kurang lebih dua kilometer dari jalan raya, dan tanah berhektar-hektar milik keluarga Tenry masih kosong melompong, rencananya mau dipasarkan dengan sasaran jadi kompleks perumahan elite.


Sambil memacu motornya, melintas lagi perkataan Beyvie, ingin rasanya Hanie langsung berhenti bekerja saat ini juga, sebuah tuduhan yang begitu mengiris hati, dia telah mendedikasikan hidupnya untuk kekuarga itu tanpa ada niat setitikpun untuk melakukan perbuatan curang. Dia betul-betul merasa terhina, perkataan Beyvie menggores harga dirinya, apa seperti ini bekerja di bawah orang lain, sampai harus korban perasaan seperti ini?


.


Beberapa saat berlalu, acara syukuran udah selesai, sekarang semua orang sedang menikmati santap malam yang begitu banyak dan istimewa. Seseorang sudah mengitari rumah beberapa kali dan gak menemukan orang yang dia cari.


"Ma... Lingling mana? Tadi dia bantuin mama kan?"


"Lingling siapa?"

__ADS_1


Sang mama balik bertanya sambil menelisik wajah gelisah putranya. Ci Cun sedang mengontrol makanan terutama meja hidangan khusus untuk keluarga dekat dan kolega mereka yang ada di bagian dalam rumah itu.


"Holly..."


"Oh? Suka dipanggil Lingling ya? Tadi di sini sih, udah lama tapi sebelum acara mulai... pamit ke mama mau keluar... mungkin sama Dede di depan..."


"Gak ada..."


Tenry melakukan panggilan ke nomor Holly beberapa kali tapi gak bisa tersambung.


"Hanie juga gak kelihatan Ko, dari tadi juga mama cariin mau suruh makan di sini aja jangan gabung dengan karyawan di luar..."


Ci Cun sekarang berhenti dari kegiatannya menambahkan isi panstove yang isinya sudah berkurang.


"Jangan-jangan mereka udah pulang...


Tenry berguman masih mencoba menghubungi sekarang nomornya Hanie.


📱


"Han? Kamu di mana, Lingling gak ada di sini, aku cariin dari tadi..."


"Udah balik Ten, Lingling udah tidur..."


"Hahh? Kok gak bilang ke aku, kalian gak makan berarti?"


"Udah, tadi mampir makan, udah ya, aku cape..."


.


Telepon terputus meninggalkan tanya yang besar di hati Tenry, gak mungkin mereka pergi gitu aja kalau gak ada sesuatu. Dia segera menyesali tadi begitu asyik ngobrol dengan beberapa kolega papa yang niat mau invest untuk bangun toko dengan konsep yang sama seperti di Marina dan minta Tenry yang tangani. Di Banyak kita besar toko seperti itu udah biasa, tapi di kota ini masih baru dan nampaknya menjanjikan.


"Mereka di mana Ko?"


"Udah pulang, aneh deh... gak biasanya Hanie seperti itu..."


"Hah? Masa dia gak pamit sama mama, biasanya juga dia pulang paling akhir ikut beresin semuanya, setelah rumah ini udah bersih baru dia pulang..."


"Iya makanya..."


Tenry melakukan panggilan lagi, penasaran Hanie cuma menjawab dengan sepotong informasi.


"Lah sekarang malah udah gak aktif hpnya ada apa sih..."


Tenry mengambil kunci mobil di gantungan lalu bergegas keluar. Dia lebih mengkhawatirkan Holly sebenarnya.


"Ko... mau ke mana? Kamu belum makan..."


"Mau susulin mereka, pasti deh ada sesuatu..."


"Dih... segitunya sama mereka, pantas besar kepala tuh anak disayang sama semua..."


Beyvie gak bisa menahan mulutnya, rasa marah yang tersimpan untuk Hanie jadi bertambah melihat sikap Tenry.


"Apaan sih, kenapa kamu jadi aneh ngomong sinis banget?"


Tenry menatap dongkol pada Cicinya, Beyvie melengos.


Bagus juga tuh anak pergi, masih punya hati berarti, atau malah salah satu triknya biar dikasihani, cih...


Sementara Ci Cun mengolah dalam benaknya apa yang terjadi, juga sikap Tenry, dia malah mencari Holly dan gak peduli soal Hanie biasanya kan Hanie....


.


🦋


.


Hi... double up kk... nebus kemaren gak bisa up


Happy reading, jangan lupa dukungannya ya....


.

__ADS_1


😊


__ADS_2