Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 87. Menawarkan Pelukan yg Sama


__ADS_3

Saat Holly turun dari mobil tubuh kecil dan lelah itu langsung dibawa dengan lembut ke dalam pelukan rindu seorang Tenry, gak menghiraukan tatapan temen-temen Holly, bahkan sebuah kecupan di kepala ikut menjadi penanda betapa besar rindu itu.


Sejak ponsel Holly bisa menangkap jaringan, maka Tenry gak henti-hentinya ngirim chat dan menelpon berkali-kali sampai dia diledekin teman-temannya.


Tory sudah menurunkan tas milik Holly.


"Makasih ya, Tor..."


"Sama-sama..."


Tory senyum pada Holly dan Tenry lalu memutar menuju kursi pengemudi.


"Ly... nanti kita kasih kabar lagi jadi apa gak ya..."


Faithly mengeluarkan kepalanya di jendela mobil. Holly hanya mengangguk menanggapi.


"Ko Tenry... pamit ya..."


Tenry mengangguk dan senyum tipis pada temen pacarnya itu. Dari jok depan si pemilik mobil akhirnya turun.


"Tenry..."


"Hei bro... ada kamu juga ya..."


Dua pria itu bersalaman ala pria, bersikap seolah mereka teman akrab sebelum ini. Tanpa sadar Holly semakin merapat pada Tenry dan ikut memeluk tubuh Tenry, rangkulan Tenry belum dilepaskan, pemandangan yang membuat Brill sadar bahwa cinta mereka terlalu kuat dan dia gak mungkin merobohkan itu tanpa merusak atau menyakiti mereka bertiga, Brill menelan ludah, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering menyadari kelakuannya terhadap Holly.


"Iya... temen-temen kuliah semua... baru sekali ini liburan bareng..."


"Oh gitu... makasih udah ajak Holly..."


"Don't mention it... dia temenku kan..."


Holly gak mau menatap Brill, gak bicara apapun bahkan gak menyimak pembicaraan dua cowok itu, dia tenggelam dengan pikirannya sendiri hingga Tenry menggoyang bahunya.


"Baby... Brill pamit tuh..."

__ADS_1


"Ehh... iya, makasih..."


Jawaban pendek dan pelan aja dengan lirikan singkat. Brill senyum kecil memaklumi sikap dingin gadis kecil yang sudah masuk begitu dalam di hatinya dan menjungkirbalikkan asas-asas cintanya.


"Ly, nanti aku info kapan pastinya kita liburan lagi... kamu bisa ikut bergabung Ten... kalau mau..."


"Oh... masih lanjut rupanya... boleh-boleh, kabarin aja..."


Tenry menanggapi sopan.


"Ly... Ten... jalan dulu..."


Holly gak menjawab ataupun membalas lambaian tangan Brill, dan menghembuskan napas lega setelah Brill menghilang di balik pintu mobil mewahnya, semakin lega setelah mobil itu bergerak dan melaju meninggalkan toko. Tenry segera menutup pintu pagar besar hitam itu.


"Cape ya?"


Ciuman Tenry menyerbu kepala dan pipi Holly di depan toko di bawah lampu yang bercahaya terang.


"Iya..."


"Koko... kaget ihh... Lingling jalan sendiri aja..."


Wajah mereka berhadapan searah sekarang, Tenry tersenyum lebar lalu memberikan satu ciuman singkat di bibir tipis Holly dan langsung ditimpali satu pukulan lumayan keras di bahu Tenry saat Holly teringat sesuatu...


"Lingling kesel sama Koko..."


"Nanti ya keselnya... sekarang jangan gerak-gerak dulu, entar kita berdua jatuh..."


"Makanya turunin Lingling aja... berat tau gak..."


"Emang berapa beratnya..."


"Tiga puluh delapan atau tiga puluh sembilan, gak tau..."


"Berat anak kecil... Koko pacaran sama anak ke..."

__ADS_1


Tinju kecil Holly kembali menyasar tempat yang sama. Tenry tergelak terlebih saat melihat mimik wajah Holly, katanya kesel tapi lebih terbaca kerinduan di sana meski coba ditutupi dengan bibir yang tertekuk.


Di lantai atas Tenry menurunkan Holly. Gadis itu segera menuju kamarnya.


"Ehh... jangan masuk dulu..."


"Mau mandi..." Suara dibuat jutek.


"Iya... mandi sana... bau badannya..."


Holly berjalan menghentak-hentak kakinya, tapi malahan membuat Tenry tergelak hepi dan membiarkan Holly melakukan sesuai kebutuhannya. Tak lama Holly muncul dengan kaos kebesaran milik Tenry dengan celana panjang bahan kaos. Rambut basah sudah tersisir rapih. Tubuhnya langsung mengarah ke dispenser, di mobil dia menahan rasa hausnya karena gak pengen repot nyari toilet.


"Sini..."


Tenry yang gak sabaran langsung menarik tangan Holly saat lewat di depannya. Holly duduk sedikit jauh di sofa yang sering jadi tempat mereka ngobrol, masih coba mempertahankan rasa kesel yang sebenarnya derajatnya sudah menyentuh titik nol. Rasa marah setengah hati yang menggemaskan.


Tangan yang membelai pipi ditepis perlahan.


"Gak kangen emang?"


"Gak... Koko aja gak kangen..."


"Kangen kok... banget..."


Holly menghindari tatapan lembut Tenry, dia udah pengen masuk ke pelukan si Koko sebenarnya, ingin berada di sana beberapa hari ini, tapi gengsi masih menahannya, dia mau si Koko yang memulai. Tenry yang melihat lirikan Holly pada tangannya akhirnya tahu apa yang paling diinginkan Holly. Dengan penuh sayang dia mengulurkan tangan meraih Holly untuk menyalurkan rindunya juga.


"My baby..."


Seseorang coba menawarkan pelukan yang sama, tapi itu tak bisa menarik hatinya untuk mencobanya, dia terlalu akrab dengan kehangatan yang ini, kehangatan yang dikenalnya pertama kali suatu malam saat dia sedang jatuh dalam kesedihannya. Rasa nyaman yang sudah dikenali semua indranya, dan di sini dia sekarang di tengah luapan cinta dan rindu miliknya, ya Tenry hanya miliknya seorang, dirinya juga hanya untuk Tenry saja.


.


🦋


.

__ADS_1


__ADS_2