Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 76. Setengah dari Jiwa


__ADS_3

"Kak Keke, maafin Holly... Holly teledor gak ngawasin Niol dengan benar, maaf Kak Keke..."


"Udah... gak papa... Niol udah berhenti nangis sejak tadi, kamunya malah nangis terus... udah... emang mau celaka dia... lain kali hati-hati ya..."


Junior sedang ditenangkan papinya karena terjatuh di luar ruko, ada bagian selasar yang agak tinggi sebelum jalan samping dan Junior terjun bebas dengan motor kecilnya menyebabkan luka di tangan dan kaki serta pelipis.


Holly melirik ke arah Benaya, om itu sangat marah padanya tadi, hingga sekarang Holly masih ketakutan diteriaki oleh seseorang yang selama ini baik padanya.


"Kak Keke... Holly mau minta berhenti aja..."


Holly berkata lirih, ada rasa malu juga takut Niol kenapa-napa. Dia memang sedang gak konsen pikirannya tertuju pada penyesalannya sendiri meninggalkan Tenry serta kesedihan karena Tenry sudah memiliki calon istri.


"Ehh... kenapa, baru sekali ini juga Nior jatuh... lain kali kamu hati-hati jagain dia, Kak Keke udah maafin..."


"Terima kasih kak, tapi Holly... Holly gak bisa kerja lagi, maaf Kak..."


Lama Keke memandang Holly, mungkin ada masalah lain, anak ini gak berhenti menangis sejak beberapa jam yang lalu.


"Holly, Nior udah gak papa... gak usah merasa bersalah ya..."


Keke mencoba menahan Holly.


"Kak Keke gak usah bayar gaji bulan ini, Holly mau pulang Kak, makasih sudah terima Holly kerja, makasih udah peduli sama Holly, Holly mau pamit Kak..."


Keke sendiri jadi ikut menangis karena memandang Holly yang berkata sambil berurai airmata, juga karena sudah merasakan ikatan dengan anak ini, anak penurut yang mengerjakan semua pekerjaan tanpa mengeluh, bahkan seperti sudah menjadi bagian dalam keluarga karena ketiga anaknya dekat dengan Holly.


"Baiklah Holly... tapi gaji kamu tetap kak Keke bayarkan kamu udah kerja kan... Besok-besok jangan ragu ke sini kalau butuh kerja ya... Kak Keke sebenarnya gak ingin Holly berhenti, anak-anak cocok sama Holly..."


"Makasih kak... Holly mau beberes pakaian..."


"Iya..."


Holly turun dari lantai dua menuju kamar tante Lenda, semua barang miliknya disimpan di sana walaupun dia tidur bersama anak-anak.


Benaya mendekat...


"Sweety, anak itu mau berhenti?"


"Iya... Inyo sih pakai ngebentak dia..."


"Aku panik liat Junior berdarah tadi..."


"Padahal aku mau lahiran sebenarnya butuh banget Holly di sini..."


.


Di bawah setelah semua bawaannya rapih...


"Kak Mel... Holly malu naik ke atas, tolong pamitkan ke kak Keke sama om ya... makasih Kak Mel udah bantuin Holly..."


"Kamu mau pulang ke mana?"


Holly terdiam sejenak, dia sudah memutuskan pergi ke tempat Hanie ketimbang pulang ke rumah... toh dia gak perlu takut sama Ci Cun lagi, keinginan Ci Cun sudah terpenuhi. Dia hanya perlu menghindari mereka saja.


"Aku mau ke tempat Hanie..."


"Motormu udah aku keluarin, aki udah aku pasang lagi... sini aku bantu ngikat kopernya di belakang biar gak jatuh... dusnya taroh di depan..."


Bawaan Holly memang gak banyak sebagian pakaiannya dia tinggalkan di kamar kost yang dulu.


"Makasih... kak, mmm kak... titip salam sama kak Null ya, minta maaf juga nanti Holly telpon kak Null..."


"Dia pasti marahin aku habis-habisan..."


"Kalau merit jangan lupa ngundang aku..."


Rommel hanya tersenyum.


.


🌱


.


Rasa kesal tadi malam masih terbawa sampai pagi ini. Tenry makan sarapannya dengan diam gak peduli ketiga wanita di sekitarnya sedang ramai ngebahas mengenai pernikahan Beyvie, apa yang harus ada, apa yang masih harus disiapin. Hingga akhirnya Beyvie dan Ivy menyingkir ke ruang atas setelah selesai sarapan. Tenry sengaja menunggu tertinggal berdua aja, dia pengen tegasin sesuatu sama mamanya.

__ADS_1


"Ma... Koko gak suka cara mama semalam..."


"Cara apa Ko?"


"Ngejodohin Koko sama anak temen-temen mama..."


"Mereka bukan temen-temen mama... dan Koko lihat sendiri gak seorang pun yang mama tanggepin..."


"Bukan temen? Tapi kenapa ngumpul bareng mereka..."


"Mama menghargai undangan orang terpandang di sini... itu aja..."


"Jadi sama ibu Gub itu... gak ada niatan kan buat ngejodohin Koko sama anaknya?"


"Gak, Ko... masa mama mau lakuin itu. Mama belajar dari Cici... coba kalau mama paksain Cici sama Hanie, mungkin Cici gak akan sembuh seperti sekarang... bahkan mungkin sekali mereka nikah dan gak bahagia. Lihat Cici bertemu Yongky akhirnya dan gimana dia sekarang mama ngerti, ada masa depan yang baik buat anak-anak mama asal mama pasrah dan ikhlas..."


"Terus kenapa dong kayak sengaja ngajak Koko pergi ke sana..."


"Mama salah, maaf Ko... kesalahan mama di sini adalah menyanggupi permintaan ibu Gub untuk membawa Koko, itu aja... kan sungkan juga menolak, Koko..."


"Hahh? Kok bisa ada permintaan seperti itu?"


"Iya, waktu beliau menelpon kemaren..."


"Kok bisa ada pembicaraan soal Koko?"


"Jadi... mama pernah bertemu beliau sekali di nikahannya anak si Hiat, masih ingat kan Ko Hiat?"


"Iya, masih lah... "


"Nah... mama dikenalkan dengan beliau saat itu, ya percakapan basa-basi soal anak berapa, umur berapa, kuliah di mana... itu aja... tau-tau kemaren beliau minta mama bawa anak lelaki mama..."


"Kenapa sih gak menolak aja... atau banyak alasan lain kan, biar gak usah ketemu terus kenalan sama mereka..."


"Mama gak mikir sejauh itu, mikirnya silahturahmi aja kan... mungkin ada manfaatnya ke depan untuk kita, kan relasi itu penting Ko..."


"Kalau gitu doang sih gak papa, tapi kayak ada embel-embel lain tuh... Koko gak suka ya kalau nanti ini berkembang ke arah sana... Koko gak mau mama jodohin sama siapa... gak ada..."


"Iya... mama gak akan begitu. Tapi mama malu loh... bolak-balik si Bierna dateng nanyain Koko...minta nomer hpmu..."


"Mama gak ngasih lah... mama bilang gak bawa hp, gak hapal nomer..."


"Jangan perpanjang ya ma, gak ada alasan sungkan lagi loh, pokoknya harus mama tolak jika mulai menjurus ke sana... ya udah... Koko mau kembali ke kost..."


"Kenapa masih ke sana sih... Koko bilang sewa setahunnya selesai bulan kemaren..."


"Koko perpanjang lagi, Koko betah di sana... masih nungguin Lingling juga..."


Ci Cun ingat sesuatu...


"Lingling... Holly?" Ci Cun berguman pelan, lalu...


"Koko, semalam mama kayak bertemu Holly, iya dia pasti Holly, mama denger kok dia kayak panggil nama mama, terus dia lari menghindar..."


Tenry berdiri dari kursinya.


"Di mana mama bertemu Lingling? Ma... di mana?"


"Di acara itu... makanya mama telpon angkat... mama telpon berkali-kali maksudnya mau ngasih tahu ada Holly di sana... dia pakai masker sih, tapi mama yakin mama gak salah mengenali Holly..."


Tenry terduduk dalam sesal, sebuah kesempatan bertemu gadis yang paling dia sayang hilang. Harusnya tadi malam dia gak pergi dari sana, harusnya dia menjawab telpon sang mama. Tenry mengacak kasar rambutnya.


"Kenapa Lingling ada di sana ya? Apa dia bersama Brill?"


Seolah bertanya pada diri sendiri tapi terdengar oleh Ci Cun.


"Siapa Brill?"


"Temen kuliah Lingling..."


Ada risau sekarang, Brill itu cowok kan...


"Mama sih liat dia sendiri... Koko kenal Brill? Cari tahu aja ke dia soal Lingling..."


"Gak terlalu kenal sih, tapi dia anak walikota..."

__ADS_1


"Oh... kayaknya Holly di sana karena pekerjaan, dia menggunakan seragam, mama gak tahu seragam apa sih... mmm... tunggu deh... kayak seragam karyawan katering Ko..."


Lingling kerja lagi? Ahh anak itu...


"Ma... bantu Koko cari tahu, jasa katering mana yang digunakan bu Gub... please ma..."


"Ko... nanti bu Gubnya nanya kamu gimana?"


"Mama alihkan aja secara halus, ma... bilang mau minta rekom buat acaranya Cici... please ma, sekarang..."


"Iya...iya..."


Ci Cun gak tega melihat muka memelas anak lelakinya yang hampir setahun ini seperti kehilangan setengah dari jiwanya, setengah dari semangat hidupnya. Walau pun sungkan, masa ibu pejabat digangguin untuk urusan sepele, Ci Cun mengambil gawainya lalu menekan nomer pribadi bu Gub.


Tenry menunggu dengan gak sabar.


Dari atas Ivy turun dengan tergesa...


"Ko... lihat ini..."


"Jangan gangguin Koko dulu..."


Tenry mengibas tangan adiknya yang menyodorkan ponsel, perhatiannya tertuju pada mamanya yang sedang menelpon.


"Ko... liat ini dulu, Koko nyesel entar... ini ada adeknya Ko Han..."


Tenry kesetrum dengan kalimat Ivy dan langsung merampas ponsel adiknya. Sebuah video pendek dua anak sedang ngedance dengan dance yang lagi Viral, di belakang mereka ada Lingling tersayang yang mengikuti dengan gerakan kaku.


"De... ini akun siapa..."


"Gak tahu... sini Dede cariin..."


Hari baik mungkin sedang datang, dua pentunjuk menemukan Holly sedang terbuka. Tenry kayak punya dua i*ntel yang sedang bekerja mencari keberadaan seorang b*uronan cinta yang sudah lama menghilang.


"Dapet Ko... Via Manoppo..."


"Liatin ada pernah posting alamat rumah gak, lokasi atau clue apa gitu..."


"Gak ada kayaknya..."


"Cari dulu..."


"Iya... ini ada di luar kota Ko... Ini ada video lain Ko... liatin dulu siapa tahu ada yang Koko kenal, ini panjang videonya..."


Ada anak kecil di video itu, dan... ada Rommel sepintas.


"Sialan... orang itu ahh..."


Tenry hampir membanting ponsel Ivy.


"Ehh... Ko... hpku mau diapain..."


Ivy merampas ponselnya dari tangan Tenry.


"Ko... ini alamat yang dikirim assistennya bu Gub... aduuh mama malu pagi-pagi gangguin orang penting hanya karena ini..."


"Ini penting buat aku ma... soal hidup dan mati aku..."


"Alaaaah... Koko lebay..."


Ivy mencibir walau sebenernya senang melihat derajat semangat si Koko bertambah sekarang.


Tenry beralih mengambil ponsel mamanya lalu, benar ternyata alamatnya sama. Tenry bergegas ingin segera tiba di tempat Rommel, ingin sekali memberi satu atau dua jab di wajah cowok itu.


Astaga Ling... selama ini kamu hanya sedekat itu dari Koko...


.


🦋


.


Semangat pagi...


.

__ADS_1


__ADS_2