
Holly turun dari ruang atas sambil menggenggam erat tangan Ezar.
"Hati-hati Dek..."
"Ati.... aatiii..."
Bayi delapan belas bulan ini turun dengan langkah pendek yang tak sabaran. Ezar udah senang berceloteh mengikuti semua ucapan walaupun belum sempurna.
"Akhirnya sampai di bawah kita..."
"Campee... cam... pe..." [sampai]
Celotehan lucu langsung diucapkan saat kakinya lebih dahulu berjejak di lantai dasar rumah itu.
"Bu... disuruh Ci Cun sarapan di rumah..."
Salah satu ART menyambut Holly tepat di anak tangga terakhir.
"Oh gitu? Jadi kamu gak masak ya?"
"Iya..."
"Makanan Echa juga?"
"Iya... udah dimasak di sana..."
"Sus... semua keperluan Ezar udah disiapin?"
Giliran suster Lena yang diajak bicara.
"Udah bu... udah di dalam mobil..."
"Ya udah... Dek... kita ke rumah Ama, kita sarapan di rumah Ama..."
Ezar menyimak sebentar... tangannya sudah terlepas dari tangan sang mami, mendengar kata Ama Ezar segera berjalan ke arah pintu keluar.
"Eeh eehh panggil papi dulu... bareng papi ke sana... suruh papi turun..."
"Papii?"
"Iya..."
"Papi atasss?"
Suara khasnya terdengar, dengan mimik muka lucunya dia berjalan menuju tangga. Holly mengawasi mengikuti langkah anaknya.
"Gak usah naik Dek... panggil dari sini aja..."
"Papi? Tuhh papi?"
Jari telunjuknya menunjuk ke atas dengan mimik muka penuh penghayatan.
"Iya... coba panggil... papi, ayo turun..."
"Papi... ayokkk pappi ayook..."
Ezar menirukan memanggil papinya, dengan suara keras, kepalanya menengadah tangan satu melambai-lambai dengan tubuh yang setengah melompat.
__ADS_1
"Papi.... ayook..."
Mendengar suara nyaring anaknya Tenry turun sambil tertawa, sudah rapih dan terlihat keren sekali dengan celana chinos warna hijau lumut, kemeja putih yang gak dikancing dipasangkan dengan oblong hijau lumut polos.
Melihat papinya turun Ezar melompat-lompat.
"Papi... papi..."
"Iya sayang..."
"Kita sarapan di rumah mama, Ko..."
"Ohh? Papi naik lagi kalau gitu, ngambil tas, sekalian berangkat aja..."
Tenry berbalik naik ke tangga...
"Papi..."
"Bentar..."
"Piji Ama..." [pergi]
"Sus... bawa Echa duluan ke sana..."
Holly melihat anaknya gak sabar untuk keluar rumah...
"Adek pergi bareng suster ya..."
Anak kecil itu langsung berjalan... tangan suster yang meraih tangannya, dilepaskan lalu mulai berlari. Suster Lena segera mengejar Ezar.
Sejak hamil sampai Ezar berusia satu tahun setengah ini dia memang gak ada kegiatan lain selain mengurus anaknya, menjadi nyonya besar yang hanya memerintah ini-itu karena ada ART yang membantu dan yang melayani semua hal di rumah ini. Sekarang saatnya untuk keluar rumah dan menjadi lebih bermanfaat untuk keluarga ini, gak ingin dicap menantu malas.
"Baby... kenapa bengong di sini, ayoo..."
Tenry meraih tangan istri, melempar kehangatan dalam tatapan lembutnya. Tahu dari gesture tubuh istri sejak bangun pagi, bahkan sejak dia meminta istri untuk kembali bekerja mengawasi usaha mereka, istri berubah jadi pendiam. Satu sikap istri yang dihafal Tenry, bila ada sesuatu yang mengganggu akan berubah jadi irit bicara dengannya. Dan beberapa waktu ini istri ceria dan cerewet hanya saat bermain dengan Ezar.
Holly berdiri, senyum seadanya lalu mulai melangkah di samping suami membiarkan bahunya dirangkul tapi tanpa mengatakan apapun.
"Ling..."
"Hmm?"
Tenry gak protes lagi dengan jawaban singkat itu, mereka berdua sering melakukan hal itu sekarang.
"Masih gak nyaman ke kafe?"
"Ehh? Gak kok... gak papa..."
"Jangan bohong sama papi..."
Mereka berdua melangkah lambat-lambat keluar dari rumah. Holly menunduk gak merespon perkataan suami. Dia tahu untuk kali ini suami punya keputusan mutlak, karena suami sudah mengingatkan bahwa di awal menikah pernah meminta Holly untuk ikut kerja menopang usaha mereka.
Sejauh ini mereka jarang bertengkar, jika pun ada perselisihan Tenry selalu berupaya menyelesaikan. Mereka berantem paling-paling karena Holly yang merajuk jika Tenry melupakan janji. Di lain waktu Holly yang labil, kadang marah-marah jika melihat ada perempuan yang mendekati Tenry lalu Tenry bersikap santai, kadang Holly suka sensitif dan cemburuan, atau bisa juga suatu saat bersikap tak acuh bila bertemu teman Tenry yang sok akrab giliran Tenry yang sebal karena itu.
"Gak mau berangkat ke kafe?"
Suara tegas suami terdengar sekarang.
__ADS_1
"Bukan... gak papa... ayo cepetan jalannya, adek pasti nungguin mami suapin makan..."
"Ada suster... mulai sekarang biarkan suster yang tangani Echa... selama ini dia kebanyakan santai... biasakan Echa diladeni sama suster, supaya saat mami kerja Echa gak gangguin mami... Kalau Echa udah sedikit lebih besar, Echa ditinggal di rumah aja..."
Nada suara suami semakin tegas, dan Holly tahu dia gak bisa membantah itu. Di sini masalahnya, boleh dibilang dia gak percaya sama suster sekalipun dalam penilaiannya selama ini suster Lena cukup bertanggung jawab, tapi entah kenapa dia enggan membiarkan suster untuk melakukan sesuatu untuk Echa, jika pun suster udah memandikan atau menyuapi makan Holly akan bertanya bagaimana cara suster melakukannya, dan bentuk kecerewetannya yang lain takut ada yang salah.
Tapi, Holly gak bisa terbuka sekarang, karena posisinya di sini masih ditentukan oleh mama mertua. Jika Ci Cun tidak bertanya pada Tenry kapan Holly akan melibatkan diri untuk bekerja lagi, mungkin Tenry gak akan pernah bertanya atau meminta dia bekerja lagi.
"Ling... kita ngomong dulu..."
Tenry berbalik setelah memperhatikan sikap istrinya, menuntun Holly masuk lagi ke dalam rumah bahkan naik lagi ke kamar mereka.
"Ada apa?"
Tenry langsung to the point, dia membiarkan Holly mengambil posisi nyaman, sementara dirinya duduk di tepi tempat tidur. Holly mengikuti duduk di sebelah suami dengan jarak selengan, itu cukup jauh tapi Tenry membiarkan saja.
"Maksudnya?"
"Lingling banyak diam belakangan... pasti ada yang disimpan... diomongin, jangan diam... nanti berlarut-larut, gak baik buat kita berdua..."
"Oh... gak ada Ko..."
Holly menunduk memperhatikan kaki telanjangnya, jika di dalam rumah dia suka sekali melepas alas kaki, ke mana-mana dengan kaki telanjang.
"Koko udah bilang tadi, jangan bohong sama Koko... Koko gak mau Lingling kayak waktu itu, sedih sendiri berbulan-bulan... Apa?"
Holly mengerling mendapati tatapan serius suami. Sejak kesalapahaman soal kehamilan, Tenry jadi lebih peka terhadap perasaan Holly, dia akan mengejar sampai Holly bicara.
"Itu... Lingling kan lagi nyusun skripsi... itu butuh waktu... Lingling juga masih belum bisa menyerahkan Echa sama suster, gak ingin peran Lingling sebagai mami digantikan orang lain... Lingling takut ada pengaruhnya sama Echa, biar bagaimana pun gak akan pernah sama... papi udah sibuk terus mami juga sibuk... ini yang membuat Lingling masih berat hati untuk bekerja..."
"Ling... jalani aja dulu, makanya Echa ikut Lingling... di sana bisa juga sambil selesaiin nulis skripsinya... anak memang lebih penting dari pekerjaan tapi tetap aja semua orang tua harus melakukan pekerjaan mereka... setiap orang harus mengerjakan sesuatu untuk hidupnya, harus mencapai sesuatu..."
Tenry berhenti sejenak, menggeser posisinya duduk mendekat dengan istrinya, merangkul bahu istrinya, lalu mulai berbicara dengan nada lebih lembut...
"Dulu Koko juga belajar dari mama papa soal ini, melihat mereka bekerja dengan rajin membuat Koko belajar bahwa hidup gak malas-malasan... Koko belajar dari mama papa soal tanggung jawab karena melihat apa yang mereka lakukan... Echa harus belajar dari kita sejak dini, harus tahu ada saatnya orang tua gak ada, gak bisa main sama-sama terus, dia harus belajar menunggu dengan sabar, dia gak boleh menghentikan kita bekerja hanya untuk meladeni dia bermain... tapi ada waktu di mana kita bisa bermain dengannya sepuasnya... Lingling paham ini?"
"Itu ehh... iya... Lingling ngerti..."
Holly menunduk lagi. Seorang mami yang sedang belajar menjadi mami yang baik, merasakan bahwa kehadiran dirinya adalah hal yang paling penting buat anak, sehingga dia seperti merasa bersalah jika harus meninggalkan anaknya.
Tapi di sisi lain dia seorang istri yang harus mengikuti hal yang diputuskan suami untuk rumah tangga mereka, dan yang paling menekan dirinya dia seorang menantu yang telah sering melihat bagaimana sepak terjang Ci Cun dalam pekerjaan, mendengar berkali-kali mereka berdualah yang harus melanjut semua usaha orang tua.
Holly gak punya pilihan.
.
🪧 Orang tua memberikan diri pada anak-anak dalam bentuk kasih sayang, sentuhan, kebaikan, pengertian, pemberian maaf....
🪧 Orang tua memberikan dirinya untuk anak-anak melalui kata-kata, mengungkapkan pujian, memberi semangat, memberi inspirasi, bimbingan atau nasihat.
.
🦋
.
Hi... hepi mandei, selamat beraktivitas...
__ADS_1