Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 148. Bukan Sekedar Hubungan Darah


__ADS_3

Holly sedang duduk diam di depan sang papa. Akhirnya di datang ke rumah Herlina, tempat papanya tinggal selama ini. Kamar di rumah ini ada tiga, semuanya di pakai oleh Herlina dan anak-anaknya. Papa Dol tidur di ruang makan, di pojokan ada sebuah dipan ukuran satu orang di sana dan hanya dipartisi dengan sebuah tirai yang dibentangkan dikaitkan dengan tali plastik.


"Papa sehat?"


"Kamu tahu papa dari dulu sering sakit..."


Muka papa terlihat memelas. Dulu Holly gak menyadari jika papa Dol suka berlagak sakit, tetapi berjalan dengan banyak pengalaman menghadapi orang-orang, Holly mulai bisa menilai papanya. Secara fisik sebenarnya papa Dol terlihat biasa saja, tadi Holly sampai di sini bertepatan dengan papanya sedang makan siang dan dia bisa melihat porsi makan papanya yang masih normal, makan langsung dengan tangan tanpa sendok, begitu nikmat.


"Papa ada perlu apa pengen bertemu Holly?"


"Apa papa gak boleh bertemu anak papa sendiri? Kamu anak bungsu, papa pasti kangen lah..."


Papa duduk mengangkat kakinya di atas kursi, tangan satu memeluk kakinya itu. Papa terlihat hanya bicara asal, sangat lancar tanpa ekspresi yang katanya kangen, sorot mata gak menunjukkan itu.


"Baru sekarang papa kangen?"


Holly berusaha bicara setenang mungkin walau hati mulai bergolak, ingatan di masa lalu perlahan menghampiri bagaimana dia seperti tidak dianggap sang papa, pernah diminta papa untuk digugurkan saat mama hamil dirinya. Kilas ingatan yang datang semuanya adalah hal-hal yang pahit. Dia gak ingat apakah papa pernah melakukan sesuatu untuk dirinya.


"Sejak kamu menikah lah, kamu jadi sombong tidak mau bertemu papa..."


Holly diam, dalam hati tidak ingin berlama-lama atau berbasa-basi karena hatinya menangkap bahwa pertemuan ini bukan dalam rangka saling kangen, entah kenapa sejak menit pertama di sini dia gak bisa menumbuhkan rasa percayanya pada sang papa.


"Papa ada perlu apa? Langsung aja, Holly punya banyak pekerjaan..."


Mimik muka papa seketika berubah lagi, sekarang kembali sama seperti ekspresi awal, demikian juga intonasi bicaranya.


"Papa mau minta rumah yang dijanjikan Tenry, kamu bilang sama suamimu bahwa papa belum lupa janjinya."


Deg... papa mengungkit sesuatu yang menjadi alasan ketidakhadirannya di pernikahan Holly.


"Itu maksud papa memintaku ke sini?"


Holly bertanya gusar dan memangku tasnya dari kursi di sebelahnya bersiap untuk pulang.


"Kamu lihat sendiri papa tidur di mana di sini, di rumah Helny juga sama, papa tidak punya tempat... makanya kalian harus berikan rumah untuk papa sekarang, jangan kamu hidup enak sendiri."


"Papa ditunggu mama, kenapa gak kembali bersama mama? Papa menginginkan rujuk dengan mama kan?"


"Mama yang harus datang kembali ke sini, papa gak mau ke tempat opa kalian."

__ADS_1


Holly berdiri, dia tahu percuma bicara dengan sang papa dengan sikap papa seperti itu, masih sama. Keluarga bukan hanya sekedar hubungan darah, bukan sekedar mewariskan gen dalam diri anaknya, tapi ada hubungan saling memiliki, saling memberi bukan saling menuntut. Holly tidak menemukan itu dari papanya, dulu dan sekarang rasanya hampir gak pernah ada.


"Urusan rumah itu bagian Ko Tenry, papa jangan minta sama Holly... Holly adalah seorang istri yang mendengarkan perkataan suami. Holly pamit, pa... siang."


"Papa belum selesai Holly, kamu jangan kurang ajar, baru aja sampe udah mau pergi, apa kamu gak punya hati?"


Holly menatap sang papa, siapa yang tidak punya hati di sini, seseorang sering menuding orang lain untuk sesuatu yang dia sendiri tidak punya.


"Holly banyak pekerjaan... Holly juga punya anak kecil, kasihan kalau ditinggal lama..."


"Alasan. Bilang sama suamimu papa minta itu sekarang."


Tanpa menjawab Holly keluar dari rumah.


"Holly... berhenti..."


Holly akhirnya berhenti di depan pintu mobilnya karena merasa papanya sedang mengejarnya.


"Berikan papa uang, kamu belum pernah memberi papa uang..."


"Pa... setiap bulan selama enam tahun lebih ini papa menerima uang dari Ko Tenry, itu uang Holly juga..."


"Itu banyak pa, jika hanya untuk kebutuhan papa sendiri. Kalau Holly tahu sejak awal Ko Tenry memberikan uang, Holly akan menghentikan itu... papa tidak tahu malu, papa sendiri tidak pernah memberi uang buat Holly dulu... apa papa menganggap Holly anak papa dulu? Pernikahanku saja papa tidak hadir, sekarang papa menuntut Holly dan Ko Tenry untuk memenuhi semua kebutuhan papa? Yang tidak punya hati siapa?"


Holly belum pernah seperti ini, berhadapan langsung dengan sang papa dan mengatakan sesuatu yang dia rasakan.


"Kalian anak durhaka, kamu dan Hanie sama saja!"


"Ada apa ini, kenapa bertengkar di luar rumah, masuk ke dalam Holly, jangan membuat aku malu di lingkungan ini, kamu datang malah membuat keributan, malu kalau tetangga tahu seorang anak melawan papanya. Ayo ke dalam Holly..."


Herlina datang dan langsung menarik Holly. Holly yang tidak siap juga dengan badan kecilnya akhirnya hanya bisa mengikuti Herlina. Setelah di dalam Holly menarik tangannya, dan menjauh dari Lina.


"Kenapa kamu ke sini gak bilang sih... kalau anakku gak telpon aku, aku gak tahu kamu ke sini... aku sampai ijin pulang lebih awal..."


Holly beradu pandang dan melihat tatapan tak suka dari Herlina. Sejak dulu rasanya tatapan Herlina selalu sama.


"Aku sudah lihat papa sesuai permintaan kalian... Aku mau pulang sekarang, aku banyak pekerjaan..."


"Holly?? Kenapa jadi seperti orang lain? Kamu keluarga kami, kamu adikku, anak papa, kenapa gak ada niatan untuk berhubungan dengan kami? Apa karena kamu kaya jadi kamu tidak mengakui hubungan kita?"

__ADS_1


Holly merasakan hatinya sakit, airmata menggenangi kedua matanya. Dia menginginkan ini juga, tetapi entah kenapa dia tidak melihat ketulusan niat mereka untuk menjalin hubungan yang sesungguhnya sebagai keluarga. Tak ada energi itu, tak terlihat kerinduan untuk saling mengikat lagi hubungan yang renggang selama ini.


"Aku masih sama, aku gak pernah menyangkali hubungan kita, tapi bukannya sejak dulu hubungan kita biasa aja, gak akrab, dulu juga kalian gak peduli padaku..."


"Itu sudah berlalu, kamu ternyata pendendam..."


Holly menghembuskan napasnya, mengeluarkan rasa gusar dari hatinya.


"Aku juga ingin hubungan kita baik, seperti hubungan dengan opa oma, dengan ii Yun dan ii Lely..."


"Hehe... bicara gak sesuai, buktinya kamu gak menjawab telponku, datang di waktu orang harusnya kerja, kamu sih gak kerja uangmu banyak... harusnya kamu peduli dengan keadaan kami yang selalu kekurangan, mana kamu tahu itu? Kalau kamu merasa keluarga kami, kamu seharusnya membantu kami... membantu papa... bukan gak peduli seperti selama ini, sejak kamu nikah kamu belum berbuat sesuatu untuk kami padahal kamu punya banyak uang..."


Ungkapan panjang lebar Herlina membuat Holly tahu apa motivasi Lina menelponnya.


"Selama ini papa setiap bulan dapat jatah dari Ko Tenry..."


"Hahh?? Bener pa? Jadi papa bohong padaku, selalu minta uang saat aku gajian? Papa keterlaluan..."


Herlina menatap marah pada papa yang hanya melirik sebentar dari layar TV, sejak masuk ke rumah papa langsung menghidupkan benda itu.


"Papa dapat berapa tiap bulan?"


"Dua juta..."


"Astaga, itu lebih dari setengah gajiku pa... papa keterlaluan, papa makan gratis masih minta uang rokok..."


Papa duduk santai dan bersikap tak peduli. Holly segera keluar pintu rumah itu, dengan berjalan cepat dia menuju mobilnya.


"Holly! Kamu yang urus papa sekarang! Aku gak mau lagi! Kamu yang lebih pantas mengurus papa!"


Holly gak menjawab teriakan Lina. Dia menyesal sekarang datang di sini sendiri padahal suaminya bersedia menemani.


Berharap hubungan keluarga mereka membaik, mungkin hanya ilusi sekarang.


.


🦋


.

__ADS_1


__ADS_2