Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 56. Sebelum Party


__ADS_3

Tenry senyum-senyum melihat tampilan Holly malam ini yang berbeda. Tadi dia menunggu di ruang bawah dan cukup terpesona dengan tampilan gadis kecil miliknya, saat lihat pertama kali.


"Dari tadi Koko mandangin Lingling terus... udah ya..."


Holly mengambil daftar menu di meja dan menutupi wajahnya, udah sering ditatap Koko, tapi kali ini cara Koko natap dia membuat malu aja.


"Hehehe, udah bisa dandan ya sekarang?"


"Gak, ini kak Nul yang maksa... tadi Koko lihat kan... Lingling udah di bawah ditarik ke atas lagi cuman buat makein make up..."


Holly cemberut, dia masih kesel, mukanya terasa tebal dan sedikit gatal. Memakai make up muka memang terlihat lebih bersinar tapi berasa gak nyaman. Tenry mengambil menu di tangan Holly. Mereka duduk berdampingan di sebuah pojok kafe tepi pantai. Gak banyak orang di sini, mendukung keinginan Tenry untuk berduaan.


"Gak usah ditutupin kenapa..."


"Malu Ko..."


"Cantik kok..."


Holly menunduk. Tadi pengen dia hapus waktu di mobil, ehh dilarang si Koko, sesekali katanya boleh aja tampil beda.


"Gak usah malu ahh, sama Koko juga ngapain malu... sini tangannya..."


Tenry mengambil tangan kanan Holly dan memasukkan ke pergelangan sebuah gelang tali warna hitam berbandul hati warna perak.


"Ini hadiah karena udah dandan cantik buat Koko malam ini..."


Holly terpaku sejenak saat si Koko memakaikan gelang itu, mengatur tali biar sesuai dengan pergelangan Holly yang kecil.


"Keren Ko... makasih ya..."


Holly senyum manis, mengangkat tangannya memperhatikan gelang di tangan, lalu melihat ke tangan Koko yang suka memakai gelang seperti itu, ada beberapa melingkar di tangan kiri.


"Koko punya yang kayak gini?"


"Oh... gak, nanti deh Koko bikin satu lagi biar pasangan sama Lingling..."


"Ini... mahal gak?"


"Apa sih... kebiasaan nanya-nanya harga..."


Si Koko mencubit pipi kanan Holly.


"Iya kalau tahu mahal, Lingling pasti simpan dengan baik..."


"Dipakai bukan disimpan..."


"Kan ada saatnya dilepas... masa harus pakai ini saat mandi, sayang kan..."


"Ini custom, coba perhatiin, ada inisial nama kita..."


Holly menyipitkan mata, memperhatikan grafir huruf pada bandul hati.


"T... H... wah keren Ko, keren..."


Muka Holly jadi tersipu-sipu lagi, ini tentang mereka berdua, tentang sebuah ikatan. Tiba-tiba hati jadi penuh bunga-bunga, mekar sewangi-wanginya, warna merah muda semua. Cinta oh cinta.


"Ini bagus banget Ko..."


Holly berkata pelan tapi tak menyembunyikan rasa senang yang menggelora sekarang.


"Suka?"

__ADS_1


"Iya..."


Holly senyum manis lagi buat Koko. Tenry gak menyia-nyiakan moment, menyematkan sebuah tanda sayang di pipi yang memerah itu. Holly mengalihkan semua rasa yang melompat-lompat di dadanya dengan memegang gelang di tangan Tenry, yang katanya biasa aja.


"Sama aja talinya kan?"


"Punya Lingling beda sama punya Koko, yang ini cuman seratus ribu, punya Lingling bahannya lebih bagus..."


"Oh... bisa dijual lagi gak?"


"Bisa... itu bandulnya sepuluh gram mas putih..."


"Oh... bisa Lingling jual dong kalau lagi gak punya duit..."


"Eh nih anak... pemberian Koko itu gak boleh dijual..."


"Pemberian Koko udah banyak..."


Wajah Holly berubah sendu.


"Mmm... Lingling belum pernah ngasih sesuatu buat Koko..."


Tenry menangkap perubahan raut muka Holly, tangannya otomatis terulur mengusap pipi Holly


"Kasih Koko senyum aja, itu udah berarti sangat banyak...."


"Apa sih... maksudnya benda apa gitu..."


"Denger ya sayang... Koko mintanya diri Lingling aja, itu gak sebanding dengan semua pemberian Koko, Lingling ada bisa Koko lihat setiap hari itu segalanya buat Koko... jadi jangan pernah pergi dari Koko ya... itu aja yang Koko minta..."


Tangan Tenry masih di pipi, Holly menatap Tenry dalam, ada kekuatiran yang mengendap di hatinya, tentang kemungkinan di kemudian hari... dia coba menepis rasa yang muncul lagi.


"Mmm tapi tetep pengen ngasih sesuatu, paling gak sesekali Lingling yang bayarin kalau makan... gimana, malam ini Lingling aja yang bayarin makanan kita?"


"Ihh Koko... itu doang yang Lingling bisa, uang Lingling kan gak banyak... boleh ya sesekali Lingling yang traktir, misalnya pas Lingling ulang tahun..."


Tenry membuang pandang ke tempat lain, alamat gak baik jika bahas soal ulang tahun keterusan. Sementara Holly teringat sesuatu.


"Koko... kalau Lingling ulang tahun... boleh kan Lingling yang traktir? Koko gak usah ngasih kado, kadonya adalah ijinin Lingling ngajak Koko makan, ya?"


Tenry menatap Holly sekarang, menunggu Holly ngomong, jika Holly menyinggung soal undangan Nuella bisa-bisa...


"Ko... boleh?"


"Mmm... Koko pikir dulu..."


"Koko ihh... Koko udah sering tunjukin sayang sama Lingling... masa Lingling gak boleh..."


"Emang sayang ya??"


Tenry senyum-senyum, meraih tangan Holly lagi masuk ke genggaman tangannya.


"Iyaaaa... ihh Koko..."


Senyum Tenry tambah lebar, suara manja Holly begitu menggoda sekarang.


"Belum pernah Koko denger Lingling bilang sayang..."


"Pernah kok..."


"Belum... coba... pengen denger..."

__ADS_1


"Ihhh... gak mau... Lingling..."


"Apa mmm? Malu?"


"He eh..."


"Ayo... ngomong, kalau gak, kita gak pulang..."


"Ihh... tapi janji, Lingling ulang tahun boleh traktir Koko..."


"Mmm... kapan ulang tahunnya..."


Eits si Koko lupa, harusnya gak boleh singgung-singgung soal itu...


"Janji dulu..."


"Iya... Koko janji..."


"Lingling ulang tahunnya... masih lama hehehe..."


Tenry mengernyit, dia tahu lah tanggal berapa, pura-pura gak tahu aja.


Niat mau ngajak makan apa gak, kan hutnya dikit lagi, sejam lagi tanggal udah berganti. Itu pertanyaan dalam hati si Koko.


"Ya udah kalau masih lama... sekarang bilang sayang..."


"Mmmhh... Lingling sayang Koko..."


Lirih tapi cukup untuk menggetarkan dan melambungkan hati seorang Tenry. Ucapan memang lebih memberi makna, kalimat Holly adalah ungkapan paling biasa untuk menyatakan perasaan, tetapi tetap aja saat mendengarkan itu, seperti sebuah pernyataan tentang hidup yang sepenuhnya diberikan Holly untuk membahagiakan Tenry, yang membuat dirinya terasa penuh sekarang.


"Koko lebih dari sayang..."


Tenry menyambut dengan sebuah pelukan, tatapan penuh makna lembut dengan sinar mata yang semakin jatuh cinta. Kondisi memungkinkan untuk sebuah ciuman lebih dari biasanya, ciuman sayang yang gak setengah atau sekilas pintas. Hanya beberapa detik tapi rasanya bermenit-menit untuk Holly. Setelahnya Tenry tertawa dengan reaksi Holly, karena bukan hanya menutup mata dengan dua tangan, tetapi wajah Holly kini menelungkup di dua kakinya.


"Hahaha... kenapa sayang?"


Tak ada jawaban, Tenry meneruskan tawa sambil mengusap bagian kepala Holly. Reaksi yang kekanakan, tapi justru semakin menarik hati Tenry jatuh untuk berlipat-lipat lebih sayang. Cinta memang selalu menakjubkan ketika menghampiri dua insan, seseorang yang jatuh cinta akan mengabdikan diri pada cintanya dengan mencinta semua bagian dari orang tersebut.


"Ling... duduk yang benar, cape kan kayak gitu terus... ayo gak usah malu dong..."


"Tapi janji ya... jangan cium Lingling kayak tadi lagi..."


"Kenapa?"


Tenry senyum...


"Perut Lingling mules..."


Astaga, ciuman bikin sakit perut...


"Ya udah... ayo berdiri, kita pulang aja udah jam sebelas, kita mau ke acara Nuella kan..."


Holly bangkit dan duduk normal sekarang dan memberanikan diri menatap Tenry.


"Janji ya... jangan kayak tadi lagi..."


"Iya... iya... dasar... Hehe... kamu lucu tau gak... makin sayang..."


Dengan gigi saling mengatup dan bibir sedikit mengerucut, Koko yang gemeesss memberikan satu ciuman di pipi.


.

__ADS_1


🦋


.


__ADS_2