
Jika seseorang punya papa yang sedikit menuntut tetapi banyak memberi... berbahagialah, karena ada anak seperti Holly yang punya papa sebaliknya. Seorang anak yang tak memiliki kedudukan istimewa di mata papanya, lalu menjelang pernikahannya semakin menunjukkan siapa Holly bagi papanya...
"Mereka menganggap remeh papa kalau begitu!"
Pak Rudolf sedang meradang karena Tenry tidak menjawab telpon, Ci Cun juga.
"Mereka sibuk pa... papa yang membuat mereka sibuk..."
Holly menjawab dengan suara lemah. Dia dipaksa pulang ke rumah oleh papanya yang sejak pagi gak berhenti menelpon.
"Alasan!"
"Emang sibuk pa... Aku aja udah dua hari gak ketemu Ko Tenry... nelpon aku aja tadi pagi doang..."
"Mereka mau mengingkari ucapan mereka waktu itu... papa gak terima ya Holly, kelakuan mereka yang gak nganggap papa..."
"Apalagi sih yang mau papa omongin..."
"Percuma ngomong sama kamu... gak pernah kamu sampein..."
"Rasanya semua udah mereka turutin, jangan membuat Holly semakin gak enak pa... malu rasanya tahu papa ngerepotin mereka... papa mau minta apalagi..."
"Sekarang saatnya kamu berbuat sesuatu bagi orang tua, gak usah banyak omong, bilang Tenry papa sudah hubungi saudara-saudara papa, mereka yang akan masak di sini... uangnya papa tunggu hari ini..."
"Masih dua minggu lagi pa... acara di sini setelah resepsi yang di gedung... lagian Ci Cun udah pesen katering..."
Holly masih coba bersabar, papanya tidak menerima semua yang sudah diatur keluarga Tenry.
"Papa bilang kita gak perlu katering, banyak keluarga bisa masak... itu lagi papa keberatan masa undangan untuk acara di gedung hanya keluarga aja, itu juga terbatas, bener-bener mereka ngeremehin keluarga kita heh?"
"Ya kan nanti ada acara di sini juga, makanya dibagi yang di gedung undangannya keluarga Ko Tenry... di sini keluarga kita, permintaan papa sendiri kan..."
"Dol... stop... aku gak mau denger lagi kamu ngomong macem-macem, minta macem-macem, kamu tau gak itu sama dengan memberi Holly beban yang berat... cukup... terima apa yang sudan diatur Tenry..."
Mama keluar dari ruang jahit berdiri sambil berkacak pinggang.
"Apa kamu... perempuan tahu apa!"
"Aku tahu kelakuanmu, aku bilang stop!! Gak punya malu, gak punya hati... gak pernah peduliin Holly sekarang nuntut dia berbuat sesuatu... laki-lagi pemalas dan gak berguna! Tuntut itu sama Hellen, uangmu cuma buat Helllen, gak pernah kasih makan keluarga dari dulu, sekarang ngelunjak... aku masih ingat ya... kamu suruh aku gugurin Holly sekarang kamu minta ini-itu dari anak yang kamu tolak... peralat anak sendiri untuk dapetin uang..."
Jika mulut mama sudah melepaskan pelurunya, pasti pedas tajam dan menusuk, suara besarnya mungkin udah sampai ke ujung lorong. Holly mau menangis sedih, ini pertama kali dia mendengar mama membela dirinya, dan semakin sedih, kenyataan bahwa papanya pernah meminta mama menggugurkannya membuat air matanya mengalir deras.
Pertengkaran semakin panas, mama udah gak bisa dibendung.
__ADS_1
"Jangan besar mulut! Jangan ikut campur, dia anakku aku berhak minta dia merubah nasib kita, dia mau menikah dengan orang kaya, kalau gak diajarin dari sekarang, setelah nikah dia pasti lupa keluarga jadi sombong..."
"Bagus kalau dia lupa punya papa macam kamu..."
"Anjjj*nnng, perempuan se*tan... kalau kalian macem-macem, lihat aja nanti, aku gak akan hadir di acara pernikahan anak ini... kamu denger Holly? Kalau Tenry tetap pakai katering gak ngasih duit untuk kita masak buat acara, papa gak akan hadiri pernikahanmu!"
"Malah bagus kamu gak ada di sana, gak pengaruh buat kita! Kalau kamu masih nuntut macem-macem, gak usah dateng! Aku bisa minta opanya Holly gantiin kamu... Gak setuju, terserah, lebih bagus kamu keluar dari rumah ini, ini rumahku, kamu hanya numpang sejak dulu!! Suami gak ada ahlak, papa gak bertanggung jawab! Aku udah cukup bersabar, 33 tahun aku bersabar dengan kelakuanmu! Aku durhaka sama orang tuaku karena kamu... silahkan pergi!! laki-laki tak tau diuntung, bisanya cuma bikin orang susah!! Pergi dari rumahku dan jangan usik Holly!! Bikin malu anak aja!!"
Mama sudah naik pitam, semarah-marahnya mama selama ini, ini yang paling hebat, seperti mau menerkam papa yang notabene posturnya hampir sama dengan mama. Bapak Rudolf terdiam saat kalimat terakhir mama terlontar, lelaki yang seharusnya jadi pengayom dan pelindung di rumah ini kehilangan wibawanya dengan raungan amarah istri sendiri. Ibaratnya gigi taringnya rontok semua dalam satu semburan lahar panas istri. Si papa masuk kamar sambil membanting pintu dengan keras.
"Holly pulang aja... jangan di sini, gak usah ke sini lagi mama gak ijinkan kamu ke sini lagi. Tenangkan diri aja dan gak usah gubris papamu... biarkan dia malu sama mulut besarnya pamer ke sana kemari soal menantu kaya... "
Holly mengeringkan airmatanya, orang tuanya berantem di depan mata itu karena dirinya. Gambaran papa dalam dirinya semakin cacat dan buram saat tahu dirinya gak diinginkan papanya, terlebih gak ada dalam memorinya kenangan seorang papa bersikap baik padanya.
"Pulang Holly..."
Holly akhirnya keluar rumah tanpa suara, merasa aneh dia disuruh pulang ke rumah orang lain, seharusnya rumah ini tempat dia pulang.
"Jangan pedulikan papamu lagi, kalau dia berulah bilang mama, sekarang mama gak akan biarkan papamu bersikap kurang ajar. Bilang Tenry jangan sungkan menolak hanya karena dia calon mertua, dia gak layak untuk itu dengan kelakuannya kayak gini..."
Mama masih bicara walaupun Holly sudah di luar rumah.
Dengan wajah tertunduk Holly menuruni jalan setapak itu. Dia baru saja menyadari bagaimana dirinya dalam pandangan papanya. Dia pernah berpikir mungkin karena banyak anak hingga papanya acuh tak acuh, tapi ternyata sejak awal dia tak berharga buat papanya. Miris, karena sekarang justru papa melihat dirinya sebagai ladang uang yang subur.
Holly menelpon Tenry. Hatinya yang baru saja pecah lagi membuat dia kehilangan daya untuk pulang dengan motor.
.
ðą
"Koko di mana?"
"Masih di Marina... bentar lagi Koko pilang, nanti Koko mampir ya..."
"Jemput Lingling boleh?"
"Boleh... di mana?"
"Di rumah... Lingling tunggu di warungnya Sonny ya? Sebenarnya Lingling bawa motor Ko... tapi... gak kuat pulang bawa motor..."
"Eh... iya jangan... Mama udah ingetin loh jangan bawa-bawa motor lagi..."
"Ya udah... tapi motorku gimana?"
__ADS_1
"Titip Sonny aja..."
"Gak ada tempat parkir..."
"Ya udah... nanti Koko bawa karyawan... Koko jemput sekarang deh..."
.
Setengah jam kemudian... Tenry mendapati Holly duduk bersila menghadap pantai di pinggiran jalan besar.
"Katanya nunggu di tempat Sonny..."
"Ko... kangen beton panjang ini, udah lama gak duduk-duduk di sini..."
"Kok nangis... waktu itu juga Koko ngeliat kamu nangis di sini..."
"Iya... ini tempat aku datang kalau lagi sedih banget..."
Tenry duduk di samping Holly...melihat bekas airmata di wajah sudah bisa memastikan sesuatu telah terjadi. Ada banyak panggilan calon mertua di ponselnya, mungkin Holly jadi pelampiasan kegusaran sang calon mertua lagi.
"Sabar ya, baby... dibawa hepi aja semua... emang gitu katanya saat mau nikah, karena banyak yang dipikirin jadi tertekan..."
"Hehe.. kirain mau nikah itu indah, seneng, bahagia... Koko juga kan kayak gitu, walau gak ngonong Lingling tahu Koko juga gak baik perasaannya..."
"Setelah ini... Koko janji, kita lebih banyak hepinya..."
Suara Tenry selalu bisa menghibur, selalu menghangatkan, dan menjernihkan pikirannya.
.
Eittt udah episode 100 aja...
Kerasa banget ya ketik2nya hehehe...
Mohon maaf ya kk, segitu aja yg bisa aku tulis pdhl 100 harusnya istimewa kan...
Udah basi sedih terus mungkin... tapi ini ciri tokoh kita... sesudah ini saat musim hidupnya berganti... mungkin dia akan beralih ke kehidupan yg lebih bahagia... kalo Holly udah hepi, maka kita... lu-gue end ... ðĪððĪŠ
.
ðĶ
.
__ADS_1