Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 133. Koko Ikutan Pusing


__ADS_3

Mereka berdua bukan suami atau istri yang sempurna. Terlebih kadang situasi begitu menekan sehingga cinta, perhatian dan itikad baik pun bisa salah dikomunikasikan.


"Mami membuat papi bingung deh... coba pikir dengan baik dulu apa sebenarnya yang mami inginkan... jangan sedikit-sedikit berubah..."


"Makanya mami nanya sama papi kan gimana baiknya..."


Holly menghempaskan dirinya di sofa dalam kamar mereka di lantai atas. Tenry baru selesai mandi, makan malam belum siap, kali ini salah satu ART masak makan malam di rumah mereka sendiri.


"Ling... udah berapa kali Lingling bolak-balik nanya hal yang sama, udah berapa kali juga Koko kasih ide, kasih pendapat... Lingling nyimak gak sih sebelum ini? Masa ditanyain terus, Koko juga bosan kasih tahu hal yang sama..."


Tenry menjawab dengan kalimat bernada gusar, muka gak enak dilihat, gak ada senyum dan kelembutan seperti biasanya.


"Lingling cuman pengen memastikan aja, makanya nanya lagi..."


Bibir mengkerut sekarang, tanda-tanda hati mulai terganggu.


"Ini bukan memastikan Ling, ini mementahkan lagi apa yang udah fix kemaren..."


"Ini masalahnya karena kita gabungin dua acara sekaligus, makanya Lingling nanya lagi..."


"Makanya yang praktis aja...jangan terlalu ribet, Koko ikutan pusing... satu aja acaranya..."


"Loh... ini Koko sendiri yang maunya seperti itu, Lingling gak bermaksud buat Koko pusing..."


"Makanya gak usah dibahas lagi, muter terus, gak selesai-selesai..."


"Ya udah kalau Koko gak mau bahas lagi... batalin aja acaranya, gak usah dirayain gak papa juga..."


Holly sakit hati melihat tanggapan suami kali ini.


"Jangan ngambek ahh... kayak anak kecil aja..."


"Iya Lingling memang anak kecil, kenapa mau nikahin juga..."


Holly menjawab dengan kekecewaan yang mengental, emosi menguasai hati sekarang, maka dia berdiri lalu berjalan keluar dengan airmata yang mengucur bebas. Suami yang mendorong dia untuk menggabungkan acara anniversary mereka dengan ulang tahun pertama baby Ezar, tapi sekarang malah bilang dirinya ribet.


Tersisa dua minggu waktu persiapan, Holly baru mengerjakan beberapa hal di daftarnya. Mama mertua membebaskan dia mempersiapkan sendiri acara ulang tahun putra pertamanya, sama seperti Beyvie sebelum ini saat merayakan ulang tahun pertama dan kedua putrinya Sansan.


Tapi baru saja antusiasme dan kegembiraan mempersiapkan acara berharga untuk putranya menguap karena kekesalan kini menjalar dari menguasai seluruh aliran darahnya membentuk emosi yang bermanifestasi pada dua anak sungai di kiri dan kanan wajahnya.


Tak lama Holly berbalik masuk kamar, dia membiarkan airmatanya, suami pasti melihat itu. Holly mengambil baby Ezar dengan hati-hati dari tempat tidur mereka karena putra mereka sudah tertidur pulas.


Tenry memandang heran kelakuan sang istri, untuk apa anak yang sudah tertidur pulas diangkat lagi... tapi karena dia lagi kesal juga, mulutnya gak mengeluarkan kalimat apapun, hanya memperhatikan sebentar lalu memilih naik ke tempat tidur dan meraih remote TV.


Holly tambah sakit hati karena suami malah mendiamkan gak merespos tindakannya. Holly menuju kamar baby Ezar, di sana ada tempat tidur bayi yang lumayan besar untuk menampung dirinya dan baby Ezar untuk tidur malam ini.


Holly memutar anak kunci menutup pintu berniat gak akan keluar lagi.


"Papi nakal Dek... gak biasanya papi marah-marah sama mami... hiks... mami gak minta kok kita ngerayaain ulang tahun pernikahan, mami maunya ulang tahun Adek aja... eh sekarang papi yang marahin mami... hiks..."


Holly meletakkan baby Ezar sambil mengadu seolah-olah babynya bisa mendengar dan memahami apa yang dia ucapkan... Holly naik ke tempat tidur, tubuh kecilnya membuat dia bisa berbaring leluasa di sebelah baby Ezar.


Tenry tahu istrinya gak akan balik ke kamar lagi untuk mengajak dia makan malam. Rasa lapar sejak tadi membuat Tenry turun sendiri akhirnya.


"Mbak... ibu mana?"


"Gak lihat, pak..."


"Ibu belum makan kan?"

__ADS_1


"Iya pak... tadi bilangnya bareng bapak..."


Tenry merenungkan sejenak tingkahnya tadi, menyadari dia berbicara dengan suara keras. Rasa cape dan rasa lapar mungkin penyebab dia sedikit naik emosinya saat berbicara dengan istri.


"Saya makan sekarang, coba kamu lihat di kamar depan... mungkin ibu tidur di situ bersama Echa..."


Si ART tergopoh-gopoh melangkah ke kamar di lantai satu ini.


"Gak ada siapa-siapa pak... gak ada lampu..."


"Apa ke rumah mama? Suster Lena mana?"


"Suster ada di kamarnya pak..."


"Suruh ke sini..."


"Iya pak..."


Tak lama suster Lena datang mendekat, si ART masuk dapur lagi.


"Iya pak?


"Echa mana sus?"


"Udah di kamar bapak, udah sejak dua jam yang lalu Echa tertidur..."


"Ya udah..."


Tenry fokus ke makanannya sekarang. Berpikir bahwa gak mungkin juga istri ke rumah mama atau ke rumah Beyvie.


Apa di kamar Echa?


Setelan meneguk air putih satu gelas penuh, Tenry menuju kamar anak di lantai dua. Dia menggedor pintu perlahan.


"Mami... sayang, buka pintu dong... mami belum makan loh..."


Di dalam kamar Holly mengacuhkan panggilan suami. Hati masih dongkol, masih sakit terhadap lontaran kata-kata suami.


"Ling... buka dong, kita bicara ya? Baby..."


Semua panggilan telah disebutkan, begitulah Tenry dan Holly gak menetapkan harus manggil dengan panggilan apa, semua menyesuaikan dengan mood keduanya.


"Sayang... buka pintu... Koko bilang apa sebelum ini... kesal atau marah jangan gak bicara... buka sayang..."


Holly berdiri dari tempat tidur, sama aja bertahan dalam gengsi, yang sakit hatinya sendiri. Tak lama pintu terbuka... wajah penuh airmata menyembul di sana. Tenry meraih tangan Holly dan membawa tubuh istri ke sofa di ruangan itu.


Gak ada yang gak bisa dibicarakan terutama untuk hubungan suami dan istri. Rasa jengkel dan marah harus dijelaskan dengan baik dengan hati dingin. Jika tidak dibicarakan kemarahan akan bertumpuk dan secara sadar atau gak sadar kadang bisa terjadi pembalasan karena merasa gak diperlakukan dengan baik oleh pasangan, akhirnya merusak hubungan. Tenry jarang meninggalkan Holly bila belum tuntas membahas apa penyebab kemarahannya.


"Jangan merajuk sayang... yang ada masalahnya gak selesai, Lingling nangis terus gak berhenti..."


"Abisnya Koko kayak nyalahin Lingling... padahal Lingling nanya aja, kenapa gak dijawab biasa aja sih... Lingling juga ngerti kan... gak harus marah-marah juga..."


"Koko marah pada tempatnya, Koko gak mau membahas ulang apa yang udah pernah kita bicarakan... Lingling langsung action aja, kerjain aja, gak boleh ragu... gak usah nanya Koko lagi, itu maksudnya... Lagi pula Koko udah kasih tahu kan Lingling rancang dan atur sendiri semuanya, terserah Lingling, Koko bagian membayar aja... gitu..."


Tenry membelai pipi istri sambil mengeringkan sisa airmata..


"Sekarang makan... Koko udah duluan, tadi udah kelaperan..."


"Ihh... padahal Lingling kalau Koko belum pulang rumah, walau Lingling udah laper tetep nunggu Koko..."

__ADS_1


"Lingling tahu kan Koko gak suka terlambat makan... ayo turun, nanti Koko temenin makan..."


"Echa gimana?"


"Nanti suster Lena suruh naik lagi..."


Keduanya beriringan menuruni anak tangga dengan tangan yang gak dilepaskan. Setelah meminta suster Lena naik mengawasi baby Ezar, Tenry menemani Holly makan.


"Lakuin apa yang Lingling suka ya... gak usah nanya Koko lagi, kalau bingung nentuin apa, tanya ke mama atau Cici... Koko udah pusing dengan kerjaan, cukup itu aja..."


Kali ini suara suami terdengar lembut.


"Maaf Ko..."


"Iya... makan yang banyak... habisin... makan masih kayak anak kecil... dikit banget..."


"Koko ihh... anak kecil terus..."


"Jangan ngambek... Itu bener kan..."


"Apa sih..."


Tangan suami menyodorkan segelas air minum, setelahnya membantu istri mengeringkan bibir, lalu sebuah kecupan dilayangkan...


"Bau ikan..."


Bahu Tenry bergedik.


"Kan baru makan ikan... salah sendiri kenapa Koko nyium Lingling..."


"Jangan cemberut... jelek..."


"Biarin, Lingling masih kesel dimarah-marahin..."


"Eh nih anak... maunya disayang-sayang aja..."


"Iya kan... mana ada orang mau dimarah-marahin... Suami yang sayang istri doanya gak terhalang, rejeki pasti dilimpahkan..."


"Kalau istri ngeselin, masa suami gak boleh marah... istri mulai suka membantah... gak bagus ke depannya... suami wajib sayang istri tapi istri juga wajib tunduk pada suami, harus seimbang biar gak egois..."


"Iya Koko..."


"Cepetan makan..."


"Iya Koko..."


"Ihh kenapa selalu bikin Koko gemes sih... cepetan, jadi gak sabar deh..."


Si Koko yang gemess dan gak sabar untuk... tahu dong apa kejadian selanjutnya...


.


🦋


.


Hiiiii 😄 Semoga semuanya sehat selalu....


.

__ADS_1


__ADS_2