
Holly tersenyum senang, pastry buatannya yang dia bagikan ke karyawan dibilang enak. Dengan bersemangat dia berniat membuat ulang resep yang sama, kali ini dia percaya diri untuk meletakkan hasil buatannya di lemari display.
Sekarang Holly betah berada di dapur chef Meldy yang sangat bersih dan rapih, Chef Meldy meminta dapur yang terpisah dari Ci Cun dan sangat mementingkan kebersihan bahkan bisa dibilang maniak kebersihan. Semua jenis penganan ringan untuk empat kafe Ci Cun dibuat di sini. Chef ganteng ini punya tiga asisten ditambah boss kafe yang sedang ketagihan belajar membuat bermacam-macam hidangan penutup dan kue-kue kecil.
"Ibu mau buat pastry buah lagi?"
Olly salah satu asisten chef Meldy bertanya sambil memandang chef Meldy. Mereka punya aturan ketat di sini soal penggunaan bahan-bahan kue dan soal jenis kue atau penganan apa yang akan dibuat hari ini, pastry buah tidak termasuk daftar menu hari ini. Chef andalan itu gak bereaksi apapun, sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya... tolong siapin bahannya ya..."
"Iya bu..."
Karena tidak ada sanggahan dari si penguasa di dapur ini Olly menuju ruang penyimpanan mengambilkan bahan yang dibutuhkan bu boss.
Chef Meldy tertawa kecil, suara tawanya didengar Holly.
"Kenapa kak?"
"Lucu aja kamu dipanggil ibu..."
"Itu... aku juga gak suka sih sebenernya, tapi mertuaku mewajibkan mereka... ya seperti itu jadinya..."
"Aku juga saat dikenalin ke kamu, Ci Cun bilangnya ibu Holly..."
"Oh gitu ya... tapi sejak awal kak Meldy selalu manggil aku dengan nama aja..."
"Gak pas buatku manggil kamu ibu... aku lebih tua dari kamu..."
"Tapi aku bossnya di sini hehehe..."
Sebuah kalimat gurauan dilemparkan Holly. Sejak sering belajar dari chef Meldy hubungan mereka jadi seperti teman aja. Chef ini cukup menyenangkan jadi teman ngobrol, tapi anehnya cowok yang digilai karyawan perempuan ini jarang ngobrol dengan siapapun bahkan sama barista cowok atau karyawan pria lain, cukup kenal aja tapi dia terlihat gak suka beramah-ramah.
"Tapi kamu gak cocok dipanggil ibu, cocoknya dipanggil..."
Meldy berhenti di ujung kalimat, dan lagi-lagi senyum kecilnya muncul.
"Dipanggil apa kak?"
Holly penasaran karena Meldy gak meneruskan kalimatnya.
"Sweety, baby..."
Meldy menjawab sangat pelan seperti gumanan saja tapi bisa ditangkap telinga Holly karena jarak mereka cukup dekat.
"Hehehe... suamiku memanggilku baby..."
Holly menjauh. Dia acap kali menangkap sesuatu dibalik kalimat yang dilontarkan Meldy, sesuatu yang cukup mengganggu hatinya, walau hanya sebatas kalimat-kalimat yang samar tapi Holly bisa membaca sorot mata Meldy padanya.
"Kak... mmm... aku cape, lain kali aku belajar lagi..."
Holly meninggalkan dapur chef Meldy, mampir sejenak di ruang penyimpanan untuk memberitahu Olly dia batal buat pastry buah. Mata Meldy mengikuti Holly dengan hati kecut, jika bukan istri orang mungkin akan berbeda keadaannya. Dia tahu setiap kali dia keceplos sebuah kata atau kalimat yang menjurus pada perasaan, walau sangat samar, gadis kecil itu segera menghindari.
"Dia sangat peka..."
__ADS_1
Meldy mengguman. Sejurus kemudian chef Meldy kembali ke pola sikap dasarnya, diam dan tenang dan cenderung dingin, fokus mengerjakan tugasnya.
Di ruangannya Holly menelungkup di meja, merenungkan hidupnya belakangan, terutama memikirkan suaminya. Suaminya masih mesra, gak berubah sebenarnya. Tapi intensitas pertemuan mereka menjadi berkurang sejak Holly membawa mobil sendiri dalam aktivitasnya. Jika sempat Tenry akan makan siang di kafe, jika tidak mereka hanya akan bertemu di rumah saat malam hari. Holly aja yang berubah sebenarnya, tetapi perubahan dirinya mungkin tidak berpengaruh pada suaminya, gak ada pertanyaan selama ini yang pernah diucapkan sang suami.
Ponselnya berbunyi, sebuah notifikasi dari aplikasi pesan hijau, banyak pesan di grup teman kuliahnya, dia malas membukanya, dan ada pesan dari Brill. Holly menimbang-nimbang untuk membacanya, penasaran juga karena sejak dia menikah Brill gak mau bertegur sapa lagi, percakapan terakhir mereka adalah saat malam pernikahannya.
Akhirnya Holly membaca wa dari Brill, sebuah undangan buat dia dan juga Tenry untuk hari ulang tahun Brill. Sebuah hembusan napas panjang keluar dari mulutnya, Brill mengingat mengirimkan undangan mudah-mudahan pertanda dia sudah move on.
Holly menelungkup lagi di atas meja dengan hati pedih, ada tiga pria selain Hanie yang bersikap manis padanya dengan sorot mata yang sama untuknya, salah satunya telah menjadi suami. Pikirannya menerawang, apa para pria hanya bersikap manis dan penuh pengertian saat pdkt lalu jadian kemudian pacaran... tapi setelah nikah menjadi sosok yang berbeda, tetap sayang tapi sukar untuk dipahami dan sukar untuk mengerti perasaan dan keinginannya, karena seperti itulah suaminya sekarang.
Airmata menjadi teman terbaiknya belakangan, menjadi cara menenangkan diri dari semua kesedihannya. Ternyata jadi istri Tenry tak seindah angan. Menatap telponnya, jadi rindu dan ingin menelpon mama akhirnya. Holly mencari nomor sang mama...
.
📱
"Holly?"
"Iya ma... mama sehat?"
"Sehat nak..."
"Opa oma gimana?"
"Mereka sehat juga... mama kangen kamu nak..."
Serasa melambung Holly mendengar pernyataan mamanya, pertama kali mendengar tentang kangen seorang mama untuknya membuat hatinya mendadak adem, rasa senang campur rindu yang sama untuk mama segera menyebar menutup lubang-lubang sedih di hatinya. Dia memang jarang menelpon karena memang terbiasa tidak memegang ponsel, tapi menelpon mama sekarang menjadi penghiburan buatnya. Air mata haru membasahi pipinya.
"Mau datang berkunjung nak?"
"Mama aja yang ke sini, udah lama kan gak ke sini... Holly sama Koko sibuk, ma..."
"Rumah kita udah terjual, mama gak ada tempat lagi kalau ke sana..."
"Ke rumah Herlina atau Helny dong ma... masa mama gak boleh nginap di rumah mereka..."
"Mama gak mau mengganggu mereka..."
"Nginap penginapan atau hotel kalau gitu... nanti Holly bayarin..."
"Hehehe, mama bisa bayar sendiri juga nak... tapi mama pengen Holly yang sering-sering ke sini... opa oma pasti senang loh kalau kamu sesekali datang..."
"Nanti Holly coba ijin sama Koko ya..."
"Oma-opa mau rayain pernikahan mas dua bulan lagi..."
"Oh... pas acara itu aja kalau gitu Holly ke sana..."
"Iya... terserah kamu, mau datang sekarang juga malah bagus... tapi untuk acara oma opa nanti datang sama Tenry ya..."
"Eh... iya..."
.
__ADS_1
Percakapan mengalir di antara ibu dan anak yang sama-sama merindu, kurang lebih setengah jam dan baru terhenti saat seseorang menerobos masuk...
"Sayang..."
Holly menoleh, suami muncul dan langsung mendekati kursi tempat istrinya duduk.
.
"Ma... udah dulu ya... ada Koko, mau makan mungkin... mama jaga kesehatannya..."
"Kamu juga nak, sehat selalu ya..."
"Salam buat opa oma ya..."
"Iya... "
.
Holly meletakkan ponselnya lalu mengeringkan pipinya yang basah, tadi sempat curhat sedikit dengan sang mama makanya jadi melow. Dia berdiri maksudnya hendak keluar ruangan mau menyiapkan makan untuk suaminya tapi segera dicegat sang suami saat melewati tubuhnya yang duduk di meja besar yang sehari-harinya jadi meja kerja Holly.
"Mau ke mana?"
"Mau ke dapur, Koko makannya seperti biasa kan?"
"Kita makan di luar aja ya? Bosan Koko sama menu kafe..."
"Sini aja... Lingling malas keluar..."
"Baby..."
Ini penolakan yang berulang dri Holly setiap kali diajak keluar. Tenry mendekap tubuh istrinya.
"Sayang... lihat Koko..."
Holly menatap Tenry sejenak lalu berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan.
"Lepas Ko...Lingling mau ngambil minum..."
"Diam dulu..."
Satu tangan Tenry mengangkat wajah sang Istri, mengeringkan sisa airmata, lalu mengecup lembut dua mata istrinya, baru menyadari sekarang bahwa istrinya selalu menghindar dengan banyak alasan setiap kali dia menginginkan keintiman.
Segera obrolan dengan Yongky melintas di kepalanya, tentang sikap istrinya yang tidak biasa menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan, dan Tenry dianjurkan untuk bicara dari hati ke hati.
.
🦋
.
Hello guys....
.
__ADS_1