
Berjalannya waktu, Tenry menjadi lebih realistis soal cinta. Bertemu Glo lagi Tenry jadi paham Glo yang sekarang hanya memikirkan kesenangan apa yang bisa dia nikmati hari ini meskipun dengan ongkos yang mahal. Satu poin yang membuat Tenry langsung berpikir berkali-kali untuk meneruskan hubungan mereka.
Di hati gak ada keraguan lagi tentang cintanya pada Holly. Awalnya dia sempat berpikir bahwa Holly hanya sosok yang melintas sebagai ujian bagi cintanya pada Glo, tapi dorongan yang begitu kuat yang terus bertambah setiap harinya membuat dia yakin Glo sudah tak ada lagi di hatinya. Kehadiran Glo beberapa waktu di kota ini justru membuat Tenry semakin yakin bahwa cintanya bukan untuk Glo lagi, Glo sudah menjadi bagian dari kisah masa lalu.
Pagi, dari bandara Tenry gak langsung pulang ke rumah, taksi online itu justru mengarah ke toko bangunan. Seperti kemarin pintu pagar besi sudah terbuka, demikian juga pintu samping. Saat Tenry turun dari taksi, Hanie juga sampai di situ dengan motornya.
"Han..."
"Ten, dari mana? Tumben pakai taksi?"
"Dari bandara langsung ke sini... Aku baru anterin Glo pulang."
"Oh..."
Hanie memarkirkan motornya dan menarik pintu pagar lagi, masih terlalu pagi masih tiga jam lagi untuk buka toko. Tanpa kalimat apapun Hanie masuk ke pintu samping, menunggu Tenry masuk juga lalu menutup pintu dari dalam.
"Aku sama Glo udah selesai, Han..."
Suara Tenry di belakang punggung Hanie. Tanpa bertanya pun dia tahu bahwa Hanie tak akan menyetujui hubungannya dengan Holly jika masih ada Glo. Hanie berhenti dan memandang wajah sahabatnya.
"Kamu mutusin Glo?"
"Iya, kemarin di rumah dia..."
"Ten... astaga, kamu tega ngomong itu di rumah Glo sendiri..."
"Aku lebih gak tega Han lakuin itu di sini, minimal di rumah dia punya orang tua yang bisa mengontrol sikapnya dan ada buat dia..."
Hanie diam tapi tidak memandang Tenry lagi, dia bersandar di dinding, justru keadaan ini menjadikan dirinya lebih tak berdaya, Tenry pasti lebih leluasa menyatakan rasa sayangnya pada Holly sekarang. Dan mungkin Tenry belum tahu jika Ci Cun sudah berkali-kali meminta dia untuk menikah dengan Beyvie.
"Aku juga sedih Han, dia cewek yang pernah buat aku bahagia... tapi aku harus lebih realistis, hubungan kami gak akan berhasil karena sekarang aku bukan lagi cowok yang akan bawa dia untuk have fun, aku yang sekarang punya tugas berat, mama udah kasih tahu bahwa udah saatnya aku serius tangani usaha kita."
"Glo pasti bisa menyesuaikan, hubungan kalian sudah lama, Ten..."
"Makanya... aku kenal dia Han, aku tahu dia gak akan mengerti posisiku... mama udah berkali-kali bilang juga aku harus cari istri yang bisa menopang usaha keluarga... kamu tahu sendiri Ci Cun bagaimana orangnya, Glo gak mungkin bisa menyesuaikan, jadi aku memilih jalan ini. Lagian aku udah bilang kan... Aku sayang Lingling..."
Hanie mau menangis di sini. Dia juga sayang adiknya, mungkin sekarang ini melebihi apapun. Dia tak punya kesempatan untuk mencari pacar karena dua tahun belakangan Ci Cun sudah sering mengatakan keinginannya untuk Hanie masuk ke tengah keluarga sebagai anak... anak menantu. Dia gak leluasa akhirnya karena gak ingin dianggap tidak tahu balas budi. Dan dia hanya punya Holly tempat dia mencurahkan kasih sayangnya sebagai kakak.
"Han... kamu ngerti kan perasaan aku, aku gak main-main sama Lingling kamu tahu itu..."
Justru karena aku tahu gimana cara kamu menyayangi pacarmu...
Hanie tak bisa berkata-kata. Dia mundur dari pekerjaan ini dan menolak keinginan Ci Cun demi adiknya itu bisa saja, tapi bagaimana dengan Holly? Dia ingin Holly tetap kuliah, dia juga punya keinginan untuk memiliki rumah sendiri, dan sekarang meskipun sudah gak tinggal bersama mama sebagai anak semarah-marahnya dia pada mama dia gak berniat menghentikan memberi uang pada mamanya setiap kali gajian. Sementara untuk mencari pekerjaan lain bermodalkan ijazah SMA, gak mungkin dia punya gaji sebesar gajinya yang sekarang. Tenry punya pandangan realistis soal cintanya dan Hanie harus realistis juga soal keadaan hidupnya.
Hanie tertunduk lesu dan melanjutkan langkahnya naik ke atas.
"Han... kamu gak setuju aku sama Lingling?"
"Gak, Ten... bukan gak setuju, aku hanya gak ingin adikku kecewa Ten... dia masih anak-anak, dia udah banyak kali kecewa karena keadaan keluarga kami... aku kawatir karena mentalnya sebenarnya belum kuat..."
"Han... maksud kamu apa? Aku janji padamu Han... aku akan buat Lingling bahagia..."
Hanie membuang napas tak kentara dan mempercepat langkahnya menaiki tangga. Untuk berterus terang pada Tenry rasanya berat sekarang. Tenry juga mengikuti bahkan naik dua anak tangga sekaligus, kebiasaannya dulu saat masih tinggal di rumah sekaligus toko pertama keluarga mereka.
"Han..."
"Lingling sakit, Ten..."
Hanie baru membeli bubur juga parasetamol di apotik yang buka 24 jam. Sejak semalam Holly panas. Tubuh kecil adiknya melewati minggu terberat dalam hidupnya, keinginannya tidak didukung orang tua, merasa bersalah karena meninggalkan rumah, kemudian memaksakan diri membersihkan rumah ini, tubuh kecil itu mencapai limitnya, akhirnya dia tumbang semalam. Hanie gak tahu karena kamar mereka terpisah, baru pagi hari dia tahu saat mau bertanya pada Holly mau beli sarapan apa.
"Hahh?"
Tenry langsung khawatir dan mendahului Hanie. Di atas...
__ADS_1
"Lingling tidur di kamar mana?"
"Di depan, bekas kamarmu..."
Tenry berlari ke sana, sementara Hanie menyiapkan bubur dan obat di ruang makan. Saat membuka pintu Tenry langsung melihat tubuh kecil yang meringkuk di bagian dalam tempat tidur dekat dinding. Tenry melepas sneakersnya dan duduk dekat tubuh Holly yang miring menghadap dinding. Hanya ada kain tipis yang menutupi hingga bagian leher tubuh Holly. Tangan Tenry yang satu langsung meraba bagian dahi, panas, kulit muka Holly memang berwarna kemerahan sekarang, bibir terlihat sangat kering, matanya tertutup.
"Lingling... sayang"
Rasa sayang, rasa rindu, rasa khawatir membuat Tenry tidak menahan diri langsung mengecup pipi Holly. Tenry mengusap-ngusap kepala Holly.
"Ling... ini Koko..."
Holly tidak bereaksi dengan panggilan Tenry, justru mulutnya seperti mengerang, suara kecil yang terdengar membuat kesedihan menyapa hati Tenry lagi, kali ini bukan sedih karena mengakhiri hubungan cinta, tapi karena sosok yang kini dia cinta yang terlihat sangat rapuh dan tak berdaya. Matanya mendadak perih dan setetes airmata langsung jatuh.
"Lingling sayang..."
Holly gak membuka mata seolah tak mendengarkan suara Tenry yang begitu dekat di telinganya. Hanie masuk membawa mangkok bubur dan segelas air serta plastik berisi obat.
"Han, sejak kapan Lingling sakit?"
"Aku baru tau tadi..."
Hanie menjawab sambil meletakkan apa yang dia bawa di sebuah meja. Dia juga khawatir dengan adiknya ini.
"Dia kecapean mungkin, Ten... dia bersihin ruang atas ini sendiri, aku juga kaget... aku minta dia hanya bersihin kamar, tau-tau semua ruangan, suka keras kepala sih kalau kerja, kadang gak mampu suka maksain diri..."
"Kenapa gak minta karyawan sih..."
"Minggu ini toko rame... aku gak sempat kontrol dia di atas... Dia hanya minta bantuan saat buang sampah..."
Tenry mengalihkan perhatiannya lagi pada Holly. Kali ini dia tidak memusingkan Hanie ada di sini. Tangannya terus mengusap kepala Holly dan setengah memeluk tubuh kecil itu, beberapa kali memberikan ciuman di pipi panas itu...
"Lingling... bangun sayang, makan ya biar bisa minum obat..."
"Ling..."
Tak ada reaksi...
"Ling... bangun sayang... kamu sakit... harus makan, harus minum obat..."
Tenry masih berusaha membangunkan Holly, dia mengguncangkan perlahan lengan Holky kemudian berpindah mengusap sayang pipi panas itu.
"Sayang..."
Tenry mulai panik, Holly hanya mengerang dan tak merubah posisi, seperti tak mendengar panggilan Tenry.
"Tadi juga seperti itu, aku tanyain gak menjawab..."
"Han, dia panas banget, kita bawa ke rumah sakit aja..."
"Tapi Ten..."
"Urusan toko nanti aku telpon mama... ayo..."
Tenry membalikkan perlahan tubuh Holly, mata Holly tetap terkatup tapi bibir sedikit terbuka dan suara erangan kecil masih terdengar keluar dari mulut Holly. Hanie jadi gugup.
"Aku bawa apa?"
"Gak usah pikir itu dulu, Lingling perlu ditangani sekarang, kamu pesan mobil online... gak mungkin naik motor Hanie!"
Suara Tenry naik, rasa khawatir semakin bertambah.
"Rumah sakit mana?"
__ADS_1
Hanie menatap ponselnya bingung untuk mengetik alamat tujuan.
"Rumah sakit Medika aja, di sana banyak dokter yang aku kenal, ponakan mama ada beberapa di sana juga... cepet Han..."
Tenry membuka jaketnya lalu meraih tubuh Holly, dalam posisinya yang duduk sekarang dia mengangkat dan membawa Holly dalam pelukannya. Hawa panas langsung meresap di pori-porinya sendiri. Holly masih sama, hanya mengerang.
"Sayang..."
Tenry mencoba lagi membangunkan Holly.
"Han... udah dapat mobil?"
"Udah, tapi masih jauh mobilnya..."
"Ambil hpku di jaket..."
Hanie mangambil ponsel milik Tenry lalu menyodorkan pada Tenry yang sudah memeluk adiknya. Tenry hanya memandang ponselnya sendiri...
"Hubungi mamaku dulu Han... nyalain speakernya..."
.
📱
"Ten... kamu kapan pulang, jangan lama di sana..."
"Udah di sini kok ma... di toko Hanie, Holly sakit ma, aku sama Hanie mau ke Medika..."
"Sakit apa?"
"Badannya panas, ini kayaknya gak sadar ma..."
"Aduuh... kasihan, naik apa, mobilmu ada di sini..."
"Udah pesan go*car..."
"Oh gitu, mama telpon Reiner kalau gitu, biar dia tahu kalian mau ke Medika..."
"Ma, tokonya gimana..."
"Mama yang urus bilang Hanie, nanti mama juga ke rumah sakit. Suruh Hanie telpon Opo Rully, biar dia yang buka toko..."
"Iya ma..."
.
"Han... cek go*carnya apa udah deket sini..."
Hanie meletakkan ponsel Tenry di tempat tidur lalu memeriksa ponselnya sendiri.
"Udah sampai... nah ini dia telpon..."
Hanie menjawab telpon pengemudi taksi online, sementara Tenry langsung mengangkat tubuh Holly dan berjalan keluar kamar, mengendong tubuh kecil ini tak seberapa dibanding rasa khawatir yang begitu melekat di pikirannya sekarang, terlebih saat Holly tak merespon apapun yang dia lakukan.
"Han, hpku jangan lupa..."
Di pesawat tadi pagi, dia begitu bersemangat ingin segera menjumpai Holly dan meyakinkan Holly bahwa mereka sekarang bisa pacaran gak ada hal yang menghalangi lagi. Tenry ingin membawa Holly ke suatu tempat untuk sarapan bersama, keinginan yang ternyata tak bisa direalisasikan. Perjalanan cintanya dimulai dengan hal ini... dimulai saat dia melihat sebentuk wajah yang menyimpan banyak kesedihan, saat memperhatikan gadis yang tubuhnya kecil tapi tidak bersikap manja malahan mau mengerjakan banyak hal dengan tangan kecilnya, dan hari ini seharusnya menjadi hari istimewa tapi justru Lingling yang dia sayang tak berdaya karena sakit.
.
🦋
.
__ADS_1