
Holly keluar dari kamar mandi, dicegat si Hellen.
"Hei... enak ya sekarang... alasan aja keluar untuk kerja padahal memang mau menghindar aja biar gak masak nyuci sama gosok lagi. Aku gak mau tahu ya soal kerjaan kamu di luar sana, pokoknya baju-baju ini harus bersih, sekarang nyuci yaaa, awas kamu!"
Hellen menunjuk beberapa keranjang penuh dengan pakaian kotor. Holly melengos dan berjalan melewati tubuh Hellen yang menghalangi jalan. Tangan kecil Holly ditahan sama Hellen...
"Mau ke mana kamu, bajuku udah banyak yang kotor, yang lain belum digosok, baju papa sama mama juga!"
"Aku udah telat, Len... Aku udah nyuci piring kotor yang seabrek-abrek itu, aku udah masak juga, udah bersihin rumah, udah buang sampah. Aku gak punya waktu untuk nyuci..."
"Gak ada urusan sama kamu yang udah terlambat... Nyuci baju dulu!"
"Len... lepas tangan aku, sakit..."
Holly meringis.
"Ling, udah selesai?"
Hanie datang ke lorong sempit antara kamar mama dan dapur. Hellen langsung melepas tangan Holly, dia takut pada Hanie, dan ringisan serta usapan Holly di lengannya membuat Hanie menatap tajam pada Hellen dan Holly bergantian.
"Kamu apain dia?"
"Gak kok... diiih sok pahlawan..."
Kalimat terakhir yang dikatakan dengan suara ketus, membuat Hanie maju dan mengejar Helen yang keburu pergi. Dia sempat menangkap warna memerah di lengan Holly.
"Kamu apain dia hahh?"
"Gak ada... kenapa sih kamu suka kasar sama aku, sama Holly gak? Aku adikmu juga kan? Pilih kasih amat... Mama, lihat nih si Hanie, mau mukulin aku..."
Hellen masuk ke ruangan mama, mama hanya melihat sebentar. Ada papa yang masuk dari pintu yang lain.
"Siapa yang mau mukul kamu?"
"Hanie, pa..."
Hellen berlindung di belakang papa.
"Han??"
Papa bertanya dengan nada sedikit meninggi.
"Hehh... mana pernah aku mukul kamu? Aku cuma mau nanya kamu apain lengan Holly sampai merah begitu?"
"Gak ada kok, biasa aja... kenapa kamu marah-marah?"
Hellen bersuara seolah teraniaya, memulai drama karena ada papa di situ, dia tahu si papa pasti belain dia.
"Jawab Len... aku aduin kamu ke polisi ya, aku punya foto memar di punggung Holly kemaren waktu kamu timpuk dia pakai gelas... aku bawa Holly buat visum nanti, kamu diciduk polisi biar tahu rasa kamu suka main kekerasan..."
"Hellen????"
Suara besar mama akhirnya bergema di ruangan itu. Mama yang mulai sadar dengan sikap-sikapnya pada Holly, dan dia tahu juga bahwa anak-anak lain suka bertindak kasar pada anak bungsunya, hanya mama waktu lalu terlalu sibuk untuk mencerna itu sebagai tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Dua minggu ini dalam diam mama merenungkan banyak hal yang terjadi di rumah ini, memperhatikan juga bagaimana si bungsu tetap berusaha melakukan tugas-tugasnya sebelum berangkat kerja. Tapi mama masih enggan untuk mengakui itu dan memilih mendiamkan Holly.
"Aku...hanya menahan tangannya kok, nyuruh dia nyuci baju, udah banyak baju kotor. Dia belum nyuci minggu ini..."
"Itu bukan tugas Holly lagi..."
Hanie tersenyum kecil mendengar jawaban mama, senang mama mulai berubah terhadap Holly. Dia tak menunggu lebih lama, dia langsung ke belakang lagi, satu yang jadi dugaannya di kamar mandi...
"Ling... tinggalin itu, ayo cepat ganti baju, gih,..."
"Aku gak usah masuk aja hari ini Han, ini banyak sekali..."
"Ling... kata mama ini bukan tugas kamu lagi..."
"Serius mama ngomong begitu?"
"Iya... buruan..."
Holly masih ragu tapi gak mungkin Hanie bohong, gak pernah dia bohongin Holly, kalau kakak yang lain sih sering banget. Holly menuju kamar dia dan Hellen untuk ganti pakaian.
Sementara di bagian lain rumah ini, Hellen berusaha menolak kerjaan baru dari si mama, mana mau dia nyuci, kan baru aja meni-pedi...
"Terus siapa yang nyuci kalau bukan tugas Holly, bajuku yang buat pergi udah kotor semua, ma..."
"Kamu sekarang yang nyuci... sana jangan gangguin mama..."
"Ma... kok aku. Tanganku bisa luka-luka kena deterjen..."
"Tangan Holly sering kayak gitu gak pernah ngeluh!"
__ADS_1
"Holly beda, ma... aku gak mau nyuci, gak... mana banyak banget lagi..."
"Terus kamu mau nyuruh mama, hahh? Otak gak dipake! Mama bilang kamu yang nyuci sekarang ya kamu!"
"Ma, beli mesin cuci aja..."
"Uang dari ketekmu?"
"Kalau gitu mama panggil si Henny juga, suruh dia bantu aku nyuci..."
Hellen masih bersikeras.
"Mama suruh kamu bo doh, bukan Henny!!!"
"Ma... mama gak adil sama aku, mama bedain aku sama si Henny... dia doang yang hidupnya enak... Pokoknya kalau Henny gak bantuin aku gak akan nyuci!"
"Ngomong kayak paling bener, memang kamu adil sama mama, mama banting tulang tetap jahit meski punggung mama sakit, kamu malas-malasan di kamar... anak tak tahu diuntung..."
"Tapi aku masih bantu mama belanja, si Henny gak pernah bantu mama malah habisin uang mama..."
"Apa kamu gak habisin uang mama juga? Belanja lima puluh ribu bilangnya dua ratus ribu, mama tahu kamu suka nyuri uang belanja!!"
"Eh gak kok, mama aja yang belanja kalau gak percaya."
Suara Hellen merendah, ternyata mama tahu kelakuannya yang sering memakai uang belanja untuk beli make up atau ke salon.
"Iya memang mama gak akan kasih kamu pegang uang lagi."
"Kok mama gitu... mama lebih sayang Henny memang...!"
"Udah sana, sayang sayang sayang, bikin mama pusing. Dapat karma apa punya anak gak ada yang bener..."
Hellen keluar dari sana dan bertemu papa yang hendak pergi.
"Pa, masa aku harus nyuci baju sebanyak itu, Henny senang-senang di tempat kostnya, kayak anak orang kaya aja belagu banget... suruh mama panggil dia pulang ke sini..."
Papa langsung masuk ruangan mama lagi. Dia memang sudah sering mendengar Hellen mengadu soal Henny, terutama belakangan sejak dia dipaksa mama gantikan tugas Holly.
"Ibeth, aku gak setuju Henny ngekos lagi, suruh dia balik ke rumah, anak bukan cuma dia jangan pilih kasih!"
"Pilih kasih? Gak kebalik kamu yang pilih kasih, Dol? Ngomong asal gak periksa diri. Keluar kalian, pagi-pagi bikin kacau di sini!!"
"Kamu yang bikin gaduh teriak-teriak, dasar gak becus didik anak-anak!"
"Perempuan kasar!!!"
"Dan kamu lelaki pemalas, masih bagus aku bertahan jadi istrimu!!"
"Ibethhh!!!"
Papa mulai tersulut. Keributan seperti ini sudah biasa di rumah ini, ada aja penyebab mama dan papa saling teriak. Hanie menarik tangan Holly untuk cepat-cepat berlalu dari sana. Karena awal ledakan kecil barusan akan disusul dengan ledakan emosi skala besar dan semuanya berisi sumpah serapah.
...
Di toko, seperti biasa Holly bekerja dengan rajin. Hanie menyuruh Holly memisahkan klem kabel listrik menurut ukuran, dan menambah stok di rak itu, tepat dibelakang kasir. Holly memilih duduk di lantai saat melakukan pekerjaannya.
"Ko Han..."
"Hei... pagi-pagi udah ke sini..."
"Males di rumah. Udah sarapan?"
"Udah Ten..."
"Lingling ada kan?"
"Ada... tuch di belakang kita..."
Tenry berdiri, niatnya ke sini memang untuk melihat Holly. Entah kenapa belakangan sesuatu seperti menarik dirinya untuk memberikan atensi pada Holly.
"Ngapain Ling?"
Tenry berjongkok di sebelah Holly. Holly menatap sekilas saja sambil menahan sesuatu yang mulai muncul ke permukaan.
"Lagi sortir klip ini sesuai ukuran, Ko..."
Holly menjawab pelan. Tenry memperhatikan sejenak puluhan dus yang sudah diturunkan di lantai. Dia kemudian ikut duduk bersila seperti Holly dan mulai ikut menempatkan sesuai ukuran yang terbaca di dus kecil-kecil itu.
"Holly aja Ko... ringan aja kerjaannya..."
"Gak papa... biar cepat selesai..."
__ADS_1
Sebuah senyum menghiasi wajah oriental itu. Tenry punya satu keinginan setelah ini, dia belum sarapan dan pengen mengajak Holly ikut dia sarapan di luar. Sementara Holly mulai keringat dingin, seneng banget pagi-pagi udah lihat senyum teduh Ko Han, tapi di sisi lain ada rasa takut menterjemahkan hatinya sendiri kenapa kayak mau loncat ke luar, dia jadi pengen menjauh pergi ke belakang lemari display berisi segala jenis lem, tapi malah badannya seperti tersihir jadi kaku gak bisa bergerak lebih.
"Ten... ponsel kamu bunyi... ada panggilan..."
Hanie memperhatikan ponsel Tenry di mejanya.
"Siapa?"
"Ini sih tertera Glo cintaku..."
Hanie sengaja menyebutkan nama siapa yang tertera.
Ko Tenry punya pacar ya, namanya bagus banget... Seseorang membatin.
"Biarin aja..."
Tenry menjawab sedikit gusar sambil memperhatikan mimik Holly yang sedang serius dengan pekerjaan di sampingnya.
"Nah udah selesai kan..."
Tenry berdiri dan spontan menarik lembut lengan Holly membantu gadis imut itu untuk bangkit. Holly dengan cepat menjauhkan lengannya setelah berdiri sempurna.
"Makasih, Ko..."
Tenry tertawa pelan dan tanganpun tak bisa dia tahan untuk nangkring di atas kepala Holly yang hampir muat dalam genggamannya. Holly dengan sekali gerak menghindar langsung meninggalkan Tenry menuju tempat dia biasa duduk. Kebetulan ada pengunjung, Holly langsung mendekati sambil menentramkan tabuhan di dadanya.
"Han, aku pinjam Lingling sebentar ya..."
"Pinjam? Emang duit bisa dipinjam..."
"Aku belum sarapan, pengen ngajak Lingling..."
Hanie tak lagi menanggapi, hanya menatap wajah Tenry yang sedang mengamati Holly dalam senyum tipisnya. Walau resah tapi dia sungkan untuk melarang, dia tak ingin buru-buru menanggapi sikap Tenry pada adiknya, tapi dia merasa ada yang tidak benar sedang terjadi, Tenry sengaja menghindari Glo dan dia mulai memberi perhatian pada Holly.
Ah semoga tidak sejauh itu...
"Ling... ikut Koko..."
Tenry mendekati Holly yang selesai meladeni seorang pengunjung. Tanpa bertanya Holly berjalan pelan dengan jarak satu meter di belakang Tenry. Saat berada di depan mobil sedan hitam yang dia kenali milik ko Tenry, dia menghentikan langkahnya menatap dengan tanya, dia pikir Tenry meminta dia untuk melakukan sesuatu. Tenry yang sudah masuk ke dalam membuka kaca jendela depan...
"Ayo naik, Ling..."
"Mau apa?"
Holly mundur selangkah.
"Ikut Koko sebentar, udah ijin Hanie kok..."
Holly mematung. Sesuatu mulai bereaksi lagi di seluruh tubuhnya
Ikut ke mana?
Tenry keluar lagi kemudian menarik Holly dan menuntun masuk ke dalam mobil di kursi depan. Holly tak menduga bakal diajak keluar akhirnya duduk diam, ingin bertanya tapi mulut seketika terkunci.
"Temenin Koko sarapan ya, kamu juga ikut sarapan... pengen sarapan apa Ling?"
"Gak tahu eh maksudnya Holly udah sarapan kok bareng Hanie tadi..."
"Gak papa sarapan lagi, Koko udah lihat porsi makanmu kayak apa, dikit banget..."
"Tapi..."
"Ikut aja ya... gak lama kok, gak ada yang akan marahin kamu ijin gak kerja beberapa jam, Hanie bossnya, jangan khawatir..."
"Berapa jam? Emang mau sarapan di mana?"
"Hahaha... Kamu maunya di mana? Koko anterin..."
Ehh... ada yang menanyakan apa yang dia mau, baru sekali ini, sesuatu sekali bagi gadis yang hampir sepanjang hidupnya terbiasa menelan keinginan, terbiasa tak menyatakan apa yang dia mau, kecuali keinginannya untuk kuliah satu-satunya yang dia perjuangkan sekarang.
"Ling... pengen sarapan di mana?"
Ternyata si Koko serius ingin memenuhi keinginannya.
"Gak tahu Ko, terserah Ko Tenry aja..."
Tenry tersenyum lembut saat Holly mencuri pandang. Beberapa kali dia mendengar jawaban terserah, semakin membuat hatinya tersentuh karena gadis kecil ini.
.
.
__ADS_1
🦋