
Melewati jam-jam yang menegangkan, akhirnya Beyvie dinyatakan baik dan sudah bisa dijenguk orang dekat dan terbatas, walau masih di ruang observasi karena harus tetap dimonitoring secara ketat sampai benar-benar stabil. Mama Cun kemudian yang menemani sepanjang malam.
Pagi hari...
"Ncim..."
Dokter Reiner muncul di ruang perawatan intesif itu, memeriksa status Beyvie dan mengajak tantenya itu keluar ruangan.
"Gimana Rein..."
"Udah stabil kok..."
"Syukur... syukur..."
"Nanti akan dipindahkan ke kamar rawat ya... Ncim..."
"Iya Rein... tolong diurus ya..."
"Iya. Ncim... ada temenku yang sengaja aku suruh ke sini pagi ini... seorang Psikiater... ke ruanganku ya Ncim, dia udah nunggu..."
Ci Cun mengikuti ponakannya ke ruangannya. Sudah ada seorang lelaki di sana, seorang yang sudah cukup matang dan juga berpenampilan menarik.
"Kenalkan Ncim, dokter Yongky, dia biasa menangani seseorang yang melakukan self-harm, seperti yang terjadi pada Beyvie..."
"Dok..."
Dokter Yongky tersenyum menyambut jabat tangan Ci Cun.
"Ncim... sebaiknya Beyvie setelah fisiknya kuat ketemu sama dokter Yongky, harus segera ditolong supaya tindakannya gak berlanjut dan akhirnya fatal..."
"Oh iya... iya Rein... Atur aja semua perawatan yang Beyvie butuhkan... Ncim setuju aja, kamu pasti tahu yang paling baik untuk Beyvie..."
"Baik Ncim... dengerin penjelasan dokter Yongky dulu ya Ncim... biar tahu kondisi Beyvie..."
"Iya... boleh, boleh..."
"Anak tertua katanya ya bu..."
"Iya dok..."
"Umur berapa Beyvienya bu?"
"Hampir 27 tahun, dok..."
"Oh begitu... Mmm... begini ya bu saya jelaskan... apa yang Beyvie lakukan itu adalah tindakan self-harm atau tindakan menyakiti diri sendiri, mungkin ada pengalaman yang tidak menyenangkan seperti trauma atau konflik... dia tidak punya cara untuk mengatasi perasaan-perasaan sulit yang mengganjal, bisa jadi merasa putus asa dan tidak berdaya, merasa marah atau mengalami tekanan yang terpendam dan akhirnya meledak. Melukai diri sendiri membantu menurunkan tekanan yang dirasakan. Apa Beyvie punya masalah akhir-akhir ini, bu?"
"Iya sih dok... dia baru aja tahu siapa sebenarnya pacarnya... ya begitulah. Kasihan anakku dok, beberapa pacarnya hanya memanfaatkan dirinya, selingkuh darinya..."
"Begitu ya... mmmh... dia punya trauma ya... mungkin juga ada rasa malu yang tak tertahankan, makanya dia melukai diri sendiri sebagai salah satu cara untuk menghukum diri sendiri... Memang, rasa sakit yang ditimbulkan dari self-harm ini dapat menggantikan rasa sakit yang dirasakan secara emosional, yang mana rasa sakit tersebut tidak dapat dijelaskan oleh dirinya, sehingga dia lebih memilih untuk menyakiti fisiknya... kadang merasakan seperti ingin mati saja... kira-kira seperti itu, bu..."
"Saya minta bantuan dokter aja, biar dia sehat lagi..."
"Saya siap bantu, bu... tapi untuk sekarang saya minta keluarga memberi rasa aman dulu, perlakukan dengan penuh kasih sayang dan jangan dijudge ya... harus paham bahwa perilaku Beyvie tersebut adalah upaya untuk mengatasi perasaan yang menyakitkan... sikap peduli kita membuat dia merasa tidak sendiri... sekali lagi jangan bersikap menyalahkan dia ya bu..."
"Baik dok... baik..."
"Nanti setelah fisiknya udah pulih kita jadwalkan konseling..."
"Terima kasih dokter..."
"Sama-sama, saya senang bisa membantu keluarga ibu..."
"Rein... Ncim mau lihat Beyvie... tolong diatur semua ya..."
"Iya, Ncim... jangan kuatir ya..."
.
Di depan ruangan tempat Beyvie dirawat...
"Ci..."
"Han... oh ada Holly juga... pintu udah dibuka ya soalnya di sini jam besuknya ketat, nanti siang baru buka..."
"Belum sih... tadi kita ngomong ke satpam mau besuk Cici Bey langsung dibukain pintu..."
"Oh begitu, mungkin Rein yang atur..."
"Gimana Cici Bey..."
"Udah stabil... kamu masuk aja sebentar, gantian sama Holly..."
"Oh baik Ci..."
"Holly sini... duduk di sini..."
Ci Cun duduk di bangku yang tersedia selasar ruang intensif itu, ragu-ragu Holly ikutan duduk di bangku tiga dudukan itu dengan mengambil jarak, canggung berdua saja dengan Ci Cun.
"Holly sehat?"
"Ehh... iya Ci Cun..."
__ADS_1
"Udah mulai kuliah?"
"Bentar lagi Ci..."
"Sering-sering main ke rumah ya... Dede kadang suka mengeluh gak punya teman, nanti besok-besok Ci Cun kirim sopir jemput Holly biar Dede ada temennya..."
"Iya Ci..."
"Aduuh... Ci Cun haus ini... air mineral kayaknya abis deh..."
"Emm... Holly carikan air mineral Ci..."
"Oh boleh boleh... kafetaria ada di ujung lantai satu ini, lumayan jauh Holly..."
"Gak papa Ci... Holly pergi ya..."
"Holly... ini uangnya... kan harus beli, ambil botol yang besar aja ya, dua atau tiga botol..."
Ci Cun menyodorkan lembaran uang biru ke tangan Holly yang langsung pergi. Dia gak leluasa ngobrol sama mamanya Ko Tenry, jadi saat ada peluang menjauh, dengan senang hati dia pergi meskipun jauh katanya.
Beberapa menit berlalu... Beyvie sedang tertidur, Hanie gak berlama-lama di dalam. Terkejut dengan berita dari Tenry tadi pagi membuat dia segera datang.
"Ci Cun..."
"Eh Han... Ci Cun cape, ngantuk juga gak tidur semalaman..."
"Ci Cun udah sarapan?"
"Nanti... nunggu makanan dari rumah aja... bentar lagi Tenry dan Ko Siong udah ke sini lagi..."
Hanie duduk di sebelah Ci Cun.
"Han... kita hampir kehilangan Cici..."
Ci Cun bersuara pelan tapi ada emosi tersimpan di sana, bahkan airmata kembali jatuh.
"Kamu kenal Jim kan?"
"Iya Ci... tau dikit..."
"Jim punya pacar ternyata, dia sama seperti yang lainnya... Cici seperti ini karena tahu kelakuan Jim..."
"Iya Ci... Tenry udah cerita tadi..."
"Untung Cici masih tertolong, Han... kalau gak... Ci Cun gak bisa bayangkan apa yang terjadi hari ini, Ci Cun gak akan sanggup... menghadapi Cici pergi... pergi dengan cara seperti itu..."
Ci Cun tak bisa menahan diri untuk menangis lagi, sepanjang malam ini tiap memandang wajah anaknya airmata terus mengalir di pipinya. Ci Cun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, suara tangis yang terdengar menyesakkan dada Hanie juga. Hanie menggeser duduknya dan meraih bahu Ci Cun, ini seperti melihat mama sendiri, di waktu yang lalu dia merasakan perhatian Ci Cun yang banyak justru melebihi perhatian mamanya sendiri, sekarang dia hanya bisa berbuat ini... bahu Ci Cun berguncang dalam pelukan Hanie.
"Ci Cun... Ci Cun minta tolong ya Han... minta dengan sangat... jangan menolak lagi keinginan Ci Cun ya? Ci Cun gak mau kejadian ini terulang... oh Tuhan..."
Isakan terdengar lagi, berasal dari hati seorang ibu yang hancur karena keadaan putrinya. Isakan yang mempengaruhi hati Hanie juga.
"Han... tolong sayangi Cici ya... hanya kamu yang Ci Cun percaya bisa sayang Cici sepenuh hati... Ci Cun mohon Han..."
Tangan Ci Cun meraih dua tangan Hanie, memandang Hanie dengan wajah permohonan yang sangat dalam, kesungguhan hati terpancar di sana di samping airmata yang masih mengalir. Hanie tidak tega menolak pancaran wajah itu.
"Han..."
"Tapi... perasaan Cici Bey gak bisa dipaksa, Ci..."
Hanie berkata pelan, sejujurnya dia ingin menolak, tapi sekarang hatinya tak kuasa mengatakan tidak, pernah janji sama Tenry untuk bicara soal ini. Tapi sebenarnya sejak lama memang dia seperti lumpuh jika tentang ini.
"Ci Cun tahu Cici seperti apa Han... dia gak akan susah jatuh cinta, dan jika udah jatuh cinta dia akan cinta setengah mati... berusaha ya Han... tolong Ci Cun sama Cici ya..."
"Tapi Ci, aku... aku gak bisa..."
"Han... Jika Hanie punya oermintaan, Ci Cun sanggup beri apa saja buat Hanie, sebutkan aja Han... Ci Cun me..."
"Bukan Ci... bukan Ci, aku gak minta apapun, bukan masalah itu..."
Hanie memotong dengan cepat saat tahu arah kalimat Ci Cun.
"Apa Han? Apa yang membuat kamu gak bisa?"
Maafkan aku Ten...
"Tenry... Ci... aku gak bisa karena Tenry temanku..."
"Maksudnya? Tenry melarang kamu?"
"Gak Ci... hanya... Tenry..."
Hanie gelagapan, bagaimana memberitahu hal ini, dia kehilangan kata juga merasa gak berhak memberitahu Ci Cun soal Tenry.
"Apa Han?"
Ci Cun masih menatap Hanie, pikirannya pun berusaha mencari tahu saat Hanie tak kunjung menjawab, dan terlihat gelisah di sampingnya. Situasi terselamatkan untuk Hanie, dari jauh terlihat Ko Siong dan Tenry bersama seorang art datang mendekat.
"Gimana Cici Cun?"
Ko Siong masih cemas dengan keadaan putri tertuanya.
__ADS_1
"Udah stabil, nanti mau pindah ke kamar... masih tertidur mungkin karena obat penenang. Kalau dia bangun nanti... jangan omongin soal apa yang dia lakukan ya, jangan ungkit-ungkit itu depan dia, itu bisa membuat dia lebih tertekan... Rein udah cariin Psikiater untuk konseling... kita cukup kasih perhatian dan kasih sayang, itu yang paling dia butuhkan Siong... kasihan dia..."
"Iya... iya aku ngerti, aku masuk dulu..."
Saat Tenry bergerak ingin masuk ke ruangan juga...
"Tenry... mama mau ngomong sama kamu..."
Tenry berbalik kemudian berdiri tepat di depan mama dan Hanie. Mama sedang serius mengingat dia hanya menyebut nama saja bukan Koko.
"Ada apa, ma?"
"Kamu tahu kita hampir kehilangan Cici kan..."
"Iya... kenapa?"
"Cici beresiko mengulang ini lagi jika dia tertekan lagi... mama gak ingin kejadian lagi... kita harus nolong Cici... Mama gak bisa biarin Cici bertemu pria yang nantinya kelakuannya kayak mereka semua... kamu harus berbuat sesuatu juga, Tenry."
"Iya... kita pasti menjaga Cici ma..."
"Mama udah berkali-kali minta Hanie untuk jadi suami Cici... tapi tadi Hanie kembali menolak keinginan mama, katanya karena kamu... kenapa? Kenapa dia gak bisa? Kamu ngelarang Hanie?"
"Tenry gak pernah ngelarang, Ci... aku yang gak bisa..."
"Jangan membuat Ci bingung, Han... tadi kamu bilang alasannya Tenry... kalau Tenry gak melarang apa dong alasannya?"
Hanie menatap Tenry...
"Tenry???"
Mama berdiri sekarang dan menatap anaknya yang diam dengan semua gejolak perasaan di dadanya.
"Ma... nanti kita bicara di rumah ya... mama perlu istirahat sekarang, jangan membahas hal seperti ini di sini..."
"Mama mau tahu sekarang... kalian berdua kasih tahu sekarang..."
Setelah berpandangan dan saling melempar isyarat...
"Aku... aku pacaran sama Holly..."
Akhirnya sepenggal kalimat pengakuan keluar dari mulut Tenry. Ci Cun terduduk lagi di tempat duduknya. Entah bagaimana menyikapi ini, tapi yang jelas Beyvie adalah prioritasnya sekarang.
"Koko... mama harus gimana, Cici butuh kita Ko... mama gak mau Cici salah jalan lagi Ko, mama gak mau Cici meninggal dengan cara paling hina... gak mau..."
Ci Cun menangis kencang sekarang, menelungkupkan kepala di atas kedua pahanya. Tenry berjongkok, dia juga gak suka jika itu kejadian lagi, dia sama sedihnya dengan mamanya. Tenry memeluk mamanya.
"Ko... Koko ngalah untuk Cici ya? Mama mohon Ko... ya... tolong mama Ko, tolong Cici ya?"
Tenry hancur saat melihat wajah mamanya, kehilangan kata dan serasa kehilangan sesuatu di jiwanya...
"Ma..."
"Koko bisa kan berkorban untuk Cici, Koko bisa mencari yang lain, tapi Cici gak bisa Ko..."
"Ma... ini bukan solusi ma, belum tentu ini baik buat Cici, dan pasti gak baik buat Koko... please ma, jangan desak Koko lakuin hal yang menyakitkan untuk Koko juga Lingling..."
"Aku... aku juga gak bisa ngorbanin adikku Ci Cun..."
Hanie semakin sesak di sini, adiknya juga rentan untuk hancur.
"Ma... bisa kan mama terima Lingling juga... harusnya gak masalah kan..."
"Gak bisa Koko, gak ada yang seperti itu di keluarga kita... Mama gak punya pilihan Ko... sekali ini ngalah untuk mama Ko... sekali ini saja..."
"Ma... please..."
Tenry masih berusaha meminta mamanya untuk menyerah dengan keinginannya.
"Oh ya Tuhan... gimana mama harus hadapi ini..."
Ci Cun berdiri menjauh dari kedua pria muda dengan suara tangisan tak berdaya... berapa langkah kemudian Ci Cun jatuh lemas tanpa bisa ditahan oleh Hanie dan Tenry.
"Mama..."
Tenry menyerbu mamanya yang sudah tergeletak di lantai.
Tak jauh dari situ, Holly yang bersembunyi di sebelah kereta yang sedang digunakan seorang cleaning service terduduk bersandar di dinding dengan kucuran airmata yang sama derasnya.
Koko memang bukan untukku...
.
🦋
.
Begitu banyak ragam kehidupan, dan kadang kenyataan kejam tak berpihak, gelap, seperti sebuah lembah kekelaman... betapa terbatasnya kehidupan di bawah kolong langit ini... butuh sentuhan keajaiban tanganNya untuk menopang sehingga tak jatuh tergeletak...
.
Happy reading...
__ADS_1