
"Ling..."
Pintu kamar digedor Kencang.
"Astaga Kak... ada apa?"
"Hehehe... sakit tanganku..."
"Kak Nul ketok pintu sampai segitunya sih..."
"Lagi buru-buru soalnya... Gini... Kak Nul udah ngomong ke Kak Mel kan waktu itu... soal kamu yang udah free terus niat bantu apa gegara rantang gratis, nah... Kak Mel lagi butuh bantuan sekarang, si Niol lagi ngamuk, papinya dia lagi ke Jakarta, dia nyariin papinya sekarang, gak ada yang bisa ngebujuk... kamu ke sana ya?"
"Sekarang?"
"Iya... kamu katanya pintar ngebujuk dia..."
"Iya sih... kemaren sempat gak dia ijinin pulang waktu aku tukar air galon, sampe bolak-balik ke sini sama si Tole..."
"Ya udah... burauan..."
"Iya... iya..."
Holly mengambil ponselnya lalu mengunci kamar, meraih sendal jepit di rak sepatu lalu memakainya sambil jalan. Untung udah mandi, tapi si Koko belum nyampe makanya belum sarapan. Holly balik lagi, kali ini dia yang gedor kamar Nuella.
"Kak..."
"Apa... ditungguin loh..."
"Bilangin Ko Tenry nanti aku di mana..."
"Siyaaap..."
.
🙇
.
"Junior..."
Holly langsung memanggil anak kecil yang lagi digendong mamanya, ada Rommel yang sedang memegang mobil truck kesayangan anak kecil itu. Mereka ada di lantai dua ruko itu, di area ruang makan. Masih merasa asing di antara mereka, baru sekali bicara langsung dengan Kak Keke, beberapa kali saling tatap saat Holly main sama Nior, naik ke sini canggung rasanya, tapi udah niat mau membantu jika diminta...
"Tuh... ada kakak... temennya Niol..."
Keke menghadapkan wajah Niol yang bersandar di pundaknya pada Holly.
"Yukk... Niol main sama kakak mau?"
Anak itu masih menangis dan udah senggukan.
"Niol... nih... trucknya Niol udah sama kakak..."
Holly menjalankan roda mobil di telapak tangannya hingga mengeluarkan bunyi, dan itu menarik perhatian Junior, dia mengangkat kepalanya masih senggukan tapi sudah menatap Holly. Rommel kemudian turun ke bawah, dia punya pekerjaan pagi ini.
"Sini... kakak gendong, mau?"
Junior diam tapi belum mau turun dari pelukan Keke.
"Papiiii... hiks... hikss..."
"Papinya Niol kerja, nanti pulang lagi bawa mainan... tungguin ya...."
Holly masih negosiasi, cari perhatian sama pangeran kecil di keluarga ini. Keke tidak bisa membujuk dengan kata-kata, hanya mengusap-ngusap punggung anak lelakinya
"Papiiii puyang... hikss puyang Piii..."
Masih menangis meski tidak sekencang tadi, wajah mungilnya masih penuh airmata.
"Papi pulang kok, bentar setelah Niol main, terus makan, terus bobo lagi, terus bobo lagi... nah Niol ketemu papi lagi... sekarang main sama kakak ya?"
Holly masih melancarkan bujukannya dan kali ini Nior meluncur turun, menarik tangan Holly menuju ruangan belakang di depan kamar Keke dan Ben. Keke mengikuti dari belakang sambil memijit lengannya, terasa pegal akibat menahan anak lelakinya yang sempat meronta-ronta minta turun ke bawah. Keke tidak mengikuti karena pastinya anaknya minta naik mobil minta menjemput papanya, dikira hanya ke kantor aja.
Junior menunjuk sebuah lemari memanjang warna putih, Holly kira itu tempat duduk.
"Buka aja... itu tempat mainan milik Niol..."
Keke langsung berkata saat melihat sorot mata Holly yang sungkan untuk melakukan sesuatu. Mendapat ijin, Holly menggeser pintu dan sempat melotot sebentar, karena di dalam lemari setinggi hampir satu meter memanjang di sepanjang dinding kurang lebih tiga meter itu, tertata rapih segala macam mobil truck berbagai ukuran, model dan warna. Langsung kelihatan bukan semacam truck yang dijual di pasar.
"Mainan Niol truck semua?"
Anak kecil itu tidak menjawab tapi mulai mengeluarkan beberapa mainannya dan mulai menjalankan, mendorong beberapa yang langsung melesat sesuai arah dorongan.
"Dia gak mau mainan lain, dimainin tapi langsung bosan dan kembali nyari truck lagi... tapi sebenarnya papinya sama opanya sih yang asal ngelihat truck, langsung dibeliin lagi..."
Keke ikut duduk di lantai yang kini dipasang parket karena jadi tempat main Junior. Karena Junior Keke tak ingin membatasi hubungannya dengan Holly, mungkin besok-besok butuh Holly yang sepertinya punya sisi menakhlukkan anak-anak.
"Tapi Kak... ini dimainin Niol apa gak sih..."
"Ada lah..."
"Masa? Gak ada yang rusak loh..."
Keke tersenyum, sementara Holly masih mimik takjub.
"Semua orang juga bilang seperti itu, anak ini memang ajaib sih, gak pernah ngebanting dengan sengaja..."
Mulut Junior sudah mengeluarkan bunyi suara mobil, Keke mengeringkan airmata di pipi gembul itu, anaknya sesekali masih senggukan tapi sudah tenang. Keke merasa tenang juga karena anaknya mulai aktif bermain.
Holly ikutan mendorong truck, mengejar, lalu mendorong lagi, ke sana kemari di ruangan yang hanya berisi satu sofa minimalis tiga dudukan, selebihnya hanya beberapa lemari warna putih, mungkin isinya mainan juga. Sesekali dia mengajak Junior balapan. Keke hanya duduk mengawasi.
__ADS_1
"Keke... ini telpon bunyi terus..."
Tante Wisye muncul di ruangan itu sambil menyodorkan ponsel putih milik Keke. Keke menerima dan langsung mengangkat panggilan video suami tersayang.
📱
"Nyo..."
"Gimana jagoan kita, masih nangis gak..."
Wajah sang papa Benaya terlihat khawatir di ponsel. Keke mengganti ke kamera belakang.
"Barusan berhenti... Tuh udah main lagi..."
"Sejam dong nangisnya..."
"Iya... kasihan... masih ada sisanya..."
Keke mendekati anaknya.
"De... ada papi... "
Keke mengganti kamera lagi kemudian meraih tangan Junior sehingga bisa memegang sendiri ponselnya.
"Heiii jagoan papi... main apa?"
"Iniii... papii... papi puyang??"
"Iya... papi kerja dulu ya baru pulang, main sama kakak dulu ya, nanti baru main sama papi... oke my man?"
"Oke mamen..."
Junior meletakkan ponsel asal di dekatnya tangannya beralih menjalankan trucknya. Memang sekeras-kerasnya dia menangis, papinya ngomong melalui ponsel itu tidak begitu berpengaruh. Gambaran benaknya mungkin belum memahami konsep ini, selalu dia hanya sekedar berbicara dan meletakkan ponsel lagi dengan sembarangan, merasa itu bukan papinya yang nyata.
Keke gantian meraih benda itu kemudian berdiri menjauh.
"Jam berapa berangkat, Nyo?"
"Lima belas menit lagi boarding... Main sama siapa dia?"
"Sama Holly..."
"Anak-anak?"
"Udah ke sekolah, makanya Niol tambah ngamuk, nyariin Inyo pas kakak dua pamit ke sekolah... ya gitu deh... "
"Besok aku langsung pulang deh, gak usah ketemu mama, beresin pekerjaan langsung pulang..."
"Eh jangan... masa udah di sana gak mampir, jarang pulang loh, gak usah nginap apartemen lah, di rumah aja..."
"Kejauhan sayang..."
"Aku minta mama datang ke apartemen aja kalo gitu..."
"Iya gitu aja... atau gak mau diganggu ya... punya rencana lain mungkin?"
"Rencana apa??"
"..."
"Rens??"
"Iya..."
"Belum lupa kan yang aku pernah omongin?"
"Iya... gak akan..."
Wajah serius sang kepala keluarga membuat Keke tidak melanjutkan godaannya, hanya berniat menggoda tapi ditanggapi berbeda. Suami tersayang gak suka jika ada pembicaraan yang menyerempet soal kesenangan semalam dan sejenisnya. Ada ultimatum gak boleh diperbincangkan, pernah marahin Keke karena asal ngomong, padahal Keke sih santai aja sebenarnya...
.
flashback
"Inyo mau ke Jakarta lagi?"
"Iya... dua hari aja..."
"Nginap di rumah?"
"Gak... hotel, sekalian tempat meetingnya di situ juga... udah malas ke mana-mana kalau ke Jakarta, udah terbiasa di sini jaraknya deket doang..."
"Hotelnya dibayarin kantor?"
"Iya..."
"Dapet plus juga dong?"
"Plus apa?"
Mata suami berubah seperti elang sedang mengincar mangsa.
"Service plus plus... masak gak tahu, boss kayaknya suka dikasih itu kan..."
"Rens! Sini!"
Entah kenapa setelah nikah suara suami jadi tambah berwibawa jika mode serius.
"Sini..."
__ADS_1
Takut-takut Keke duduk di kasur dekat kaki sang suami yang sedang duduk bersandar di headboard tempat tidur, Ben melepaskan kacamata baca juga laptopnya.
"Bersihkan otak kamu dari pikiran semacam itu, aku gak suka..."
"Becanda Nyo..."
Suara Keke pelan karena takut beneran sekarang, suaminya marah, dulu waktu pacaran Keke tidak pernah lihat Ben marah, paling dinasihati pakai suara tegas tapi tidak pernah kasar.
"Itu bukan topik yang bisa dibecandain... berpikir benar membuat tindakannya benar juga. Kamu gak tahu kekuatan pikiran? Apa yang manusia pikirkan itu yang dia lakukan. So... jangan taruh hal-hal yang buruk dalam pikiran kamu... ngerti?
"..."
"Pikirkan yang baik, yang indah, yang benar, maka perbuatan kita akan mengikuti pikiran kita. Tahu kenapa aku gak suka ngomong hal-hal begituan? Aku gak mau kasih kesempatan hal itu datang di pikiran aku... dengan cara apa? Dengan tidak membicarakannya... itu cara aku menjaga diri aku jika jauh dari kalian."
"..."
"Rens..."
"Iya maaf... Nyo..."
"Jangan lagi ngomong hal-hal yang gak boleh terjadi di antara kita... ngerti?"
"Iya..."
"Sini... mau pisah kok ngajak berantem..."
Keke pasrah saat tangan Ben menarik dirinya ke pelukan hangat seorang suami.
"Cium..."
Ben menyodorkan bibirnya mendekat tapi tidak memulai.
"Ehh? Kok?"
"Cium... biar perasaan suami kamu enak lagi, terus kita bisa lanjuuttt yang itu..."
Suara di kalimat terakhir benar-benar berubah, sekarang malah senyum-senyum.
"Modus ahh... yang gak enak itu aku, Inyo mah... mau marah-marah, mau lagi sakit, apalagi kalau lagi cape... nyari pelampiasaannya sama... gak mengenal suasana kalau suami sih... tetap enjoy tuh bisa menikmati sampai ke puncak, istri mana bisa..."
Istri manyun tapi menempel manja, memeluk tubuh suami sambil menikmati tangan suami yang memanjakan beberapa bagian tubuhnya, tangan yang sudah hafal apa yang Keke suka.
"Pintar ngomong sekarang... kenapa suka cerewet sekarang kalau aku minta, mmh?"
Menjelang tengah malam, anak-anak sudah di peraduan masing-masing menjemput mimpi mereka, suami sayang yang akan tugas jauh pun mulai menjalankan misi salam perpisahan alias pembayaran di muka artinya mengambil jatah lebih buat modal. Biasanya terasa lebih manis saat baru habis bertengkar kan...
Falshback End Aja
Kembali ke situasi sekarang guys...
"Niornya gimana... takut dia sakit lagi kayak kemaren kalau aku tinggal tiga hari..."
"Beresin kerjaannya aja dulu... kayaknya dia cocok sama Holly, mau minta tolong Holly temenin Dede kalau pagi pas kakak-kakak ke sekolah..."
"Oke... udah mau masuk pesawat... nanti aku telpon pas nyampe ya..."
Ben berdiri dari kursi di ruang tunggu itu dan memilih mengantri paling belakang.
"Iya..."
"Love you..."
"Nyo... bentar..."
"Apa sayang?"
"Mmh... gak jadi..."
"Udah kangen ya?"
"Bukan itu... mmhm, kita berempat nyusul boleh gak?"
"Ke Jakarta maksudnya?"
"Iya..."
"Ohh boleh banget... kenapa gak bilang lebih cepat..."
"Baru kepikiran... baru ingat juga besok anak-anak udah terima raport, jadi kita bisa berangkat kamis sore dari sini..."
"Iya... kamu atur deh..."
"Hati-hati ya..."
"Iya... baik-baik di rumah ya... sayang kamu..."
Ben menutup dengan senyum menawannya, dibalas Keke dengan senyum bonus lesung pipit yang dulu jadi alasan papa Ben suka nyuri ciuman.
.
Demikian saudara-saudara... satu part lagi tentang BR... Sekian dan terima kasih...
😁😁😁
.
🦋
.
__ADS_1