Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 65. Hari Spesial


__ADS_3

Tanggal 26 Koko muncul di rumah Nuella, di tengah suasana menikmati hari raya. Papa Nuella adalah kakak tertua dalam keluarga, opa-oma Nuella sudah gak ada, kebiasaan keluarga setiap kali hari raya berkumpul di rumah anak tertua. Jadi ada banyak orang di sini, tante-om dan sepupu-sepupu Nuella.


"Kakak, ada tamu, nyari yang namanya Holly..."


Salah seorang sepupu berteriak pada Nuella.


"Siapa?"


"Gak tahu... kayak artis Korea.... ganteng abisss..."


Salah seorang sepupunya muncul di dapur. Nuella tahu siapa itu, kemarin sempat ngobrol lewat hp dengan Rommel, katanya Tenry minta alamat rumah Nuella. Nuella sedang membuat es buah di dapur, sedangkan Holly disuruh Nuella istirahat di kamar miliknya di ruang atas. Anak itu sudah banyak membantu menghias rumah dan sejak pagi juga membantu masak.


"Nes... Nes..."


Nuella teriak memanggil adik perempuannya si Nesya.


"Dia lagi ngobrol di depan sama tamu..." seorang tante yang membawa masuk piring-piring bekas makan menjawab Nuella.


"Tante Yen, boleh terusin campur es buahnya..."


Tanpa mendengarkan jawaban Nuella naik ke kamarnya.


"Ling... ada tamu nyari kamu tuh..."


Nuella menyibak gordyn pintu kamar.


"Siapa? Kak Nul tahu aku gak punya kenalan di sini..."


"Tapi emang ada yang nyariin kok..."


Nuella masih menyembunyikan apa yang dia ketahui sejak semalam. Holly belum mau terbuka tentang kegalauannya, alasan dia menangis diam-diam sebelum tidur, siapa tahu kehadiran Tenry bisa membuat kegalauan gadis ini lenyap.


"Ayo..."


"Ka Nul kenal orangnya?"


"Gak... ayo, kasihan udah nungguin..."


Holly risih keluar dari rumah ini karena ada banyak orang yang di antara mereka sejak tadi suka melemparkan godaan padanya, dijodohin sama anaknya lah atau sama ponakan atau sama adik.


"Kak, boleh turun dari tangga depan aja biar langsung di luar rumah, aku malu sama sodaranya kak Nul..."


"Ya udah... ayo..."


Nuella membuka pintu depan, ada teras dan ada tangga depan yang menjadi ciri khas rumah panggung. Holly turun mengikuti Nuella, dia melihat sebuah mobil hitam yang besar dan mengkilap, bukan mobil murah, tambah penasaran siapa yang mencari dirinya.


Masih berjalan mengikuti Nuella, Holly menunduk memperhatikan langkahnya sendiri, gak percaya diri dan gak nyaman menemui tamu untuknya, gak ada ide siapa orangnya karena merasa gak punya kenalan di daerah ini.


Saat dekat dengan mobil mata Holly menangkap dua orang sedang bercakap, dan salah satunya Tenry. Awalnya kaget karena si Koko gak ngomong apapun saat menelpon tadi pagi, kemudian risau dan galau karena ingat Ci Cun, tapi sesudahnya rasa kangen yang menebal di dada lebih mendominasi mengalahkan rasa yang lain. Holly mempercepat langkah kecilnya dengan senyum di wajah.


Saat Tenry memandang Holly dan melambaikan tangan kanannya, Holly tak bisa menahan langkahnya untuk berlari...

__ADS_1


"Sayang..."


Tenry memanggil dan mengulurkan tangan kanannya seolah ingin segera menjangkau tubuh Holly. Segera tubuh mungil Holly menempel masuk dalam pelukan Tenry, diiringi gelak tawa kecil dari mulut Tenry.


"Kangen kan?"


"Iya... iya... Koko gak bilang mau ke sini..."


"Sengaja..."


Tanpa canggung Tenry mengecup puncak kepala Holly yang masih dirangkulnya.


"Tenry... Ling... masuk ke rumah aja..."


Nuella tahu pasti dua orang di depannya sudah jadi tontonan gratis saudara-saudaranya yang masih banyak di sini. Di kampung ini masih sedikit kolot, sesuatu seperti yang tanpa sengaja dilakukan Tenry dan Holly dengan cepat bisa jadi perbincangan.


"Ayo Ko..."


Tenry gak ingin melepas rangkulannya pada Holly saat mereka berjalan mengikuti Nuella, tapi Holly segera berbisik...


"Ko... lepasin, di dalam rumah banyak orang, Lingling gak enak..."


Dengan enggan Tenry melepaskan tangannya setelah melihat banyak mata sedang memperhatikan mereka. Sebenarnya dia ingin tidak peduli, tapi Holly telah menarik tangannya turun.


"Naik ke atas aja ya... kamu udah makan Ten?"


Nuella bertanya sambil naik tangga depan, semua mengikuti termasuk adik Nuella si Nesya yang tadi ngobrol dengan Tenry.


"Udah... sebelum ke sini..."


"Jam sebelas mungkin..."


"Ya udah kalian ngobrol di sini ya... "


Nuella menarik tangan adiknya yang terlihat pengen ikutan duduk di sofa yang ada di ruangan tamu di lantai atas itu.


"Ngapain kamu? Jangan ngangguin mereka... gak sopan bener..."


Nuella berbisik sambil menuruni tangga belakang dan tak melepaskan tangan Nesya.


"Si Tenry temenku kak..."


"Temen dari mana? Ngaku-ngaku..."


"Temenan di f*b kok..."


"Itu beda dunia kali... jangan sok akrab..."


Nesya memberengut sambil menghempaskan tangan Nuella dari lengannya.


.

__ADS_1


Di atas, hanya mereka berdua sekarang, dua insan yang saling kangen padahal baru sekian hari berpisah...


Ciuman baru selesai diberikan Si Koko di pipi kekasihnya.


"Ikut Koko pulang ya?"


"Eh... baru aja nyampe udah ngomong pulang..."


"Hehe... hari ini Koko ulang tahun... pengen berdua sama Lingling..." Tenry tersenyum sambil mengusap puncak kepala Holly.


"Hahh??? Ulang tahun? Koko gak bohong?"


"Untuk apa bohong sih? Masa tanggal lahir pacar sendiri gak tahu?"


"Maaf Lingling gak tahu... beneran gak tahu... astaga... Ko... maaf ya?"


"Jadi sedih Koko... pantesan gak ada ucapan selamat sejak pagi..."


"Koko... maaf..."


Rasa senang berjumpa dengan Koko sekarang berganti dengan rasa sedih bercampur malu, merasa bodoh karena tidak peduli dengan hari spesial si Koko, padahal waktu ulang tahunnya Koko ngasih banyak hal, memperlakukan dirinya dengan istimewa. Baru sadar dia gak pernah mencari tahu data pribadi si Koko, dan merasa menjadi orang yang gak tahu berterima kasih. Holly menunduk.


"Ehh... udah... Koko maafkan kok, gak papa... sekarang mana ucapan selamatnya..."


Perlahan Holly mengangkat wajahnya... menatap sendu wajah Tenry.


"Selamat ulang tahun ya Ko..."


Lirih suara Holly diucapkan dengan penuh perasaan. Acungan tangan Holly untuk menjabat tangan diambil Tenry lalu membawa Holly dalam pelukannya.


"Maaf ya Ko..."


Suara lirih masih mengucapkan maaf, saat kepalanya bersandar di dada Tenry...


"Iya... jangan sedih dong, Koko ngerti kok..."


"Lingling malu... kayak gak peduli tentang Koko, padahal udah lama jadi pacar Koko, Lingling merasa egois banget..."


Bagian terakhir kalimat terucap bersama luapan sedihnya menangis tanpa suara sambil memeluk si Koko.


"Hei... udah dong sayang... ini hari bahagia Koko, jangan nangis dong..."


Karena tangannya memeluk si Koko dan gak ingin dia lepaskan maka Holly mengusap dua pipinya yang udah terlanjur basah di baju Koko.


"Ngapain?"


"Gak..."


Kepala masih bersandar, belum mau kehilangan dekapan hangat itu, merasa dicintai dan disayang, meskipun punya salah tapi tetap diperlakukan dengan lembut oleh si Koko... perasaan ini membuat Lingling lupa tentang niat untuk meninggalkan Kokonya.


.

__ADS_1


🦋


.


__ADS_2