
Keluarga Holly boleh dibilang tidak mengalami siklus perubahan yang luar biasa. Bertahun-tahun hidup dan tinggal bersama dalam interaksi yang jauh dari harmonis, setelahnya terpisah-pisah hanya Holly dan sang mama yang punya hubungan yang baik. Beberapa kali berkunjung ke tempat opa, tak membuat hubungan Holly dengan ketiga orang kakaknya menjadi lebih baik, mereka memang tidak dekat sebelumnya dan tetap seperti itu. Ketiga kakaknya telah menikah dengan orang asli daerah.
Dengan dua kakak perempuan yang tinggal di kota yang sama juga tidak pernah berjumpa sampai hari anniversary saat Tenry mengundang mereka hadir.
Sekarang, Lina atau Helny sering menghubungi dirinya berawal dari keinginan papa untuk rujuk dengan mama. Holly seperti dijadikan penghubung, dua kakaknya enggan bicara dengan mama, mungkin juga karena mereka tidak dekat dengan mama.
Jika membuka kenangan tentang sejarah keluarga ini, mereka telah bertahan bersama dalam satu hubungan dengan pola minim kepedulian dan cinta. Ciri hubungan antara mama dan papa dulu mungkin itu yang ditiru semua anak.
Telpon dari Herlina sementara berlangsung...
📱
"Papa udah nunggu kamu Holly, kamu belum datang juga..."
"Aku gak bisa ke rumahmu di hari biasa Lin, hari libur yang kemaren kalian selalu pergi..."
"Hanya itu waktu aku bisa jalan-jalan sekeluarga, memangnya cuma kamu yang bisa jalan-jalan, sekalipun kami gak kaya sepertimu tapi kami bisa kok pergi-pergi nyari hiburan... Kalau mau ke sini jangan hari libur dong..."
Holly membuang napas, isi kalimat kakaknya terasa sinis.
"Di hari lain aku sibuk, sementara rumah kalian jauh dari sini... "
"Gak sampai sejam ke sininya Holly... aku tahu kamu sibuk, tapi jangan mentang-mentang dong ibu pengusaha... masa gak bisa sempatkan waktu melihat papa..."
Lina terdengar mulai mengomel, suara pun tidak seperti di awal menelpon.
"Aku gak kayak gitu, beneran gak punya waktu, untuk anakku aja hanya pagi hari Lin... makanya aku minta papa ke kafe..."
"Jangan sombong Holly... masa papa yang nyari kamu, anak yang harus nyari orang tua..."
"Ada apa sebenarnya? Kenapa harus aku yang ke sana? Aku telpon papa gak diangkat... Soal mama udah aku jelaskan ke kamu Lin, apa kamu gak ngomong tentang itu ke papa?"
"Kamu aja yang ngomong... makanya kamu ke sini..."
Holly gak mengerti di mana letak perbedaannya Holly bertemu papanya di tempat kerjanya dan di rumah Lina. Dia sungkan mengajak papa datang ke rumah, merasa gak enak karena beberapa alasan.
Hubungan Holly dengan sang papa memang tidak cukup dekat, peristiwa papa gak menghadiri pernikahannya masih membekas, permintaan dan kelakuan papa waktu itu juga masih terngiang-ngiang.
Dan yang terpenting Koko tidak pernah membahas soal papa, bahkan sesuatu yang dia anggap penting yaitu soal pemberian uang malah disembunyikan si Koko darinya dengan alasan tidak ingin membuat Holly malu. Dalam hati Holly merasa bahwa suaminya gak ingin mereka terlalu jauh terlibat dengan kehidupan papa demikian juga sebaliknya, makanya dia sungkan untuk mengajak papanya datang ke rumah.
"Ya udah... hari minggu nanti aku ke sana..."
"Kenapa kamu gak ngerti, hari minggu itu hari quality time dengan keluargaku... aku gak ada..."
"Lah... kan aku perlunya sama papa, kalian gak ada di rumah gak masalah..."
"Masa ada orang datang ke rumah kami gak ada..."
"Terus gimana... aku bisanya hari minggu atau libur..."
"Kamu yang menyesuaikan dengan kami, Holly..."
Holly tidak mengerti jalan pikiran kakaknya, ingin dimengerti tapi tidak mau mengerti, memberi alasan yang gak ada kaitannya, dan begitu pemaksa.
Padahal simple saja kan, Papa pengen bertemu, dia siap aja, harusnya waktu dan tempat pertemuan tergantung Holly aja, ini heran, harus diurusi kakaknya.
"Ya udah... jangan desak aku, kalian punya alasan aku juga punya alasan. Yang mau bertemu papa sama aku, kenapa jadi kamu yang harus menentukan tempat dan waktu... nanti kalau gak sibuk aku pasti menyisikan waktu bertemu papa..."
.
Holly mengakhiri panggilan itu dengan wajah kesal... Holly mengucapkan dengan suara yang sedikit bergetar, dia tak ingin memperpanjang pembahasan soal bertemu papa yang sering menjadi topik utama.
Seperti baru saja melakukan lari beberapa putaran yang menghabiskan semua energinya, percakapan Holly dengan Herlina membuat Holly cape, gak ada titik temu selain kalimat-kalimat pemaksaan, seharusnya bukan masalah malah seperti jadi masalah besar.
Tenry baru selesai mandi, duduk di samping istri.
__ADS_1
"Kenapa sayang... mukanya kusut..."
Sebuah ciuman mendarat di bibir diserta sedikit lu matan kasar. Holly memukul lengan suami, sekarang suami punya hobby baru memberi ciuman dengan cara seperti tadi.
"Sekarang selalu mukul Koko ihh... tangan kecil tapi kuat sekarang..."
"Sakit?"
"Gak... gemes..."
Tenry mencium lagi dengan gaya jenaka tapi lu matannya lebih lama.
"Ihh... Koko ahh..."
"Hahaha..."
Tenry menangkap tangan kecil istrinya yang sudah teracung hendak melakukan hal seperti tadi.
"Sakit Ling..."
"Lingling gak percaya, pelan aja kan... masa sakit, malah tangan Lingling yang sakit mukul lengan Koko.... Koko ngangkat-ngangkat barbel kan... jadi keras gitu..."
"Latihan... biar bisa ngangkat Lingling terus..."
"Ihh..."
Tangan yang lolos segera memukul lagi, entah mungkin pengen menyalurkan emosinya karena Herlina sehingga pukulan jadi beberapa kali.
"Hei... hei... mami, kenapa jadi kdrt gini..."
Tenry tergelak menikmati aksi istri yang kini memukul secara acak di tubuhnya, Tenry membalas dengan menggelitik tubuh sang istri.
"Udah Koko... nyerah... udah... papiii..."
"Maaf bu... Echa udah bobo..."
"Aduuuh kasihan, mami janji mau main lagi tadi, mami lupa..."
Holly mendadak kesal lagi, telpon dari kakaknya membuat dia lupa anaknya. Padahal tadi sengaja pulang lebih awal biar bisa main sejenak dengan Echa. Holly berdiri dan mendekati tempat tidur mengamati suster yang sedang meletakkan Echa di tempat tidur, Holly ikut naik dan kemudian mengatur posisi yang lebih nyaman buat anaknya.
"Permisi bu..."
"Iya... siapin keperluan Echa buat besok ya... minta Nita masak sesuatu juga buat Echa..."
"Besok Echa ikut ke kafe, bu?"
"Iya..."
"Baik bu... permisi..."
Tenry melambai pada istrinya saat Holly selesai mengunci pintu. Holly mendekat dan duduk lagi di samping suami.
"Besok sedikit longgar, mami pengen bawa Echa main ke mall, kasihan beberapa minggu ini kita sibuk terus, gak ada waktu buat dia..."
"Siang apa sore? Siang aja? Kita sekalian makan di mall? Bosan juga Koko makan di kafe melulu..."
"Koko mau ikut?"
"Iya... kita bertiga aja, suster gak usah ikut... quality time..."
"Hehehe..."
Holly tertawa sumbang mendengar akhir kalimat suami. Dengan sedih Holly berkata.
"Tadi Lina telpon lagi Ko... heran deh... Lingling seperti didesak harus ketemu papa..."
__ADS_1
"Wajar anak ketemu papa... gak ada yang aneh..."
"Tapi harus di rumah mereka, Lingling yang harus ke sana..."
"Ya udah kita pergi ke sana, Koko anterin..."
"Itu masalahnya, Lina minta Lingling ke sana pas mereka ada, tapi gak boleh di hari libur katanya itu quality time dia sama keluarga... ihh... Lingling aja gak segitunya kali, bisa ke mana aja tinggal minta ke Koko... tapi gak maksain tiap libur harus keluar jalan-jalan... Lingling mah hari libur milih tidur seharian di rumah, main sama Echa..."
"Jangan gitu... jangan membandingkan hidup Lingling dengan orang lain, bisa jadi sombong... biarkan mereka dengan kebiasaan mereka tapi gak usah julid..."
"Abis Lingling jengkel, kenapa Lingling yang harus menyesuaikan dengan mereka, gampang aja kan sebenarnya, anterin papa aja ke tempat Lingling selesai... urusan di sini kan papa aja sama Lingling, kenapa jadi ribet, jadi masalah buat mereka... aneh kan... Lingling kayak merasa aja papa mau minta sesuatu, kalau cuman kangen Lingling, harusnya Lingling telpon papa angkat... harusnya dari dulu juga Lingling dicariin... harusnya dari dulu papa perhatian sama Lingling... jujur Lingling gak pernah merasakan punya papa... kenapa sekarang jadi recokin hidup Lingling..."
Airmata mengucur di pipi Holly, wujud kerisauannya belakangan ini karena hubungan dengan keluarganya. Seharusnya saat hubungan itu mulai terjalin lagi dia menginginkan itu hubungan yang baik layaknya keluarga, seperti saat bertemu opa dan oma dan dua i'inya pertama kali... semua berusaha menunjukkan saling sayang, saling peduli, menghargai ikatan keluarga itu dengan cara yang benar.
Tenry membawa istrinya ke dalam pelukan. Dia masih diam sekarang dengan tingkah keluarga istrinya. Sejujurnya awal dia mengontak mereka karena rasa hormatnya pada mama mertua saat datang ke rumahnya, dalam ceritanya selalu menyinggung anak-anak dan cucunya di sini, dia coba bertindak sebagai menantu yang baik ingin merekatkan kembali hubungan yang terputus.
Dua anak perempuan tertua mama mertua memang lebih berpihak pada papa mereka sejak awal mama mertua pisah. Alasan mereka manusiawi, siapa yang akan peduli dengan papa mertua kalau bukan anak sendiri.
Tenry memilih mengamati dulu sejauh mana mereka akan bersikap, apakah akan menjadi perongrong atau seperti apa, ini masih terlalu awal. Terlebih sejauh ini Yosie belum menunjukkan hal-hal yang tidak disukai, pekerjaannya masih bagus, entah ke depannya.
"Ling... udah dong, masa masih suka nangis sih... udah makin dewasa loh..."
"Iya... iya... Lingling hanya jengkel Ko..."
"Iya... Koko ngerti... tapi gak usah dimasukin dalam hati, kadang ada orang-orang yang menjaga ego mereka seperti itu, melihat orang yang lebih dari mereka tapi tidak mau mengakui. Satu-satunya cara adalah membuat orang yang lebih itu tunduk atau mengikuti mereka... ketika itu terjadi ego mereka terpuaskan. Biasa suka gini... lihat dia meskipun dia jabatannya tinggi tapi dia gak bisa melawanku... atau gini... meskipun dia kaya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa denganku..."
"Gitu Ko?"
Tenry mengangguk, dalam keduanya saling bertatapan hangat dalam pelukan mereka.
"Terus Lingling harus gimana?"
"Koko suka jawaban Lingling terakhir... istri Koko makin dewasa... kalau ada waktu kita pasti pergi... kita udah kasih waktu mereka gak bisa jadi kita seperti biasa aja... kita memang sibuk bukan membuat-buat alasan, kita ingin membangun silahturahmi mereka yang ogah-ogahan, mungkin gak serius sebenarnya atau ada maksud lain... hanya mereka yang tahu..."
"Lingling iri tuh sama keluarga Koko... Cici sama Dede saling sayang, saling bantu..."
"Ehh? Itu udah jadi keluarga Lingling loh... Jangan lupain Hanie loh... dia kakak terbaik dan teman terbaik..."
"Hehehe... iya... jadi kangen... besok kita ngajak Hanie sama Meili ya... jadi kangen Leon deh..."
"Nanti hari minggu aja, nanti Koko yang telpon Hanie, besok kan Meili kerja pastinya... besok itu kita bertiga quality time..."
"Ishh... jangan niru orang lain... iri itu... biasa aja..."
"Hahaha... kenapa jadi sensi dengan kata quality time... sekarang kita berdua dulu yang quality time yaaa..."
"Iya... Lingling udah pengen saat lihat Koko masuk kamar mandi tadi..."
"Istri Koko... jujur amat sih soal ini..."
Malam menjadi indah untuk Holly dan Tenry... selamat ber-quality time...
.
🦋
.
Selamat hari senin... udah vote belum? 😁 Karya aku turun levelnya karena jarang update bulan kemaren... urusan RL kan perlu dilakoni juga dengan baik hehehe...
Boleh aku minta komen like vote... aku butuh itu kayaknya biar karya ini bagus performancenya hehehe. Semoga aku juga bisa lancar update ke depannya....
Terima kasih banyak 😁🥰 blessing 🙏 ...
.
__ADS_1