
Di sebuah penginapan bernama Moy Residence...
Sebuah pertemuan keluarga yang begitu mengharu biru, si opa menangis terus karena bisa bertemu cucu yang lain miliknya. Si opa hanya pernah bertemu Herlina, setelah itu hubungan mereka terputus. Oma punya watak pendiam hanya senyum-senyum dan beberapa kali merangkul Holly. Punya oma dan opa dan masih sempat melihat mereka sehat dan kuat, itu anugrah. Oma seperti mama dalam versi kurus dan mirip Holly.
"Ling... oma mirip kamu deh... lucu kayaknya kalian bertiga kalau difoto... tiga perempuan kembar dengan tiga versi, mama versi bodyguardnya dan kamu versi mini, versi boneka imut... hahaha..."
"Eh iya ya... ayo foto, sini ii Yun yang foto... Ci Ibeth duduk deket mama, Holly juga..."
Tante mereka yang bernama Yuanita melakukan kegiatan foto mengfoto akhirnya.
Hanie juga larut dalam bahagia, Tenry menjadi penonton moment keluarga itu. Saat dirinya menjadi fokus obrolan seluruh keluarga Tenry hanya senyum-senyum.
Selain opa dan oma ada dua adik mama Ibeth yang semuanya perempuan. Boleh dibilang mama sebenarnya paling cantik di antara mereka. Ada juga beberapa sepupu Hanie dan Holly yang turut datang. Karena baru bertemu, pembicaraan masih sangat kaku, tapi yang jelas semua berbahagia.
"Nanti opa mau buat syukuran ya... di kampung, syukuran untuk Holly dan Tenry, syukuran karena kita bisa sama-sama lagi sebagai keluarga... kalian harus datang semua... opa senang sekali, bahagia sekali..."
Opa Dani bicara kemudian dengan telapak tangan yang berkali-kali mengusap pipi. Mama hanya mengangguk mengiyakan dengan wajah yang terharu tapi terlihat lepas bebas sekarang. Holly gak dilepas oma lagi, dirangkul dengan sayang oleh sang oma.
"Beth, bawa anakmu yang lain bertemu papa... papa pengen bertemu buyut papa juga..."
"Iya... mudah-mudahan besok mereka bisa ke sini..."
"Atau papa ke rumahmu?"
"Ehh... jangan pa, rumah itu sempit, panas juga... nanti aku bawa mereka ke sini..."
"Ya.. ya.. ya.. "
Opa mengangguk-angguk memaklumi. Kabar tentang keluarga anak sulungnya sudah sampai ke telinganya, sudah lama ingin mendatangi anaknya karena gak ada orang tua yang rela melihat hidup anaknya menderita, tapi sakit hati kepada menantunya menghalangi itu, terlebih keangkuhan pria itu di masa lalu masih membekas.
__ADS_1
Dan cerita tentang tingkah laku menantu yang tak berubah, memikirkan juga berapa banyak harta yang telah dihabiskan menantu itu membuat si opa menunggu saja. Jika anaknya sendiri yang bertindak dia gak akan menolak.
"Beth... kalau suamimu mau berubah, lebih baik kalian pulang kampung teruskan usaha papa dan mama saja, kami sudah tua sudah tidak gesit lagi. Papa udah denger sumber keuangan kalian hanya dari kegiatanmu menjahit, itu tidak seberapa kan... suamimu memang gak bisa diandalkan, papa sengaja diam mau lihat dia sampai di mana tanggung jawabnya... ternyata..."
Di hadapan oma-opa, mama Ibeth yang garang tetaplah seorang anak, diam saja gak membantah saat opa bicara. Opa menghela napas panjang lalu melanjutkan...
"Yun dan Lely sudah punya usaha sendiri, sudah punya rumah sendiri. Papa bisa bantu dua anakmu yang sudah menikah untuk memiliki rumah sendiri... papa sedih memikirkan kondisi keluargamu..."
Opa Dani sekarang mengambil tisu di meja kecil lalu mengeluarkan sesuatu dari hidungnya.
"Beth... suamimu membuatmu mengalami hal yang buruk... minta dia berubah baru papa terima dia lagi... papa belum lupa sikap kurang ajarnya sama papa..."
Dengan kalem dan pelan tapi tegas opa Dani bicara dengan sang mama. Mama Ibeth hanya menunduk mengingat di masa lalu dia memilih membela kelakuan suaminya. Perasaan sedih kini menghampiri mengetahui bahwa dia pernah memberikan luka yang dalam pada orang tuanya. Cintanya terlalu buta di masa lalu, cinta yang hanya melihat fisik seseorang dan mengabaikan karakter.
Mama Lisbeth gak tahu apakah suaminya akan berubah, terlalu pesimis untuk hal itu bahkan bisa menjadi masalah baru sekarang, menambah tumpukan masalah dlm hubungan dengan suami. Yang dia rasakan kini bahwa dia lelah menjadi tulang punggung keluarga, Hanie saja yang menopang keuangan mereka selama ini. Dua anak perempuannya tak bernasib lebih baik, memiliki suami yang mirip papa mereka.
Oma Lora berbicara sekarang, naluri seorang ibu yang bisa membaca garis tipis gurat lelah sang anak, mata seorang mama bisa melihat lebih jauh di belakang yang tak terlihat.
Mama... sebuah kosakata penuh ragam makna yang terjabarkan dalam intuisi dan naluri, kepedulian dan sentuhan kasih yang tak lekang dengan waktu, tak tergerus oleh tajamnya perselisihan. Tak bersama dalam waktu lama bukan berarti sang oma melupakan arti sorot mata dan gesture sang anak, si mama Ibeth.
"Holly anak berkat, karena Holly, oma sama opa bisa bertemu Beth, bertemu kalian semua..."
Oma berkata sambil mengusap pipi Holly.
"Dia anak perempuanku yang paling baik ma... paling nurut... paling sayang aku... Hanie dan Holly anakku yang paling mengerti aku..."
Mama Ibeth berkata dalam senyum dan tangisan yang mulai keluar dengan tatapan mata sendu terarah pada Holly. Sebuah kilau ekspresi yang baru yang membuat baik Hanie maupun Holly terpana.
Jangan tanya Holly seperti apa, Hanie aja menitikkan airmata. Tak pernah melihat mama menangis, visual mama sekarang begitu menyentuh dua anaknya, jadi paham cerita besar dibalik keadaan mama, jadi mengerti seperti apa beban yang mama pikul karena keadaan keluarga mereka.
__ADS_1
Holly berdiri saat melihat mama yang tertunduk dalam dengan isak tangisnya. Holly datang memeluk mama Ibeth, tangan kecilnya mengusap-ngusap punggung mama. Hanie menunduk dan tak menahan tangisnya lagi. Alasan dia bekerja selama ini adalah mama, alasan dia mengulur permintaan dari mama Meili untuk segera menikah juga karena sang mama.
Mungkin sikap berang dan kasarnya selama ini bukan karakternya yang sesungguhnya, mungkin sebuah karakter yang muncul karena tekanan hidupnya.
"Maafkan mama, nak... maafkan mama ya... mama banyak salah sama kamu, nak..."
"Aku juga salah ma, ninggalin rumah gak bantu mama lagi..."
"Kamu udah berbuat lebih dari cukup untuk mama... sekarang kamu berhak untuk mengejar hidup kamu sendiri... mengejar bahagiamu sendiri..."
Mama juga memeluk Holly, tidak ingin membiarkan lagi hubungan mereka seperti dulu. Dia punya cinta yang seharusnya dia curahkan untuk anak-anaknya... hanya perlu menunjukkan itu lagi.
.
.
Hi...
Sepuluh hari ini aku harus fokus pada sesuatu... jadi akan jarang update, aku usahakan dua hari sekali... semoga pembaca dapat memahaminya.
Dukung terus cerita ini ya, jangan bosan kasih komen kk... aku selalu menunggu itu...
Terima kasih untuk semua hadiah, vote, like, komen dan rate buat cerita ini...
.
🦋
.
__ADS_1