
Hanie menunggu Tenry di ruang makan, Tenry sedang memeriksa kamar Holly, Tenry yang gak percaya saat dia kasih tahu Holly gak ada di sini. Tenry muncul kemudian dengan wajah campuran banyak emosi, membuat Hanie mengulum senyumnya, pengen ngakak sebenarnya karena baru pacaran dengan Holly Tenry seperti ini.
Sama Glo dulu datar-datar aja tuh muka, mungkin karena Glo yang posesif, selalu ada di samping Tenry gak pernah pergi ke mana pun. Malah waktu itu Tenry yang suka menghindar bila jenuh, ikutan komunitas motor touring ke mana karena Glo gak bakalan ikut, gak suka panas-panas dan keringatan di bawah matahari. Cinta mereka baik-baik dan tenang-tenang saja sampai kemudian terpisah jarak.
Gak seperti sekarang selalu ada gelombang emosi yang bermain, dan terlebih di sini Tenry yang posesif. Hanie membaca kegusaran dan juga rasa khawatir jelas di raut muka Tenry karena Holly gak ada.
"Han... ke mana lagi dia, kenapa kamu bisa kecolongan lagi sih..."
Suara kesal sekaligus marah keluar dari wajah itu, sekarang dia membanting dirinya sendiri di sofa sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Dia pamit baik-baik, minta ijin... aku bukan gak waspada atau gak mikir membiarkan dia pergi..."
"Kenapa kamu ijinkan dia pergi, entar dia ngilang lagi gimana..."
"Aku memang suruh dia ngilang aja, pergi aja..."
"Han!!!"
Tenry berdiri dengan marah yang bertambah.
"Dia kesel sama kamu, telpon gak diangkat, pesan gak dibalas, kenapa marah sama aku... yang mengabaikan Lingling siapa?"
Tenry duduk lagi tinju kerasnya menerjang sofa yang dia duduki. Hanie akhirnya melepaskan tawa yang sejak tadi dia tahan.
"Han... ini gak lucu, ini Lingling menghilang lagi, berapa bulan lagi dia pergi kali ini..."
"Hahaha... Lingling itu liburan... pergi liburan bukan menghilang... Dia sebenarnya gak pengen ikut apalagi kalau kamu gak ijinin dia bakal punya alasan menolak ajakan temen-temennya. Udah dijemput dia masih aja nelpon kamu mau minta persetujuan... "
Tinju sekali lagi melayang di samping tubuhnya melepaskan emosi. Ternyata dia sendiri yang salah dan ternyata Lingling bukannya lari darinya, emang gak ada alasan untuk sembunyi lagi kan. Tapi kalau kesal iya jelas, terlebih hari ini dia gak memberi ucapan selamat ulang tahun, cowok macam apa yang melupakan hari penting pacarnya.
"Dia ulang tahun hari ini..."
"Iya tahu..."
"Aku gak ngucapin apa-apa, gak ngasih kado... aku gak ingat... bodoh banget aku..."
"Iya emang kamu yang bodoh..."
"Apa sih???"
"Lah, hanya memperjelas omongan kamu sendiri... hahaha..."
"Iya aku tahu aku bodoh..."
"Hahaha... lebay juga..."
"Han!!!"
"Hahaha... sorry, baru sekarang sih aku lihat tampang kamu kayak gini... udah nikahin aja... Lingling juga udah mau kok..."
Tenry terpana sesaat lalu berpindah sekarang duduk di hadapan Hanie di meja makan.
"Ini bukan hal sederhana, Han..."
"Iya... tapi sebenarnya sederhana atau gak itu tergantung kamu aja..."
Tenry menatap Hanie seperti menunggu Hanie menerangkan lebih jauh maksudnya. Melihat itu Hanie melanjutkan.
__ADS_1
"Bagi kebanyakan orang yang paling sulit adalah menyiapkan dana untuk menikah, ada yang harus nabung lama untuk itu, ada yang nyari side job demi menambah saldo. Ada juga yang pengen punya rumah dulu sebelum nikah, makanya urusan nikah jadi gak sederhana."
Hanie masih melanjutkan...
"Kamu gak perlu melakukan itu kan, uangmu cukup untuk membuat pernikahan dengan konsep lebih mahal dari para artis, bisa nikah di tanah suci seperti lagi trend sekarang banyak yang nikah di Kana boyong keluarga besar ke sana. Kamu juga bisa nikah di Bali di Singapore... tergantung pilihanmu sendiri. Kamu juga udah disiapin rumah sama Ko Siong... untuk orang lain itu udah sangat ideal buat mutusin menikah aja..."
"Holly masih kuliah Han... itu masalahnya..."
"Jadi masalah karena kamu yang menganggap itu penghalang... banyak kok yang udah nikah masih kuliah. Menurut aku sih, kamu sendiri yang belum menginginkan itu... mungkin iya sudah menjatuhkan pilihan sama Lingling tapi belum berpikir untuk menikah dalam waktu dekat..."
Tenry gak menyanggah karena benar adanya. Sejauh ini hidupnya flat dan mulus aja, materi tersedia berlimpah, usaha sudah dirintis orang tua dia hanya menerapkan ilmu dan pengetahuannya biar usaha mereka tidak tertinggal tapi bisa terus dipacu mengikuti laju tuntutan bisnis era sekarang.
Mungkin yang sedang menguasai alam berpikirnya adalah seperti kebanyakan orang muda jaman sekarang, ingin mencoba hal-hal berbeda, ingin menemukan sesuatu yang lebih atau melakukan sesuatu yang berbeda dari orang tuanya sesuatu yang menantang dirinya, bahkan pernah berpikir ingin merasakan kegagalan kemudian bangkit dan menikmati keberhasilan. Dirinya seperti terobsesi untuk membuat jalur keberhasilan sendiri, garis hidupnya sendiri.
Tingkat kepuasaan manusia memang berbeda-beda. Seolah Tenry sedang menunggu sesuatu yang hebat terjadi dalam dirinya, itu yang tertanam dalam pikirannya belakangan, sehingga melupakan apa yang paling dia inginkan dalam hidupnya, dan gak menganggap serius setiap kali Holly menyinggung soal nikah.
"Thanks... Han..."
"Hahh? Aneh... buat apa?"
"Udah ngasih pemikiran yang lain, jujur gak mikir sampai ke situ..."
"Oh itu sih aku hanya bicara tentang keadaanku saja..."
"Oh oh oh... jadi kamu juga udah mikir nikah ya?"
"Iya... beda sama kamu, materi gak akan jadi penghalang, kamu ingin atau gak itu aja masalahnya... tapi aku... biaya nikah ada sih walau hanya sederhana. Tapi setelah nikah mungkin gak bisa ngasih uang buat mama lagi, gak bisa lanjutin biayain kuliah Lingling... aku mikir mau tinggal di mana setelah nikah... jujur malu mau tinggal di sini lagi bawa istri... setidaknya aku harus ngontrak karena gak mau tinggal bareng mertua... banyak resiko... kakak-kakak iparku suka bermasalah sama mama, aku gak ingin kayak gitu..."
"Han... nikah aja, Lingling urusan aku kan... udah aku bilang sejak dulu..."
"Hahaha... aku juga dengan alasan berbeda pengen nikah setelah dia selesai kuliah... tapi kayaknya aku berubah setelah kamu ceramahin tadi..."
"Apa sih..."
"Kita nikah bareng mau?"
"Bisa aja kamu... mana mau Ci Cun kayak gitu..."
"Aku ngasih hadiah rumah deh... biar kamu gak mikir ngontrak... tapi jangan minta yang mewah ya, pokoknya bukan RSS lah..."
"What??? Baik banget jadi sahabat..."
"Anggap aja bonus udah bantuin banyak hal, udah kerja dengan baik buat keluarga aku selama ini, udah jadi sahabat yang paling mengerti aku, bahkan aku kayak punya saudara laki-laki deh... terus karena Lingling juga, kamu udah jadi kakak yang baik buat dia..."
Tenry mengucapkan dengan emosi yang memancar di wajah, dia sungguh-sungguh menghargai persahabatan mereka.
"Bukan aku yang minta rumah Ten, tapi papaku... Ehh lupakan Ten... aku gak seharusnya ngomong ini..."
Hanie menggaruk kepalanya kelepasan ngomong.
"Papa kamu minta rumah?"
"Gak usah kamu pikirkan apalagi berniat untuk mewujudkan, kamu udah tahu kan papaku seperti apa... jiwa matrenya langsung keluar saat tahu kamu pacarnya Lingling..."
"Gak masalah sih... jika harus memberikan rumah, papamu akan jadi papaku juga kan..."
"Ten... please, lupakan perkataanku mengenai rumah... Aku gak ingin hubungan kita jadi seperti ini, memanfaatkan kalian untuk hal-hal materi... kamu tahu ini yang paling memberatkan aku jika kamu nikahin Lingling, papaku gak ada rasa malu, Ten..."
__ADS_1
"Gak papa kan... kamu tahu aku juga... gak pernah menganggap kamu memanfaatkan diriku atau keluargaku..."
"Kamu sih iya aku gak malu, tapi di hadapan Ci Cun dan Ko Siong Itu memalukan Ten..."
"Udahlah... kamu juga kenal mama papaku..."
Hanie hanya bisa menyesal, tapi soal rumah itu spontan aja tercetus. Tapi jika dipikirkan lagi, siapa yang akan menahan mulut papanya nanti.
Kedua laki-laki itu akhirnya terdiam sampai Tenry ingat sesuatu...
"Lingling ke mana sih? Kenapa aku telpon kayak susah signalnya..."
"Dia liburan bareng temen-temennya ke pulau Cinta..."
"Itu bukannya di provinsi sebelah ya?"
"Iya..."
"Ada temen cowok juga?"
"Iya sih... yang aku lihat di mobil empat cewek tiga cowok, gak tahu kalau ada rombongan lain..."
"Ada Brill gak?"
Perasaan waspada seorang pacar tiba-tiba muncul ke permukaan.
"Brill? Lingling gak ngomong siapa aja... yang aku kenal sih si Joy sama Faithly..."
"Berapa hari bilangnya?"
"Hahaha... kenapa? Mau nyusul ya... Apa Brill itu sesuatu? Kayaknya ada yang was-was nih pacarnya lirik-lirik sama cowok lain..."
"Brill kayaknya suka sama Lingling..."
"Ohh pas banget tuh liburan bareng..."
"Han!!!"
Tenry pasrah, gak ada signal, gak tahu kabar, gak bisa nyusul karena bentar lagi libur mau tuntaskan pekerjaan yang lagi banyak-banyaknya...
Tampaknya Hanie memang benar, dia harus menetapkan apa tujuan terpentingnya dalam waktu dekat. Gambaran besar atau pandangan jauh tentang apa yang dia hadapi ke depan jika tanpa Lingling rasanya tidak ada yang berarti.
.
🦋
.
Happy Reading 😁
Makasih buat semua jempol, vote, hadiah, dan komen manisnya...
Makasih juga yang baca walau gak kasih respon balik...
Lv u all 🙏
.
__ADS_1