Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 108. Menikah Bukan Berati Meninggalkan Persahabatan


__ADS_3

Holly pasrah pada kehendak kuat suami, dirinya bukan miliknya lagi, ada otoritas suami atasnya sekarang.


Masih ada banyak keluarga dan sahabat yang duduk di beberapa tempat dengan berkelompok, belum ada niat meninggalkan tempat pesta karena baru jam sembilan malam. Tidak ada batasan jam dari pengelola gedung, berarti hingga pukul 23.59 area ini bisa digunakan keluarga. Masih banyak makanan yang sudah dikumpulkan di beberapa meja di bagian dalam gedung, para karyawan Tenry dan orang-orang bagian belakang yang bersibuk ria saat perhelatan berlangsung sedang rehat dan menikmati makan malam mereka, suasana pesta masih terasa.


Digendong seperti anak kecil melewati orang-orang dengan beragam reaksi, ada yang mengambil foto, ada yang siaran langsung di akun medsos masing-masing, ada yang tertawa sambil buat story... anggap aja ini pelengkap bahagia dua insan, karena walaupun beberapa kali Holly mengungkapkan rasa malu, suami yang ada di puncak bucinnya gak peduli.


Melewati sebuah area suit-suitan terdengar serta panggilan untuknya membuat langkah Tenry terhenti. Mengitari sebuah meja outdoor besi berwarna dark brown ada Hanie dan Meili serta beberapa teman SMA, di antaranya Sony dan Dina, Ezrah dan istri termasuk Glo dan Suami. Holly memaksa turun dan Tenry mau tak mau menurunkan istri dan harus menyabarkan diri, bakalan tertahan beberapa lama di sini, memang dirinya senang karena teman-temannya hadir tapi menyapa mereka menjadi siksaan bagi gelora hasrat yang harus tertunda lagi.


Serbuan ucapan selamat dari mereka serta godaan-godaan mereka menjadi keriuhan yang gak bisa terelakkan.


Saat Tenry menerima ucapan selamat Glo, terlihat suami Glo sedikit menyingkir memberi ruang. Holly juga melakukan hal yang sama. Dalam Hati Holly sedikit terganggu, ingat perkataan suami yang gak mau terhubung dengan mantan...


Kok ngundang mantan?


"Han... aku ke tempat temen-temenku ya... bilangin Koko nanti..."


Holly berbisik.


"Gak papa?"


Hanie membalas, heran karena sikap Holly. Holly mengangkat bahu lalu menjawab...


"Gak papa..."


Holly segera berjalan meninggalkan Tenry dan mendekati beberapa temannya yang masih duduk santai di bagian lain.


"Sayang... baby... kenapa pergi?"


Tenry tau-tau udah menarik tangan Holly.


"Koko ngobrol aja dulu sama temen-temen Koko, kan belum bertemu sejak tadi, gak papa... Lingling mau ke tempat temen-temen juga... tuh mereka masih ada ternyata, gak enak kalau gak nyapa sebentar..."


"Mmm... ada Glo loh... "


Tenry berbisik menatap Holly, was-was karena Holly pergi gitu aja tadi.


"Tau... mmm kan ada suaminya... "


Holly tersenyum kecut.


"Ya udah... kalau gak papa Koko ngobrol sebentar dengan mereka, ya..."


"Iya..."


Tenry mengusap pipi Holly sebentar lalu melepas tangan kecil istri, melihat Holly berbalik lalu dia mendekati teman-temannya lagi.


"Hi... penganten, kok jalan sendiri..."


Holly disambut sama riuh di bagian teman-temannya.


"Koko lagi sama teman-temannya, tuh... jadi aku ke sini aja..."


"Foto yuk foto..."


Faithly langsung meminta seorang karyawan yang lewat untuk mengambil foto mereka. Ada banyak teman-teman yang datang padahal gak semua dikasih tahu soal pernikahannya, pasti mereka saling mengajak.


Akhirnya...


"Eh... Ly, foto sama mantan, ayo... Kak Brill sini... foto sama pengantennya, mumpung Ko Tenry jauh... hehehe..."

__ADS_1


"Apaan... gak ada mantan ihh..."


Holly cemberut, udah tahu siapa yang dimaksud Faithly.


"Fet... cari perkara terus kamu... entar kena damprat Ko Tenry loh..."


Joy bersuara keras.


"Tenang aja... aku udah ngaku dosa sama si Koko tadi, dia ngerti kok..."


Brill menatap Holly masih stabil dengan ekspresi yang dingin, tapi tak menampik ide Faithly, dia berdiri dari kursinya lalu mendekati Holly. Holly mau menghindar tapi ditahan Faithly.


"Gak papa kali, foto doang, udah resmi juga jadi istri orang, gak mungkin Kak Brill masih mau gangguin..."


Faithly berbisik. Semua teman tampaknya udah maklum tentang perasaan Brill dan merasa bersimpati dengan cowok itu. Tapi melihat tindakan Brill yang gak menolak saat diminta berfoto mereka mendukung dengan sorakan...


Faithly kemudian mengambil beberapa foto saat Brill udah tepat berdiri di samping Holly yang bersikap kaku juga salah tingkah ditambah rasa takut suaminya marah.


Setelah Holly hendak menjauh, tangan Briil segera menahan dengan mengamit lengannya.


"Selfie dulu dengan hpku..."


Brill berkata pelan sambil merogoh ponselnya lalu mengarahkan ke depan wajah mereka.


"Lebih deket dong, kejauhan tuh Brill..."


Tory nyeletuk saat melihat posisi mereka, spontan kepala Brill mendekat dan mulai ngambil foto... tetap menahan posisi sambil berkata.


"Semoga bahagia ya Ly... kamu cantik banget dengan gaun pengantin... sayang bukan pengantin milikku..."


Holly diam merasa tak nyaman dengan keadaan ini dan pengakuan Brill. Selfie udah selesai tapi lengan Holly belum dilepaskan, temen-temen kayak memberi mereka ruang dengan sibuk ngobrol di antara mereka.


Brill tersenyum pedih, sejak awal mendekati gadis kecil yang manis ini udah ratusan kali mendengar kalimat bernada sama... penolakan. Sikap yang justru membuat dia penasaran dan ingin terus menakhlukkan hatinya. Ternyata profil yang terlihat kecil dan rapuh tak sama dengan pendiriannya pada cinta.


"Hehehe... aku tahu perasaan kamu saat didekatku..."


Brill memindahkan jemarinya menggenggam tangan kecil Holly.


"Ly... yang aku sesali... aku datang setelah dia dan gak bisa mengubah hati kamu jadi milikku..."


Holly menarik pelan tangannya, Brill gak menahan lagi.


"Kak Brill harus lupain perasaan Kak Brill untukku... sekali lagi, makasih ya udah hadir di pernikahanku..."


Holly melepas senyum terbaiknya saat saling tatap lalu menjauh dan bergabung dengan teman yang lain.


Di tempat berbeda, sekalipun Tenry tertawa bareng sahabat-sahabatnya tapi matanya tak berhenti melirik tempat istrinya berada. Percakapan yang terus bergulir dalam banyak gurauan serta nostalgia, mereka seperti reuni saja di sini. Tapi sesungguhnya hatinya gak tenteram karena melihat Holly tengah bercakap dengan Brill.


Dia coba realistis, di sini ada mantannya juga dan sempat ngobrol berdua, tapi tetap ada was-was. Bukan gak percaya istrinya, tetapi aura Brill tetap sebuah ancaman untuknya, terlebih Brill gak mungkin dilenyapkan begitu aja, masih ada interaksi dengan istrinya sesudah ini. Sementara Glo udah end, dia hanya berbasa-basi saja karena tak memungkiri pernah sayang, udah hadir di acaranya masa dicuekin.


"Kenapa Ten... takut istrinya dibawa kabur orang ya... dari tadi ngeliat ke sana terus..."


"Udah gak sabar dia mau mencoba rudal hipersoniknya hehehe..."


"Apa jangan-jangan udah uji coba sebelumnya makanya tambah penasaran..."


"Apa sih kalian... di sini ada yang masih lama meritnya, jaga omongannya..."


Tenry coba menangkal kalimat godaan teman-temannya, meskipun tak urung mukanya memerah.

__ADS_1


"Eh... jangan pergi dulu ya, Ten... malu dong kita masih di sini... urusan malam pertama gampang tuh..."


"Iya... menikah bukan berarti meninggalkan persahabatan kan... hubungan harus tetap dijaga, iya gak..."


Glo yang sejak tadi duduk dengan manja di samping suami bersuara sambil memandang Tenry. Tenry hanya menunduk sambil senyum kecil.


"Lucu kali kapan-kapan kita reunian bawa anak-anak... semacam liburan..."


Dina yang menjawab juga berharap, maklum teman-teman mereka rata-rata hidup lebih nyaman. Kalau diiyakan bisa nebeng liburan kan...


"Yang punya anak baru kamu sama Ezrah... yang nikah baru beberapa orang... tapi bener pengen reuni loh... kita rencanain aja Din..."


Glo menanggapi, disambut wajah penuh bintang si Dina. Kedua wanita itu kemudian meneruskan dengan mengobrolkan topik yang tercetus. Tenry melihat istrinya dan kembali menunduk, dia sedang duduk di sebuah kursi, tiba-tiba menyadari apa yang ada di tangannya berhubungan dengan keadaan istrinya sekarang.


"Eh... kaliah terusin aja ngobrol soal reuni, tapi jangan dalam waktu dekat ya... aku udah ada planning keluar..."


"Honeymoon ceritanya bro... hehe...." Ezrah menyahut cepat.


"Iyalah... tapi sorry aku pamit ya, Lingling gak pakai alas kaki sejak tadi..."


Tenry meninggalkan teman-temannya dan bergegas ke tempat istrinya berada. Untung punya alasan yang tepat untuk segera pergi, ada yang sedang menuntut untuk dieksekusi dalam waktu dekat.


Tenry melepaskan napas lega saat melihat Holly duduk jauh dari Brill.


"Baby... kita pergi sekarang?"


Kedatangan Tenry langsung jadi pusat perhatian.


"Ko Tenry, foto bareng kita semua dong..."


Faithly, si perempuan masa kini dengan budaya baru soal pengekspresian diri, gak mungkin lepas dengan foto memfoto langsung memberi komando pada temen-temennya... dan biasa, siapapun yang lewat pasti dijadikan jurufoto.


"Kita pamit ya... makasih semua sudah dateng malam ini..."


Tenry menghentikan keasyikan berfoto itu dengan kalimatnya sambil mengangkat tubuh istrinya...


"Ko.... gak usah, gak papa kok jalan sendiri..."


Holly memukul bahu suaminya ditanggapi dengan sebuah senyuman suami dan teriakan teman-teman Holly.


"Hehhe... yang mau malam pertama..."


Brill melihat kepergian pasangan suami-istri itu sambil coba melepaskan seluruh perasaannya sekarang. Gadis kecil itu, sejak awal sampai akhir milik orang lain. Mungkin akan ada waktunya dia bertemu seseorang dengan ketertarikan yang sama di antara mereka dan sejak awal sampai akhir akan menjadi miliknya. Brill tersenyum samar sambil mengalihkan tatapan ke langit yang penuh bintang, siapa yang dikirim sang Pencipta untuk menjadi miliknya?


Udara malam mulai terasa dingin di area outdoor itu, sampai kapan mereka akan bertahan di sini, bukan urusan penganten lagi, karena ada urusan spesial yang sedang dikejar pasangan itu sekarang.


.


🦋


.


Guys... makasih... komen2nya lucu2, apresiasi buat isi cerita yang patut diancungi jempol... nambah ide buatku juga....


.


Masih bertempo lambat, jangan bosan ya...


.

__ADS_1


__ADS_2