
"Aku langsung ke rumah kamu nanti mau bawa uang toko tiga hari ini, Ci Cun gak datang ke sini hari ini..."
Hanie memasukkan beberapa tumpuk nota pink yang dia sudah ikat dengan karet gelang ke dalam tasnya, mengeluarkan uang dari brankas dan memasukkan ke tas hitam besar berbentuk persegi panjang.
"Mama lagi sibuk ngurus Marina..."
"Kenapa bukan kamu?"
"Kayak gak tahu mama aja, semua harus sesuai dengan keinginannya. Kehendak ibu suri itu kehendakku, titah ibu Suri mutlak... hahaha."
"Iya juga sih, kalau kita ngatur gak sesuai, pasti dia rubah. Kayak toko ini, dia pasti tahu kalau kita ubah tata letak barang, semua harus di tempatnya, gak boleh pindah-pindah, ada ratusan jenis barang, kalau pindah-pindah bisa lama dan bingung nyari barang, menghambat penjualan katanya... "
"Nah itulah mamaku, meskipun kolot tapi cara kerjanya gak ada tandingannya.
Tak lama... pintu toko sudah tertutup. Hanie yang pegang kunci, kecuali pintu pagar yang dipegang salah satu karyawan senior.
"Sini Ling... kita naik mobil."
"Loh? Terus motormu?"
" Ada karyawan yang antar ke rumah Tenry, kita mampir ke rumah Tenry sebentar mau antar uang, nanti dari sana baru kita pulang naik motor."
"Kenapa gak sekalian aja naik mobilku, kan kita mau mampir makan?"
"Terus mobil ini siapa yang bawa pulang?"
Hanie menunjuk mobil yang biasa dikirim Ci Cun untuk Hanie gunakan mengantarkan uang jika Ci Cun gak bisa datang sendiri ke toko.
"Tinggalin aja, nanti aku suruh sopir ngambil ke sini."
"Oke kalau gitu. Ling, duduk di depan ya. Aku di belakang..."
Hanie memasukkan tas besar berisi uang ratusan juta itu ke kursi penumpang bagian belakang, kemudian dia masuk juga. Holly mendekati pintu depan sedan hitam mewah itu dan membuka pintu dengan gugup. Tenry sudah lebih dahulu masuk dan langsung menyalakan mesin, menunggu Holly duduk dengan baik lalu langsung tancap gas.
"Ten... kita ke rumah dulu ya, naroh uang dulu baru jalan cari makan, takut bawa-bawa uang sebanyak ini."
"Kenapa? Nanti mobilnya dikunci kan?"
"Iya sih, tapi aku gak nyaman ninggalin nih uang di mobil lagian masih terlalu awal juga untuk makan malam..."
"Oke Ko Han... kamu bossnya, aku sopir doang... hahaha..."
Hanie terkekeh juga bersama Tenry. Di rumah Tenry, hanya Hanie yang turun. Di mobil, Holly duduk dengan resah dan grogi ditinggal berdua, dia pengen turun juga tadi walau niatnya hanya menunggu di halaman rumah besar itu dari pada berdua di dalam mobil kan... tapi dilarang si Koko.
"Ling... mau makan apa nanti?"
__ADS_1
"Apa???"
Holly sedang menatap hijaunya tanaman di taman depan rumah dengan pilar-pilar berbentuk bulat di bagian depan rumah putih itu. Holly kaget ditanyain, dia menatap Tenry sekilas.
"Koko tanya... Lingling pengen makan apa?"
"Lingling?"
Holly balik bertanya dan kembali menatap Tenry kali ini lebih lama. Gak kuat sebenernya... tapi dia penasaran.
"Iya kamu..."
"Kok Lingling?"
"Ya... itu kamu, perempuan yang penuh energi, gak pernah diam atau istirahat... Koko suka manggil kamu seperti itu... boleh ya?"
"Terserah, Ko..."
Holly menjawab pelan dan segera memalingkan muka lagi. Ada degupan bertalu di dadanya, juga pertanyaan, kenapa Ko Tenry baik dan manis padanya? Tapi memang kata Hanie keluarga Ko Tenry baik dan ramah semua, beda katanya sama keluarga mereka yang selalu kasar.
"Ling..."
"I..iya, Ko..."
Aduuuh kenapa Hanie lama sekali sih? Kan risih berduaan seperti ini, mana kayaknya kaca mobil gelap, di luar juga mulai gelap.
"Apa?"
"Pengen makan apa?"
"Oh itu... Holly gak tahu, terserah aja, Ko..."
Holly berusaha menjawab di tengah rasa gelisahnya. Sudah gerah sebenarnya, pengen pulang aja, mau mandi. Terus mulai was-was diserbu orang rumah karena dia pasti gak bisa masak, udah telat pastinya sampe rumah nanti. Tapi lebih gerah dalam hati, ada rasa aneh mulai menyusup, rasa yang asing, dada seperti dipacu, punggung gak bisa gerak tapi pengen lari keluar dari mobil. Kenapa reaksi tubuh mulai aneh saat deket-deket Ko Tenry...
Dia juga suka saat menyadari kehadiran Ko Tenry sejak di toko, dia suka nyuri-nyuri pandang tadi, tapi dia tidak suka rasa aneh yang muncul saat berdekatan seperti ini.
...
"Han, turunin aku di dekat rumah aja, aku gak usah ikut ya... mau pulang aja."
"Kenapa?"
"Kamu tahu kan kerjaanku di rumah..."
Aku juga risih sama sikap Ko Tenry...
__ADS_1
"Gak usah maksain diri, sekarang mereka harus belajar hidup tanpa mengandalkan kamu... kamu gak asal keluar dari rumah kan... kamu kerja, udah cape juga pulang rumah bagusnya langsung istirahat. Mereka harus mengerti sekarang bahwa kamu udah gak bisa lagi meladeni mereka..."
"Mereka itu keluarga kamu juga, gimana sih? Pasti gak ada yang masak..."
"Iya mereka keluargaku keluarga kamu yang gak pernah mikirin kamu, jangan bebani pikiran kamu dengan urusan rumah... pikirkan cita-citamu sekarang. Betul kata Tenry, kamu itu badannya udah kurus pendek lagi... pertumbuhan kamu gak normal tau gak... gara-gara dipaksa kerja..."
"Masa sih, memang segini aja kali tinggi aku, aku aja yang makannya sedikit selama ini..."
"Udah... diam aja di situ..."
Mereka hanya berdua di mobil sekarang. Belum berangkat karena Tenry turun untuk ke toilet. Kesempatan buat Holly minta tukeran tempat duduk, Holly pindah ke belakang, gak tahan duduk deket si Koko.
Akhirnya berangkat, Tenry sempat menoleh ke belalakang saat melihat siapa yang duduk di jok depan. Tempat makan yang dipilih adalah sebuah Resto & Cafe yang berada di jalan Pierre Tendean. Tenry memilih sebuah meja di pojok dan memilih duduk di samping Holly. Makanan Tenry juga yang pilihkan semua.
"Ling... makan yang banyak ya... udah kerja keras seharian kan..."
Ini sih kerja santai banget, Ko... masih sempat duduk, kalau di rumah...
Holly menatap bentukan makanan yang tidak familiar untuknya, mana pernah dia makan makanan semewah ini di luar rumah, siapa yang ajakin. Kadang Hanie bawa pulang makanan buat dia tapi langsung direbut para ponakan, atau Hanie ajakin makan bakso di ujung lorong, itu aja. Holly menatap bingung pada Hanie yang sudah mulai makan.
Tenry memotongkan daging steak di piring datar milik Holly.
"Mau makan sama nasi ya?"
"Gak, gak... ini cukup..."
Holly menjawab setelah melihat kentang goreng stik di sebelah daging yang sudah dipotong Tenry. Holly mulai makan setelah memperhatikan Hanie. Sementara si Ko Tenry makan dan sesekali memperhatikan Holly, dia senyum saat melihat Holly yang awalnya makan dengan canggung tapi kemudian makan dengan lahap.
"Mau nambah, Ling? Koko pesan lagi..."
"Gak, Ko, udah kenyang. Holly baru sekarang makan sebanyak ini..."
"Hahaha... enak ya?"
Holly mengangguk malu.
"Kalau Lingling suka, nanti kita ke sini lagi..."
Hanie menatap Tenry dengan mimik sejuta tanya. Tahu lah seperti apa Tenry bergaul, dia orang yang begitu fleksibel, gampang menyesuaikan dengan orang lain, ramah dan cukup terbuka. Pembawaan selalu riang dan suka sekali bergurau. Tapi setahu Hanie, tak banyak gadis yang mendapatkan perlakuan manis dari Tenry. Hanya ada Marylin waktu SMP kelas tiga kemudian Glo sejak kelas dua SMA hingga sekarang. Dan cara Tenry memperlakukan adiknya kok sama seperti ke Glo ya? Cara dia tersenyum buat Holly sama kayak ke Glo dulu. Tapi jika diingat-ingat dia juga sehangat itu sama kakak dan adiknya yang keduanya perempuan.
Mungkin Holly juga jadi seperti adik buat dia... kenapa aku jadi berlebihan?
Masih mengamati sikap Tenry sembari mencoba menghalau kesimpulan dalam persepsinya, tapi Hanie merasakan justru hal itu semakin menekan pikirannya, teringat permintaan Ci Cun yang tidak bisa dia tolak tapi sulit dia terima.
.
__ADS_1
.
🦋