
Tenry mengendarai mobilnya dengan pikiran yang dipenuhi nama gadis kecil adik sahabatnya sendiri, dia tidak tinggal di rumahnya sekarang, dia pergi ke mana?
Tenry memukul setirnya dengan tangan kirinya ketika sebuah pikiran melintas, dia jadi bodoh tidak masuk ke rumah saja tadi dan menanyakan langsung pada Hanie, bukan lagi saatnya untuk menyembunyikan sesuatu dari Hanie, toch perasaannya pada Holly sudah dia ungkapkan pada Hanie, termasuk bagaimana perasaan dan sikapnya terhadap Glo dan hubungan mereka. Malah kepikiran sekarang untuk minta dukungan Hanie buat keinginannya menjadikan Holly pacarnya, bahkan mungkin bisa ke arah hubungan yang lebih serius lagi. Gak mau munafik udah terlanjur sayang, dan perasaan sayang ini begitu kuat, mungkin lebih kuat dari perasaan awalnya saat memulai dengan Glo dulu.
Rumah Hanie telah jauh, untuk ke toko juga masih terlalu pagi, berbalik ke rumah Hanie bisa-bisa berselisih jalan, untuk meneruskan ke toko pintu pagar pasti masih tertutup. Tenry berbelok ke sebuah tempat, memarkir mobil kemudian membuka jendela lalu duduk diam sambil tersenyum mengingat moment beberapa malam yang lalu di tempat ini bersama Holly, sebuah tempat di ujung kawasan sebuah mall yang bagian atasnya adalah sebuah hotel ternama di kota ini. Di lokasi yang suka disebut Batu Batu Cinta, dari dalam mobilnya Tenry menikmati pemandangan eksotis pagi hari yang menyegarkan mata, sambil memikirkan sebuah nama... Tak berapa lama Tenry memilih menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan.
(Nemu foto di wall seorang teman yang merupakan lokasi yang aku maksud, sebuah kebetulan yang manis, mungkin karena aku pengen ceritanya walau ada sedihnya tapi harus berjalan manis juga 😊😘 Tapi jangan bayangkan ini masih sama sekarang ya, BBC sudah berubah jadi beton cinta, tanggulnya udah selesai...😁)
.
Di tempat lain...
"Han... di dapur bawah gak ada kompor ya?"
"Gak, kenapa?"
"Buat masak lah... lebih hemat dari pada beli makanan..."
"Ling... aku sih gak tenang kita masak di sini, apalagi pakai gas, takut aja... di sini banyak barang yang mudah terbakar..."
"Oh... padahal sayang uang kalau beli makanan terus. Apalagi sering ada sisa rantangannya, kalau ada kompor bisa diangetin..."
"Reziko, Ling..."
"Ya udah..."
"Kamu udah laper ya pagi-pagi? Bentar aku beli roti tawar aja di minimart depan..."
"Laper sih gak... cuma berasa cape banget..."
"Kamu sih... ngangkat barang yang berat-berat, badan kamu kecil begitu... lain kali gak boleh loh, jangan suka maksain diri, kadang kerja gak pakai perhitungan..."
Holly diam terpekur di sofa, iya dia suka seperti itu. Mungkin ada benarnya tubuhnya gak sebesar dan setinggi kakak-kakaknya karena salah satunya dia kadang suka memaksakan diri melakukan sesuatu di luar kemampuannya sendiri. Sepeninggal Hanie Holly mengangkat kedua kakinya berbaring meringkuk di sofa yang dari ruang bawah. Setelah pindah-pindah barang, ruangan ini jadi tambah nyaman, ada sofa, ada TV.
Hanie turun dan keluar dari toko melewati pintu kecil di bagian samping di ruangan tambahan, melangkah di atas tumpukan besi, melangkah santai menuju minimart yang tak jauh dari toko. Saat kembali menenteng plastik belanjaan, Hanie tak bisa menghindari Tenrie yang sudah mendorong pagar dari besi terbuka seluruhnya. Hanie sedikit salah tingkah, pasti Tenry ikut naik ke atas dan mau gak mau bertemu Holly.
"Han... tumben pagi-pagi udah ada di sini..."
"Kamu juga tumben ke sini pagi-pagi..."
Hanie bersikap biasa, tapi sesungguhnya dia sedang berpikir keras gimana biar Tenry gak naik ke atas, sementara pintu itu udah terbuka dan gak ada ruangan untuk duduk lagi di bawah, apa duduk di area kasir aja? Hanie terus berjalan memasuki pintu samping, Tenry mengikuti dari belakang.
"Beli apa?"
"Beli roti dan kawan-kawan..."
"Belum sarapan?"
"Iya..."
Hanie memperlambat langkahnya, coba memindahkan sesuatu yang tak perlu dipindahkan. Tenry melewati Hanie.
"Mau ke mana?"
"Mau minum... loh... barang-barang di sini pindah ke mana? Air mineral di simpan di mana Han?"
__ADS_1
Habislah... moga-moga Holly ada di dalam kamar.
"Han?"
"Hahh?"
"Show case di sini dipindahkan ke mana?"
"Di atas..."
Tenry melesat, dua anak tangga sekali naik, beneran haus atau ada panggilan jiwa, dorongan yang tersembunyi yang tak di sadari, karena ada sesuatu di atas sana? Entah. Hanie mengikuti dengan langkah lambat dan perasaan gamang, bagaimana dia bisa mendukung Tenry? Lalu permintaan Ci Cun?
Di ujung anak tangga mata Tenry langsung mengenali tubuh kecil yang berbalut celana panjang dan kaos kebesaran berwarna abu-abu, sedang tidur menghadap ke bagian sandaran sofa itu. Sosok yang telah menguasai keping hatinya yang bernama cinta, saat mata memandang tubuh kecil itu saat yang sama hatinya seperti berdegub berirama mengirim signal tentang kerinduan yang kini menemukan penyejuknya. Tenry lupa rasa hausnya secara biologis sebagai kebutuhan tubuhnya, ada dahaga jiwa yang menuntut pemuasan. Pantas aja otaknya seperti mengirim perintah untuk datang aja ke sini, mungkin semesta ikut berpihak pada rindunya.
Tenry mendekat dan meraih satu tangan kecil Holly yang sedang menutup pipi hingga kepala.
"Lingling..."
Sapa Tenry lembut, ada tekanan perasaan senang pada suara khasnya. Holly memalingkan wajah menatap Tenry, bengong sejenak dalam kumpulan rasa yang segera menghampiri hatinya, senang iya, sedih pun iya, juga ada rasa takut tapi ada rindu yang sudah mengental. Tenry membungkuk mendekati wajah Holly, tubuh tingginya kemudian berjongkok tanpa melepaskan pegangan pada tangan Holly.
"Lingling tinggal di sini ya?"
Holly tak mengucapkan apapun, menatap dan tersihir dengan senyum dan tatapan lembut Tenry. Di belakang mereka, Hanie memperhatikan sejenak sahabatnya yang tak lagi sungkan memberikan afeksi pada adiknya, dia mengerti Tenry tak mungkin dihalangi lagi. Hanie meletakkan kantong plastik perlahan di atas meja makan dan memilih turun lagi ke bawah.
"Sejak kapan tinggal di sini Ling?"
"Yaa??? Ehh... udah seminggu kira-kira..."
Holly berusaha bangun, Tenry sigap menangkap kedua tangan Holly dan membantu Holly duduk. Dia ikut duduk dekat Holly, dan menatap wajah Holly yang sangat polos, baru bangun tidur nampaknya. Tenry surprise, tak terlintas tentang kemungkinan ini. Tapi dia senang tahu di mana bisa mencari Holly setelah ini, dan rindu pasti akan selalu menyapa hatinya sekarang.
"Udah sarapan Ling?"
"Ikut yuk... Koko temenin sarapan di luar."
"Gak usah Ko, itu Hanie beli roti..."
Holly mendapat kesempatan untuk berpindah menjauh dari Tenry, berada sedekat itu membuat dadanya berdebar tak karuan. Holly berpindah ke sisi meja makan lalu mengeluarkan isi kantong plastik, ada dua buah roti isi keju, dan irisan roti tawar dalam plastik, serta meises dan mentega sachet.
"Ko Tenry mau?"
Holly menawarkan disertai rasa gugup karena merasa diawasi Tenry.
"Lingling aja, Koko udah sarapan di rumah..."
Tenry mendekat, gelegak rindunya belum sepenuhnya terpuaskan sekalipun sudah ada di muara tempat di mana rindunya dapat dilepaskan.
"Tadi Koko ke rumah Lingling..."
"Ngapain di sana?"
"Nyari Lingling lah..."
"Ada perlu Koko sama Lingling, eh maksudnya ada perlu apa Ko Tenry sama Holly?"
"Hehe... kenapa diganti? Panggil Koko ya... kan udah pernah minta?"
"Kenapa harus Koko?"
__ADS_1
"Terasa gak ada jarak aja... Koko suka..."
"Kok gitu?"
"Ling... kenapa suka sekali bertanya kalau sama Koko? Hanie bilangnya Lingling itu penurut, tapi sama Koko kok gak ya?"
Holly tersipu. Tenry sebenarnya suka Lingling seperti itu padanya, tanpa sadar itu sebenarnya membuat komunikasi mereka terasa nyambung aja, dan juga tak berjarak. Tenry pengen semua tak ada jarak sekarang, termasuk posisi tubuh mereka, tanpa sadar bidang magnetis tubuh mereka mulai tarik menarik, enggan untuk saling menjauh. Bahkan, tangan satu sudah mengusap kepala Holly.
"Ngapain Koko nyari Holly..."
Suara pelan Holly menyebut nama Tenry menurut cara yang dia mau menambah percikan bahagia sekarang...
"Koko kangen..."
"Kangen? Koko kangen Holly?"
Tenry mengangguk, menahan pandangan untuk tetap di wajah mungil yang mendongak di sampingnya.
"Kenapa kangen? Emang Holly siapanya Koko... Koko gak boleh kangen sama Holly..."
Pertanyaan polos dengan suara lembut tapi tepat menusuk kesadaran nurani seorang Tenry. Perbedaan tinggi mereka begitu jauh, tinggi Holly tidak mencapai bahu Tenry. Tenry menatap lama, ketika Holly menunduk menghindar, Tenry melakukan sesuatu, dia ingin bicara sambil tetap menatap wajah Holly. Tenry memindahkan kursi makan yang menghalangi kemudian mengangkat tubuh kecil Holly dan mendudukkan tubuh itu di meja makan.
"Koko??"
Holly kaget dan berniat turun, tapi takut bersentuhan dengan tubuh Tenry yang sekarang tepat di depannya. Kedua tangan Tenry kini bertumpu di meja di samping kiri kanan paha Holly. Wajah Holly memerah, posisi ini sangat asing dan terlalu dekat, tapi tubuh besar di depannya sedikit membungkuk terlalu menguasai, Holly batal menggerakkan tubuhnya.
"Koko pengen ngomong Ling..."
Mata mereka beradu, Holly mengalihkan tatapan. Jantungnya mulai saling beradu bahkan lebih cepat dari detakan jam kuno di dinding. Tenry perlahan menyentuh dagu Holly dan seolah ingin mengalihkan mata pemilik dagu itu tepat padanya.
Saat Holly memiliki tambahan keberanian untuk memandang langsung mata si Koko...
"Koko besok ke kota J mengantar Glo pulang. Koko ingin menyelesaikan urusan Koko dengan Glo... Koko pernah bilang akan beritahu Lingling kan jika urusan Koko dengan Glo selesai... setelah itu gak ada yang bisa melarang kita saling kangen..."
Tenry menatap lembut Holly yang sedang terpaku padanya, wajah mereka berhadap-hadapan.
Saling kangen? Maksud Koko?
Ingin menanyakan itu tapi tertahan di tenggorokan. Holly takut mengetahui lebih jauh maksud Tenry. Rasa takut yang membuat Holly memberanikan diri bergeser turun dari posisinya.
"Ko, Holly turun aja..."
Tanpa menunggu jawaban Holly meloloskan diri. Ekpresi Holly yang berubah membuat Tenry membiarkan. Tenry duduk di salah satu kursi, dan Holly menuju kamar mandi, semua rasa yang saling adu membuat tubuhnya bereaksi, tiba-tiba perut terasa tidak nyaman.
Di dalam kamar mandi, Holly berjalan bolak-balik di ruang sempit itu.
Apa itu tadi Koko nembak aku? Dia mau mutusin Glo karena aku? Kenapa seperti ini, aku jadi perusak hubungan orang?
.
.
🦋
Hi.... minta respon baik dari pembaca yg menyukai cerita ini..... terima kasih 🙏🥰
.
__ADS_1
🌳