Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 140. Wisuda


__ADS_3

Kerja, kerja, kerja... seperti itu hidup Holly bersama suami, sebelum seorang presiden di negara ini mendengungkan konsep kerja efesien dan efektif dalam kepemerintahan, pola ini sudah berlaku bagi keluarga Ci Cun dan tentu saja diteruskan Tenry si pangeran calon penerus jaringan bisnis yang dibangun keluarga. Memang bukan seperti raja-raja bisnis di negara ini, hanya lingkup daerah ini saja, tapi omzetnya tentu saja sudah menyentuh milyaran.


Holly telah menemukan ritme aktivitas yang baru... di pagi hari Holly mengurus anaknya mulai dari minum susu di tempat tidur, memandikan, mulai mengajarkan makan sendiri, lalu mengajak main sebentar. Setelahnya Holly akan berkutat dengan pekerjaannya. Dia tak punya kesempatan untuk mengeluh karena dia melihat suaminya bahkan mempunyai kesibukan yang lebih besar.


Malam hari selalu sama, dua anak manusia membawa tubuh yang kelelahan untuk beristirahat di rumah, istirahat tubuh yang seolah hanya disiapkan untuk dilelahkan esok harinya lagi.


Kesibukan yang pada akhirnya mengganggu ritme keintiman mereka.


"Baby..."


"Mmm..."


Istri yang udah tiduran nyaman sambil memeluk guling hanya menjawab singkat.


"Lihat Koko dulu, Koko pengen..."


"Besok aja Koko... Lingling cape, ngantuk..."


"Baby... udah janji tadi pagi loh... mau malem ini... sayang..."


"Nanti aja ya..."


"Pagi-pagi ngomongnya nanti malam... sekarang... masa ditunda terus sih..."


Suami gak terima penangguhan, raut wajah berubah tapi Holly terlalu mengantuk untuk menanggapi.


"Koko... sepanjang hari ini Lingling kerjaannya banyak, ngurus keperluan wisuda juga, besok tuh hari wisudanya, harus pagi-pagi bangunnya, Lingling mau make-up pagi-pagi... biarkan Lingling tidur lebih awal ya, udah ngantuk banget..."


"Baby... please... udah lama loh gak pernah..."


"Mmm..."


Holly yang gak bisa menahan rasa kantuk dan juga rasa lelahnya akhirnya tertidur, Tenry hanya bisa memandang dengan sedikit kesal karena sejak siang udah terbayang-bayang tentang gairah malam penuh bintang dan *******, sekarang malahan dijadwalkan ulang pada waktu yang tidak ditentukan ~haha.


Tenry lebih mendekat ke arah istri yang berbaring membelakangi dirinya, menghadap anak mereka yang juga sudah tertidur nyenyak. Beberapa ciuman serta gigitan gemas dilancarkan di sekitar wajah istri, masih berusaha mencari jalan untuk mewujudkan malam sesuai angannya. Tangan ikut menjelajah wilayah yang memuaskan hasrat.


"Mmmm... Ko..."


Holly membuka matanya sedikit, terlihat merah karena udah sangat berat matanya dan rasa kantuk semakin kuat menguasai matanya sehingga mata itu tertutup lagi, hanya meninggalkan seringai kecil di sudut bibirnya pada suami.


Tenry kemudian menghentikan aktivitasnya untuk mencari kesenangan raganya sekaligus pelepasan semua lelah tubuhnya. Tenry belum menjauh dari tubuh istrinya masih menelisik wajah istri. Dia bisa memahami istri kecilnya telah berusaha melakukan yang terbaik, mengerjakan semua yang dia minta untuk dikerjakan, ke sana ke mari mengurus beberapa bisnis mereka, tapi tetap berusaha memberi waktu untuk anak mereka.


Tenry akhirnya bisa memaklumi tubuh lelah istrinya, rasa kesal karena gak bisa mewujudkan desakan hasrat biologisnya akhirnya berganti rasa kasihan. Kepala istri dikecup dengan rasa sayang, lalu membaringkan tubuhnya sendiri sambil meredam gejolak jiwa seorang pria dewasa, dan akhirnya Tenry ikut tertidur setelahnya.


.


🍀


.


Pagi-pagi sekali Holly udah bangun, langsung mandi dan mempersiapkan diri untuk mengikuti wisuda, satu moment pencapaian hidupnya yang telah tertunda lama. Setelah selesai berdandan sendiri Holly keluar dari area wardrobe menjumpai suaminya yang baru bangun dan sedang duduk di tempat tidur sambil merenggangkan tubuh dengan mengangkat dua tangannya lurus ke atas.


"Ko... Lingling udah cantik?"


Holly mendekati suami berdiri di sisi tempat tidur.


"Ini jam berapa sih, sayang?"


"Jam setengah enam..."


"Masih pagi... udah siap aja, emang jam berapa sih acaranya?"


"Jam tujuh teng udah masuk auditorium Ko... ayo Koko siap-siap, mama Ibeth udah siap juga..."


"Jadi... Echa gak dibawa?"


"Gak bisa Ko... kasihan dia nanti... dia ikut Ama Cun nanti ke kafe... Udah cantik belum?"


Istri masih menunggu penilaian suami mengenai penampilannya.


"Iya cantik... cantik banget... sini cium dulu..."


Holly bergerak menempel pada dua lengan suami yang meraih pinggangnya, sementara suami menatap istri dengan tatapan mesranya.


"Selamat ya sayang... akhirnya S1nya selesai juga..."


"Hehe iya... akhirnya..."


Holly menarik tubuhnya saat suami yang minta ciuman pagi malahan menggigit sesuatu dan mendusel-dusel di area dadanya.


"Koko... ihh..."


"Ling..."


Tenry menangkap tangan sang istri. Holly tahu gelagat suami ke arah mana.

__ADS_1


"Baby... sekarang ya... sepuluh menit... please, tadi malam loh janjinya... tertunda terus, biasanya juga Lingling paling antusias kalau Koko minta..."


Raut wajah minta belas-kasih istri ditunjukkan Tenry sambil menggoyang tangan istri di genggamannya.


"Astaga Koko sayang... bangun tidur itu duluan yang dipikirin ternyata..."


"Sakit kepala tau gak kalau gak bisa dilepasin... sekarang ya?"


Wajah semakin memelas, membuat Holly gak tega untuk menolak.


"Baby..."


"Iya... iya... astaga Koko, Lingling udah pakai kebaya gini..."


"Bukanya di mana..."


Tenry mencari kancing di bagian depan.


"Belakang Ko..."


Tenry segera meraih retsleting di bagian punggung dan membantu membuka kebaya brokat berwarna putih itu.


"Echa mana?"


"Di bawah sama mama Ibeth... jam lima udah bangun dia..."


"Mantap kalau gitu, gak ada pengganggu..."


"Ihh... anak sendiri dibilang pengganggu... sana kunci pintu dulu... aduuh suami kok gak bisa ngeliat waktu sih, harus sekarang ya? Gak bisa apa di waktu yang lain..."


"Gak..."


Suami menyahut garang gak terima penundaan sekarang.


"Ihh... gak ada cium-cium muka Lingling ya, nanti make upnya hancur..."


"Hehe... siap baby..."


Tenry melompat penuh semangat dari tempat tidur, akhirnya pagi ini dia bisa menagih hutang janji istri untuk acara mantap-mantap. Setelah mengunci pintu tubuh istri dibungkus pelukan gairah dan ciuman gak sabar seorang suami, segera menyatukan kebutuhan eros keduanya. Menit-menit sensual penuh gairah menjadi pembuka acara wisuda sang istri pagi ini.


"Jangan lama loh... Koko harus siap-siap..."


"Ussh... gak usah ngobrol ahh..."


Dan semua indra mengikuti intuisi untuk menciptakan surga di dunia, pagi pun menjadi nikmat yang tak terjabarkan...


"Cepet ya Ko... Lingling tunggu di bawah..."


Holly bergegas turun ke bawah, dia harus mengecek kembali apa yang dia bawa.


"Holly... udah siap?"


Mama Ibeth menyambut anaknya yang berlari kecil menuruni tangga.


"Udah ma... Echa mana?"


"Udah dibawa suster ke rumah depan... Emang dia gak boleh ikut?"


"Iya... undangannya cuman dua ma... kasihan kalau Echa sama suster hanya menunggu di mobil... nanti di kafe aja pas acara syukuran... mama udah telpon Helny sama Lina?"


"Mmm udah sih, katanya Tenry udah lebih dahulu ngasih tahu mereka... mereka dateng kok nanti... Hanie gimana? Kamu bilang kamu sendiri yang akan menghubungi..."


"Udah ma... gak mungkin Hanie gak datang... Meili nanti nyusul katanya selesai kerja..."


"Hanie dari toko dong... berarti gak bawa Leon?"


"Sepertinya..."


"Yaa padahal mama kangen cucu mama juga..."


"Nanti mama disuruh nginap di tempat Hanie, ma..."


"Ya udah..."


"Mbak... tolong bawa ke mobil tas ini ya..."


Holly mengangsurkan sebuah tas kertas berisi toga dan topi toga pada ARTnya.


"Bunganya sekalian bu?"


"Bunga apa? Eh itu siapa yang pesan?"


Holly terperanjat melihat dua buket bunga warna pink di atas meja.


"Itu semalam dibawa sama bapak..."

__ADS_1


Holly tertawa, dia gak kepikiran soal buket bunga wisuda, suaminya memang the best.


"Ya udah sekalian aja... dua-duanya... mmmh bentar mbak... apalagi ya... oh sama baju yang di hanger itu..."


Holly menunjuk baju yang diletakkan di sofa.


"Baik bu..."


"Sarapan dulu Holly..."


Mama Ibeth mengingatkan anaknya yang terlihat sedang terburu-buru dan sedikit panik.


"Iya... iya... ma, mama sekalian bawa baju ganti ya... acara di kafe mungkin sampai sore, itu sekalian sama anniversary pernikahan kita..."


"Udah... mama udah siapin..."


"Koko... wahh Koko keren deh pakai jas... hehe..."


Tenry tertawa saat melihat istrinya menatapnya tanpa berkedip, saat tiba di depan istri lima jarinya dia tempelkan ke wajah sang istri.


"Koko sih pakai apa aja pasti keren..."


"Iya... narsisnya udah pasti juga..."


Tenry nyengir kecil, mendapati tatapan mama mertua Tenry sedikit grogi sempat gak sadar ada mertua di antara mereka. Sambil duduk Tenry menyapa mama mertua yang sudah duduk menunggu menantunya untuk sarapan bersama-sama.


"Ayo sarapan... gak pake lama Ko... ayo ma..."


"Kamu juga duduk sarapan Holly..."


Mama Ibeth menghentikan Holly yang hendak naik tangga lagi.


"Aku naik bentar, aku lupa tas aku ma..."


"Suruh mbak aja Ling..."


Suami menyela.


"Iya... mbak tolongin... tas hitam yang di meja ya..."


Holly berbalik setelah meminta si mbak naik ke kamar mereka. Holly duduk dan sempat kaget mendapatkan sendok tepat di depan mulutnya, suapan dari suami tersayang.


"Eh... Ko, Lingling makan sendiri aja..."


"Buka mulutnya, Lingling kalau lagi keburu begini suka gak konsen makan... entar bolak-balik nyari sesuatu lagi..."


"Takut ada yang kelupaan Ko..."


"Ya udah... duduk tenang dulu... makan dulu..."


Holly memperbaiki duduknya lalu mulai makan, mengunyah suapan demi suapan dari sang suami.


Beberapa jam kemudian, setelah acara wisuda selesai, Holly yang tadinya duduk terpisah dengan suami dan mama Ibeth kini datang mencari dua orang terkasih dalam hidupnya. Sejak acara prosesi Holly dilingkupi keharuan karena perjuangannya untuk menyelesaikan pendidikan akhirnya terbayar sudah. Sesekali air mata menitik jatuh di pipi.


Dulu dia hanya punya satu mimpi yaitu menyelesaikan S1, dan dia mendapat kesempatan berharga hingga bisa mewujudkan mimpi. Orang yang paling berjasa di awal adalah Hanie si kakak tersayang, dan tentu saja suami yang juga sangat mendukung. Kebahagiaannya hari ini, karena ada orang-orang yang memberi support, selalu ada orang lain di balik setiap sukses yang diraih.


"Koko..."


Holly mendekat dengan pipi basah.


"Selamat ya sayang..."


Tenry menyodorkan bunga pink dengan senyum lebar dan segera membungkus tubuh istri dengan pelukannya.


"Iya, makasih... makasih buketnya cantik banget... Lingling suka..."


Tenry mengecup sayang kepala istri lalu melepaskan pelukan karena ada mama mertua yang sedang menunggu ingin melakukan hal yang sama. Wanita itu juga senyum dalam haru.


"Holly... selamat ya, maafkan mama dulu tidak mendukung niatmu untuk kuliah, tapi kamu punya tekad yang luar biasa... selamat sayang..."


Dua wanita itu saling memeluk dengan emosi yang sama, ada sukacita yang dalam di pelukan itu.


Membuat impian jadi kenyataan pasti ada rintangan yang menghadang... setiap orang yang tabah dan tidak mudah menyerah pasti bisa menggapai impiannya.


.


🦋


.


Hai maaf gak apdet beberapa hari, ada halangan di RL...


Harap maklum ya... 😁


Salam bahagia...

__ADS_1


.


__ADS_2