Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 96. Ikut Bahagia Denganku


__ADS_3

"Udah siap Ko?"


"Iya..."


Ci Cun masuk ke kamar anaknya, memperhatikan sejenak penampilan anaknya, memastikan kerapihan kemeja dengan dua tangannya.


"Udah sempurna... anak mama ganteng..."


Tenry melangkah ke depan cermin mengamati dirinya sendiri lalu mencari oksigen sebanyak-banyak lewat tarikan di dadanya... Di wajahnya tersirat ketegangan bercampur kegelisahan, emosi yang gak bisa terungkap dengan kata-kata. Beberapa hari ini dia lebih banyak diam dan mengiyakan semua pengaturan mamanya tanpa sanggahan.


"Udah gak keburu kalau Koko mau jemput Holly, mama udah telpon Cici... kita bertemu di restoran aja..."


"Iya..."


"Koko telpon Holly, kasih tahu..."


"Udah..."


Jawaban serba pendek dengan intonasi rendah mengganggu telinga Ci Cun...


"Koko?"


Tenry menoleh sambil menggunakan jam tangannya. Melihat airmuka Tenry Ci Cun menyadari gak ada pancaran bahagia di sana. Ci Cun duduk di tempat tidur, menunda sedikit keberangkatan gak masalah.


"Ada sesuatu yang mengganggu?"


Tenry diam, memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas kulit cowok yang kecil warna coklat tua, oleh-oleh waktu Beyvie bulan madu ke Jepang.


"Koko... bicara dengan mama dulu sebentar..."


"Nanti aja, takut terlambat..."


"Sekarang Ko... muka kamu seperti mau menghadiri upacara pemakaman..."


Tenry menggulung tali tas selempang itu di telapak tangannya.


"Mama mau ngomong apa?" Tenry berucap sambil memperhatikan tasnya sendiri.


"Koko yang seharusnya ngomong ke mama..."


"Gak ada yang perlu diomongin... ayo berangkat aja..."


Sekarang Ci Cun yang membuang karbondioksida dari paru-parunya, terdengar berat, seberat perasaannya sekarang.


"Koko mikir soal permintaan papanya Holly?"


"Mama tahu itu, kenapa masih bertanya?"


Suara lemah Tenry tapi menjadi cubitan di hati kecil sang mama. Dia memang kesal dengan permintaan calon besan, dirinya selalu ringan tangan memberi dan punya hati penuh kemurahan melihat kondisi orang yang tak berpunya tapi dia pantang terhadap orang yang memanfaatkan harta milik mereka.


"Mama udah tahu orang dengan mental seperti mereka, dari awal udah gak malu menunjukkan sikap seperti itu, apalagi nanti..."


"Tapi itu orang tuanya Lingling, bakal jadi orang tuaku juga ma... gak salah kan kalau mereka berharap hidup mereka jadi lebih baik setelah lihat kita bisa memberikan itu... hanya rumah dan mobil, ma... anggap aja buat Lingling tapi mereka yang gunakan..."


"Koko... pikirkan gimana nanti, kamu akan terus ditekan untuk memuaskan keinginan mereka, mama udah hafal kelakuan seperti itu, jangan kasih angin... bisa ngelunjak. Kenapa dari sekarang mama berkeras gak ngikutin kemauan mereka, karena kalau Koko udah jadi anak, Koko akan merasa bersalah jika gak memenuhi keinginan mereka. Mereka akan menekan Lingling juga dan itu bisa jadi konflik di rumahtanggamu nanti... Kalau Koko udah punya garis yang jelas sejak sekarang, mama yakin mereka gak berani macem-macem ke depannya... Mama gak mau Koko lemah di hadapan mereka karena perasaan sungkan..."


"Iya... Koko memang merasa gak enak sama papanya Lingling... Koko juga kasihan sama Lingling, mikir perasaan dia, menolak keinginan papanya kayak gak punya kesungguhan mau nikah dengannya..."


Tenry akhirnya duduk di sebelah sang mama. Perasaan gundahnya gak perlu disembunyikan lagi. Tasnya dia lepaskan dan tangan yang sama mengacak kasar rambut yang sudah tersisir rapi, lalu dia memijit pelipisnya seperti menghalau resah yang masih ada.


Memperhatikan anaknya lebih dekat membuat mata Ci Cun mengembun, anak lelakinya selalu menunjukkan sisi ini setiap ada beban di hati, raganya selalu mendekat seperti bahasa tubuh meminta sentuhan sayang seorang mama.


Ci Cun berdiri di depan Tenry, tangan kasih sayang mama spontan terulur mendekap kepala anaknya dan membawa di dadanya sambil mengusap kepala itu. Tenry memeluk mamanya, kepalanya yang bersandar bergerak pelan seolah mencari kekuatan di sana.


"Koko gak bisa menolak mereka kan... sekalipun orang tua Lingling seperti itu... Lingling juga banyak menderita dengan mereka ma... makanya Koko jadi cinta dan sayang Lingling..."


"Iya... mama ngerti. Justru itu mama mau ajarin Koko untuk kuat dan tegas menghadapi orang-orang yang suka mengambil keuntungan termasuk keluarga. Koko boleh membantu mereka sewajarnya mama gak melarang itu, membantu dalam hal-hal berguna, bukan memenuhi keinginan mereka yang notabene malas bekerja, ingat Ko... tangan yang rajin mendatangkan berkat... tularkan ke mereka prinsip hidup itu... supaya mereka tahu menghargai arti keringat lelah..."


Tenry memuaskan keinginannya bermanja, mungkin ini terakhir kalinya setelah ini dia akan beranjak menjadi lelaki dewasa sepenuhnya dengan tanggung jawab yang lebih besar. Kepala itu mendusel-dusel manja di dada sang mama...


"Jangan mau dimanipulasi Ko... jangan merasa bersalah..."


"Iya..."

__ADS_1


"Koko... udah... ayo berangkat..."


"Bentar lagi ma..."


Tenry mengeratkan pelukannya, tindakan yang menggugah emosi sang mama. Beberapa kecupan di ubun-ubun diberikan Ci Cun, aliran emosi kini menyebabkan embun berubah jadi kristal hangat di pipi. Ci Cun membelai kepala anak lelaki satu-satunya, menikmati waktu berdua yang gak akan kembali lagi. Anaknya sudah siap melangkah dengan dua kakinya sendiri, hidup baru anaknya segera di mulai, itu menjadi tanda baginya untuk mundur perlahan dari hidup anaknya dan hanya akan berdiri di luar menjadi pengamat dan penyemangat saja.


.


☘️


.


Beberapa jam melewatkan hari bersama Beyvie dan Ivy berdampak bagi Holly, perlahan hati Holly membaik, tingkah Ivy yang kocak menghibur dirinya. Beberapa video pendek sejak siang tadi diunggah Ivy ke medsos.


Dalam perjalanan menuju tempat acara...


"Hihihi... temen-temenku percaya aku mau lamaran, mereka pada heboh sekarang kepoin siapa calon suami aku... hihihi..."


"Iseng banget sih De..."


Beyvie juga tertawa saat membuka akun adiknya.


"Pada ngamuk gak diundang... hihihi..."


"Kamu juga sih, dandanannya ngalahin yang mau lamaran..."


Beyvie masih tergelak membaca komen-komen alay di wall Ivy.


"Nso Lingling maunya natural, jadi aku aja yang cetar membahana hihihi... Pengen tahu aja, gimana aku kalau full makeup kayak gini... wuiiih cantikkkkknyaaa..."


Ivy mengamati semua foto selfie di ponselnya.


"Narsis... kepedean..."


"Lebih hepi narsis dari pada gak narsis... itu cara keren menikmati hidup..."


"Gak takut gebetannya kabur... De..." Holly nyeletuk, dia juga sedang melihat postingan Ivy di ponselnya.


"Ehh... dia yang paling pertama DM aku, jadi tahu aku sekarang kalau dia juga sukaaaa... hihihi... tapi aku gak respon, biarin aja dulu dia ketar-ketir, siapa suruh lama-lama nembak... temen-temen juga balesin komen dia seperti itu... kacian... lagi patah hati dia... hihihi..."


Saat turun dari mobil bersama Beyvie dan Ivy, Holly melihat kakak-kakak perempuannya. Hellen melambaikan tangan memanggilnya. Saat dekat, Hellen langsung cipika-cipiki, diikuti kakak perempuan yang lain. Holly heran dan terpana, tapi perasaan hepi jadi lebih bertambah mendapatkan perlakuan tak biasa itu.


"Cantik kamu Holly..."


Herlina merapihkan gaun Holly yang sudah rapih sebenarnya.


"Mama papa mana?"


"Masih di dalam mobil..."


Hellen menunjuk sebuah mobil avan*za warna hitam. Tenry menyewa tiga mobil hari ini untuk dipakai keluarga Holly. Holly mencari Hanie...


"Hanie?"


"Ada di mobil bersama mama..."


"Anak-anak ikut kan?"


"Mereka udah di dalam restoran semua..."


Percakapan yang kaku untuk ukuran keluarga. Mereka terbiasa memerintah Holly, jadi kaku untuk bersikap dekat. Holly diam kemudian berdiri di antara kakak-kakaknya di halaman parkir itu. Dia mengedarkan pandangan, mobil Tenry belum terlihat. Dadanya mulai sedikit berdebar, seminggu berjalan gak pernah melewatkan waktu berdua hanya percakapan singkat di telpon dan chat pendek Tenry.


"Holly... papa masih ma..."


Ucapan Hellen terpotong saat Ivy menarik tangan Holly tanpa canggung. Ada dua kendaraan mewah warna hitam beriringan masuk lalu parkir di dekat mereka. Tangan Holly masih ditarik dibawa mendekat ke arah mobil sedan. Tenry turun dari sana, hanya sendirian di dalam mobilnya. Matanya langsung terpaku pada Holly saat menutup pintu.


"Ko... gimana calon istrinya cantik gak?"


Ivy menggerakkan dua tangannya menunjuk Holly. Tenry tersenyum, bahu Holly dirangkul kemudian dan sebuah sapuan bibir yang ringan mampir di pelipis Holly.


"Cantik... cantik banget... Kamu yang menor De... kayak pake topeng..."


"Diih Koko... ngerusak mood aja..."

__ADS_1


Tenry tak menggubris adiknya, memandang Holly langsung mengalihkan semua perhatiannya.


"Koko kangen..."


Bisik Tenry. Holly mengerjapkan matanya saat mata saling menyatu searah, perasaan bahagia lahir dalam tatapan yang kemudian menghalau semua emosi negatif yang sempat bersemayam. Masih merangkul bahu Holly keduanya bergerak masuk ke dalam restoran.


.


Semua sudah berkumpul di dalam, keluarga Tenry yang akan menjadi saksi acara lamaran ini sudah lengkap. Juru bicara keluarga Tenry mendekat pada Tenry.


"Udah mau mulai tapi papanya Holly belum masuk juga..."


Tenry mencari Hanie dengan tatapannya. Hanie sedang berdiri di pintu masuk, segera beranjak ke sana.


"Han... acara mau mulai, papamu mana?"


"Gak mau masuk Ten..."


"Terus?"


"Mulai aja lah... ada mama kan... ada kakak-kakak juga... udah aku bujuk, marahin, ancam... yang gak aku lakukan tinggal memaki dia..."


Hanie menjawab penuh emosi.


"Emang bisa mulai tanpa papamu?"


"Anggap aja dia gak ada..."


"Han!! Itu jahat. Nanti aku yang bicara aja..."


"Justru itu yang dia tunggu... dia akan semakin berulah kalau kamu lakukan itu... aku kenal papaku..."


"Jadi gimana dong?"


"Bilang aja papa sakit, mulai aja..."


"Dia gak sakit loh..."


"Otaknya yang sakit, gak mau ngerti anak sendiri... udah sana, udah kelamaan keluargamu menunggu, aku sengaja berjaga di sini, kalau papa mau macem-macem mungkin aku terpaksa... ahh sana Ten... aku gak mau lebih malu di hadapan kalian kalau papaku bikin ulah..."


"Tapi masa gak ada papamu... ini penting loh..."


"Nanti aku usaha lagi bujuk dia, toh baru lamaran, belum nikah... sana..."


Acara kemudian berlangsung tanpa bapak Rudolf Chandra. Holly beberapa kali melirik kursi kosong di sebelah mamanya dengan hati teriris. Mama juga gak menunjukkan sikap sayang atau antusias dengan acara. Beberapa pertanyaan Holly hanya dibalas pendek, tapi mengomel di telinga Holly soal bakti sebagai anak, menyalahkan Holly yang membuat papanya gak mau masuk mengikuti acara.


Holly mencari tatapan Tenry, keluarga mereka duduk berhadapan. Kalau boleh, dia ingin pindah duduk di sebelah Tenry saja. Tatapan lembut Tenry serta sebuah kedipan dua mata yang selalu memikat hatinya, disertai sebuah senyum kecil hanya untuknya, seperti sebuah bola pijar pemberi semangat, rasa sejuk tertransfer dengan cepat di relung hatinya.


Holly menoleh pada mamanya, lalu mengeluarkan isi hatinya yang sejak duduk dekat mama sudah mengaduk-ngaduk emosinya...


"Ma... bisa gak aku minta mama ikut bahagia denganku saat ini, dengan menunda omelan mama... gak enak diliat keluarga Ko Tenry, sejak tadi mama bisik-bisik dengan muka marah... aku juga anak mama kan? Mama pernah gak sayang sama aku? Kalau mama gak bisa sayang sama aku, boleh gak aku minta mama bersikap baik padaku hari ini aja? Jangan marahin aku lagi, ini acara penting buatku..."


Holly berbisik tapi tegas entah keberanian dari mana. Saat kembali memandang Tenry kedua matanya terasa panas. Keluarga walau bagaimana pun tetap keluarga, sebuah ikatan yang tak bisa didustai, dan tak bisa menafikan untuk orang tertentu kebahagiaan tak berasal dari ikatan itu.


.


"Papa mau bersikeras bagaimanapun, acara tetap berlangsung kan tanpa papa... papa mau buat kekacauan? Silakan... papa pikir mereka akan tunduk? Malah papa udah ditandai sama Ko Siong karena kelakuan papa ini, mereka gak mudah percaya bilang papa sedang sakit... Turun pa... binatang aja sayang sama anaknya, papa bukan binatang kan..."


Hanie mulai emosi lagi karena bujukannya mental semua.


"Ingat ya... Holly gak pernah merasakan kasih sayang papa sejak kecil, dan sekarang papa mau meminta Holly membalas apa? Menuntut Holly memberikan semua yang papa inginkan? Gak adil... Aku bersyukur dia menikah sekarang, papa seperti ini gak masalah juga... Nanti setelah nikah dia memutuskan hubungan dengan papa dan mama malah bagus... dia gak rugi apapun..."


Hanie meninggalkan papanya. Otak om Rudolf akhirnya bekerja, dengan enggan dia turun dari mobil lalu masuk ke dalam dan mimik muka manipulatif kemudian dia pasang lalu duduk di sebelah istrinya. Walau dengan motivasi yang Hanie tahu apa itu, tapi Hanie akhirnya menghembuskan napas lega, meski sudah di akhir acara papa masih menunjukkan bahwa dia adalah papa buat Holly.


.


Apapun situasinya.... selamat berbahagia buat Tenry dan Holly... 😁


.


🦋


.

__ADS_1


.


__ADS_2