Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 59. Cici


__ADS_3

Yang dominan sekarang adalah rasa penasaran bercampur rasa cemas. Pemikiran sederhana Holly sudah bisa menduga ke mana akhir dari masalah menghilangnya Beyvie, jika Beyvie baik-baik saja, apa yang mengendap dalam pikirannya selama ini yaitu kemungkinan niat Ci Cun pada Hanie sekarang bukan lagi sebuah permintaan, mungkin berubah menjadi desakan. Pemikiran ini semakin membuat Holly tertekan.


Dia harus tahu sesuatu. Holly tidak bisa bernapas dengan normal dengan hanya menunggu. Dia memutuskan ke toko, kalau Hanie belum ada dia tahu di mana Hanie sering menyimpan kunci toko.


Perlahan Holly memacu kendaraan matic miliknya melintasi jalan yang masih ramai di sore menjelang malam ini.


.


Di tempat lain, Hanie terkejut saat pulang melihat mobil kuning terparkir di jalan di depan toko. Pintu pagar sudah dikunci oleh Opo Rully tentu saja. Turun dari motor Hanie mendekati mobil yang masih menyala mesinnya, kaca jendela semua tertutup, dan dia bisa pastikan mobil ini milik Beyvie. Pintu jendela sisi sopir dia ketuk perlahan, jendela perlahan terbuka menampakkan wajah berantakan Cici.


Hanie gak bisa mengatakan apapun hanya menghembuskan napas lega, setelah seharian mencari dengan motornya, akhirnya seseorang yang telah membuat banyak orang cemas muncul sendiri di toko. Tapi kenapa ke sini?


"Cici Bey..."


Sepotong kalimat Hanie ucapkan setelah hanya saling tatap beberapa waktu.


"Cici udah makan?"


Sambung Hanie dengan pikiran dilanda kecemasan yang lain, dia tidak tahu bagaimana menghadapi Cici Bey yang sekarang, mau menelpon Ci Cun takut Beyvie pergi.


Beyvie tak menjawab dengan kata-kata tapi membuka pintu lalu keluar dan berdiri di depan pagar, seperti hendak masuk. Hanie dengan cepat gantian masuk ke dalam mobil Beyvie, memarkir mobil lebih masuk ke tepi jalan lalu turun dengan mengantongi kunci mobil, dia memutuskan mengantar Beyvie jika dia minta pulang. Melihat gelagat Beyvie, Hanie membuka pagar dengan kunci yang ada padanya yang disatukan dengan kunci motor. Saat pintu terbuka Cici berjalan cepat masuk ke dalam dan menunggu Hanie di depan pintu besi besar yang masih tertutup.


Hanie sempat bingung harus apa, bingung kenapa Beyvie malahan ke sini, dan bingung bagaimana berkomunikasi, terakhir percakapan mereka dia dikata-katain sama kakak teman baiknya ini.


"Buka pintu!"


Suara keras Beyvie menyentak Hanie yang masih ragu hendak berbuat apa. Hanie menuju pintu dan membuka pintu, masih mengira-ngira apa yang hendak Beyvie lakukan di sini. Seingat Hanie Beyvie gak pernah menginjakkan kaki di toko ini.


Setelah pintu dibuka Hanie menunggu Beyvie masuk lalu menutup pintu lagi lalu berjalan dengan canggung diikuti Beyvie. Di lantai atas Beyvie langsung masuk ke kamar Hanie.


"Cici Bey... kamarnya berantakan belum sempat aku rapihin... Cici mau istirahat ya? Kamar depan aja mau?"


"Ini kamarku..."


Hanie membulatkan mata baru tahu ini bekas kamar Beyvie, pantas kamar ini terlihat lebih mencirikan wanita baik warna catnya maupun furniturenya meskipun sudah tua.


"Ehh... iya maaf, aku menggunakannya sekarang. Mmm... tapi kamar Tenry lebih bersih dan... gak bau cowok... maaf, Cici istirahat di depan ya?"


Beyvie diam saja.


"Aku anterin Cici pulang ya?"


Masih diam Beyvie tak bergerak di tempatnya berdiri, entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Sorot mata Beyvie begitu bingung dan seperti tak berdaya, berdiri mematung tanpa suara. Hanie akhirnya mencoba berinisiatif menarik lembut tangan Beyvie.


"Cici cape seharian keluar rumah... yuk istirahat dulu..."


Beyvie hanya mengikuti saat Hanie membawa dirinya ke kamar Holly sebelum ini. Rasa prihatin terhadap Beyvie yang sangat nyata sedang depresi berat, Hanie gak tega mendesak Beyvie untuk pulang ke rumah mereka sekarang, mencoba memahami mungkin memorinya yang terlintas saat ini bahwa ini adalah rumahnya.


Setelah memastikan Beyvie berbaring dengan benar, Hanie coba menawarkan sesuatu.


"Cici Bey mau makan?"


Gak ada reaksi, matanya mengarah dengan tajam di dinding di mana tubuhnya sedang berbaring miring. Hanie keluar dan mengambil segelas air.


"Cici... minum dulu ya?"


Hanie terkejut saat Beyvie menoleh dan langsung duduk mengulurkan tangan mengambil gelas di tangan Hanie lalu menghabiskan minuman sekali teguk. Hatinya teriris, jadi memahami mengapa Ci Cun begitu tertekan dengan keadaan Beyvie. Tak terlihat lagi sosok gadis energik yang cantik dan penuh vitalitas dalam setiap kegiatannya. Yang nampak sekarang sosok gadis kurus, pucat, meskipun terlihat bersih dan tetap terawat tapi jiwa yang sedang sakit sangat menonjol dalam setiap garis ekspresinya.

__ADS_1


Hanie mengambil gelas kosong, lalu mengusap sejenak kepala Beyvie.


"Istirahat ya Cici... aku telpon mama ya..."


Saat kata mama disebutkan Hanie, terlihat riak di wajah Beyvie.


"Mama..."


Beyvie sangat pelan menyebut kata itu dan itu memicu sesuatu karena sejurus kemudian Beyvie menangis dengan sedih.


"Aku telpon Ci Cun ya?"


Beyvie mengangguk berkali-kali, mungkin sekarang dia ingat apa yang sedang terjadi. Hanie menelpon kemudian.


.


📱


"Ko Han... Cici belum ketemu ya?"


Suara sedih Ivy langsung menyerbu gendang telinganya


"Cici di toko, Dede... sama aku..."


"Oh... akhirnya... Cici gak kenapa-napa kan?"


"Iya... Cici ke sini mungkin ingat ini masih rumah yang kalian tempati... Cici butuh mama De... nangis saat bilang mama..."


"Mama tidur Ko Han... kasihan cape nangis stress sepanjang hari... Dede kasih tau nanti kalau mama bangun... yang penting Cici pulang utuh... aduuuh seneng aku..."


"Nanti telpon aku ya... apa Cici aku antar pulang atau dijemput, kalau sekarang kayaknya belum bisa... masih nangis..."


"Gak sih..."


"Ya udah... tenangin aja Ko Han... pegangin tangan aja atau tepukin punggungnya..."


"Oke..."


"Oh God... Cici ketemu... Cici ketemu..."


Teriakan Ivy masih sempat terdengar sebelum sambungan terputus.


.


Hanie bingung untuk melakukan sesuatu, apalagi menyentuh Beyvie, tapi melihat wajah dengan tangisan yang begitu sedih akhirnya Hanie membaringkan lagi Beyvie di tempat tidur itu lalu dengan canggung duduk di sisi Beyvie sambil menepuk punggungnya, benar cara yang ampuh tak lama setelahnya Beyvie berhenti menangis. Hanie pindah duduk di kursi tapi tetap memgamati Beyvie.


Berselang beberapa saat ponsel Hanie berbunyi.


📱


"Han... aku di bawah, gak ketemu kunci di tempat biasa..."


"Oh... udah gak disimpan di situ, bentar aku turun..."


.


Holly tahu Hanie di atas sekarang karena motornya masih terparkir di luar, lagi pula pintu pagar tidak dikunci. Holly berdiri menunggu di depan pintu besi besar berwarna hitam. Pintu terbuka...

__ADS_1


"Motor gak papa di luar? Udah malem..."


Hanie gak menjawab tapi langsung menuju motornya di luar pagar untuk memarkirkan di tempat biasa, Holly sendiri sudah memarkir motor di dalam. Setelahnya mereka berdua naik ke atas.


"Cici gimana udah ketemu?"


"Ada di sini, tiduran di kamarmu..."


"Oh... ketemu di mana?"


"Datang sendiri di sini... ayo... aku takut tinggalin dia sendiri..."


Holly ikut naik dan di atas dia melihat gimana kondisi Beyvie.


"Jagain dulu Ling... aku mau mandi, tadi pagi belum sempat mandi..."


Ragu karena takut Beyvie melakukan sesuatu dan dia gak bisa mencegah, tapi melihat kondisi Hanie Holly mengangguk lalu duduk di kursi sambil mengedarkan pandang ke sekeliling kamar yang pernah dihuni beberapa bulan.


Beberapa waktu kemudian Hanie masuk, terlihat segar wangi sabun mandi menyeruak. Hanie sedang menelpon...


.


📱


"Iya Ci Cun... tidur kayaknya..."


Hanie menjawab sambil melihat Beyvie yang masih berbaring miring.


"..."


"Belum... Ci... gak sempat beli makan.... iya Ci..."


.


Percakapan berakhir, dan Holly sempat menyimak siapa yang sedang bicara di seberang. Holly takut bertemu Ci Cun di sini.


"Han... Ci Cun mau ke sini?"


"Iya... udah di jalan katanya..."


"Aku pulang aja..."


"Kenapa?"


"Gak mau ketemu Ci Cun..."


Holly bergegas keluar dan Hanie gantian menempati kursi dalam kamar itu. Ada resah tumbuh sekarang bukan karena Beyvie tapi karena situasi sekarang


"Aku gak turun ya... pintu sama pagar kamu kunci dari luar..."


Tergesa Holly mengeluarkan motornya, turun kemudian untuk menutup pagar, saat hendak naik lagi...


"Holly... tolong bukain pagarnya..."


Ahh terlambat, Ci Cun turun dari mobil, rasa takut langsung naik ke permukaan, dia gak berhadapan dengan seekor kucing hitam yang menakutkan, dia berhadapan dengan seorang ibu yang sedang susah dan dia merasa menjadi salah satu alasan kesusahan wanita ini. Dia takut tentang sesuatu yang bisa jadi kenyataan saat ini.


.

__ADS_1


🦋


.


__ADS_2