
Hampir-hampir Holly gak ingin berangkat menuju tempat KKT. Sebelum jam tujuh pagi dia sudah tiba di Auditorium universitas ini. Dia diantarkan Tenry dan juga baby Echa dan susternya. Holly sedang memeluk baby gembul dan sedang bermain-main dengannya. Mereka masih menunggu di dalam mobil.
"Adek ihh... seneng-seneng aja, padahal mami tuh sedih banget mau ninggalin Echa..."
Holly mencium-cium gemas pipi babynya. Tangan mungil Echa segera memegang kepala Holly, lalu berdiri di dua paha maminya, menekuk-nekukkan lututnya seperti mau melompat sambil memukulkan dua tangannya di kepala maminya. Bayi yang belum mandi, masih bau susu, dipaksa ikut sang mami karena si mami ingin melihat bayinya sampai dengan waktu keberangkatan.
"Echa mana tahu mami mau pergi... paling-paling nangisnya sebentar aja nanti..."
Tenry melirik Holly sebentar lalu mata kembali menatap ponselnya. Si baby tergelak dengan suara menggemaskan saat mulut maminya mengelitik sambil meninggalkan bunyi di area perutnya. Suara riangnya ikut berceloteh meniru suara sang mami.
"Prrrrtts... prrrtss"
Si mami mengulangi kali ini di bagian pipi gembul baby Echa. Echa makin tergelak kesenangan.
"Adekk... gimana bisa mami ninggalin kamu kalau kayak gini, belum pergi mami udah kangen..."
Holly menciumi pipi Echa sekarang.
"Koko aja yang anterin Lingling ke lokasi ya..."
"Katanya harus berangkat bareng rombongan naik bus..."
"Iya sih... ada penerimaan di kantor bupati di sana dulu baru setelahnya masing-masing kelompok berangkat sendiri ke desa-desa penempatan... tapi Lingling masih pengen lihat Echa..."
"Mami... jangan seperti itu, nanti kalian berdua sakit malahan kalau maminya baper, entar di sana gak bisa konsen..."
Panggilan mami-papi sekarang berganti-ganti dengan panggilan Koko-Lingling, suka-suka mereka berdua.
"Koko keberatan ya... gak mau anterin Lingling ya?"
"Iya, gak bisa... Koko ada urusan penting sayang... jangan manja ahh..."
"Ihh... Koko sekarang gitu, dulu aja bela-belain... Lingling mau apa aja diturutin..."
"Apa... kayak istri kekurangan kasih sayang aja lagaknya... udah ahh, Koko beneran gak bisa sayang... logis dikit ya... jangan karena baper gara-gara mau ninggalin Echa terus ngomong sembarangan..."
Tenry mendekatkan kepalanya lalu menciumi pipi istrinya beberapa kali. Suster Lena yang duduk di jok belakang segera memalingkan wajahnya. Sering melihat dua majikannya seperti ini di rumah tapi tetap aja ada rasa malu dan gak enak. Jadi ingat suami di kampung halaman... dengan sedikit bunyi si suster keluar dari mobil.
Setelah si papi selesai, giliran si baby yang menempelkan mulutnya ke pipi Holly tapi bukannya mencium malah mau mengigit atau mengisap pipi maminya.
"Dekk... kenapa mami digigit... hehe... minta ajarin papi tuh gimana cara nyium mami... hehe..."
Holly tertawa karena anaknya belum berhenti, dia gak bisa menggigit tapi masih berusaha, pipi Holly gak berisi sehingga sukar untuk si baby menancapkan empat giginya.
Tenry mengacak rambut Holly...
"Apa sih, mami mau ngajarin anaknya apa coba?"
"Mau ngajarin cara menunjukkan sayang... gak salah kan..."
Holly memindahkan posisi baby Echa lebih dekat ke arah Tenry.
"Dek... cium papi juga..."
Tenry mendekatkan pipinya, tapi malah dipukul Echa...
"Hahaha dia udah tahu, jeruk gak boleh makan jeruk... haha..."
"Mami... aneh ih..."
__ADS_1
Tenry mengambil baby Echa dari tangan istri.
"Udah ada pengumunan ngumpul di dalam Auditorium sayang... sini Echanya..."
"Udah waktunya ya... papi jagain Echa ya... angkat telponnya kalau mami menelpon... papi tuh suka gak ngejawab telpon kan..."
"Iya sayang... enjoy aja ya... gak usah sedih, kita bisa vc setiap saat kan... sini..."
Tenry menghapus airmata yang cepat sekali mengalir di pipi istrinya lalu memeluk istri dengan sayang. Meskipun gak sebanyak dulu, tetap aja dalam gejolak emosi istrinya selalu ada airmata yang hadir. Baby mereka teriak marah karena terjepit di antar orang tua.
"Maaf sayang... kejepit ya...mami pergi ya... baik-baik ya sama papi..."
Holly menciumi lagi pipi dan kepala anaknya kemudian berpindah ke pipi suami. Sesaat saling menatap, Tenry senyum manis, memahami perasaan istri yang gak rela berpisah dengan mereka. Memang hanya keberatan berpisah dengan Echa yang diungkapkan, tapi dia tahu istrinya pun sedang susah harus jauh darinya, semalam istrinya memeluk dirinya sangat erat dan gak mau melepaskan genggaman tangannya hingga dia terlelap.
"Hari minggu nanti papi berkunjung ya..."
"Bawa Echa ya..."
"Iya dong... udah... turun sekarang..."
"Iya... nanti kalau udah sampai mami telpon papi... diangkat ya..."
"Iya sayang... nanti hpnya papi simpan di saku celana..."
"Volume suaranya ditambah..."
"Iya mami cantik... awas loh kepincut cowok lain..."
"Papi ahh... masak ngomong kayak gitu..."
Holly meninju pelan lengan suaminya sambil cemberut.
"Nanti Lingling buat pengumuman saat kenalan sama semuanya, Lingling tuh udah nikah dan punya baby lucu yang ganteng kayak papi... Lingling juga bawa foto kita bertiga, Lingling juga bawa baju semua punya Koko..."
"Hahaha... dasar... udah sana..."
Tenry tertawa geli sekarang, banyak drama sejak seminggu ini dari istri yang mau tinggalkan rumah. Sejujurnya dia juga gelisah soal ini, tapi dia menyimpannya dengan rapih. Jadi teringat ide sewa rumah di lokasi, ide yang sedikit berlebihan, tapi dia yang udah punya pola tetap untuk malam hangat penuh bintang demi menyalurkan gejolak hasratnya, apa bisa berpuasa selama tiga puluh hari?
Tenry keluar hati-hati dari dalam mobil karena menggendong Ezar. Dia menyodorkan anaknya pada sang suster yang sejak tadi berdiri di luar, lalu membuka bagasi mobilnya untuk menurunkan koper Holly.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam yang terlihat baru dengan logo huruf L miring, satu seri dengan miliknya sekarang berhenti di samping mobilnya.
"Holly..."
Seseorang turun dari mobil itu, suara yang dikenalnya beberapa tahun silam terdengar memanggil nama istrinya. Jantungnya terasa berdetak... cowok itu...
"Hei... kak Brill... baru sampai ya..."
"Iya... belum terlambat kan..."
"Belum lah... ini baru mau ngumpul di dalam, ada pengarahan mungkin sebelum berangkat..."
"Holly di desa mana?"
Holly menyebutkan nama desa tempat dia KKT, Brill juga.
"Kita tetanggaan berarti, satu kecamatan... wah kita bisa sering ketemu, DPL kita pun sama kak Brill..."
"Syukurlah, aku punya temen... di kelompok aku gak ada yang aku kenal..."
__ADS_1
"Sama kak Brill... hehehe..."
Tenry berdiri mengawasi percakapan dua orang yang sepertinya gak menggubris kehadirannya. Tenry batuk kecil, sebenarnya memberi isyarat sekaligus memutus percakapan bernada akrab dua orang di hadapannya, juga sebagai bentuk melepas gusar karena pemandangan gak enak, dua orang ini saling senyum manis... haha ada yang meradang.
Brill menoleh pada Tenry...
"Hei... Tenry... pa kabar..."
Keduanya bersalaman gaya laki-laki.
"Baik... kamu?"
"Sama... lama gak ketemu ya... kamu udah jadi bapak kan... tapi gak berubah..."
Tenry tertawa sekedar formalitas.
"Aku ke dalam ya... Holly... duluan ya..."
"Iya kak Brill..."
Brill menjauh menuju Auditorium, Tenry menatap dengan mimik wajah telah berubah.
"Koko... Lingling mau masuk juga ya..."
Holly mengambil-alih koper di tangan suami lalu mulai melangkah.
"Ling..."
Wajah serius suami membuat Holly berhenti.
"Iya Ko..."
"Si Brill deketan lokasinya?"
Tenry menegaskan apa yang dia dengar tadi.
"Iya... kenapa?"
"Dia... dia gak macam-macam lagi kan sekarang?"
Akhirnya ungkapan bernada cemburu tercetus dari bibir Tenry. Diam-diam sejak lama dia menyimpan perasaan gak nyaman tentang Brill.
"Ehhh... maksud Koko apa?"
"Brill gak gangguin Lingling lagi kan?"
"Astaga Koko... gak lah... kita tetap temenan dan dia baik kok, gak pernah melewati batas... lagian dia udah punya pacar, teman angkatan Lingling juga... cantik Ko... dan Brill lagi bucin tau gak... lebih bucin dari Koko... hahaha.... Koko cemburu ya...?"
"Gak... hanya waspada aja..."
"Diih cemburu tapi gak ngaku... Tenang aja Ko... pacarnya ikut KKT juga, walau gak satu kecamatan tapi dia pasti lebih memilih nyamperin pacarnya dari pada Lingling... udah ya... Lingling pergi... bye papi... bye sayangnya mami..."
Kembali Holly memeluk erat tubuh suaminya lalu mencium-cium babynya.
Seperti hendak pisah berapa lama, seperti melepas orang yang disayang pergi jauh... demikian drama pagi ini...
.
🦋
__ADS_1
.