
Kerinduan yang Holly bawa pulang ke rumah hanya melahirkan perih di hati.
Mama gak berhenti mengomel dan memaki menganggap Holly anak yang liar dan kurang ajar karena berbulan-bulan gak ingat orang tua. Kakak-kakak gak ada bedanya ikut merendahkan Holly menuduh dia pergi dengan lelaki. Mulut tajam mereka menurun pada anak-anak yang menggerutu karena Holly tidak membawa apa-apa seperti sebelumnya. Papanya konsisten menuntut TV besar, menyuruh Holly cepat-cepat menikah dengan Tenry, mengungkit rumah dan mobil baru.
Di antara makian dan kalimat negatif yang menyerbu pendengarannya semua orang di rumah serentak menyuruh Holly melakukan ini-itu, hari ini mereka seperti balas dendam karena lama tidak mengkaryakan tenaga Holly.
Malam hari, tubuhnya seperti luluh-lantak, rasa cape membuat dia meninggalkan rumah tanpa pamit. Saat muncul di lantai dua toko itu Hanie juga baru sampai. Hari ini tanggal merah, toko libur makanya Hanie keluar pagi-pagi bersamaan dengan Holly yang pulang ke rumah mereka.
"Dari pagi kamu baru pulang sekarang?"
"Iya..."
"Kamu sakit?"
Hanie memperhatikan tubuh lemas Holly.
"Cape..."
Hanie paham kenapa.
"Makanya kalau pulang ke rumah bareng aku, jangan pergi sendiri... kerja rodi lagi kan..."
"Gak papa Han, baru sekali ini pulang lagi..."
Selain cape, perasaan sedih juga turut mengikuti Holly, sedih dengan cara keluarganya memperlakukan dirinya. Dia tak pulang sekian lama ternyata tak mengubah apapun.
"Waktu itu aku pulang perasaan gak kayak gitu mereka..."
"Karena kamu pulang bawa macem-macem... sekarang kamu hanya bawa diri, jadi kesempatan buat mereka manfaatin kamu..."
Holly duduk lesu di sofa hitam, sementara Hanie membuat kopi.
"Mau minum yang hangat?"
"Teh... banyakin gulanya..."
Holly menjawab lesu sambil tiduran di sofa. Beberapa saat berlalu...
"Ling... tehnya keburu dingin... minum dulu..."
Holly menyeret langkahnya duduk di hadapan Hanie di sekitar meja makan.
__ADS_1
"Kenapa keluarga kita kayak gitu ya..."
Sebuah pertanyaan sedih keluar dari mulut Holly.
"Aku tinggal sama keluarga Kak Mel lama kan, jadi tahu kalau Kak Mel itu anak tiri terus dua anak perempuan yang besar itu bukan anak Kak Keke, bukan cucu langsung si Opa Ramly... tapi yang aku lihat mereka saling sayang... Han... cara mereka bicara, cara mereka memperlakukan aku juga..."
Hanie hanya melirik sejenak lalu menatap gelas kopinya.
"Beda banget sama kita... aku kayak bukan anak kalau pulang ke rumah..."
Hanie menyeruput kopinya. Fakta keluarga mereka bukan keluarga yang hangat, bukan keluarga yang penuh kasih sayang bukan isu yang besar untuk dirinya. Sejak dia mulai paham tentang hidup, itu adalah hal biasa seperti menjadi ciri sosial di kompleks mereka tinggal, saling teriak dan memaki di antara keluarga adalah sesuatu yang biasa di lingkungan mereka. Lingkungan mereka termasuk lingkungan yang keras.
Sama seperti dirinya bertahun-tahun yang lalu saat bertemu keluarga Tenry... itulah mengapa dia begitu terikat dengan keluarga itu yang memperlakukannya layaknya sebagai bagian dari anggota keluarga, keluarga yang mengajarkan dirinya tentang simpati dan empati, keluarga yang menularkan perasaan sayang dalam dirinya sehingga dia kemudian bisa memperhatikan Holly sebagai adik.
Holly baru saja menyadari hal itu, baru melihat sisi lain di mana ada keluarga yang berbeda dengan mereka, dia terlihat begitu sedih. Hanie gak bisa berkomentar, dia tahu biasanya perempuan lebih sensitif soal seperti ini.
"Aku mau nikah aja ya Han, kan kamu juga udah mau nikah..."
"Hah?? Nikah??"
"Iya... nikah, Koko ngajak aku nikah..."
"Koko berubah? Apanya yang berubah?"
"Dia dari dulu suka ngomong... nikah nanti di umur tiga puluh, empat tahun lagi..."
"Tiga tahun lagi, bulan depan Koko dua puluh tujuh..."
"Iya... tetap aja bukan sekarang kan..."
"Tapi... Koko bilang dia serius kok..."
"Mungkin nanya sama kamu sekarang, tapi nikahnya tiga tahun lagi..."
Holly terdiam berpikir, mungkin aja Hanie benar, karena terakhir ini Kokonya gak pernah ngomong apapun soal lamaran padahal katanya mau lamaran pas ulang tahun dan itu tinggal sebulan dari sekarang, masa gak ada persiapan... dan sepertinya yang selalu memulai membicarakan soal nikah adalah dirinya. Holly menunduk ada perasaan malu tumbuh di hatinya sekarang, malu karena telah melempar angan terlalu jauh.
"Kamu... emang udah siap nikah?"
Hanie bertanya kemudian, mungkin memang Tenry sudah memutuskan menikah sekarang.
"Karena Koko yang ngajak nikah, makanya aku bilang mau..."
__ADS_1
"Siap gak? Nikah itu gak gampang loh... harus siap mental untuk berubah jadi istri, tanggung jawab udah lebih besar, belum lagi kalau kamu udah punya anak... terus gimana kuliahmu? Mungkin kalau udah nikah gak bisa kuliah lagi..."
"Aku gak tahu Han..."
Holly memandang bingung. Hanie paham adiknya gak mungkin memikirkan pernikahan secara lebih dewasa, lebih kepada kesenangan karena diajak melakukan sesuatu yang indah dan menyenangkan.
"Ling... nikah itu berarti kamu akan masuk ke keluarga Tenry, bukan hanya ada Tenry, ada orang tuanya, kakak-adiknya dan keluarga yang lain... kamu harus bisa menyesuaikan dengan semua keluarga mereka. Belum lagi keluarga kita, kamu tahu kan gimana keluarga kita... mereka akan melihat pernikahanmu dengan cara yang berbeda, coba kamu pikir... Tenry belum melamarmu papa udah minta TV mobil rumah... setelah kamu nikah bayangkan papa mau minta apa lagi?"
"Aku...gak tahu kalau seperti itu... abis kamu juga bilang mau nikah... aku sama siapa setelah kamu nikah..."
Hanie menatap lama menelisik wajah adiknya, menyadari bahwa adiknya sedang mencari pegangan untuk masa depannya, dan itu Tenry.
"Kapan aku ngomong mau nikah?"
"Waktu itu di telpon sama Meili..."
Hanie melepas napas beratnya.
"Iya... Memang mamanya Meili udah mulai menyinggung hal itu, tapi aku masih minta waktu ngurusin kamu dulu sampai kamu selesai kuliah..."
"Emang Meili mau nunggu lagi... aku selesainya masih lama Han..."
Hanie diam.
Papa kekasihnya sedang terlibat masalah besar, mengundurkan diri sebagai dosen di sebuah universitas swasta kecil lalu terpilih jadi hukum tua di kampungnya tapi terjerat penyalahgunaan anggaran dan sudah hampir setahun ditahan. Mama Meili seorang perawat dengan besaran gaji gak mencukupi untuk biaya empat anaknya. Meili anak tertua, sejak kasus papanya bergulir terpaksa menunda skripsinya dan kerja sebagai kasir minimarket demi ikut menopang biaya hidup keluarganya. Hanie menyadari bahwa mamanya Meili berharap setelah menikah dia bisa ikut membantu masalah keuangan mereka.
Hanie terjepit di dua situasi karena dia ingin menuntaskan janji membiayai kuliah Holly dan masih punya kerinduan tetap memberi sebagian gajinya untuk mamanya, jika menikah tentu ini akan memberatkan dirinya.
"Kalau aku nikah kan kamu gak perlu lagi ngasih aku uang... karena mama gak mungkin mau membiayai kuliahku..."
Kadang-kadang orang menyederhanakan pernikahan sebagai bentuk penyelesaian masalah ekonomi, seperti mama Meili dan adiknya... Hanie terpekur di tempat duduknya, dalam hati ingin memastikan keseriusan Tenry untuk menikahi adiknya.
.
Selamat Idul Fitri 1443 H... Mohon maaf lahir dan batin...
.
🦋
.
__ADS_1