Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 72. Ada Waktunya


__ADS_3

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, sungguh sebuah pernyataan yang akan sesuai dalam segala jaman, itu tak terbantahkan. Tenry mengalami bagaimana bahagia di pelupuk mata menguap sebelum terwujud. Dan bagaimana Beyvie dalam kurun waktu setelah Holly pergi berangsur membaik, bahkan sekarang gadis itu telah dinyatakan sehat, walaupun kepribadiannya sedikit berubah menjadi lebih lembut dan pendiam.


Benar bahwa sesuatu yang baik selalu tersedia, dalam hidup seperti ada neraca tentang dua sisi hidup, selalu berimbang antara yang baik dan yang buruk. Hari ini, sesuatu yang indah akan terjadi, sesuatu yang jauh dari perkiraan siapa pun dalam keluarga mengingat kondisi Beyvie, ada acara lamaran untuk Beyvie.


Lelaki yang punya tekad kuat ingin menjadi suami Beyvie adalah dokter Yongky, pertemuan intens mereka ternyata menumbuhkan benih cinta. Ci Cun melihat kesungguhan hati Yongky, tidak mengajak Beyvie berpacaran tetapi langsung mengajak menikah. Seorang lelaki single yang sudah matang berbeda tujuh tahun dengan Beyvie, dewasa gak mungkin main-main lagi. Hidup yang sudah mapan sebagai salah satu owner rumah sakit Medika bersama dengan iparnya. Sangat serius mendekati Beyvie walaupun berulang kali ditolak Beyvie. Hal-hal ini membuat Ci Cun yakin bahwa Yongky tidak akan mempermainkan Beyvie, terlebih Yongky paling tahu kondisi Beyvie. Posturnya sedang saja, tidak menonjol secara fisik tapi punya garis wajah dan pembawaan yang tenang, itu yang membuat Beyvie terpikat dan percaya diri untuk menerima lamarannya.


Ci Cun menelpon anak lelakinya...


📱


"Koko... acaranya Cici jam tujuh malam loh, jangan sampai terlambat..."


"Iya ma..."


"Koko pulang sekarang aja... mama kangen..."


"Nanti sore ma..."


"Pakai celana hitam ya... kemeja batik Koko udah mama siapin..."


"Iya... iya..."


"Koko di mana?"


"Di kamar..."


"Udah makan siang?"


"Barusan selesai ma..."


"Makan apa?"


"Tadi Koko go*food nasi padang..."


"Padahal di rumah mama masak banyak makanan..."


"Iya Koko tahu..."


"Ada kerjaan apa?"


"Koko mau ke gudang sebentar, ada sedikit masalah di sana..."


"Ko... mama udah denger masalah itu... mama minta Koko bersikap baik dengan om Karel... dia udah ikut mama lama banget, kasihan anak istrinya kalau dia sampai diberhentikan, diturunkan aja jadi staff biasa, apalagi masa seperti ini susah nyari pekerjaan lain, walaupun usaha sedikit tersendat mama gak ingin ada pengurangan pengawai..."


"Iya... Koko ngerti soal om Karel..."


"Ya udah mama gak akan campuri lebih banyak... Kerjaan lagi gak padet kan, Koko datang lebih awal ya... ini acara penting loh..."


"Iya..."


"Selalu pakai masker dan selalu cuci tangan ya..."


"Iya...


"Jangan terlalu lama di luar, nak..."


"Iya, ma... bye ma..."

__ADS_1


.


Jawaban serba pendek dari anak tersayang. Begitulah Koko yang sekarang, tak banyak bicara dan jarang tertawa, ekspresi wajah yang begitu berbeda sekarang.


Berapa lama dia gak pulang ke rumah? Sejak tinggal di kamar ini menggantikan gadis itu, dia hanya sesekali pulang selama enam bulan kurang lebih. Dia kehilangan gadis kecilnya yang gak menepati janji untuk tidak meninggalkan dirinya, dan dia gak ingin kehilangan semua hal tentang gadis kecil itu, dia ingin apa yang tertinggal di kamar ini akan tetap ada dalam genggamannya meskipun hanya berupa kenangan milik mereka berdua.


Kamar yang ditinggalkan dengan buru-buru waktu itu, dalam keadaan berantakan, Tenry tahu Holly terbiasa bersih dan rapih. Hari di mana dia mengetahui bahwa kekasihnya memilih meninggalkan dirinya, hari di mana dia ingin meratap meskipun dia lelaki, hari di mana semua orang yang dikenal Holly dia tanyai dan semua tempat yang kemungkinan jadi tempat persembunyian telah dia datangi, hari itulah dia mulai tinggal di sini.


Dan beberapa waktu selanjutnya dia gak bisa meneruskan pencaharian karena pandemi (di sini baru mulai guys 🤭), semua kegiatan di luar menjadi terbatas termasuk kegiatan kampus sehingga gak mungkin melakukan pencaharian seperti dulu. Hanya berharap... garis hidup miliknya dan garis hidup milik Holly akan bertemu di suatu persimpangan suatu saat nanti.


Apa penyebab Holly pergi? Nuella gak bisa memberikan keterangan apapun. Hanie yang menunggu Holly muncul di toko hanya memberi sedikit info bahwa Holly tahu Ci Cun dirawat di rumah sakit. Itu saja. Hanya bisa mengira-ngira bahwa Holly merasa bersalah karena berpikir dia penyebab Ci Cun sakit. Ci Cun yang memahami perasaan Tenry juga berpikir bahwa kepergian gadis itu untuk merealisasikan janjinya waktu itu, perasaan bersalah membuat Ci Cun membiarkan Tenry tinggal di luar rumah meskipun ada rasa khawatir dengan pandemi yang begitu mengancam.


.


🌱


.


Malam hari di rumah putih besar itu, semua lampu besar di halaman menyala, dari jauh rumah itu begitu berkilau di tengah kegelapan malam. Sepanjang jalan masuk dari jalan arteri telah dipasangi lampu jalan yang tiang penyangganya berupa besi besar berukir, jalan pun sudah beraspal hotmix. Ibarat sedang masuk ke sebuah jalan menuju puri terpencil mungkin seperti itu bisa digambarkan tempat ini. Yang akan hadir di sini hanya terbatas keluarga terdekat kedua belah pihak dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat sebagaimana yang diberlakukan sekarang.


"Rein..."


Ko Siong jarang berpakaian rapih, ke mana-mana selalu menggunakan celana selutut dengan kaos oblong tipis putih merek s*wan, kali ini menggunakan seragam batik seperti punya Tenry.


"Iya..."


"Pek Siong gak bisa pakai faceshield, ini menyiksa..."


"Pakai masker aja gak papa..."


"Itu juga sama... Pek Siong sehat kok... gak usah pakai ya?"


"Kita sih gak papa... Siong, tapi tamu kita gak nyaman pasti..."


Ci Cun menimpali di tengah kesibukannya memastikan kesiapan jamuan makan setelah acara inti nantinya.


"Iya... Pek Siong harus mempertimbangkan itu... nanti setelah mereka sampai di sini aja baru maskernya dipakai..."


Rein menjawab pamannya yang sedang mengeringkan keringat akibat memakai faceshield tadi. Sementara Tenry duduk diam di meja makan, sedang menikmati sebuah penganan kecil buatan sang mama.


"Hanie... ayo masuk... kenapa berdiri di depan pintu aja..."


Ci Cun yang pertama melihat Hanie datang langsung memanggil dengan wajah penuh keramahan. Hanie memang terlihat canggung karena membawa Meili datang, untuk pertama kali mau memperkenalkan Meili, seperti membawa pacar pertama kali berkenalan dengan keluarga aja sikapnya. Dengan bahasa isyarat dia meminta Meili mengikuti langkahnya mendekati ruang makan.


"Selamat malam Ko Siong... dokter Rein..."


"Han... bawa siapa kamu?"


Dokter Reiner menyambut akrab. Ko Siong hanya mengangguk.


"Ehm... temenku, dokter..."


"Temen ya... bukan pacar?"


Hanie hanya tertawa lalu mendekati Tenry.


"Ten..."

__ADS_1


Hanie dan Meili sama-sama menyapa. Tenry hanya menangguk pada Meili di belakang Hanie. Hanie hafal sikap Tenry yang sekarang, kaku bukan karena marah padanya tapi efek kepergian Holly yang merubah banyak hal dalam diri Tenry termasuk sikap ramah dan suka bergurau yang hilang entah ke mana.


"Ini yang cantik siapa?"


Ci Cun datang dan memandang Meili dengan mimik penasaran.


"Ini Meili Ci Cun..."


Hanie memperkenalkan pacarnya yang awal jadian masih dia sembunyikan dari Ci Cun, sekarang udah lega bisa terang-terangan.


"Buka masker dong, biar Ci Cun tahu..."


Meili melepas masker warna hijau itu dari wajahnya lalu menangkupkan dua tangannya di dada, sebuah senyum untuk ibu tuan rumah yang ramah, lalu menggunakan maskernya lagi.


"Cantik Han... cantik... ambilkan minum atau makan sesuatu yang ringan Han..."


Ci Cun pergi lagi, Hanie dan Meili duduk dekat Tenry.


"Ten... baca ini..."


Hanie menyodorkan ponselnya pada sahabatnya, sebuah aplikasi pesan sudah terbuka pada chat seseorang. Tenry menatap nanar dan berkali-kali membaca pesan singkat itu.


Aku sehat dan baik-baik aja Han, jangan khawatir. Aku harap kalian semua tetap sehat.


Itu aja, gak ada foto profil, pesan dengan tanggal beberapa hari yang lalu. Serbuan chat balasan Hanie menanyakan banyak hal hanya bercentang satu. Sekian bulan menghilang dan hanya mengirim pesan singkat? Dan tak menyinggung namanya sedikitpun. Hati Tenry teriris lagi, entah di mana gadis itu sekarang, mungkinkah dia lupa tentang Tenry semudah itu dan tak mau mengingat apapun tentang Tenry?


"Menurut temenku, itu nomor area sini... jadi Lingling ada di sini aja Ten..."


Tenry menyodorkan lagi ponsel Hanie.


"Udah berkali-kali aku coba telpon, nomor itu gak terdaftar..."


Hanie menyambung lagi saat Tenry masih diam.


"Sabar aja, mungkin suatu saat dia lelah bersembunyi, dia pasti muncul lagi..."


Tenry melirik Meili yang coba menghibur dirinya lalu tersenyum masam.


"Han... ada seragam buatmu... minta sama Dede di atas... sekalian ajak Meili kenalan sama Dede dan Cici..."


Ci Cun tau-tau udah berdiri dekat mereka, sedikit menyimak percakapan sebelumnya. Saat Hanie dan Meili udah naik ke lantai dua, Ci Cun mengusap kepala putranya dengan sedikit kasar... seperti mau menyalurkan sebuah tenaga baru di kepala itu.


"Jangan loyo Koko, jangan terus-menerus terbawa keadaan... kamu lelaki harus optimis, anggap aja hanya terpisah sementara waktu, kamu pasti akan menemukannya lagi... Masih ingat kita kepayahan menunggu Cici keluar dari keadaannya dulu, hari ini semua berbeda. Mama berdoa kelak kamu pasti menerima kebahagiaanmu sendiri..."


Tenry mengangguk-angguk kecil, dan menatap sekilas mamanya dengan sebuah senyum walau hanya segaris.


Ada waktu untuk bersedih, ada waktu untuk berbahagia... ada waktu untuk memeluk ada waktu untuk melepaskan pelukan... Untuk segala sesuatu ada waktunya di bawah matahari, kita hanya perlu memelihara pengharapan tentang apa yang baik yang belum dijinkan oleh waktu berada dalam genggaman...


Semangat Tenry Vincent Tanos....


.


🦋


.


Hi...

__ADS_1


Makasih utk atensi kalian semua... Semoga part ini menghibur ya... double up... 💚


~~Bolak-balik ngedit menghilangan byk kata sejak semalam, gak tau bgn mn yg mengganjal di part ini, hingga susah utk lolos terbit 😒🤔 ~~


__ADS_2