
"Baby... udah siap-siap?"
"Udah... Koko kenapa belum ganti baju?"
"Nanti... Ini... punggung Koko gatel..."
Holly baru keluar dari kamar mandi segera mendekati suami yang sedang berusah menggaruk di bagian punggung.
"Sini... biar Lingling aja..."
Tangan kecil itu mulai menggaruk, terhenti kemudian saat Tenry melepas kaos.
"Eh Koko mau ngapain?"
"Gak kerasa kalau pakai baju..."
"Oh... kirain..."
"Kirain apa? Hmmm... nih otak kecil udah mulai gak normal...."
Tenry menoyor kepala Holly, sang istri hanya tersipu sambil menggaruk punggung suami, berputar mengitari punggung sampai pinggang sesuai arahan sang suami.
"Udah Ko...."
"Belum sayang, ke bawah lagi.... nah di situ..."
Menggaruk lagi beberapa second...
"Udah ya... kalau terus-terusan digaruk entar rasa gatalnya gak habis-habis... Dari yang Lingling baca... kalau digaruk terus rasa gatal akan semakin bertambah akibatnya permukaan kulit jadi iritasi, nanti bakalan terasa perih dan sakit... gitu..."
"Lingling baca di mana?"
"Di hp lah, Lingling suka baca artikel kesehatan..."
"Oh... Koko kira cuman nyari tahu soal malam penganten aja..."
"Ihh... gak dong... Lingling juga suka browsing banyak hal... gak cuman tentang itu..."
"Oh ya? Bukan hanya soal se*ks aja nih, semuanya Lingling udah tau kayaknya..."
Badan Tenry berbalik menghadap istri. Mata menyorot usil dengan dua alis yang diangkat.
"Ihh... Koko, Lingling gak semesum itu kali... ahh..."
Istri menjauh dengan tampang kesel manja.
"Hahaha... gak papa kok mesum, Koko seneng kok... jadi lancar untuk bereksperimen karena istri Koko udah menguasai teorinya..."
"Koko... Lingling gak suka dibilang kayak gitu..."
Istri yang merajuk keluar dari kamar, dengan airmata udah turun ke pipi, malu diledekin suami. Dia gak tahu apa-apa soal hubungan suami istri makanya dia nekat membuka dan mencari tahu itu di ponselnya.
"Baby... sayang..."
Tenry mengejar istrinya setelah mengenakan kaos, di dekat lift dia berhasil meraih tubuh istri.
"Ehh... nangis ternyata... sayang... Koko keterlaluan ya... Koko becanda tadi..."
"Gak mau Koko ngomong kayak gitu... Lingling malu dibilang mesum... Lingling gak tahu kan makanya nyari informasi...."
Airmata masih keluar dari ujung mata.
"Gak bermaksud begitu sayang.... sorry ya..."
Tanpa menunggu respon istri Tenry mengangkat tubuh kecil itu, memeluk sambil kembali ke kamar, berhenti sejenak di depan kamar lalu memberi beberapa ciuman di bibir istrinya.
"Gak marah lagi kan?"
__ADS_1
Sebuah anggukan kecil membuat Tenry melancarkan lagi serangan manis. Istri kecilnya gampang dibujuk, disayang-sayang aja langsung luluh.
"Becandain gitu aja ngambek... masa gak bisa lihat muka Koko gimana..."
Reaksi Holly hanya memukul manja bahu suami dengan mimik antara senang dengan perlakuan suami sedikit malu dengan reaksi merajuk yang ketahuan, juga sedikit rasa kesal dibilang mesum. Tenry mendudukan istri di tepi tempat tidur.
"Bentar ya Koko ganti baju, kita pakai yang casual aja kan... acaranya kayak gimana?"
"Gak ada acara khusus kok, hanya menjamu makan tetangga sekitar rumah aja..."
"Katanya papa ngundang orang sekampung..."
"Oh...gak jadi ternyata... papa udah gak pulang rumah semenjak marahan sama mama... jadi mama yang mengurus semua ternasuk siapa aja yang diundang..."
"Gitu ya... Lingling gak sedih kan, papa kayak gitu, gak hadiri nikahan kita..."
"Sedih sih, tapi Lingling masih ingat motivasi dari salah satu dosen Lingling, gak semua hal berjalan seperti yang kita mau... jika ada hal buruk terjadi jangan cepat-cepat kecewa, berbesar hati aja karena belum tentu yang buruk itu benar-benar buruk... kan kejadian Ko... papa kayak gitu tapi di satu sisi Lingling jadi tahu masih punya opa sama oma serta banyak saudara mama lainnya, ada ii Yun sama ii Lely ternyata..."
"Wah ini istri Koko udah bisa berbesar hati ya... tapi kenapa sama Koko gampang merajuk ya... apa karena Koko terlalu sayang?"
"Hehehe.... kan sama istri harus sayang..."
"Maunya disayang-sayang terus... tapi besok-besok jangan suka merajuk loh kalo hanya hal-hal kecil... entar gak dewasa-dewasa...."
"Hehe... iya... iya..."
.
ð
.
Papa Dol ternyata hanya bermulut besar aja mengancam akan membuat ricuh di acara resepsi kedua, ternyata malahan tidak menunjukkan batang hidungnya. Tamu-tamu terbanyak dari masyarakat kampung nelayan ini, sedangkan keluarga papa Dol gak ada yang muncul. Itu aja mungkin yang bisa dia lakukan, melarang keluarganya hadir semacam tindakan tidak merestui. Mama Ibeth tenang-tenang aja melayani semua kenalan dan tetangga.
"Ma... papa masih lanjut marahnya ya..."
"Maaf ma... gara-gara pernikahanku.... mama sama papa jadi punya masalah..."
"Bukan Holly, sama sekali bukan kamu penyebab masalah di antara mama dan papa, udah sejak lama mama menahan ini semua, tiga puluh tahun mama menunggu papa berubah... sekarang mama menyerah soal papa, mama udah cape hidup mengikuti cara dan kemauan papa... mama udah ngalah selama ini, dan mama udah gak bisa kompromi lagi sekarang..."
Mama rupanya merasa cukup telah bersikap toleran sebelum ini, dan terlihat ketidakhadiran suami tidak berpengaruh lagi untuk dirinya. Terlebih ada keluarga pihak mama yang punya hati yang terbuka dan terlihat ingin memperkuat kembali hubungan dengan mama. Kehadiran dan support opa oma dan adik-adik mama mungkin menjadi penghiburan buat mama, sekaligus membuat mama bisa tetap berdiri kuat
"Papa di mana sekarang?"
"Gak usah kamu pikirin, gak usah dicari juga... dia gak akan datang ke sini, ada opa sama oma... papamu pasti takut bertemu opa..."
"Mama gak pernah ngomong sama papa lagi?"
"Udah Holly... tapi ya... udahlah, ini hari bahagiamu... udah menyapa teman-temanmu?"
"Hehe, udah kok... lagian gak ada yang bener-bener temenku, sekarang aja baru mereka baik sama aku..."
"Ya udah..."
Mama kembali beranjak mengontrol persediaan makanan. Opa ikut memesan katering pada salah seorang ponakannya di sini karena ada tambahan keluarga pihak mama yang tinggal di kota ini yang turut diundang. Jadinya sepuluh tenda di sepanjang lorong ini penuh dengan meja prasmanan. Gak ada acara resmi, pasangan penganten juga hanya memakai pakaian casual karena sebentar lagi akan menuju ke negara tetangga buat honeymoon.
"Baby... berangkat sekarang ya... pamit aja dulu sama opa oma..."
"Mama sama papa udah pulang Ko?"
"Belum... sekalian pamit ke mereka juga... mereka ada di bagian ujung sana... ayo..."
Tenry mengamit posesif lengan Holly melewati undangan sambil tetap senyum, ada banyak orang yang selalu memperhatikan mereka, ada banyak orang yang ingin tahu karena penasaran dengan sosok Tenry, terutama soal seberapa kaya orang yang mempersunting gadis kecil salah satu penduduk di lorong ini.
Di antara orang-orang yang duduk makan di tenda-tenda ini ada juga yang menyimpan rasa penasaran soal mama Ibeth yang langsung menjadi topik utama dunia pergunjingan di kampung pinggiran kota ini. Berita tentang mama Ibeth yang anak pengusaha kaya di sebuah pulau membuat banyak orang jadi pengen kepoin keluarga Holly.
Apalagi dandanan mama Ibeth yang sekarang berubah jauh... mama sukses mengubah dirinya, berhasil menurunkan berat badan dalam tiga bulan, gak kelihatan sebelum ini karena tersamarkan oleh daster. Mama ngecat rambutnya jadi coklat keemasan, tampil lebih mengkilat karena perhiasan mas dari oma yang sekarang menempel di leher tangan dan telinga.
__ADS_1
Kehidupan memang dekat dengan perubahan... Mama memilih berubah, memilih berdamai dengan orang tua, mengikat lagi hubungan yang terputus meskipun konsekuensinya adalah hubungan dengan suami justru merenggang.
.
"Opa... oma... Holly mau berangkat sekarang ya... Holly pamit ya..."
"Oh iya... iya..."
Opa Dani mengulurkan tangan memegang kepala Holly sejenak lalu menekan lembut hingga bibirnya bisa melepaskan satu kecupan di bagian atas kepala Holly, oma juga melakukan hal yang sama, mendoakan perjalanan bahagia cucu mereka.
Mama Cun sama papa Siong ternyata menunggu anak-anak mereka berangkat dulu baru siap untuk pamit pulang, karena memang gak ada acara lain di sini selain makan siang aja.
"Masih keburu Ko?"
"Iya, dua jam lagi ma..."
"Koper kalian udah di mobil ya..."
"Nso... beliin semua pesenanku loh... jangan gak..."
Ivy memeluk lengan Holly. Secara postur dia lebih besar tapi secara hubungan dia harus menghormati istri Kokonya.
"Bikin repot aja kamu De... Koko gak akan keluar dari hotel..."
Tenry ngomong sambil nyengir karena langsung dicubit Holly di pinggang.
"Eh... kenapa?"
"Gak kenapa-napa..."
"Jadi untuk apa ke sana kalau gak jalan-jalan... Koko aneh deh..."
"Anak kecil mana ngerti... hahaha... mau ke mana aja, ke ujung dunia sekalipun... tempat yang paling menarik buat suami istri baru tuh ya di dalam kamar..."
Beyvie ngomong sambil senyum-senyum pada Holly.
"Hahh? Kok gitu, Dede nanti kalau bulan madu mau ke 7 negara di tiap benua..."
"Masih jauuuh De... jangan diomongin sekarang..."
Beyvie menjawil pipi adiknya.
"Udah berangkat sana... udah pamit mamamu Holly?"
"Udah Ci Cun..."
"Eh?? Udah jadi mama loh..."
Si mama Cun protes tapi langsung cipika cipiki melepas menantu barunya. Pipi Holly memerah, masih canggung mengubah panggilan.
"Belum terbiasa ma, Ko Kiki aja awal-awal masih suka salah..."
Beyvie juga ikutan cipika cipiki ke adik ipar..."
"Hati-hati ya... nikmati liburannya..."
Semua melambai saat mobil pasangan penganten baru meninggalkan mulut lorong, tempat Holly dibesarkan.
.
ðĶ
.
Hi... makasih utk semua atensi &apresiasi buat cerita ini...
Sibuk guys, bukan liburan... ada di sebuah acara... merasa terhutang jika gak nambah episode... so nulis aja di saat rehat walau mungkin agak hambar ðĪŠ
__ADS_1
.