Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 103. Salah Kamar


__ADS_3

Pertengkaran hebat mama dan papa tak terelakkan membuat mama mengeraskan hati memberi ultimatum...


"Dol... ini terakhir... ini terakhir aku minta padamu..."


Mama akhirnya lelah dengan semua hal menyangkut rumah tangganya. Amarah masih menguasai hatinya dan merasa percuma telah menyemburkan semua kata tentang kelakuan suami yang tak bisa dia terima, terutama sekarang anak bungsu sedang membutuhkan restu sang papa. Suaminya tetap bertahan dalam keegoisan dan keangkuhannya.


Mama Lisbeth menarik napas berat mencoba menghalau emosi tinggi di kepalanya...


"Hadiri pernikahan anakmu, dampingi dia dalam acara pemberkatan dan acara resepsi... kalau kamu tetap tidak mau... berarti... saatnya aku mundur, cape menunggumu berubah... aku mengorbankan keluargaku, cita-citaku dan hidupku untuk orang sepertimu... baru sekarang aku merasakan itu sia-sia..."


Mama berkata dengan suara rendah berbalut sakit hati yang kini meluap lewat kata-katanya. Airmata yang tercurah menunjukkan keadaan hatinya yang sekarang.


"Aku bertahan hidup dengan orang yang tidak sepenuhnya mencintai diriku, orang yang tega padaku membiarkan aku menderita sepanjang jadi istrimu, membanting tulang sendiri membiayai tujuh anak... aku menyerah, aku gak sanggup lagi menghadapi dirimu... Aku menunggumu datang di pernikahan Holly kalau kamu gak muncul... aku akan pulang ke rumah papa..."


"Oh... jadi kamu mau pisah hah?? Kamu makan racun dari keluargamu! Sudah aku bilang dari dulu keluargamu tidak menyukaiku, ingin memisahkan rumah tangga kita, ternyata sampai sekarang mereka masih sama! Itu yang membuat aku tambah marah Ibeth, kenapa kamu undang keluargamu datang ke acara ini... aku memang mau menunjukkan pada Tenry dan keluarganya bahwa aku tidak suka cara mereka, sekarang kamu tambah dengan kehadiran keluargamu... jangan salahkan aku kalau aku tidak ingin datang..."


"Hah? Jadi hanya keluargamu yang boleh hadir begitu? Kamu suami egois, papa egois gak bertanggung jawab, gak punya rasa sayang untuk anak-anak, untuk aku... ya.. kamu manusia seperti itu..."


Mama membulatkan hatinya mengucapkan kalimat terakhir untuk suaminya, ini keputusannya sejak dia kembali dari rumah orang tuanya...


"Dengar... rumah ini akan aku jual, Herlina dan Helny akan punya rumah sendiri pemberian papaku, tiga anakmu yang lain akan ikut aku pulang... aku... aku gak sudi memikirkanmu lagi... kamu harus berubah sebelum menemuiku..."


Mama menghapus airmatanya, cukup tangisan untuk kepedihan hidup bersama suami. Mama Ibeth kemudian beranjak meninggalkan rumah dengan menenteng tasnya sendiri, tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan suaminya.


"Lina... ayo ajak semua kita berangkat sekarang... Yosie, bawa mobilnya... papa kalian gak berhak menggunakan itu, mobil itu disewa untuk digunakan di acara ini bukan buat dia ke sana ke mari gak ada tujuan..."


"Hofny gak tau di mana, dia belum tahu kita mau nginap hotel..."


Henny teriak menjawab mamanya yang sudah menuruni jalan paving.


"Tinggalin dia, kelakuannya mirip papamu, nanti dia permalukan kita di sana..."


Hellen masih coba membujuk sang papa...


"Pa... ayo ikut, sayang loh... kita nginap di hotel baru sekarang... ayo pa..."


"Gak!! Gak sudi bertemu orang tua yang sudah melukai harga diriku..."


"Siapa?"


"Orang tua mamamu... dia, mamamu memilih mereka hah?? Bilang sama mamamu jangan cari aku lagi!!"


.


🌪


.


Sesuatu yang ideal di dunia yang sempurna, siapa yang tidak menginginkannya... tapi dunia Holly tidaklah sempurna. Idealnya sebuah pernikahan dihadiri oleh orang tua yang lengkap. Seharusnya sang papa mengantarkan anaknya ke pelataran untuk pemberkatan, menghentar putrinya kepada lelaki yang akan mengambil tanggung jawab sang anak perempuan dari orang tuanya...


"Beth... bagaimana? Suamimu tidak akan datang?"


"Masih ditelpon si Hellen... aku... udah gak berharap dia datang pa... biarkan saja."


Opa sudah rapih dengan setelan jas hitam dan dasi kupu-kupu, untuk usia tujuh puluh tahun tubuhnya masih segar-bugar. Sejak satu jam yang lalu sudah bergabung di kamar anak tertuanya.


Opa dan seluruh keluarga pindah menginap di hotel ini, setelah tahu Holly akan dijemput keluarga mempelai pria di hotel ini. Opa juga meminta anak tertua dan cucu-cucunya untuk ikut menginap, sekaligus ingin lebih dekat lagi dengan cucu-cucu dan cece-cecenya.


Hellen masuk kamar mamanya...


"Ma... papa gak mau datang..."


"Ya udah... gak usah kamu telpon lagi... opa aja yang mendampingi Holly dan mama..."

__ADS_1


Wanita yang baru sekarang berdandan cantik, dengan tubuh yang terlihat lebih kurus, berdiri dengan hati tegar, tak ingin terbebani lagi dengan keadaan suaminya.


"Ayo pa... ma... kita ke kamar Holly, Tenry sudah di perjalanan, bentar lagi sampai..."


"Oh... keluarga Tenry gak nginap sini ya? Ayo oma..."


Hellen bertanya sambil mengamit lengan sang oma.


"Mereka di hotel dekat tempat resepsi..."


"Perhiasan oma asli atau imitasi?"


Mata Hellen langsung tertuju pada leher tangan dan telinga si oma.


"Asli mas putih... masa oma pakai yang imitasi..."


Oma menjawab kalem sambil menepuk tangan cucunya di lengannya.


"Hadeeh... kalau aku tahu punya oma opa yang duitnya banyak... udah lama aku ke kampung... hidup kita susah banget oma, beli hp aja yang murah second lagi..."


"Ma... harap maklum, anak-anakku matre semua, Holly aja yang gak banyak nuntut, makanya dia dapet balasan yang baik... dapat suami yang baik dan sayang dia..."


Mama Ibeth yang berjalan di depan bicara dengan pelan tapi bernada sedih mengingat keadaan hidup yang dijalaninya selama ini.


"Itu salah mama... coba mama gak pisah dari opa oma, pasti kita hidupnya berkecukupan... opa tahu, aku beli baju aja harus nilep uang belanja mama..."


"Sudahlah Hellen... mamamu gak salah, opa yang salah hingga mama gak bisa pulang..."


Opa bicara tanpa menghentikan langkah.


"Sebelum pulang... kalian boleh belanja semua kebutuhan kalian... tapi ikut opa pulang kampung, jangan tinggal di sini lagi..."


"Bener opa? Oww... akhirnya hari seperti ini datang juga..."


"Iya... opa..."


.


.


Di kamar Holly, sebuah kamar terbaik di hotel ini...


"Opa... makasih mau menggantikan papa mendampingi Holly..."


"Iya... nak, opa malah bersyukur masih melihat cucu opa menikah, Holly cucu pertama yang opa lihat dengan mata sendiri pernikahannya... opa senang ada di sini..."


"Mama cantik... mama kurusan juga, hehehe mama diet ya untuk nikahanku?"


Mama Lisbeth hanya tersipu dan mengusap lengan anaknya... hubungan mereka berdua semakin baik aja.


Hanie kemudian masuk kamar...


"Tenry dan keluarganya udah di lobby... siap-siap..."


"Han... panggil ii Yun dan suaminya, untuk menyambut di depan kamar..."


"Udah nunggu kok di luar, ii Lely sama suami juga udah di sana..."


Akhirnya...


Di depan kamar Holly, ritual menyambut keluarga mempelai pria dilakukan oleh keluarga mama Ibeth, gak ada satupun keluarga papa Rudolf yang muncul di sini. Beberapa kalimat penyambutan disampaikan oleh suami dari ii Yuanita. Juru bicara keluarga Tenry juga maju mengucapkan beberapa kata diselingi gurauan untuk mengikis ketegangan, terutama di wajah mempelai pria.


Ada beberapa keluarga dekat yang ikut dalam penjemputan. Tenry berdiri diapit Ko Siong dan Ci Cun, di belakang mereka ada Beyvie dan Suami serta Ivy yang membawa sebuah kotak berisi perhiasan.

__ADS_1


"Tenry disilahkan mengetuk pintu..."


Suara suami tante Yuanita semakin menabuh debaran di wajah Tenry.


"Ketuk yang keras, Tenry... jangan-jangan Holly masih tidur...."


"Hahaha..."


Suara tawa pelan dari beberapa keluarga terdengar. Wakil dari keluarganya memang sengaja bergurau melihat sikap Tenry yang tambah grogi.


Tenry menghembuskan napas menenangkan diri, sejak pagi dia memang gak bisa tenang dan semakin dekat untuk melihat Holly dia semakin gugup. Tangan kanan yang sudah mengetuk satu kali, akhirnya mengetuk lagi dengan lebih keras. Mungkin kalau dia datang sendiri hanya untuk menjemput biasa gak akan segugup ini, tapi harus melewati tradisi seperti ini beda ternyata.


Pintu terbuka... Hanya Hanie yang terlihat muncul dari sana dan berdiri tepat di tengah ambang pintu...


"Maaf... mencari siapa..."


Tampang Hanie sangat serius sengaja tidak menatap Tenry tetapi menatap orang-orang di belakang Tenry. Kalau bukan bagian dari tradisi mungkin Hanie sudah mendapatkan bogem mentah dari sahabatnya.


"Saya... Tenry Vincent Tanos, mau menjemput calon istri saya, Holly Yulvyana Chandra, untuk dibawa ke Rumah Tuhan untuk menerima Pemberkatan Pernikahan dan akan dilanjutkan dengan acara Resepsi..."


Dengan bergetar Tenry mengucapkan kalimat pertama yang wajib dia ucapkan... masih ada hafalan lain yang dia akan ucapkan nanti, dan yang ini lancar jaya.


"Mungkin salah kamar..."


Hanie masih bersikap serius. Memang ini seperti basa-basi yang tidak perlu, tapi begitulah, Hanie rupanya sudah menyiapkan ini untuk mengerjai teman terbaiknya yang gak dia sangka jatuh cinta pada adiknya.


"Han... aku yang booking kamar ini, gak mungkin salah, lagian kamu yang bukain pintu masa salah sih... minggir..."


Tenry yang jengkel meninggalkan formalitas berkata dengan nada kesal pada sahabatnya. Diikuti tawa semua orang yang ada di depan kamar itu, biasanya keluarga yang membukakan pintu akan menyilakan mempelai pria menunggu sejenak lalu penganten wanita akan keluar dari sana.


"Penganten prianya udah gak sabar..."


"Hahaha..."


Hanie berujar dengan mimik meledek sahabatnya, disambung tawa keluarga mereka. Hanie bergeser dari sana dan memberi isyarat ke dalam ruangan. Holly perlahan muncul, berhenti tepat di tempat Hanie berdiri sebelumnya dia juga gak kalah gugupnya dengan Tenry.


"Tenry... disilahkan membuka sedikit veil pengantin wanita... mungkin beneran salah kamar kita... jangan sampai pengantinya tertukar..."


Wakil keluarga Tenry bicara sekarang.


Tenry mengangkat veil yang sebenarnya transparan, wajah Holly bisa terlihat jelas, tapi karena ini bagian dari kebiasaan maka Tenry mengangkat sedikit kain mirip jala tipis itu lalu matanya bersirobok dengan mata Holly. Tenry tersenyum... ini cintanya, memang gak mungkin salah orang.


"Ini istri saya..." cetus Tenry kemudian.


"Maaf Tenry, ini masih calon istri ya..."


Suara tawa kembali terdengar. Selanjutnya Ivy maju mendekat, dan Ci Cun mulai memasangkan perhiasan di leher, telinga dan di tangan Holly.


Suasana indah mulai terasa di sini, sementara Ci Cun memasang pakaian mas (istilah di sbgn keluarga di sini) yang didisain khusus untuk Holly, sebagai tanda penerimaan calon menantu yang baru, Tenry menatap Holly dengan semua perasaan yang dimilikinya untuk gadis ini.


Akhirnya, mereka akan menikah, dalam beberapa jam mendatang, dia akan kembali ke kamar hotel ini dengan status yang berbeda...


.


.


Hiiii.... bentar lagi, Holly dan Tenry resmi jadi suami istri... perlahan aja ya... maaf kalau alurnya selow....


.


🦋


,

__ADS_1


__ADS_2