
Holly gak yakin kalau antara Brill dan Aldea punya hubungan lebih dari teman seangkatan, gak ada interaksi yang menunjukkan itu, jika pun mereka ngobrol itu Dea yang mulai dan terbaca sekali cara Brill menanggapi, dingin dan tak acuh. Mungkin Dea suka, karena sejak Holly tergoda mengamati keduanya, Holly banyak kali mendapati Dea yang menatap Brill, memilih berdekatan dengan Brill. Holly juga menyadari Dea gak bersikap ramah padanya seperti pada Joy dan Faithly.
Holly merekam juga dalam ingatannya lirikan sinis Dea padanya ketika naik dan turun dari perahu boat saat menyeberang ke pulau ini, dirinya yang dibantu Brill, sebuah bantuan yang gak bisa dia tolak karena dia takut bahkan pusing saat naik ke perahu, reaksi tubuh yang membuat dia pasrah juga saat Brill duduk bersamanya dan merangkul tubuhnya selama menyeberang.
Malam hari, waktu untuk makan malam.
"Ly..."
Gak ada sahutan, sosok yang dipanggil sedang melamun sambil memandang ponselnya.
"Ly... woiii... cepetan dong, anak-anak udah di resto semua... tinggal kita berdua aja di sini... serem juga tau gak dapet kamar isinya hanya kita berdua di tengah laut begini..."
Holly masih khusyuk menatap benda pipih warna putih di tangan.
"Ya ampun Ly..."
Joy memegang dua sisi wajah Holly jadinya karena ucapannya gak ditanggepin.
"Napa kamu... dari tadi mantengin hp, nungguin apa sih, signal gak terlalu bagus di sini..."
Sekarang Joy menarik paksa tangan Holly dan berjalan keluar kamar.
"Laper tau gak... perutku gak bisa nungguin kamu selesai tatap-tatapan sama tu hp... ayo..."
"Iya Joy... lepasin tanganku..."
Akhirnya Holly berjalan beriringan dengan Joy di dek kayu yang menjadi penghubung ke area restoran di resort ini. Kamar-kamar di resort ini berada di atas air laut mengelilingi pulau berbentuk hati jika dilihat dari atas. Satu-satunya bangunan yang berada di daratan di pulau ini hanyalah restoran yang bersambung dengan bagian office resort ini.
Di dalam resto bernuansa etnik dan dengan penerangan yang sedikit redup, Holly mengedarkan pandangan mencari rombongan mereka.
"Ly... mereka di bagian luar di sebelah sana..."
Joy menunjuk sebuah area outdoor tempat teman-teman yang lain sudah berkumpul. Mereka menuju tempat itu. Semua personil lengkap, bahkan ada rombongan lain teman-teman Brill dan dua lagi teman seangkatan mereka yang jika di kampus jarang saling sapa, semua duduk mengelilingi beberapa meja dengan berbagai jenis minuman ringan di atasnya.
Joy memilih duduk dekat seorang cowok yang sejak tadi mereka berdua udah saling senyum. Faithly terlihat sedang menikmati bercengkerama dengan beberapa cowok, dia memang paling supel di antara mereka. Dan Brill sedang duduk berdekatan dengan Aldea.
Saat Brill menatapnya dan terlihat hendak berdiri, Holly cepat-cepat duduk di antara Tory dan Sam teman angkatannya, walau gak akrab itu pilihan baik yang tersedia untuknya, karena ada tatapan mengancam dari Aldea sejak dia mendekati area duduk ini.
Holly melepas sendal resort yang tipis dan memasukkan telapak kaki kecilnya di bawah pasir putih yang masih hangat.
"Kamu bisa makanan seafood kan Holly, gak ada alergi kan..."
Tory bertanya sesaat kemudian.
"Bisa kok..."
Holly menjawab pendek, hidup dengan banyak tetangga berprofesi nelayan membuat makanan dari laut akrab dengan lehernya sejak kecil, kadang suka ada tetangga yang membagi hasil tangkapan mereka.
"Gak pengen pesan sesuatu? Malam ini kita bebas pesan apa aja yang kita mau... tuh menunya..."
Tory melanjutkan lagi.
"Gak... aku makannya gak banyak..."
"Minum?"
"Air mineral aja..."
Tory berdiri mengambilkan air mineral di dalam resto, sepertinya Tory bagian seksi sibuk mengurus semuanya. Saat kembali dia membawa dua botol, yang satu nampak berembun karena dingin, Holly mengambil yang biasa.
"Makasih ya... Tor... ini semua biaya perjalanan kita bayar masing-masing berapa?"
Rasa penasaran sejak awal berangkat akhirnya terucapkan. Dia hanya membawa uang cash lima ratus ribu pemberian Hanie tadi.
"Hehe... udah ada yang bayarin... tenang aja dan nikmati aja liburannya..."
"Siapa?"
"Tuh... cowok yang di depan sana..."
Holly mencari sesuai arah telunjuk Victory, dan itu Brill. Cowok itu lagi menatap Holly dalam-dalam. Holly segera memalingkan muka.
"Brill beda sekarang ya... dulu malas kuliah, malas bersosialisasi sama kita, kayak tertutup gitu..."
__ADS_1
Cowok yang duduk dekat mereka yang seangkatan dengan Brill ikut nimbrung.
"Dulu semester satu dan dua, nilainya anjlok semua, banyak yang patah (nilai E mksdnya)... tapi kayaknya kuliah bareng kalian dia jadi punya motivasi untuk belajar..."
Holly hanya menyimak, pantas sekarang Brill banyak mengontrak Matkul semester bawah bareng Holly, begitu toh ceritanya.
Akhirnya makanan datang, semua menu seafood tentu saja. Para cowok tampaknya menikmati semua menu yang tersedia, semua makan dengan lahap. Holly hanya makan sekedarnya, moodnya sedang gak baik.
Ponselnya bunyi kemudian, raut wajahnya ceria seketika, bunyi yang ditunggu sejak semalam dan sepanjang hari ini sukses bikin dia baper. Holly menjauh...
"Halo Koko... Koko..."
Panggilan kedua dijawab...
"Ko... signal di sini jelek..."
Gak ada suara... beberapa detik akhirnya Holly duduk dengan kecewa karena signal kali ini yang menjadi penghalang untuk meluapkan rindu sekaligus rasa geramnya pada kekasih hati.
Setelah mengirim chat memberitahu dia di mana, status chat masih centang satu tapi Holly menyimpan ponselnya ke saku celana kulot hitamnya. Rasa risau tentang Koko belum pergi, tapi sudahlah udah datang sejauh ini, gratis lagi... nikmati aja liburannya.
Malam mulai larut, gak ada yang beranjak kembali ke kamar, Joy takut untuk ke sana jika belum ada tetangga kamar yang kembali, terpaksa Holly ikut bertahan duduk di sana.
Entah siapa yang mulai, rombongan mahasiswa satu jurusan tapi beda angkatan itu sudah masuk ke dalam resto dan mulai ganti-gantian bernyanyi di panggung kecil, ada perangkat alat musik di sana, ada live music sejak tadi. Sekarang yang memainkan alat musik adalah Brill dan teman-teman, lumayan bagus, mungkin sering ngeband bareng.
Dan... giliran Brill yang nyanyi, sejak tadi di menolak dan memilih memainkan guitar listrik aja.
"Ehmm... teman-teman, aku mau nyanyi spesial untuk seseorang di sini..."
Mata Brill mengarah pada Holly sejenak, ada senyum di wajah itu, sangat lembut. Holly jengah karena tahu seseorang yang Brill maksud adalah dirinya.
Beberapa lagu terkenal dari penyanyi Tulus bergema di resto ini, iringan musik yang pas juga cara Brill bernyanyi sejenak mengalihkan atmosfir sehingga semua menikmati live music kali ini, jadi seperti menonton grup band kenamaan yang sedang perform. Setelah lagu kedua Holly juga mulai menikmati dan sedikit terpukau, kalimat pengantar tadi serta cara Brill bernyanyi... menutup mata menatap alat musik yang dia mainkan kemudian beralih tepat di mata Holly... Seperti seseorang yang sedang mengungkapkan sebuah rasa yang terpendam. Saat menyanyikan lagu Judika, Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik-baik Saja, mata Brill tak lepas dari Holly.
.
...🎵...
...Andai aku bisa memutar waktu; Aku tak ingin mengenalmu...
...Mengapa ada pertemuan itu; Yang membuat aku mencintaimu?...
...Semua tentang dirimu...
...Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?; Tak seperti kamu...
...Yang mampu tanpaku; Bagaimana...
...Mungkin kini kau bersama yang lain; Walau hatimu untukku...
...Adakah kesempatan untuk cintaku?; Bahagia walau kita berbeda...
...Mungkin kamu bukan untukku; Tapi kau selalu di hatiku; Bagaimana...
...🎵...
.
Holly menunduk, Brill begitu menyatu dengan lagu itu, dan itu menggetarkan seorang Holly. Suaranya yang lembut serta ekpresinya Holly tahu ada sedih dan luka dalam setiap lirik yang dinyanyikan. Dia jadi gak baik-baik saja sekarang, sejak tadi menikmati semua lagu-lagu lewat suara emas Brill seperti sedang mendengarkan pernyataan cinta lagi dengan cara berbeda dari orang berbeda. Jika saja di hatinya belum terisi cinta Tenry, mungkin dia paling hepi saat ini.
Pernah mengalami seseorang menyatakan rasa sayang lewat lagu, atau hanya di novel bisa membaca keindahannya... Buat Holly, ini terlalu indah dan sakit bersamaan... Holly limbung sesaat.
Tepukan tangan dan suitan dari teman-teman bahkan seluruh pengunjung di resto itu menyadarkan Holly. Holly mengangkat wajahnya dan menemukan lagi tatapan lembut Brill padanya.
Teriakan heboh teman-teman masih meminta Brill untuk menyanyi lagi. Brill mengangkat tangan kanannya.
"Oke... oke guys, tapi... aku minta Holly naik ke sini..."
Penolakan menjadi sia-sia, karena suasana malam yang lebih hangat dan menyenangkan telah dimulai oleh penampilan Brill di panggung, membawa Holly ke atas panggung bersama Brill sepertinya jadi keinginan semua teman-teman, kecuali Dea.
Karena tarikan Joy dan Faithly akhirnya Holly naik ke panggung kecil itu, Brill terlihat cool aja dengan senyum kecilnya. Dia sudah mempersiapkan sebuah kursi bulat tinggi tanpa sandaran, seperti yang dia duduki. Saat Holly duduk di sampingnya dengan sejuta rasa di dada dan entah mimiknya seperti apa... Brill menunduk saat memainkan sebuah chord... lalu Brill mendekatkan kepalanya pada Holly, bertatapan sejenak lalu Brill berbisik...
"Selamat ulang tahun ke sembilan belas Holly Yulvyana Chandra..."
Sebuah kecupan datang di pelipis kiri Holly dengan tangan Brill menahan pundak Holly. Holly merasa mau melayang dan mau jatuh bersamaan. Tatapan Brill penuh semua makna tentang rasa yang dia utarakan dengan lagu-lagunya, begitu jelas.
__ADS_1
"Kita ke sini karena ulang tahun kamu, aku pengen ngerayain itu... boleh aku ngomong ke mereka kalau kamu ulang tahun hari ini?"
Masih berbisik, dan Holly yang gak tahu bagaimana harus bereaksi hanya menggeleng, perasaan ambigu antara mau menerima atau menolak apa yang dilakukan Brill untuknya. Gak ada di pikirannya sebelum ini, gak pernah menduga, gak pernah membayangkan bahwa Brill masih menyimpan perasaan seperti ini untuknya, dan barusan mengakui bahwa liburan ini karena dirinya yang berulang tahun.
Seseorang yang menempati tempat tertinggi dalam hidupnya bahkan seperti tak mengingat hari ini, dan Brill justru merencanakan ini, siapa yang gak baper coba. Sejak Brill menyanyi untuknya, Holly sudah merasakan ada debaran di dadanya sekaligus perasaan yang berkecamuk.
Senang dan bahagia iya, akhirnya ada yang mengingat hari spesialnya, tapi secara bersamaan merasa Brill melakukan sesuatu yang gak layak dia terima, dan muncul juga perasaan takut apakah ini bisa masuk kategori selingkuh.
"Kak Brill... makasih untuk semuanya... tapi aku turun aja ya... gak enak diliatin anak-anak..."
"Kalau mau bilang makasih, temenin aku sampai selesai nyanyi..."
Tak kuasa menolak, Holly mengangguk di bawah tatapan Brill yang kini biasa lagi, secepatnya di bisa menetralkan hatinya, berbeda dengan Holly yang kini berkeringat dingin.
Brill memegang mic.
"Aku pengen nyanyi 1000 Tahun Lamanya... Aku baru nembak dan ditolak guys... hehehe, tapi ini jawabanku..."
Intro lagu mulai dimainkan, dan Holly menatap Brill yang sekarang tersenyum padanya...
"Kak Brill gak nembak aku kan tadi, aku juga gak nolak..."
"Jadi... kamu terima aku sekarang?"
"Hahh... gak gitu juga Kak Brill... aku udah punya pacar..."
"Hehehe... ayo nyanyi..."
Bril masih tersenyum lalu mulai menyanyikan lagu dari Tulus...
Cinta itu rumit, aku sayang kamu tapi kamu sayang dia, dan aku mau menunggu walau itu seribu tahun... alamakkk Brill...
.
...🎵...
...Bila kau sanggup untuk melupakan dia; Biarkan aku hadir dan menata...
...Ruang hati yang t'lah tertutup lama; Jika kau masih ragu untuk menerima...
...Biarkan hati kecilmu bicara; Kar'na ku yakin 'kan datang saatnya, ho-wo-uh...
...Kau jadi bagian hidupku; Kau jadi bagian hidupku...
...Walau harus menunggu s'ribu tahun lamanya (Biarkanlah terjadi, wajar apa adanya)...
...Walau harus menunggu s'ribu tahun lamanya, uh-uh...
...Jika kau masih ragu untuk menerima; Biarkan hati kecilmu bicara (bicara)...
...Kar'na ku yakin 'kan datang saatnya, ho-wo-uh...
...Kau jadi bagian hidupku; Kau jadi bagian hidupku...
...Walau harus menunggu s'ribu tahun lamanya (Biarkanlah terjadi, wajar apa adanya)...
...Walau harus menunggu s'ribu tahun lamanya...
...Selama apa pun itu; Ku akan setia menunggu...
...Takkan pernah berhenti untuk s'lalu percaya, oh (Walau harus menunggu)...
...Takkan pernah berhenti untuk s'lalu percaya; Walau harus menunggu s'ribu tahun lamanya...
...Biarkanlah terjadi, wajar apa adanya; Walau harus menunggu s'ribu tahun lamanya...
...🎶...
.
Selamat menikmati sisa Liburan.... 😁
.
__ADS_1
🦋
.