Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 101. Fase yang Baru


__ADS_3

Mama Ibeth mengikuti perkataan Holly untuk tidak menerima jahitan menjelang acara. Pelanggan diberitahu tidak bisa selesaikan jahitan, mereka yang tidak bisa menunggu bahan mereka dikembalikan. Secepatnya dia menyelesaikan seragam keluarga karena dia punya tujuan penting untuk dilakukan.


Mama Ibeth keluar dari rumah dengan sebuah tas jinjing lumayan besar dan dandanan yang rapih. Pancaran wajahnya berbeda, beberapa keadaan yang menyangkut anak bungsunya merubah satu hal di hatinya.


Melihat Holly seperti melihat dirinya puluhan tahun silam, bedanya sejak dia meninggalkan rumah karena memberontak dan gak pernah satu kali aja dia pulang. Ungkapan Holly merasa tidak disayang tapi sikap Holly yang tetap baik terhadapnya membuat dirinya bercermin. Holly tetap ada, tetap peduli padanya, menumbuhkan apa yang telah lama mati di hatinya, bahwa dia punya orang tua.


Mama Ibeth menunggu sejenak di jalan raya, tak berapa lama Hanie sampai.


"Ma... ayo... kapalnya jam berapa?"


"Jam sepuluh pagi..."


"Mama naik kapal cepat?"


"Iya..."


"Langsung aja kalau begitu..."


Dengan berboncengan mama dan anak lelakinya menuju pelabuhan kota ini yang menghubungkan ke kota kelahirannya. Mama Ibeth mengambil langkah berani pulang menemui orang tuanya, anak harus memulai tali kekeluargaan yang putus. Dia punya alasan untuk bertemu, ingin keluarganya hadir di pernikahan Holly.


"Mama gak papa berangkat sendiri?"


Mereka tiba di pelabuhan dan Hanie merasa khawatir dengan keputusan tiba-tiba sang mama, dia tahu mereka punya keluarga besar di pulau lain di sebuah ibukota kabupaten di utara provinsi ini, tapi mama gak pernah menyebut mereka.


"Iya..."


"Tapi mama udah lama gak bepergian..."


"Mama bisa, sebentar sore udah nyampe... dulu malah dua belas jam perjalanan..."


"Ya udah... udah waktunya naik kapal... kasih tahu kalau udah mau pulang... Jangan lama-lama loh ma, kasihan Holly... acaranya udah deket banget..."


"Gak usah kasih tahu dia, biar dia gak kepikiran..."


"Hati-hati ya... salam untuk keluarga di sana... kapan-kapan aku bakal mengunjungi opa dan oma..."


Mama Lisbeth menguatkan tekad, bertindak melepaskan masa lalu dan ingin mulai memperbaiki apa yang tidak beres dalam hidupnya. Seperti seorang anak yang hilang yang menemukan jalan untuk kembali, demikian mama Lisbeth sekarang. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai, saat menyadari dirinya yang berbuat salah pada orang tua menjadi salah satu alasan kehidupan rumah tangganya yang buruk.


Dulu dia nekad menikah di umur 16 tahun, melawan orang tua yang masih menginginkan dia sekolah. Mamanya yang begitu sayang akhirnya datang membelikan rumah dan memberikan modal usaha. Singkatnya modal habis, rumah yang bagus dijual pindah ke rumah yang sekarang, suami berkali-kali mengecewakan orang tuanya, sampai keluar ultimatum jangan kembali ke rumah. Merasa terbuang maka dia memutus hubungan, sekarang dia menyadari tujuan orangtuanya dulu baik.


.


🌱


.


Tiga hari menjelang hari bahagia...


"Hari ini udah gak masuk kuliah kan kamu?"


"Udah minta ijin sih... seminggu aja..."


Hanie sementara sarapan. Holly tiduran santai di sofa miliknya. Sampai kemarin dia masih beraktivitas normal, pagi kuliah, pulang kuliah langsung ke kafe, mulai belajar masuk di tengah keluarga Tenry, mengikuti beberapa hal yang sudah diatur Ci Cun untuknya.


"Siap-siap Ling... kita mau ke suatu tempat, aku ajak Tenry juga... dia otw ke sini..."


"Han... gak ada kabar dari rumah?"


Holly masih terbebani dengan sikap papanya.


"Kabar apa?"


"Papa... dia gak pernah telpon aku lagi..."


"Mungkin udah sadar... tenang aja, yakin aja semua akan berjalan baik..."


"Takut papa beneran gak hadir acaraku..."


"Ada opa... keluarga kita banyak yang datang..."


"Opa siapa?"

__ADS_1


"Opa Dani, oma Lora... kita masih punya opa-oma orangtuanya mama, mama pulang kampung kemaren, jemput mereka buat hadiri pernikahanmu..."


"Masa? Mama gak pernah bilang..."


"Mama yang memutuskan hubungan dulu, karena papa juga... tapi syukur udah baik lagi..."


"Oh? Mereka tinggal di mana..."


"Jauh dari sini... naik kapal kalau ke sana... makanya mandi sana, kita mau bertemu opa oma, mama udah otw ke sini mau berangkat bareng..."


Holly berjalan perlahan menuju kamarnya, memikirkan kejutan dari mama tentang keluarga besar mama. Selama ini yang dia kenal memang hanya keluarga sang papa yang sering nginap di rumah mereka.


Selesai bersiap, sudah ada suara percakapan di ruang makan. Holly bergegas...


"Mama?"


Ini pertama kali mama datang ke sini. Mama tersenyum menyambut Holly, hati Holly sedikit bergetar saat beradu pandang dengan mama. Ekspresi yang baru ditunjukkan mama, sebuah kehangatan terpancar dari wajah itu, penampilan mama juga lebih segar.


"Udah siap? Kita mau bertemu oma opa..."


"Iya aku tahu... Hanie barusan ngomong... mereka di mana?"


"Di Moy Residence di jalan Bethesda..."


"Mama gak pernah ngomong soal oma opa..."


Holly bersuara pelan sedikit hati-hati.


"Banyak hal yang terjadi dulu, mama gak bisa cerita... yang penting sekarang kita masih dikasih kesempatan bertemu... "


"Yang lain gak ikut?"


"Kita bertiga aja dulu... mama belum kasih tahu mereka di rumah, baru kalian yang tahu... nanti aja yang lain..."


"Mama udah sarapan?"


"Mama lagi mengurangi makan..."


Hanie mendahului mereka turun ke bawah, disusul kemudian Holly dan mama Ibeth. Hampir tidak pernah melihat mama bersikap lemah lembut dan perhatian, telinganya menerima suara mama yang memang powernya besar tapi irama yang ini dan interaksi yang ini... serasa bertemu orang lain, aura mama Ibeth berbeda.


Mama berhenti menunggu Hanie yang berhenti sejenak di meja kasir, menjelaskan beberapa hal pada Silvi yang sudah stand by di sana. Holly segera ke depan, ada Koko yang sedang berdiri bersandar di mobilnya sambil memainkan ponsel.


"Kenapa Koko gak naik? Gak telpon aku juga..."


Gaya baru seorang Holly, manja hanya pada Tenry.


"Selamat pagi... gitu cara menyambut suami bukannya ngomel..."


Tenry berdiri tegak lalu berkacak pinggang dengan tatapan tanpa senyum.


"Suami? Tiga hari lagi itu hehe..."


Holly segera menghentikan tawa juga langkahnya saat melihat tingkah cowok tinggi di depannya.


"Koko ada apa? Kena..pa kayak marah?"


Si Koko tersayang belum berubah dan gak bergerak, biasanya Holly langsung dipeluk atau afeksi lain paling simple tangan langsung digenggam.


"Koko?? Lingling ada salah sama Koko?"


"Ada."


Singkat dan datar, intonasi yang membuat hati Holly menciut, terlebih tatapan si Koko yang tajam... Dalam hati mulai takut juga heran, perasaan kemaren masih baik-baik aja...


"Maaf Ko... apa salah Lingling?"


"Gak tahu?"


"Iiiyaa..."


"Sini..."

__ADS_1


Holly mendekat hanya selangkah, langsung dibawa si Koko ke dalam pelukan.


"Ko?"


"Salah Lingling tuh, selalu bikin Koko rindu..."


Holly mendorong dada Tenry lalu mundur menjauh.


"Ihh... sebel, kirain marah beneran... bohong juga, kalau rindu pasti nelpon Lingling, sejak kemarin sekali doang Koko nelpon..."


"Sibuk sayang..."


"Sibuk terus alasannya..."


"Emang itu alasannya, Lingling harus ngerti ya, Koko seperti ini nanti, tanggung jawab Koko besar sekarang, mama udah gak urusin lagi semua udah harus Koko. Lingling juga harus bisa bantuin usaha kita, jadi gak ada cerita nanti hidup kita berdua santai ya sayang ya..."


"Iya Lingling udah ngerti kok..."


"Setelah ini juga bakalan lama gak kerja kan, mau bulan madu kita..."


"Eh... Lingling seminggu doang ijin mulai hari ini, jadi setelah nikah sisa liburnya empat hari aja...kita gak ke mana-mana kan..."


"Kan mau ke Sg..."


"Kirain becanda mau ke sana..."


"Kan udah ada pasport..."


"Oh iya...hehehe... asyik Lingling akhirnya bisa naik pesawat..."


"Belum pernah?"


"Ya Koko...gak usah nanya, kayak gak tahu hidup Lingling aja..."


Tenry memegang kepala Holly dengan sayang...


"Nanti setiap tahun kita liburan, naik pesawat ke luar negeri..."


"Eh beneran ya... janji ya..."


"Iya... asal Lingling kerja keras juga bantuin Koko..."


"Iya... iya..."


Mata yang bercahaya penuh harap tentang kebahagiaan yang menanti, binar wajah yang membuat Tenry jika boleh memindahkan nirwana bahagia khusus untuk dirinya dan Holly, sehingga cahaya wajah gadis kecilnya tak lagi pudar.


Mama dan Hanie akhirnya keluar juga dari dalam toko.


"Tante..."


Tenry menyapa mama Ibeth...


"Tenry... kita bertemu opa oma Holly ya..."


"Iya..."


Tenry kemudian membuka pintu mobil buat calon mertua.


"Han... kamu duduk di depan ya, aku sama mama..."


Mama dan Holly saling senyum saat Holly duduk tepat di samping sang mama. Mama terlihat senang bisa berdekatan dengan putrinya dengan cara yang lebih indah sekarang. Bahkan orang yang tegar hati berperangai kasar dengan banyak ucapan negatif di mulutnya, bisa tahkluk oleh cinta kasih.


Tanpa Holly sadari perubahan sang mama karena dirinya. Duduk berdua di belakang seperti sedang menenun selimut kehangatan yang melahirkan ngelenyar asing tapi meneduhkan. Dulu Holly pernah merasakan tidak dicintai hanya dibutuhkan oleh sang mama, tapi rasa yang sekarang sedang tumbuh tak terlukis, sebuah fase yang baru tentang hubungan mereka sedang bersemi di jok belakang mobil sedan Tenry.


.


.


🦋


.

__ADS_1


__ADS_2