
Holly menunggu hingga lewat jam sembilan, suami belum muncul juga. Holly meraih telpon di atas nakas lalu melakukan panggilan.
.
📱
"Koko..."
"Koko lagi sama papa... ada ketemu orang, udah makan sayang?"
"Udah... Lingling ngantuk Ko... masih lama?"
"Iya... papa masih ngobrol, Koko juga udah ngantuk sebenarnya... kunci mobil Koko udah dikasih om Fecky?"
"Gak tahu, Lingling udah di atas... terus Koko pulang pakai apa?"
"Koko bareng papa. Tidur aja, gak usah nungguin Koko..."
"Tapi ada yang pengen Lingling omongin... udah Lingling kasih tahu kan..."
"Besok aja... Soal apa sih?"
"Nanti aja... masa di telpon... gak enak... ya udah... Lingling tutup..."
"Echa gimana? Ada masalah apa sih soal Echa, dia gak papa kan? Gak sakit kan?"
"Echa gak sakit, udah bobo... udah ya..."
"Iya... jangan dikunciin pintu loh..."
"Ihh... emang pernah..."
"Hehehe... love you, baby..."
"Iyaaa..."
.
Kehidupan sehari-hari dalam sebuah keluarga di mana aja bisa berjalan gak harmonis, gak menyenangkan dengan banyak keluhan jika ada hal-hal yang gak sejalan. Suami merasa keputusannya untuk istri adalah demi kebaikan, istri sebaliknya merasa gak nyaman karena bukan keinginannya pribadi, dia hanya setuju saja bukan berarti menerima.
Holly gak pernah mendebat karena bila berhubungan dengan mama mertua, Ci Cun yang baik, suaminya sendiri selalu tunduk dan jarang mendebat apa yang diatur, khususnya dalam pekerjaan.
Pagi-pagi... Holly sengaja memasak di rumahnya sendiri, karena dia gak ingin ke rumah mertua pagi-pagi. Semalam belum bisa bicara dengan suami, dia ingin mengambil kesempatan pagi ini.
Holly sedang menyuapi Ezar saat Tenry turun dari atas.
"Kita sarapan di sini?"
Mata Tenry menangkap meja makan yang sudah diatur.
"Iya... Papi minum susu coklatnya dulu ya... nanti keburu dingin... mami selesaiin suapin Echa... baru kita berdua sarapan..."
Tenry senyum saja menganggapi lalu mendekati anaknya yang duduk manis di kursi khusus, tangan singgah di kepala mengelus sejenak.
"Echa makan apa sayang?"
"Mam... papi mam..." [makan]
Echa mengangkat potongan daging masak kecap yang diambil dari piringnya lalu menunjukkan pada sang papi.
"Echa aja... habisin ya..."
"Bentar ya Ko..."
"Iya... sayang..."
Si Koko naik lagi ke lantai atas. Beberapa saat kemudian ketika Tenry turun lagi dengan pakaian yang sudah rapih, dia langsung menuju tempat duduknya untuk sarapan. Echa setelah selesai sarapan dibawa susternya ke rumah Ama.
"Ini Lingling yang masak loh..."
__ADS_1
Holly bicara saat suaminya menyendok bubur putih polos ke piringnya."
"Kenapa repot-repot... entar kecapean kayak kemaren-kemaren... Lingling kerjanya cukup di luar aja, di rumah itu tempat untuk istirahat..."
"Sesekali pengen masakin suami, emang gak suka ya makan masakan istri?"
"Masa gak suka..."
Tenry menyendok lauk buatan istri, menerima telur rebus yang sudah dikupas dari tangan istri lalu mulai menikmati sarapannya. Holly juga menikmati makan paginya dalam diam. Suapan demi suapan bubur polos ditambah telur mata sapi ditelannya sambil memikirkan hendak mulai dari mana membicarakan semua yang terkumpul dan tersimpan di otak dan hatinya.
Holly lebih dahulu selesai seperti biasa karena porsi kecilnya. Dengan tenang dan sabar dia menunggu suami, memperhatikan suami yang hampir menghabiskan makannya...
"Kenapa liatin Koko terus dari tadi..."
Tenry menatap lembut dengan senyum tersungging di bibir lalu mengerjapkan mata, seperti sebuah isyarat pancaran cinta untuk istri.
"Gak boleh?"
Holly menantang tatapan itu dengan seulas senyum pula.
"Udah selesai?"
"Iya... minta air putih, Ling..."
Holly menyodorkan satu gelas berisi air putih ke hadapan suami.
"Echa mana?"
"Dia minta ke rumah Ama..."
"Siap-siap Ling... Koko harus ke luar kota bareng papa hari ini... Koko anterin kalian dulu..."
"Lingling gak ke kafe hari ini..."
Holly menatap lurus tepat di mata suami, bukan meminta pertimbangan tapi merupakan sebuah keputusan. Tenry senyum kecil, ekspresi serius seperti ini sangat jarang terlihat dari wajah mungil istrinya. Tenry jadi ingat ucapan istri semalam.
"Echa kenapa? Dia baik-baik aja kan..."
"Kenapa?"
"Iya... setiap hari dibawa ke tempat publik seperti itu, dia gak bisa leluasa main atau tidur cukup di siang hari, makan pun jadi terganggu... itu kurang baik buat Echa pi... papi perhatiin gak, Echa agak kurusan sekarang..."
"Makanya papi bilang Echa di rumah aja kan..."
"Kalau gitu kita rekrut manajer aja yang buat kafe, biar kerjaan Lingling lebih ringan, Lingling bisa lebih banyak waktu buat Echa..."
"Udah diatur mama kayak gitu... Lingling yang pegang langsung..."
"Apa gak bisa dirubah? Lingling bukannya gak mau kerja loh, hanya minta kayak Koko, ada orang yang ngatur operasionalnya, Lingling tinggal ngawasin..."
"Nanti Koko tanya mama dulu..."
Holly menghela napas. Jika harus minta persetujuan mertua lebih baik gak usah aja...
"Apa gak bisa Koko yang putusin sendiri? Bukannya Lingling mau minta Koko ngelawan mama, tapi ini keluarga kita loh Ko... kita bertiga. Selama ini Lingling gak nyaman sebenarnya dengan keharusan Lingling kerja lagi karena Echa masih kecil, masih butuh banget kehadiran Lingling. Alasan lain karena skripsi Lingling belum kelar juga. Buktinya sekarang... ternyata emang Lingling gak bisa selesaiin skripsinya sambil kerja... waktu semua tersita untuk kerja..."
Tenry memandang istrinya yang dengan lancar mengeluarkan keluh kesahnya. Bukan hanya mulutnya yang lancar bicara tapi juga tetesan air di dua sudut mata mulai muncul.
"Lingling sedih suka dilaporin suster tentang Echa yang gak nyaman seharian di kafe... kemaren itu Echa dipukulin pengunjung kafe, anak kecil sih, tapi katanya nangis lama... emang gak baik Echa di sana seharian Ko, tempat itu paling ramai... Echa gak punya ruang untuk main, untuk bobo siang... Lingling ngerasa Egois ninggalin Echa... dan bawa Echa di tempat seperti itu... kasihan..."
"Ling... Itu udah aturan turun-temurun di keluarga Koko, suami dan istri itu harus kerja, lelaki dan perempuan sama... malah Koko sejak SMP udah bantuin orang tua..."
Tenry menjelaskan kondisi mereka, walau di satu sisi dia dapat memahami istrinya, dia juga kasihan dengan anaknya.
"Mungkin karena waktu itu semua masih serba kekurangan, hidup masih susah kan... sekarang, coba Koko pikir, kita udah punya semua Ko, secara finansial hidup kita udah lebih dari cukup. Bukannya Lingling mau pakai alasan Echa supaya bisa malas-malasan di rumah... tapi Lingling rasa... materi itu bukan hal penting lagi untuk dikejar, anak sekarang yang penting Ko, Echa yang terpenting..."
"Kita berdua kerja keras buat dia kan... buat banyak orang..."
"Ko... emang yang Koko dapatkan sebulan habis digunakan dalam sebulan untuk kebutuhan rumah, untuk kebutuhan anak, atau yang Koko bilang untuk karyawan? Jujur Ko... apa emang harus segitu ngototnya cari duit karena gak mencukupi... kita selalu dapatkan lebih Ko... sangat lebih untuk saving... apa artinya cari duit banyak-banyak kalau Echa kita telantarkan..."
__ADS_1
Tenry tak menampik argumen istri, tapi belum bisa mengambil keputusan tentang itu.
"Kita gak menelantarkan Echa... jangan berlebihan..."
"Lingling gak berlebihan... Udah sering Echa gak makan dengan benar... tapi tadi waktu mami suapin, makannya nambah pi, karena di rumah makannya nyaman... Lingling gak mau nanti Echa udah sakit, udah alamin gangguan makan baru bertindak. Lingling udah lihat gak baik cara pengasuhan kita belakangan ini, masa gak diubah..."
Tenry diam... istrinya jadi benar-benar cerewet pagi ini, berulang-ulang menekankan soal kepentingan Echa dari sudut pandangnya.
"Jangan salah mengerti ya, Lingling hanya minta lebih banyak di rumah sampai Echa lebih besar, sampai Lingling selesai kuliah... Lingling akan keliling ngeliat kerjaan juga, bukan sepenuhnya melepaskan tanggung jawab Lingling... hanya minta kelonggaran Ko..."
Holly menghapus airmatanya yang sedari tadi selalu menetes setiap dia memberi tekanan pada hal yang dia rasa penting.
"Apa Echa kita sekolahin aja, seharian di sekolah sekalian diajarin macem-macem... ada sekolah untuk bayi sekarang..."
"Kooo... itu sih tempat penitipan anak sebenarnya, bukan sekolah... Koko gak ngerti ya maksud Lingling apa? Lingling gak mau ya... kesannya Echa udah menganggu aktivitas kita makanya disekolahin aja... Lingling gak mahuorang lain yang ajarin Echa, belum tentu sama dengan nilai yang kita pegang... ahh Koko ahh..."
Holly merasa sia-sia udah ngasih penjelasan panjang-panjang, udah menyampaikan soal uneg-unegnya, malah berakhir di tempat penitipan anak. Rasa jengkel membuat dia tambah emosi, tangisan kini terdengar.
Holly berdiri dan meninggalkan suami... tangan suami segera mencegat tubuh mungil itu dan menarik merapat dalam pelukannya.
"Ehhh.... belum selesai sayang..."
"Percuma ahh... Koko gak ngerti maunya Lingling..."
"Ada kok sayang... ada... Koko udah pikirin hal itu sebenarnya... cuman maaf Koko sibuk jadi belum merealisasikan apa yang Koko pikirkan... Koko rencana mau buat ruangan khusus untuk Echa di kafe itu, di bagian samping di parkiran bisa buat dua lantai, lantai atas untuk Echa atau kita istirahat... bawahnya tetap jadi parkiran.... itu salah satu solusi yang Koko pikirkan selama ini... tapi untuk sementara... oke... Lingling boleh lebih banyak di rumah dengan Echa..."
"Bener Ko?"
"Iya..."
Ide itu sudah ada sejak melihat istrinya kecapean, melihat anaknya juga gak nyaman di bawa-bawa, tapi begitulah... kesibukan yang padat membuat lupa hal-hal yang telah direncanakan. Tenry tidak bisa sepenuhnya mengikuti keinginan Holly, dia juga harus menjaga kepercayaan orang tuanya pada mereka. Ada banyak solusi untuk mengatasi tuntutan istri, pelan-pelan saja dan satu-satu... Yang terpenting menjaga semuanya aman dan nyaman.
Holly yang berdiri merapat pada pelukan suami, sangking senangnya mendengar jawaban suami wajah tampan itu diserbu dengan banyak ciuman.
"Muaaach... Lingling sayang Koko..."
"Hehe segitu senangnya..."
"Emang seneng..."
Holly tersenyum, tangan masih nangkring di leher suami, suami yang masih duduk juga masih merangkul erat pinggang istri. Posisi istri yang melekat erat padanya menimbulkan sesuatu yang lain sekarang...
"Naik lagi yuk... mumpung Echa gak ada..."
Sebuah kedipan menggoda diberikan suami.
"Ayo... udah lama juga kan... minggu ini kayaknya belum deh, biasanya berapa kali..."
"Diiih... dihitung-hitung ternyata..."
Tenry mencubit gemas pipi istri.
"Biarin..."
"Hahaha... ayo sayang..."
Tenry terkekeh, suasana hati istri dengan cepat berganti.
.
🦋
.
Belum baca ya???
Silahkan dibaca ya...
__ADS_1
.
💙💙💙