
Berbagai pikiran yang mengecilkan hatinya dan yang meruntuhkan semua dinding semangat mendatangi sepanjang waktu sehingga hampir-hampir sepanjang malam Holly gak bisa tidur. Musim hidupnya berganti dengan cepat, lagi... hatinya menjadi suram berbalut kesedihan yang terus meningkat. Semakin dia berpikir semakin bertambah kesedihannya.
Mata dan dua sisi rahangnya sampai sakit karena terlalu banyak menangis ditambah dada yang selalu terasa nyeri setiap mengingat Tenry. Mengingat banyak moment manis berdua sekarang jadi tusukan yang meninggalkan perih dalam hatinya, mengingat semua kebaikan Tenry rasanya seperti menghancurkan jiwa raganya, sepertinya semua yang dia miliki dan yang dia gunakankan sekarang adalah pemberian Tenry. Bagaimana bisa melupakan cinta pertama yang berkesan amat dalam ini?
Jam sembilan pagi gedoran halus di pintu kamarnya terdengar beberapa kali, terasa seperti mimpi seluruh kesadarannya belum datang sepenuhnya, bunyi itu belum berhenti sampai terdengar panggilan menyebut namanya beberapa kali, kemudian ada percakapan yang sayup terdengar. Holly mencoba membuka mata yang sulit untuk mengikuti perintah otaknya, kelopak matanya jadi sulit bergerak mungkin karena sisa airmata jadi seperti lem di mata bengkaknya.
"Lingling..."
Holly sadar, itu suara Tenry. Kepalanya mencari jam dinding memastikan waktu, ini sangat terlambat dari waktu bangun pagi normalnya. Holly berdiri dan hampir terhuyung, rasa pusing sejenak dia rasakan, mungkin karena semalaman terus menangis dan baru tertidur setelah suara doa yang sayup terdengar tadi subuh. Sambil memegang sisi kepalanya dia membuka pintu kamar.
"Heiii... pagi sayang, baru bangun ya..."
Holly sempat melihat Nuella di belakang Tenry yang menunjuk-nunjuk mata seolah ingin mengatakan sesuatu dengan isyaratnya tapi Holly belum bisa mencernanya, baru bangun membuat pikirannya berjalan lambat, dan sekarang Tenry sudah menutup pintu, dia menuju jendela dan membuka lebar jendela di dua sisi kamar, kamar ini memang terletak di hook jadi ada dua bukaan yang membuat sirkulasi udara baik di kamar ini. Tenry kemudian mematikan ac. Sementara Holly orientasi diri dan keadaan masih belum pulih dia hanya duduk di tempat tidur, mulai merasakan tubuhnya tidak enak.
"Ling... cuci muka sama sikat gigi sana, terus sarapan... Ini Koko bawa dari rumah, nasi goreng sama bubur Lingling tinggal pilih, ada telur rebus sama omelet juga..."
Tenry melepaskan kaitan di dua sisi rantang tupp*er click to go warna-warni.
"Koko udah sarapan, agak lambat ke sini karena Koko terlambat bangun, cape seharian kemarin keliling-keliling nyari Cici..."
Lanjut si Koko, setelahnya melihat pada Holly yang belum bergerak dari tempatnya.
"Sayang... kenapa? Masih sakit ya?"
Holly yang mulai menyadari ada apa dengan dirinya akhirnya menunduk menguatkan hati supaya gak menunjukkan sedihnya pada Tenry, tapi gimana caranya, dia bingung untuk menyembunyikan sementara jelas banget pastinya mukanya habis nangis, ini juga dia kesusahan menahan desakan airmata yang minta keluar lagi dari matanya. Tenry menghampiri dan sekarang Tenry berdiri di depan Holly meraih tubuh yang belum mau memandang dirinya, posisi Holly yang duduk direngkuh dalam pelukannya.
"Kenapa pagi-pagi gak semangat gini? Beneran sakit?"
Suara lembut itu membuat Holly semakin patah hati, kepalanya yang bersandar di perut Tenry membuat wajahnya tersembunyi, dan ada tangan besar Tenry mengusap-usap dengan lembut kepalanya. Perlakuan sayang ini membuat bobol sudah, dia lelah menangis tapi otaknya gak bisa mencegah dia untuk gak menangis lagi.
Tenry merasakan sesuatu, ada guncangan kecil di pundak Holly. Perlahan Tenry melepas pelukan dan membawa tubuhnya turun setengah berjongkok di hadapan Holly menyamakan arah pandang. Matanya menemukan wajah sembab dan sedih yang sedang penuh airmata. Gadis kecil ini kembali ke mode ekspresi berbulan-bulan yang lalu.
"Ada apa Ling... sayang, kamu kenapa?"
Gimana cara bohong yang baik?
Aduuh bohong gak pernah baik kan, sejak semalam dia sudah membohongi Kokonya.
"Sakit?"
Tenry mengeringkan airmata Holly, mengusap sayang kedua pipi itu, dan Holly terpaksa mengangguk mengiyakan konklusi pendek Tenry.
"Sakit kepala?"
__ADS_1
Lagi-lagi hanya mengangguk, dia gak punya energi untuk bersuara selain itu gak ingin mengucapkan kebohongan lagi.
"Giginya gimana? Masih sakit?"
Kembali menganggukkan kepala dengan airmata yang jatuh lagi, dia mau berbohong sampai kapan?
"Tadi malam bilangnya gak terlalu sakit... makanya Koko gak dateng..."
Ya ya... tadi malam bohong sakit gigi, sekarang sakit kepala besok dan besok alasan apa? Dia mulai takut beneran sakit.
"Semalaman nangis kayaknya, matanya bengkak gini... Koko beliin obat dulu ya..."
"Gak usah... Lingling gak biasa minum obat..."
Suara lirih yang serak berhasil dia ucapkan, gak ada yang sakit jadi untuk apa beli obat.
"Dari pada menderita nahan sakit..."
"Gak usah... udah mendingan..."
"Masih nangis loh?"
"Gak papa... Lingling sikat gigi aja..."
Di kamar mandi Holly memandang wajahnya di cermin di atas wastafel, melihat tampangnya sendiri yang menyedihkan. Dia tak kuasa menolak sedih ini segera pergi, hanya berharap Tenry gak mencurigai sesuatu, kayaknya wajar kalau orang sakit gigi nangis sejadi-jadinya seperti dirinya... hadeuuuuh, lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati... tapi ternyata pagi ini sakit gigi sama sakit hati padanan yang cukup logis untuk dijadikan sebuah alasan menyembunyikan yang sebenarnya terjadi.
Saat duduk menghadap meja belajar sekaligus meja makan, Holly memilih bubur plain, bukan untuk menguatkan alasan keadaannya, tapi rasanya dia gak mampu mengunyah dan mencerna makanan yang lain. Kalau boleh dia gak ingin makan apapun, tapi pastinya pacarnya hingga detik ini akan mengeluarkan sikap over protective-nya.
"Sini Koko suapin..."
Tenry menggeser rantang yang dipilih Holly lebih dekat ke sisi dia berdiri, memilih omelet dari rantang yang lain, lalu Tenry menarik kursi yang Holly duduki berputar arah menghadap ke tempat tidur, mengambil rantang berisi makanan lalu duduk di tempat tidur. Dalam kondisi seperti ini Tenry pasti menambah tindakan perhatiannya.
Koko jangan membuat Lingling semakin susah untuk meninggalkanmu... (ini suara hati otor yang ikutan baper hikksss, yg duluan baper saat nulis yg sedih-sedih itu akuuu ðŸ˜)
Dalam dua suapan, tess... luber lagi.
Kenapa aku cenggeng, kenapa harus mutusin Koko lagi, sakit...
"Sendoknya kena di gigi ya, maaf sayang..."
Tenry meletakkan wadah berisi makanan lalu mengusap hati-hati dua pipi Holly tanpa bertanya gigi sebelah mana yang sakit, mengeringkan juga dengan ibu jarinya airmata di pipi itu.
"Kita ke dokter gigi aja ya? Kasihan kamunya nangis-nangis gini..."
__ADS_1
Tenry menatap penuh kasih, sedih juga melihat wajah sang kekasih tersayang penuh airmata.
"Gak papa Koko..."
"Sayanggg... kamu kayak gini masa gak papa?"
"Iya... Lingling... hanya... hanya baper ngerasain gimana sayangnya Koko sama Lingling..."
Holly berkata lirih setengah menunduk meraih tissue di meja dan membersihkan hidungnya.
"Bener kayak gitu aja?"
Tenry mulai memasang wajah menyelidiki.
"Iya..."
Tenry senyum ikut membersihkan wajah Holly kali ini memakai tissue.
"Bener udah gak sakit? Atau jangan-jangan ada masalah, kayak yang sedih kamu tuh..."
Holly tersentak, jangan sampai Koko mencium sesuatu.
"Ehh gak Ko... Lingling gak ada apa-apa..."
"Ya udah... lanjutin makan kalau gitu..."
"Mmm Ko..."
"Iya sayang..."
"Ehh... pengen Koko peluk..."
"Ohh? Wahhh sering-sering baper kalau gitu..."
Tak ada kata menunda atau menolak permintaan imut si gadis imut, si Koko langsung menarik kursi Holly lebih dekat dan membawa tubuh mungil itu dalam pelukan hangatnya, Holly masuk bersandar nyaman di dada bidang itu, mencari kehangatan dan damai batinnya.
Ada saat di mana pelukan itu dibutuhkan, bukan sekedar suatu afeksi dan tindakan seorang kekasih, tapi lebih kepada suatu kebutuhan akan ketenangan yang sama nilainya dengan kata-kata yang memberi semangat untuk tidak menyerah dan memberi kekuatan bahwa hidup akan terus berjalan, dan masalah ini pasti akan berakhir. Pelukan semacam ini seakan memasukkan besi baja ke dalam tulang-tulang, sehingga diri ini punya kekuatan lagi untuk melewati pekat dan gelapnya hidup dengan perasaan tenang dan damai.
.
🦋
.
__ADS_1