
Di meja makan pagi ini...
Di sela-sela sarapan pembicaraan yang mendominasi adalah soal lamaran anak lelaki satu-satunya di keluarga. Ivy yang masih libur juga ikut nimbrung dengan mama dan Cici Bey yang menginap di rumah ini. Tenry hanya menimpali sesekali ocehan tiga wanita yang sedang menentukan apa aja yang harus di bawa sebagai bagian dari seserahan, menjadikan apa yang diterima Beyvie sebagai perbandingan.
Tenry yang mendengarkan sesekali tersenyum kecil, kini pernikahannya gak samar-samar lagi, hanya masih ada ganjelan karena dari cerita Beyvie, pihak keluarga Yongky memberikan beberapa aset untuk Beyvie sebagai pengikat dan bukti Beyvie telah menjadi bagian keluarga, tapi semua atas nama Beyvie.
Permintaan Papanya Holly menjadi beban buat dia, sekalipun dia punya tabungan sendiri, jika nilai pengeluaran besar gak mungkin menyembunyikan dari mama, seperti ada aturan tidak tertulis tentang itu dalam keluarga.
Jika hanya membelikan TV gak perlu ngomong ke Ci Cun, tapi membeli rumah dan mobil bukan hal kecil untuk Ci Cun. Tenry bingung bagaimana memberitahu mamanya. Tenry menghabiskan buburnya dalam diam.
"Hei Tenten... malah bengong ditanyain juga... yang mau nikah malah gak antusias..."
"Hahh? Cici nanya apa?"
"Yang mau nikah malah gak fokus... ini lagi urusin acara kamu loh..."
"Cici bantu urusin ya, perempuan lebih ngerti... aku gak ngerti soal itu..."
"Iya... iya... tadi itu mama nanya warna kesukaan Holly..."
"Pink kayaknya... paling sering pakai baju warna itu..."
"Warna bocah itu Tenten..."
"Selera dia... emang kenapa?"
"Buat milih barang untuk hantaran..."
"Sembarang aja... dia gak pernah milih, semua dia pakai kalau udah dikasih... justru dia gak suka kalau udah terlalu mahal, malah dia gak pakai takut rusak takut lecet..."
"Oww... persis mama tuh, kayaknya Holly cocok sama mama deh... rajin, bisa masak, terutama gak konsumtif tapi efektif efisien... Holly masuk jadi member squad mama... hehehe..."
Ivy mengolok mamanya sambil ketawa.
"Aku emang mikir dari dulu Tenten, istrimu harus sesuai sama tipe mama, kalau gak... bakal kesusahan dia beradaptasi sama mama..."
"Kenapa ngomong seperti itu Cici, menantu dan mertua memang perlu beradaptasi kan... kayak Yongky dengan kita juga sebaliknya kamu dengan keluarga Yongky..."
"Iya sih... tapi menantu perempuan itu lebih susah beradaptasi..."
"Cici gitu juga ya sama mama mertua?"
Ivy jadi pengen kepoin Cicinya.
"Iya... mama mertua jarang bicara, ngomongnya halus banget, jarang senyum... Cici suka grogi kalau ada di satu ruangan... banyak aturan juga... jadi takut salah..."
"Tiap keluarga punya aturan sendiri, pintar-pintar aja menghadapi mertua, ikutin aturan mereka jangan bawa aturan kebiasaan kamu di sini ke rumah suamimu... yang penting tunjukkan sikap hormat dan sayang..." Mama berujar menasehati anak perempuannya.
"Mertua Dede nanti kayak gimana ya? Lucu kali kalau kayak mama, bakal berantem sama Dede terus..."
"Husssh jangan ngomong sembarangan Dee... masih bocah udah ngomong merit aja..."
Beyvie menjitak kepala adiknya pelan saja. Ada mbak Sien masuk ke ruang makan menyela pembicaraan hangat pagi ini.
"Dede... ada temen-temennya di luar, apa mbak Sien suruh masuk aja?"
__ADS_1
"Iya... iya..."
Ivy cepat-cepat menghabiskan nasi gorengnya.
"Pagi-pagi temenmu udah ke sini?"
"Mereka mau berenang Ci... kalau di sini gratis kan, dapet makan gratis juga, hehehe..."
"Mmm... Cici siapin makanan kalau gitu, Cici lagi pengen masak sesuatu..."
"Boleh banget... yang enak dan yang banyak ya..."
Beberapa anak perempuan masuk di ruangan itu dengan celotehan khas remaja, menyapa keluarga Ivy dengan ribut dan langsung mengikuti Ivy menuju teras samping. Beyvie sendiri pergi ke dapur, semenjak hamil dia bukannya menjauhi makanan tapi malah jadi senang masak, mual dan muntah hanya sesekali mengganggunya.
"Koko... udah pastikan ke mereka tanggal lamarannya kan..."
Ci Cun menatap serius wajah anaknya yang masih duduk di sana walau sejak tadi udah selesai sarapan.
"Udah..."
"Mama udah hubungin keluarga kita, mungkin gak sampai sepuluh orang yang ikut... umumnya masih trauma keluar rumah..."
"Gak papa..."
Ci Cun yang hafal tingkah pola anaknya tahu ada yang dipikirkan anak lelakinya.
"Rencanamu seperti apa Koko... sehabis lamaran apa langsung nikah atau masih menunggu lagi?"
"Gak ada yang perlu ditunggu kan..."
"Udah harus mulai ngurus berkas nikah di capil kalau gitu?"
"Mama udah hubungin orang wedding yang Cici pakai dulu... Holly gak minta macem-macem kan..."
"Dia nurut aja kok... menerima apa yang kita atur... tapi..."
"Apa?"
Tenry memperhatikan ekspresi mamanya, mencari celah untuk membicarakan soal keinginan calon mertua.
"Untuk acara lamaran, orang tuanya Lingling minta diadakan di resto aja, bukan di rumah mereka..."
"Kenapa?"
"Rumahnya sempit katanya..."
"Oh?? Tapi terserah mereka, kita tinggal datang aja kan..."
"Ma... dibuat di resto mama aja? Biar gampang..."
"Loh? Masa di resto mama sih? Mereka aja yang nyari, Koko... itu urusan pihak perempuan..."
Tenry diam, udah jelas orang tua Holly gak akan menyanggupi. Waktu pamit malam itu jelas-jelas mama si Holly hanya bilang mereka tunggu kabar kapan dan di mana...
"Koko?"
__ADS_1
"Kayaknya kita yang urus deh, ma..."
"Gak bisa gitu Koko... kalau soal nikah iya itu urusannya mempelai lelaki... Kenapa harus buat di luar juga jika mereka gak sanggup... kita gak nuntut mereka harus menyediakan macem-macem untuk menyambut kita, di rumah mereka aja gak masalah kan..."
"Ya udah..."
Tenry berdiri dari kursinya, semakin jelas gambaran ekspresi gak senang dengan hal itu, artinya dia harus menangani masalah ini sendiri.
"Tenry... duduk dulu, kita selesaiin pembicaraan ini... tinggal seminggu lagi... mama ingin semua udah fix..."
Tenry duduk lagi, sejujurnya dia gak siap berdebat dengan mamanya karena menyadari perkataan sang mama benar adanya.
"Kenapa jadi kita yang urusin, ini bagian mereka loh? Mamanya Holly sibuk sehingga gak bisa ngurusin ini atau ada kendala apa?"
Tenry menghirup napas sebanyak-banyaknya sekarang demi menyingkirkan masalah di otaknya....
"Keadaan keluarga mereka tidak seperti kita ma... mama tahu kan Hanie lebih betah sama kita sejak SMP, Lingling sebenarnya sama aja tapi dia perempuan gak bisa ke mana-mana, praktis yang ngurusin juga biayain Lingling sekarang ini sebenarnya Hanie..."
Ci Cun berubah tatapannya sinar tajam perlahan meredup, mengingat potongan cerita Hanie beberapa kali tentang keluarganya.
"Jadi, maksudnya mereka gak siap untuk acara lamaran?"
"Mereka hanya bersedia hadir aja..."
"Masa ada orang tua yang gak peduli, ini tahapan penting hidup anaknya kan... biasanya mama-mama bersemangat mengurus hal seperti ini..."
"Mereka menyerahkan semua urusan sama aku ma... makanya Koko minta mama ngertiin keadaan Lingling..."
"Kasihan Holly dong? Mama gak menyangka loh..."
"Jadi mama udah tahu kan kondisinya... bantuin Koko ya... Lingling kayak tertekan karena hal ini..."
"Iya... biar mama yang atur... aduuh kok bisa seperti ini sih... mama pikir anak-anak mereka baik keluarganya pasti baik juga... jangan sampai papamu tahu... papa diam orangnya gak suka ribet juga, tapi kalau hal prinsip meskipun hal kecil papa gak mau kompromi..."
"Maksudnya?"
"Ya ini kan seharusnya urusan mereka, kalau papa tahu kita yang ambil alih, papa bisa meledak karena ini bukan kebiasaan dalam keluarga kita... Asal orang tuanya gak macem-macem aja... gak papa mama urusin semua soal pernikahanmu..."
"Ma... masih ada..."
"Apa lagi?"
"Papanya Lingling... dia minta dibeliin rumah sama mobil... baru dia bisa mengijinkan Lingling nikah sama Koko..."
"Oh? Ya bilang aja kamu udah punya mobil sendiri, rumah di depan dalam progress..."
"Bukan untuk Lingling tapi... untuk mereka..."
"Ehhh???? ini keterlaluan Tenry... Ini mau menikahkan anaknya atau mau menggadaikan anaknya sih? Gak ada Tenry... baru permulaan sudah seperti itu... gimana nanti setelah kalian nikah? Harus dicut dari awal... gak ini gak bener... Soal kalian memperhatikan mereka nanti setelah kalian nikah itu wajib hukumnya memperhatikan orang tua, tapi kalau udah bicara materi dari awal, itu sama seperti mau memanfaatkan pernikahan kalian untuk kepentingan mereka, mama gak setuju soal itu!"
Ci Cun berdiri meninggalkan Tenry yang langsung lemes di tempat duduknya.
.
.
__ADS_1
🦋
.