Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 11. Sebentar Lagi


__ADS_3

Holly menatap dapur yang berantakan dan kotor, gak ada lagi barang yang bersih. Dia jadi seperti ibu rumah tangga di rumah ini, hanya dia yang merasa punya kewajiban untuk membersihkan rumah.


Tak ada waktu untuk mengeluh, Holly memulai dengan mengumpulkan semua barang-barang kotor yang berserakan di hampir semua tempat di rumah, anak-anak dan orang dewasa sama saja, selesai makan hanya meletakkan begitu saja bekas makan mereka.


Mama lewat di dapur dan bersirobok mata dengan Holly, mama langsung menghindar bergegas menuju kamar mandi. Holly ingin bicara, ingin bertanya, kenapa mama marah padanya. Mama masih suka teriak-teriak pada semua anaknya, membentak semua cucunya, tapi menutup komunikasi dengan Holly. Sekalipun dia merasa lebih bebas tidak dituntut lagi melakukan banyak pekerjaan tapi dia lebih menginginkan mama bicara padanya seperti biasa, diteriaki pun gak masalah.


Lengannya menghapus air mata yang begitu cepat sudah turun, kali ini tak dapat menahan kesedihannya, perasaan yang sudah dimulai sejak sore tadi saat melihat Tenry menggenggam erat tangan Glo meninggalkan toko. Rasa sesak yang tak pergi juga walau dia coba meneguhkan hatinya bahwa Tenry hanya bersikap peduli padanya karena pada dasarnya dia Koko yang baik. Sedih yang menjadi bertambah-tambah saat melihat mama. Kesedihan seperti belum atau tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Holly tak bisa menghalau tetesan airmata yang kemudian berubah menjadi isakan, bahunya sedikit berguncang.


"Tinggalkan dapur, kamu gak perlu bersihkan rumah lagi."


Holly menoleh kaget dan lupa menghapus airmatanya, menemukan mata mama yang menyorot tajam.


"Kamu gak mau mama atur lagi kan... silakan, kamu bebas melakukan apa yang kamu mau..."


Apa maksud si mama, tiba-tiba mengatakan kalimat yang justru semakin menusuk perasaannya.


"Ma, aku hanya pengen..."


Mama tak menunggu Holly menyelesaikan kalimatnya. Ingin Holly meneriakan bahwa dia hanya ingin kuliah itu aja, dia rela tetap melakukan apa aja di rumah ini, melayani semua orang di rumah ini tapi sekali ini saja berikan dia kesempatan untuk mewujudkan keinginannya, bahkan dia akan cari uang sendiri untuk itu.... masa karena niatnya itu dia dianggap gak mau diatur lagi.


Kenapa mama tidak mengerti ini?


Holly tetap meneruskan pekerjaannya dalam tangisannya, luka tertoreh lagi di hatinya dan semakin dalam. Dia mencuci semua yang kotor, bahkan mencuci pakaian mama papa, dia terlalu lelah untuk mencuci pakaian yang lainnya, membersihkan ruangan, terakhir melipat pakaian bersih yang hanya diletakkan begitu saja di beberapa kursi plastik. Setelahnya dia membersihkan tubuh lelahnya, batinnya juga lelah, dia tak bisa menghentikan setiap kali airmatanya selalu turun. Saat masuk kamar, Hellen dan Henny sudah tertidur sembarangan di tempat tidur, tak menyisakan tempat untuk dirinya, rupanya Henny pulang ke rumah sekarang. Hanie tak ada di rumah, dia pergi lagi setelah mandi, dia lupa minta kunci kamar padahal tubuh penatnya butuh istirahat.


Dengan langkah gontai Holly keluar dari rumah yang tak punya pagar itu, mengikuti langkahnya tanpa tujuan. Dia hanya ingin pergi saja atau menghilang saja.


Di ujung lorong, Holly memutuskan menyeberang jalan besar dan naik ke trotoar lalu berjalan mencari tempat yang agak sepi. Malam seperti ini banyak orang duduk santai di beton pembatas jalan dan pantai. Holly naik ke beton pembatas dan kemudian duduk sambil menekukkan kakinya hingga dagunya menyentuh lutut. Deru ombak kecil terdengar jauh di bawah kakinya.


Sebenarnya, saat dia menyeberang jalan tadi seseorang sudah mengenalinya dari dalam mobil hitamnya, terus mengikuti dengan pandangan, mengamati apa yang hendak Holly lakukan.


"Lingling..."


Holly kaget mendengar panggilan itu dan spontan mendongakkan wajahnya yang tadi dia sembunyikan di antara lututnya, dia lupa wajahnya sedang basah penuh airmata. Tenry telah duduk bersila di samping Holly sebelum bicara tadi.


"Kenapa Ling... ada apa?"


"Ko?"


"Kamu kenapa?"


Tenry menghapus pipi basah Holly dengan satu ibu jarinya. Holly tak menduga kemunculan Tenry, terdiam saat menikmati sentuhan lembut di wajahnya. Setelah terpaku sesaat, Holly memalingkan lagi wajahnya. Holly ingin menyendiri membuang semua sedihnya, tapi kenapa justru ditemukan Tenry, dan kenapa Tenry ada di sekitar rumahnya, kenapa harus ada Tenry di tengah kesedihannya yang salah satunya karena si Koko ini.


Holly belum mampu menepis sedihnya, kembali menelungkup di atas kedua kakinya, dengan tangisan tanpa suara hanya ada guncangan hebat di punggungnya. Hati Tenry seperti teriris, apa yang menyebabkan gadis kecil ini seperti ini.


"Ling, tunggu sebentar ya, Koko ambil mobil..."


Tenry ingin memeluk gadis itu, tapi di sekitar mulai ada orang-orang yang memperhatikan mereka, barangkali mengenal Holly juga, Tenry menahan diri dan segera berlari ke mobilnya. Tak lama kemudian.


"Ayo ikut Koko..."


Tenry membantu Holly berjalan beberapa langkah ke mobil. Tubuh lemah Holly tak melawan, tak ada sesuatu yang bisa dia pikirkan sekarang. Tenry membawa mobil mereka ke sebuah tempat tak jauh dari situ tepat di ujung kawasan bisnis ini sebuah jalan buntu di pinggiran pantai yang terkenal bernama BBC (Batu-batu Cinta), karena lokasi itu belum tertata oleh pengembang dan ada banyak batu besar sebagai penahan ombak, belum ada penerangan, sehingga sering digunakan sebagai tempat mojok banyak pasangan kekasih. Entah kenapa terpikirkan tempat ini.


Setelah mobil terparkir Tenry tak memaksa Holly untuk turun, hanya membiarkan Holly menangis, suara kecilnya ikut menorehkan kesedihan juga di hati si Koko. Menatap lama, akhirnya tangan kirinya bergerak mengusap punggung Holly yang kepalanya tertunduk sampai ke atas dua pahanya. Guncangan itu belum berkurang, Tenry tak bisa menahan lebih lama lagi akhirnya menarik tubuh kecil itu masuk ke pelukannya. Tenry memeluk dengan sepenuh hatinya, keinginan untuk melindungi dan menghibur gadis kecil ini semakin menguasai hatinya.


"Sini, nangis aja, gak papa, ada Koko di sini..."

__ADS_1


Tenry berbisik penuh kekembutan.


Ahhh... perasaan apa ini, berada dalam pelukan Ko Tenry... Perasaan sedih tadi yang menguras energi tubuh kecilnya, juga menguras energi batinnya hingga terasa begitu lelah, semangat yang sudah patah dan hilang hingga tak berpikir apapun tak ingin melakukan apapun... sekarang dia merasa begitu tenang dan teduh, tangisnya berhenti. Usapan di punggung seperti sentuhan magic yang mendamaikan jiwanya. Holly ingin diam di sini saja, tak ingin pelukan ini terlepas. Tangan kecilnya keluar dari dekapan Tenry dan mulai memeluk tubuh kekar itu.


Saat Tenry bergerak Holly mencengkeram kemeja Tenry, dia tak mau terlepas sebuah tindakan yang mendorong sebuah reaksi yang lebih lagi, rasa sayang seorang Tenry terpanggil kini, dia mengecup beberapa kali kepala Holly dan berakhir di dahi gadis itu. Tangan Holly semakin mencengkeram kemeja Tenry. Tenry kemudian semakin mendekap Holly di dadanya.


Beberapa saat berlalu...


"Lingling... mau cerita ada apa?"


Holly menggelengkan kepala... masa harus beritahu Ko Tenry tentang sakit hatinya karena melihat si Koko jalan sama pacarnya sendiri. Dan masa harus menjelekkan mama sendiri. Holly beberapa kali menggeleng, dan seketika perasaan malu dan tak enak menyusup membuat Holly melepaskan diri.


"Heii... udah gak mau Koko peluk ya?... udah gak sedih lagi?"


Holly menggeleng lagi.


Masih mau dipeluk, masih sedih juga, tapi malu, lagian Ko Tenry pacar orang, masa Holly meluk pacar orang...


Ingin ngomong seperti itu, tapi tertahan di langit-langit mulutnya. Holly menunduk tidak berani menatap Tenry.


"Ling, lihat Koko dong..."


Holly menggeleng lagi. Tenry tersenyum walau tak mengerti kenapa Holly hanya menggeleng saja. Perlahan Tenry meraih kepala yang tertunduk itu dan menghadapkan wajah Holly padanya. Senyumnya segera menghilang melihat wajah sembab Holly, mata yang bengkak menunjukkan gadis ini telah menangis terlalu lama.


"Lingling sedih banget ya?"


Tangan bergerak mengusap sejenak pipi Holly dan berpindah di kepala sembari melepaskan tatapan penuh arti yang menghipnotis Holly, sehingga gadis ini membiarkan Tenry memegang wajahnya dan kembali mendekap dirinya.


"Jangan nangis lagi ya, cape kan nangis terus... mata udah bengkak tuh..."


"Jangan peluk Holly lagi Ko... nanti pacar Ko Tenry marah sama Holly..."


Holly berkata sangat lirih, tapi gendang telinga Tenry masih normal untuk menangkap kalimat itu.


Jadi Holly sudah tahu Glo...


Tenry sekarang yang nyesek, tadi dia mau ngomong ke Glo tapi tak tega memutuskan Glo, merasa bukan tempat yang tepat untuk bicarakan itu di kota ini. Beda jika melakukan itu di J di rumah Glo, apapun reaksi Glo dia tak harus terlibat lagi. Dia realistis memandang hubungan mereka sudah tak memberi kenyamanan lagi, tapi Glo gak akan sama.


Dan sekarang dia sudah bisa memastikan rasa yang dia miliki untuk Holly, bukan sebatas rasa kasihan lagi, dia ingin memberi lebih untuk gadis kecil ini, dia ingin memberi semua kasih sayangnya, sebuah rasa yang tumbuh dengan cepat.


"Kenapa dia harus marah?"


"Kan Ko Tenry bolehnya hanya peluk pacar sendiri... nanti Holly dituduh pelakor..."


"Bentar lagi dia bukan pacar Koko..."


"Hahh??"


"Iya..."


"Kok bisa?"


"Bisa aja... Koko punya alasan. Nanti Koko kasih tahu kalau hubungan kami udah selesai..."


"Kenapa harus kasih tahu?"

__ADS_1


"Ya karena Lingling harus tahu..."


"Kok harus?"


Tenry tertawa pelan sambil memegang kepala Holly.


"Nanti juga Lingling tahu kenapa..."


"Kok nanti... sekarang aja..."


"Hahaha... Lingling cerewet kalau sama Koko..."


Tenry jadi gemas dengan rentetan pertanyaan pendek Holly. Tangan Tenry membenahi rambut di pelipis Holly.


"Holly mau pulang, Ko..."


Holly risih walau suka dengan apa yang Tenry lakukan.


"Gak mau cerita kenapa nangis, kenapa sedih?"


Holly menggeleng.


"Ya udah... beneran udah mau pulang?"


Tenry coba menahan Holly, sejujurnya dia masih ingin bersama Holly lebih lama.


"Iya... Holly cape..."


"Habis ngerjain apa sih, kok lemes banget kelihatannya..."


"Banyak..."


"Sepulang dari toko?"


"Iya..."


Tenry membelai kepala kecil Holly, dia punya gambaran apa yang Holly lakukan di rumahnya.


"Mmm... Koko masih pengen berdua sama Lingling, sebentar lagi baru pulang... boleh?"


Tatapan Tenry membuat Holly tak kuasa menolak, kepalanya terangguk pelan membuat senyum Tenry mengembang.


Beberapa waktu dilewati, masing-masing duduk bersandar di dalam mobil dalam diam.


Padahal tadi setelah membawa Glo makan malam, Glo menahan dia untuk menemani di hotel barang sebentar. Tenry punya banyak alasan untuk menghindari itu. Dan dia mengarahkan mobilnya ke rumah sahabatnya. Ingin turun dari mobil tapi masih ragu, pasti Hanie gak akan mengijinkan dia membawa Holly keluar rumah, karena Glo. Dan seolah semesta sedang memberi dia sedikit keberuntungan, Holly melintas di sisi mobilnya tadi.


Dalam diam, hati Tenry mencari tahu benar tidaknya rasa ini. Dulu saat memulai dengan Glo dia sedang sendiri, rasa pada Marylin hanya sebentuk cinta monyet yang cepat berlalu. Dengan Glo dia jatuh cinta seperti ini awalnya. Rasa yang sekarang juga begitu kuat untuk Holly. Hati Tenry sudah terjebak dalam cintanya yang baru ini, tak dapat dia lawan, tak bisa dia menahan, justru membiarkan dirinya terhanyut pada getaran manis yang begitu berbeda. Tapi... di antara cintanya sekarang, masih ada Glo, dan apa Glo masih ada dalam hatinya... dia tidak tahu...


.


.


🦋


Hai.... kakak2 readers semua.... enjoy ya bacanya, semoga menarik aja....

__ADS_1


.


__ADS_2