
Kehidupan di bawah matahari, selalu saja orang berbuat kesalahan karena mengira jalan yang dia ambil benar dan berpikir bahwa dalam kondisi seperti ini orang lain juga akan mengambil jalan yang sama. Saat terdesak, lebih mudah memutuskan sesuatu dalam sekali berpikir, tidak terpikir untuk melihat dan menjangkau lebih jauh lagi, hanya apa yang nampak sebatas horison... Rumit ya? Sederhananya, harus menimbang baik buruknya dan jangan tergesa-gesa saat memutuskan sesuatu... 😷
Sayangnya acapkali keputusan sekali pikir itu mempunyai efek besar, panjang dan bias, tidak memuaskan dan berakhir hampa. Untuk menangisi bahkan hampir tak punya nyali, selain menyimpan luka dalam-dalam, mencoba tegar, dan menahan sebisa mungkin agar airmata tidak menjadi teman abadi.
Seseorang hanya dapat menatap bintang malam sekarang... masih ada di bawah langit yang sama, mengirim harap ke atas sana semoga kehidupan masing-masing akan semakin baik saja ke depan... mungkin tidak di musim ini, tapi selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim berganti, musim dingin dan panas, musim kemarau dan hujan, siang dan malam, dan pribadi seseorang ditempa di dalam semua keadaan itu...
"Kakak... Adek udah bobo? Ditanyain mami..."
"Udah dari tadi..."
"Kakak juga bobo kalau gitu... jangan kelamaan di sini... dingin... entar kakak masuk angin..."
"Iya... bentar lagi kakak masuk..."
"Jangan lupa pintu dikunci ya..."
"Iya..."
Masih ingin lebih lama di sini, menahan dingin yang menusuk, karena pemandangan ribuan cahaya kecil-kecil di langit dan pemandangan kelap-kelip kota jauh di bawah sana, gabungan keindahan yang meneduhkan resah hatinya... ingin menangis terakhir kali untuk semua hal yang telah terjadi, ingin melepas sesal dan rasa bersalah sampai di sini, ingin menjadi lebih baik bila matahari terbit esok hari.
Airmata di pipi dia biarkan menghias wajahnya... ya berjanji dalam hati terakhir kali seperti ini, cukuplah begitu banyak waktu sendiri di malam hari dia seperti ini... semoga malam ini menjadi sebuah titik peralihan untuk tegar menghadapi kehidupan esok hari.
__ADS_1
.
🌱
.
Dia terbangun karena ketukan di pintu, kebiasaan bangun pagi berubah beberapa bulan ini, ya banyak kebiasaannya yang berubah, yang masih terjaga adalah cintanya untuk seseorang yang telah merebutnya sejak pertama melihat.
Dia berdiri dengan malas dari tempat tidur lalu berjalan pelan dan membuka pintu. Sosok perempuan yang jadi teman kemudian karena situasi terakhir, ada depan pintu siap bepergian dengan pakaian casual kaos oblong dan jeans, jarak dua meter di lorong antara kamar ini berdiri juga seseorang yang lain, dua orang yang berinteraksi dengan dirinya cukup intens belakangan ini.
"Aku gak bisa lebih lama di sini... aku pamit mau pulang kampung..."
Sosok di depan di ambang pintu kamar masih dengan tampang kamar baru bangun tidur hanya menatap bergantian dua orang di depannya.
"Makasih ya aku bisa tinggal di kamar sebagus ini enam bulan ini karena kamu..."
"Gak menunggu wisuda?"
"Belum ada kepastian kapan, masih menunggu keputusan Rektor seperti apa wisudanya, kemungkinan wisudanya daring, katanya gak memungkinkan untuk wisuda onsite..."
"Jika mengganti nomor hp, tolong beritahu aku..."
__ADS_1
"Gak mungkin aku ganti nomor, kalau pun gak bisa terhubung, tanya Rommel aja, dia gak mungkin ke mana-mana..."
Rommel tersenyum tipis dan mengangguk sedikit saat bertatapan dengan mata bersorot sedih itu.
"Tolong kasih tahu ya, jika menemukan sesuatu..."
"Aku janji... aku akan segera kasih tahu jika aku dapatkan sesuatu... sekali lagi, pamit ya... makasih banyak..." Nuella senyum lalu menggunakan lagi maskernya.
Dengan sebuah anggukan percakapan berakhir, pintu ditutup kemudian disertai sebuah tarikan napas berat yang dihembuskan cepat. Jika saja dapat dihitung, pasti ada banyak sekali tarikan napas sedih yang telah terbuang dan kemudian memenuhi lagi paru-parunya.
Dia kemudian membaringkan tubuhnya, melirik ponsel di samping guling, melihat sebentar lalu meletakkan lagi. Ponsel tak pernah dimatikan lagi saat malam, selalu siaga karena mengharapkan sesuatu dari sana, mengharapkan ponsel itu menghubungkan dirinya dengan kekasihnya lagi. Beberapa saat berbaring, menatap lagi seluruh bagian kamar itu, menyerap semua moment lagi ke otaknya lewat apa yang dia lihat, dengan berbuat itu setiap kali dia merasakan rindunya sedikit terobati, terlebih saat memeluk guling lembut di sampingnya... kemudian tubuh itu beranjak ke kamar mandi, memulai rutinitas hari ini dari sana.
.
.
Ada yang mau nanya kan... Ini part apa sebenernya? Gak salah nulisnya, gak ngasal kan? Genrenya gak berubah kan jadi novel misteri... hehehe, jam terbang author blm memungkinkan author nulis genre lain... hanya ingin menggelitik kakak pembaca semua aja... ada yang bisa menggambarkan/punya pendapat apa yang telah terjadi... hanya interaksi aja dengan readers semua... sebenernya sih... pengen kolom komentarnya rame aja (Takut malah gak ada yg komen 🤦♂️🤦♂️🤦♂️)
Pasti ada yg kesel, udah partnya sedikit gak jelas pula....
🏃♂️🏃♂️🏃♂️🏃♂️🏃♂️🏃♂️ run
__ADS_1
.