Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 45. Tak Ingin Kehilangan


__ADS_3

Pagi datang lagi, saat untuk memulai hari adalah saat terbitnya matahari. Sebagaimana sudah menjadi konsensus dunia tentang siang hari di mana sebagian besar orang bekerja dan beraktivitas penuh adalah di siang hari, ketika terang mentari menguasai alam semesta.


Bagi keluarga Tenry memulai terang pagi hari dengan sarapan bersama di meja besar mereka adalah sebuah kegiatan rutin tapi bermakna dalam, karena semangat dan kehangatan dimulai dari sana, saat semua saling menyapa berbagi cerita, berkeluh kesah, atau sekedar berbagi info tentang hal-hal sepele. Sukacita kebersamaan yang menyerap hingga sum-sum kadang menjadi dinamo yang menggerakkan energi dan daya kreativitas dalam diri menghadapi tugas dan pekerjaan berat sepanjang hari. Mereka berbagi banyak hal dan menerima banyak hal yang merekatkan ikatan kasih dalam keluarga.


Kebersamaan yang menjadi cahaya keluarga ini yang dibangun sejak lama kini tergerus masalah yang terjadi akhir-akhir ini, cahaya yang sesungguhnya yang setiap hari muncul bersama sang surya, sedang pudar. Beyvie tidak pernah turun sarapan sejak kejadian itu, Tenry pun selalu buru-buru menyelesaikan sarapan atau buru-buru pergi tanpa sarapan dan tanpa berbicara apapun, Ivy menjadi tak bersemangat karena merasa sepi sendiri di rumah besar ini tanpa omelan dua kakaknya.


"Tenry..."


Suara panggilan tegas Ci Cun mencegat anaknya yang barusan pamit pergi tanpa menoleh padanya. Tenry berbalik hanya berdiri diam dengan tatapan menunggu, tak ada suara tanya atau senyum di wajahnya.


"Duduk dan sarapan, mama mau bicara..."


Tak bereaksi beberapa second tapi mendapati tatapan lembut tapi terselip otoritas seorang mama, Tenry kemudian bergerak pelan ke sisi meja makan yang biasa dia tempati dan tak diduduki lebih kurang tiga bulan ini. Ada adik bungsunya yang menatap dengan sorot sedih, lama kehilangan perhatian kakaknya yang walau kadang mengomeli tapi tetap memanjakan dirinya.


Tenry tak berniat sarapan, setelah bertemu Holly lagi dia selalu menyempatkan untuk sarapan bersama gadis kecilnya, entah di luar atau mampir membeli sesuatu lalu menikmati berdua di kost Holly.


"Kenapa menghindari mama?"


Ci Cun langsung to the point saat melihat anaknya telah duduk tapi tidak terlihat akan sarapan. Tenry tak menjawab dan tak juga memandang mamanya. Dia juga tidak mengerti apakah dia menghindar selama ini? Dia memang kecewa dengan permintaan saat mama dan terganggu saat Holly menghilang, tapi dia berusaha memahami mamanya tak ingin menyanggah atau menunjukkan keinginanannya mempertahankan Holly sampai Beyvie sembuh.


"Tenry?? Kamu kenapa? Sikapmu akhir-akhir ini membuat mama bingung? Apa yang kamu lakukan setiap hari dengan motormu? Ikut geng motor lagi?"


Tenry mengangkat wajahnya menatap sekilas mamanya.


"Koko udah gak motoran lagi kok, ma..."


Ivy yang melaporkan sebelum ini tentang kebiasaan kakaknya, memberikan informasi baru soal Tenry sekarang.


"Oh? Tapi tetap mama butuh penjelasan..."


Suara Ci Cun melembut. Ci Cun tak tahan lagi dengan sikap dingin anaknya. Tenry menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar, menekukkan siku tangan di atas meja besar itu.


"Holly pergi dari toko... waktu itu aku nyariin dia..."


"Maksudnya?"


"Holly gak tinggal bareng Hanie lagi, pindah... menghilang..."


"Masalahnya?"


Tenry membuang napas dan terdengar kasar, tak bisa menutup kekesalannya sekarang saat mamanya berlagak tak paham yang sesungguhnya terjadi.


"Mama minta aku mengalah demi Cici, dia tahu itu... makanya dia pergi..."


Tenry menjawab dengan pandangan tajam ke arah Ci Cun. Tenry belum mau mengatakan semuanya tentang Holly, masih belum tahu sikap Ci Cun. Mamanya terlihat salah tingkah sesaat...


"Harus ada yang mengalah Ko..."


"Seharusnya itu mama... jangan memaksakan keinginan mama..."


"Keinginan mama adalah melindungi anak mama yang lemah, kamu kuat Ko... kamu mampu menghadapi masalahmu, Cici gak bisa... mama gak mau Cici mengulangi tindakan bodohnya..."


"Tapi itu gak adil buatku ma... gak adil buat Holly, dia juga sama lemahnya dengan Cici... "


"Holly gak punya trauma, Ko... dia masih muda juga... sementara Cici..."


"Mama gak tahu Holly... mungkin dia gak akan bertindak seperti Cici, tapi anak itu juga rapuh ma... dia banyak tersakiti di keluarganya... dia juga bisa menyakiti dirinya sendiri dengan cara yang berbeda..."


"Pikirkan Cicimu Tenry... lihat kondisinya yang sekarang, dia seperti hidup di dunia yang berbeda... mama ingin dia sembuh, normal seperti dulu lagi..."


Ci Cun sedih ketika melihat aura Tenry yang terlihat penuh berbagai emosi, menjadi sebuah dilema sekarang karena keadaan Beyvie juga tidak ada perubahan.

__ADS_1


"Mungkin Cici gak ingin sembuh karena tahu niat mama, obsesi mama menjadikan Hanie menantu... dia takut untuk sembuh karena gak ingin dipaksa menikah dengan orang yang dia gak suka... mungkin mama juga perlu konseling."


"Tenry!!!"


"Ma... mama ingin Cici sembuh tapi dengan mengorbankan perasaanku, perasaan Holly, juga perasaan Hanie dan Cici... jangan egois ma, jangan menganggap pikiran mama itu solusi buat masalah Cici..."


"Mama sudah pikirkan ini berkali-kali... gak ada jalan lain."


"Bukan gak ada jalan lain, itu karena mama gak mau memikirkan jalan yang lain, itu karena obsesi mama."


"Tenry!!"


Wajah Ci Cun memerah, emosi dengan sikap Tenry, baru sekarang anaknya bersikap melawan, lebih-lebih menyinggung soal obsesi, itu menyakitkan.


"Aku minta mama bersikap fair buat aku dan Cici, itu aja... aku bisa mengalah jika itu bukan soal Holly. Cici punya kita semua yang melindungi dan menyayangi dia. Tapi Holly hanya punya Hanie yang bisa membela, keluarga lain gak menganggap dia ada... tapi di sini Hanie gak bisa bersikap karena mama membuat dia gak bisa melakukan apapun untuk Holly... jadi jangan minta aku meninggalkan Holly ma..."


Tenry berdiri lalu keluar dengan cepat. Dia gak ingin memperpanjang perdebatan ini. Walau ada rasa marah muncul karena mamanya gak mau mengerti, tapi setidaknya dia sudah memberitahu sikapnya.


.


.


Holly memarkir matic hitamnya di bawah pohon ketapang. Kali ini tidak ada drama rebutan atau harus memarkir terlalu jauh karena kuliah sore umumnya hanya mata kuliah semester bawah.


Holly merasa bosan sendiri di kamar kostnya, karenanya masih sejam lagi seharusnya jam kuliah dia sudah di sini, Nuella sedang pulang ke kampungnya ada acara keluarga. Holly berjalan lambat menuju lantai dua ruangan B1, pasti belum ada teman kuliahnya yang datang, tapi tak apa menunggu di sana. Ke kantin dia gak percaya diri karena jam segini biasanya masih banyak kakak tingkat yang nongkrong di sana. Kantin yang menempel di sisi belakang dinding perpustakaan gak pernah sepi hingga larut malam karena menjadi tempat mahasiswa memanfaatkan wifi gratis fakultas.


Ada bagian yang menjadi tempat favoritnya untuk menunggu lantai dua ini... sebuah pojokan dekat tangga yang jarang dilalui orang, Holly menuju ke sana, tempat dia bisa duduk tenang di salah satu anak tangga.


Ponselnya berbunyi... Holly bergerak cepat menaiki tangga kemudian duduk di anak tangga teratas, sambil meraih gawai putihnya.


Dia tersenyum...


"Iya... Koko..."


"Koko mau mampir bentar ya..."


"Yaaa.. udah di kampus..."


"Loh? Kan masih satu jam lagi kuliahnya?"


"Hehe iya sih..."


"Koko ke sana deh, palingan sepuluh menit..."


"Hahh? Ngapain ke sini?"


"Gak boleh?"


"Bukan begitu... tapi pas Koko nyampe udah jamnya masuk..."


"Koko deket kampus kok... tunggu yaa..."


"Tap..."


.


Suara protes Holly hanya mengantung di langit bibirnya. Tenry yang sekarang gak akan menghiraukan Holly jika soal pengen ketemu, dan seperti biasa Holly hanya bisa menerima dan memaklumi saja karena alasan Tenry yang selalu dia ulang tanpa bosan...


"Setiap hari Koko harus tahu keadaan kamu... Koko gak mau kecolongan kayak dulu, kamu pergi tiba-tiba..."


Terdengar indah saat pertama kali, kedua kali, mendengar suara hati seorang Tenry yang gak ingin kehilangan, tapi lama-lama Holly jadi merasa terganggu tapi gak punya cara untuk mengungkapkan secara terus terang.

__ADS_1


Beberapa menit mencoba mencerna sikap Tenry lagi, semakin dipikirkan, semakin dia merasa terikat aja. Holly akhirnya beranjak turun lagi dari lantai dua itu, memutuskan bertemu Tenry di parkiran aja, ini kali kelima Tenry mendatangi dia pas kuliah.


"Holly..."


Seseorang menyamai langkahnya saat menyusuri selasar gedung di lantai satu menuju parkiran. Holly menoleh dan disambut senyum seorang cowok kakak tingkat.


"Eh...hai kak Brill..."


Holly mulai terbiasa menyapa orang-orang. Lingkungan kampus serta atmofsirnya terasa beda saat waktu SMA, dan Holly mulai bisa beradaptasi. Semua orang sepertinya dengan mudah bisa bersikap akrab, dulu mana ada kakak kelas beramah-ramah dengan adik kelas, pengecualian jika itu sang gebetan, geng-gengan sangat kental. Tapi di sini beda.


"Mau ke mana?"


"Mau ke parkiran, kak..."


"Oh... mau bolos ya?"


Suara ramah itu terdengar lagi, dan cowok itu masih aja jalan sejajar dengannya.


"Eh... gak kok..."


"Kirain mau pulang..."


Holly tidak merespon tapi agak risih dan memperlebar jarak terlebih saat cowok itu tetap berjalan bersisian.


Holly jadi kenal kakak tingkat ini karena saat masa orientasi paling aktif datang dan sempat mengajarkan beberapa lagu yel-yel fakultas dulu. Dia jago main gitar, dan punya suara yang bagus, terutama punya wajah di atas rata-rata, walau masih lebih tinggi Koko Tenry, tapi postur tubuhnya proporsional, dan kayaknya paling menonjol di angkatannya. Sering berpapasan saat kuliah pagi atau siang karena jurusan yang sama.


Brill masih berjalan di samping Holly, bahkan melewati mobilnya sendiri yang parkir lebih dekat dari gedung jurusan mereka. Holly mulai heran tapi belum cukup percaya diri untuk bersikap sama akrab, jadi Holly diam saja hingga...


"Woiii... Brill..."


Seseorang memanggil dari belakang dan menghentikan langkah Brill, Holly sempat menoleh sejenak dan mengetahui ada teman-teman seangkatan cowok di sebelahnya memanggil dari arah cukup jauh. Holly meneruskan langkah. Terdengar percakapan bernada teriakan, Holly tak menggubris lagi. Sebelum dia sampai ke tempat motornya, belum terlalu jauh dia mendengar langkah setengah berlari di belakangnya lalu sebuah panggilan...


"Holly... nanti ketemu di kelas ya?"


Holly berbalik tak mengerti.


"Hahh?"


"Aku tunggu di kelas..."


Lalu cowok itu berbalik menuju teman-temannya.


Apa maksudnya... dia gak ngambil matkul ini juga kan?


Belum sempat berpikir lebih jauh, sebuah suara klakson mobil yang sudah dikenalnya berbunyi. Hari ini, pagi mereka sarapan bersama, siang hari dua kali Koko menelpon, dan sore ini Koko tersayang samperin dirinya di kampus... Ini si Koko benar-benar perhatian atau apa....


.


.


Hi... maaf lama gak up...


Sempat di titik gak mau lanjut lagi... hehehe....


Permintaan kk membuat aku tergerak utk nulis lagi... makasih ya msh menunggu 🥰🥰


.


🦋


.

__ADS_1


__ADS_2