
Kehidupan baru benar-benar dimulai. Hari ini aktivitas normal pasangan siap dimulai. Buat Holly tinggal di rumah mertua tentu berbeda saat tinggal di rumah sendiri dan saat tinggal bersama Hanie.
"Mau ke mana?"
Tenry segera menahan tubuh Holly yang siap bangun dari tempat tidur.
"Mau turun Ko... mama ternyata bangunnya pagi sekali, gak enak Lingling masih di kamar..."
"Peluk dulu..."
Tenry mengintip jam dari balik selimut, tangannya segera membungkus lagi tubuh Holly dengan pelukan ketat sambil kakinya mengatur selimut agar tubuh istri masuk ke dalam selimut.
"Kokoo..."
Holly coba melepaskan diri yang sudah dicapit suami dengan tangan dan kakinya.
"Mau ngapain sih, bangun pagi-pagi, bentar lagi..."
Tenry menyahut dengan suara malas.
"Iya mau bantu kerjain apa aja..."
"Di sini banyak orang kerja sayang... nanti bangun bareng Koko..."
"Gak enak ahh..."
Tenry masih gak bergerak dan gak menjawab, apalagi melepaskan sang istri. Selama beberapa detik Holly menunggu...
"Lingling udah gak bisa tidur Ko... lepasin ya... nanti Lingling cium Koko..."
"Mana..."
"Lepas dulu..."
"Gak... Lingling suka bohong soal itu..."
"Lepas dulu... Lingling gak bisa kan dikekepin kayak gini..."
"Diam aja dulu..."
Istri akhirnya menurut pada titah suami, diam dan berusaha tenang. Beberapa menit seperti itu, terdengar sebuah suara suami yang mendengkur keras berbarengan dengan satu tarikan napas.
"Hihihi... Koko ngorok..."
Istri terkikik geli tapi mulai gelisah karena gak bisa tertidur lagi.
"Kooo... tangan Lingling sakit..."
Tak ada suara. Akhirnya Holly menggigit di bagian dada tepat di depan mulutnya.
"Auuw... sayang... kenapa Koko digigit..."
"Biar Koko bangun, lepasin Lingling ya... Lingling udah gak bisa tidur lagi, Lingling mau turun ke bawah aja Ko..."
"Mama gak akan marah kok menantunya gak ngapa-ngapain..."
"Tapi... Linglingnya yang udah gak bisa baring gini, mana Koko meluknya kenceng banget..."
"Mmmh..."
Geliat tubuh istri tak berarti banyak, suami masih gak ingin melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Koko... biasa bangun pagi juga kan... ayo bangun sama-sama... hari ini Koko udah mulai kerja lagi kan..."
"Paling-paling Koko lihat toko Marina aja..."
"Lingling kuliah pagi loh hari ini, kampusnya jauh sekarang, gimana Lingling ke sananya... Koko gak kasih Lingling bawa motor..."
"Koko antar..."
"Seterusnya diantar juga?"
"Iya..."
"Repot tau gak Ko kalau seperti itu... Lingling bawa motor aja ya?"
"Bukan Koko yang gak ngasih Lingling bawa motor, itu mama..."
"Oh... kenapa?"
"Mama trauma, udah dua karyawan mama meninggal karena kecelakaan motor... motor Koko aja baru beli mama jual lagi gak bilang Koko..."
"Jadi gimana dong, angkot gak ada dari sini kan..."
"Nurut aja, Koko anterin setiap hari..."
"Apa... Lingling belajar nyetir aja? Mobil Koko di sini banyak yang nganggur, Lingling bisa pakai salah satu kan... hehe..."
"Iya... boleh, nanti Koko ajarin nyetir... udah diam, malah ngajak ngobrol..."
"Sengaja biar Koko bangun..."
"Diam Ling... jangan gerak-gerak, pagi-pagi suka ada yang ikut bangun... entar dia ngamuk minta tahu rasa kamu..."
"Hehe... gak papa, Lingling gak nolak... hehe..."
"Hehe,.. kan itu menyenangkan..."
"Dasar... nih otak ya... awas nolak ya..."
"Mmmh tapi jangan langsung dong, perih tau gak..."
Pagi yang manis dimulai dengan percakapan dan berlanjut dengan pergulatan dua anak manusia untuk saling memuaskan kebutuhan batin masing-masing, istri yang gak pernah munafik alias gak menutupi bila menginginkan sentuhannya dan gak pernah disia-siakan oleh suami, selalu disambut dengan penuh semangat.
.
Di meja makan... makan pagi jadi lebih ramai karena celotehan Ivy dan Holly, Ivy seperti mendapatkan teman sebaya di rumah ini, juga pengganti Cici yang pindah ke rumah suami.
"Nso... hari ini udah kuliah lagi kan?"
"Iya..."
"Jauh loh dari sini Nso... harus bawa kendaraan sendiri..."
"Iya... aku biasanya bawa motor sih, tapi kata Koko gak boleh..."
Holly menjawab dengan sebuah senyuman, dia sedang meladeni Tenry sarapan, sebelum ini Tenry yang suka meladeni Holly saat makan, tapi tadi gelengan kepala Holly membuat Tenry berhenti dan membiarkan Holly yang memilihkan makanan untuknya, terlebih saat Tenry melihat beberapa kali Holly melirik Ci Cun di ujung meja.
"Holly bisa nyetir mobil?"
Pertayaan Ci Cun langsung terdengar memotong percakapan Holly dan Ivy.
"Gak bisa... mm ma..."
__ADS_1
Tersendat Holly menjawab, tapi dia coba memberanikan diri memastikan larangan Ci Cun yang didengar dari Tenry.
"Mungkin lebih praktis Lingling naik motor, mm ma..."
"Jangan... belajar nyetir aja, untuk sementara Koko yang antar atau kalau Koko gak bisa nanti dianterin om Fecky..."
"Koko anterin lah, istri Koko... lagian bisa sekalian jalan kan Koko berangkat kerja setelah itu..."
"Daftarin Holly ke sekolah mengemudi, Ko..."
"Biar Koko yang ajarin sendiri, ma..."
"Mana ada waktu kamu... Holly selesai kuliah langsung ke kafe ya... mama tunggu di sana nanti siang..."
Ci Cun berdiri dan meninggalkan meja makan tanpa menunggu respon Tenry dan Holly, itu tandanya Ci Cun gak ingin dibantah, Tenry akhirnya mencari nomor telpon sebuah kursus mengemudi dari goo*gle, Holly hanya diam saja. Bila bersama Tenry dia akan lancar mengatakan atau merespon semua, tapi di depan mertua dia masih sungkan untuk bersikap lepas bebas.
Tenry kemudian bisa menghubungi sebuah kursus menyetir lalu mendaftarkan Holly setelah mendapatkan beberapa informasi.
"Koko... sekalian sama Dede deh... biar bareng Nso Holly belajar nyetirnya..."
"Nanya ke mama dulu, De..."
"Gak usah, mama pasti gak melarang, kan itu menguntungkan buat mama juga kalau aku bisa nyetir... besok-besok pasti diminta nganterin mama ke mana-mana..."
Mobilitas keluarga ini begitu tinggi, masing-masing orang punya kesibukan, kemampuan menyetir itu hal lumrah bahkan seperti jadi kewajiban dan kebutuhan pendukung. Holly mulai belajar nilai-nilai yang baru di tengah keluarga ini, dan benar kata Tenry, gak ada yang bersantai atau malas-malasan di rumah ini.
"Ling... kursusnya mulai minggu depan, nanti ada antar jemput, kamu juga De... kursusnya siang hari selama dua jam untuk tiga kali seminggu..."
"Dede sama jam?"
"Iya, tapi kamu dijemput di mana?"
"Di rumah aja Ko..."
"Lingling dijemput di kafe ya... kan setiap pulang kuliah langsung ke sana..."
Tenry mengusap kepala istri.
"Iya Ko..."
"Ya udah... cepat habisin makannya, biar gak terlambat ke kampus..."
Begitulah rutinitas baru yang harus dilakoni menantu baru di rumah mertua. Holly belajar bahwa dalam hal-hal serius mertuanya sangat tegas dan Tenry bahkan tidak membantah. Mungkin di sini dia gak dituntut mengerjakan pekerjaan rumah tangga, lebih dituntut untuk mengerti bisnis dan membantu usaha keluarga, tadi dia coba membantu di dapur tapi langsung dilarang mama mertua.
Padahal jika boleh memilih dia lebih senang peran sebagai ibu rumah tangga seperti yang dilakoni sejak dia mulai mengerti bekerja, juga saat tinggal berdua Hanie dan saat tinggal pada keluarga Keke... memasak, membersihkan rumah/toko, mencuci pakaian, dan mengurus anak-anak... itu sudah gak perlu belajar lagi. Tapi rupanya dia gak akan pernah melakukan urusan itu karena di sini banyak ART. Hidup Holly masuk di fase yang baru dengan kebiasaan yang sama sekali berbeda.
Dalam diam Holly menguatkan hati, gak mungkin dia ngomong ke Tenry peran apa yang ingin dia lakukan di sini sementara Ci Cun sudah memastikan sendiri bagaimana dia harus berperan di keluarrga ini...
.
Semangat Holly...
.
🦋
.
.
Semarang hujan... guys... dingin.
__ADS_1
.