
Tenry sengaja menyibukkan diri untuk menghindari Glo, membuat alasan yang terkesan masuk akal. Dia sudah punya tekad untuk mengakhiri hubungan mereka berdua dan menyesali mengapa gak melakukan itu waktu masih di J, dia gak tega melakukan itu di sini.
"Dari tadi hpmu bunyi terus, Ko... kenapa gak diangkat..."
"Gak apa-apa, langsung pulang kan sekarang?"
Tenry mengecilkan volume ponselnya, lalu konsentrasi ke jalanan. Tenry menjadi supir sang mama sepanjang hari, pergi ke beberapa tempat usaha mereka. Dia tahu banyak hal sekarang bagaimana sibuknya mama mengatur semua usaha supaya berjalan baik, hampir tak ada waktu untuk sekedar duduk melepas penat. Ternyata beberapa toko, mulai dari toko bangunan, toko meubel, dan toko beras, hanya sebagian kecil usaha yang digeluti.
Hari ini Tenry mengantarkan mama ke area dekat pasar Jengki, ada gudang bawang merah dan bawang putih yang besar di sana, mengontrol distribusi ke para supplier dan toko-toko baik di kota ini maupun ke pulau yang lain, melalui jalur darat atau lewat laut. Setelah itu lanjut ke gudang yang lain. Singkatnya mama punya usaha sebagai agen besar untuk beberapa komoditi sembako di bagian timur negara ini. Ini baru yang dipegang mama. Usaha papa beda lagi, bergerak di bidang konstruksi.
"Jam berapa ini?"
Sang mama menguap sambil bersandar nyaman di jok.
"Hampir jam sembilan, ma..."
"Mama cape..."
"Bisa cape juga Ci Cun ya..."
"Ko... mama gak suka kamu sebut nama mama seperti itu..."
"Hahaha... enak diucapkan, Ci Cun..."
Tenry menggoda sang mama.
"Koko..."
Mama menimpali dengan kesal.
"Iya... iya mama sayang... joknya diturunkan aja, biar bisa istirahat..."
"Mobilmu enak Ko, nyaman..."
"Mama mengakui sekarang kan, naik mobil perlu rasa nyaman juga, bukan sekedar alat transportasi..."
"Iya... iya... tapi tetap mama gak ijinkan ganti mobil lagi beberapa tahun ini, ingat itu Ko... mobilmu ini bisa dapat tiga avan*za baru... buang-buang uang aja..."
"Ma... sesekali jangan pelit sama diri sendiri, nikmati juga hasil kerja keras selama ini... mama juga ganti mobilnya biar lebih nyaman ke mana-mana, mobil mama udah tua banget..."
"Mobil selalu diservis... masih bagus... untuk apa mengeluarkan uang yang tidak perlu."
"Itu perlu ma, biar mobilitas mama lebih nyaman... yang mahal dikit gak papa..."
"Kalian selalu soal nyaman, soal harga... yang penting kegunaannya, Ko..."
"Kalau bisa beli kenapa gak, sih... Mama lihat Ko Kim mobilnya keren, selain nyaman prestisius..."
"Untuk apa Ko, bayar pajak juga lebih besar. Beli mobil satu setengah m enam bulan kemudian nilainya akan surut, kalau mama kelola uang segitu enam bulan bisa lipat dua..."
"Buat apa coba uang disimpan, digitnya terus bertambah, setelah mati gak dibawa... makanya nikmati selagi bisa..."
__ADS_1
"Mama punya cara sendiri untuk menikmatinya, lebih bermanfaat jika uang dengan nilai yang besar dinikmati oleh lebih banyak orang. Lagipula jangan biasakan pamer punya ini itu demi prestise, cuma untuk menunjukkan kita kaya? Mama gak suka yang seperti itu... kekayaan yang sebenarnya ialah saat hidup kamu jadi berkat buat banyak orang, Ko..."
Mama lanjut lagi sambil tetap menyandarkan tubuh lelahnya...
"Ko... dengar ya... biasakan menggunakan berkat yang Tuhan percayakan dengan bijak, menikmati sendiri itu gak baik, jangan selfish mengumpulkan hanya untuk diri sendiri, beli apa-apa jutaan bahkan ratusan juta cuma buat kepuasan sendiri hanya dipajang atau biar orang tahu dia bisa beli itu, bagi mama itu serakah namanya. Orang kalau diberi rezeki lebih banyak dia harus tahu memberi lebih banyak lagi..."
Mama punya prinsip yang berbeda memang. Dia belum bisa sepenuhnya seperti mama.
"Kan mama sudah memberi kepada banyak orang, sesekali mama juga harus menikmati... mobil mama diganti ya... itu untuk kepentingan mama juga..."
"Udah ada mobilmu, untuk apa beli yang baru..."
"Kan gak setiap hari aku bisa anterin mama..."
"Sekarang harus setiap hari Ko... mama kayaknya udah gak gesit kayak dulu, sekarang tiap malam mama harus dipijit, cape mulai terasa..."
"Mama udah tua, aktivitasnya dikurangi, gak usah nyetir sendiri, pakai sopir..."
"Iya iya... Koko yang harus lebih banyak kerja sekarang ya..."
Tenry terdiam, merasa belum siap dan belum percaya diri punya kemampuan untuk meneruskan langkah sang mama.
"Cari istri yang bisa kerja juga, cari istri yang bisa menghasilkan bukan menghabiskan..."
Tenry lebih diam lagi, pacar yang sekarang tipe yang menghabiskan, pengen cari yang bisa menghasilkan dan terutama yang dia sayang... Tenry jadi kangen seseorang, kalau gadis itu punya ponsel pasti sudah dia hubungi sejak tapi, ini malahan ponselnya bunyi lagi tapi dari seseorang yang sudah menghilang dari hatinya. Tenry mengabaikan lagi panggilan Glo, berharap Glo menyerah saja dengan hubungan mereka, dia masih gak tega memutuskan gadis yang pernah dia sayang itu...
"Ma... udah sampe rumah..."
Tenry membangunkan sang mama yang sempat tertidur.
Tenry tersenyum, mama selalu seperti itu, bahkan bantuan kecil darinya selalu mama hargai dengan ucapan itu, mama yang sangat menghargai apapun yang dia miliki dengan caranya sendiri, dalam kesederhanaan. Bila menyebut keluarga Tenry sebagai salah satu orang terkaya di kota ini, bisa jadi. Tapi itu sama sekali tidak nampak. Satu-satunya tanda hidup mereka sangat berkelimpahan adalah rumah besar ini. Cicinya Tenry mengatakan saat hendak membangun rumah ini, sudah cape seharian bekerja saat pulang ke rumah maka rumahnya harus nyaman untuk istirahat, sebuah alasan yang akhirnya diterima Ci Cun dan Ko Siong, maka jadilah rumah mewah ini.
.
🌳
.
Hanie pulang ke rumah saat sore, Holly tidak diijinkan ikut. Dua hari ini mama beberapa kali menelpon sambil marah-marah. Sebetulnya bila mengikuti kata hati dia tak ingin menanggapi, di keluarga mereka tak pernah ada ajaran rasa saling menghargai, papa mama saja sering sekali bertengkar di depan anak-anak, saling menghina dan mengucapkan makian, jadi soal respek terhadap keluarga begitu rendah di sini. Tapi Hanie tidak tahu apa yang terjadi dalam dirinya, semakin lama dia semakin menyadari bahwa banyak yang salah dalam keluarga mereka, sikap orang tua terhadap anak dan sebaliknya.
Motor baru diparkir...
"Kamu makin lama makin gak punya otak, mau membangkang sekarang hahh?"
Sambutan yang begitu manis untuk Hanie.
"Membangkang?"
"Karena udah bisa kasih mama uang sudah besar kepala mau mengatur rumah ini, mau mengatur mama?? Setelah besar jadi kurang a jar! Gimana kalau kamu udah sepenuhnya nanggung hidup mama, lebih sok lagi kamu!"
"Ma... bicara baik-baik..."
__ADS_1
"Oh... jadi kamu sekarang merasa jadi orang baik lalu mama ini penjahat?"
Hanie berusaha mengontrol emosinya, jarang bisa ada percakapan yang benar dengan mama, intonasi mama selalu penuh bentakan, sukar diajak bicara dengan positif.
"Oke... kenapa sih mama marah-marah?"
"Kalian yang selalu membuat mama marah, kenapa tuduh mama suka marah-marah, otak bab i semua..."
"Ma..."
"Kamu mau keluar dari rumah ini silahkan... memang kamu anak yang tidak tahu balas budi mama yang besarkan, setelah besar jadi sombong, silahkan pergi dari rumah. Mama sumpahi kamu anak kamu nanti membalas lebih jahat, biar kamu rasa gimana jadi orang tua."
"Astaga ma... apa masalahnya sih? Kenapa sumpahin hidup anak sendiri?"
"Pergi kamu, angkat kaki dari rumah ini tapi jangan bawa Holly, jangan ajarin dia jadi pembangkang kayak kamu..."
Ini masalahnya sebenarnya.
"Ma, ini cuma sementara aja, kondisi mental Holly lagi gak baik, aku lihat dia down banget. Dia masih kecil ma, kalau dia tertekan terus gak baik buat perkembangan mentalnya, aku hanya ingin membawa Holly supaya dia bisa tenang sejenak... itu aja..."
"Hahh, jangan mengada-ngada... sok pintar, kondisi mental apa? Jangan aneh! Bawa Holly pulang."
"Ma... mama sadar gak sih, Holly sedang tertekan di rumah ini, sejak lama dia menjadi anak yang tidak punya hak untuk apapun..."
"Jangan melebih-lebihkan, dengar mama, Hanie... bawa dia pulang!"
"Ma, tolong beri satu saja hak Holly... Dia cuma punya satu keinginan sekarang, dia ingin lanjut sekolah..."
"Jangan kasih alasan gak penting itu, dia harus terima nasib gak usah tinggi-tinggi berkhayal, jangan buat mama susah, bawa dia ke sini..."
"Dia memang gak mau nyusahin mama, makanya gak usah remehin keinginannya. Aku yang akan biayain kuliahnya..."
"Bang sat kamu, masih gak ngerti masih maksa mama, BAWA HOLLY PULANG!!!"
Hanie akhirnya lelah mendebat mama soal Holly, mama gak akan pernah ngasih ijinnya ternyata, entah apa yang ada dalam pikiran mama, kenapa begitu anti pada niat Holly?
"HANIE!!!"
Hanie tak menggubris mama lagi, dia berlalu dari ruangan itu, pergi ke kamarnya sendiri, mengambil beberapa barang yang penting, mengambil sebuah koper besar dan mengisi semua barang miliknya di sana, dia juga ke kamar sebelah mengambil beberapa pakaian milik Holly yang masih layak pakai. Akhirnya tekadnya bulat, tinggalkan rumah ini saja, bukan tidak peduli lagi pada orang tuanya, tapi dia lelah juga dengan keadaan rumah ini, lelah menghadapi mama.
.
Sikap negatif yang ada dalam diri seseorang tidak secara tiba-tiba datang dan pergi, sikap ini telah berkembang sejak lama, sejak masa kecil terus bertambah dan bertambah hingga dewasa, sikap hati itu sudah tertanam dalam diri seseorang sehingga sangat sukar untuk diubah.
.
Be positive 💚
A positive mindset brings positive things ~Phillpp Reiter
.
__ADS_1
🦋
.