Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 38. Harus Selesaikan


__ADS_3

Untuk menjadi lebih dekat sebuah hubungan membutuhkan waktu, butuh proses. Ibaratnya ketika menjalin kedekatan dengan seseorang bisa dianalogikan bukan lari seratus meter tetapi lari marathon, dan Holly baru menyentuh di angka dua kilometer pertama sudah menyerah, memilih gak melanjutkan saja perjalanan cintanya dengan Tenry, dia justru berlari cepat ketika berniat meninggalkan Tenry. Bukan gak sayang, malah baru awal-awal tapi rasa itu telah tumbuh dengan cepat, tapi mungkin belum mengakar kuat sehingga kena sedikit angin langsung tumbang.


"Han... Lingling di atas?"


Tenry mendekati Hanie yang sedang memperhatikan progres bangunan baru di sebelah toko, sementara pemasangan besi-besi sloof pondasi. Pembagunan sepenuhnya diawasi Hanie, Ci Cun benar-benar sudah memperlakukan dirinya sebagai anak, udah percaya penuh dan katanya toko ini selamanya dikelola Hanie. Hanie sih oke saja, sejak lama dia memang gak mau macam-macam, bersikap mengabdi saja tak ada tujuan lain, selain itu sudah nyaman dengan pekerjaan serta apa yang dia terima dari pekerjaan ini, hanya masalah Cici Bey aja yang menganjal.


"Ehh Ten... kamu ngomong apa barusan?"


Agak riuh suara sebuah truk yang baru masuk ke parkiran, sehingga suara Tenry tidak bisa didengar Hanie.


"Lingling mana?"


"Oh... dia di kampus..."


Hanie berjalan masuk ke toko, Tenry mengikuti di belakang.


"Udah mulai kuliah ya?"


"Iya, lagi masa orientasi katanya..."


"Pulang jam berapa biasanya?"


"Pulang? Ehh gak tahu..."


Udah gak pulang ke sini... tapi gimana ngomongnya?


Hanie bingung dan mulai menduga-duga gimana reaksi Tenry nanti.


Tenry mengintip jam di tangan kanannya, hampir jam tiga sore. Dia kangen Holly, hari ini udah gak bisa menahannya, terlebih entah alasan apa Holly suka menutup panggilan dengan cepat, makanya Tenry memilih singgah di toko hari ini.


Hanie mengambil sebuah kursi plastik dan langsung duduk di sana membiarkan Tenry menduduki singgasananya sejenak. Tenry duduk santai sambil sesekali memutar-mutar kursi ergonomis, sambil menyandarkan kepalanya sambil menutup mata. Cape dan mengantuk, sudah dua minggu dia menggantikan tugas-tugas Ci Cun dan ternyata lumayan menguras tenaga, dia paham jika mamanya lebih memilih di rumah menemani Cicinya dan hanya mengontrol semua usaha mereka lewat ponsel, Tenry lah yang turun langsung mengerjakan semuanya.


Ada beberapa transaksi pembayaran yang mengganggu Tenry, maka...


"Han... aku numpang istirahat ya cape banget, ngantuk juga..."


Tanpa menunggu persetujuan Tenry naik ke atas, memutuskan beristirahat di sini aja sambil menunggu Holly pulang. Tenry singgah sebentar mengambil minuman dingin favoritnya di showcase lalu tanpa sadar kakinya justru mengarah ke kamar depan sambil meneguk isi botol warna orange itu sampai tuntas lalu melempar di tempat sampah tepat di depan kamar. Saat di dalam kamar depan, Tenry melepaskan sneaker dan langsung naik ke tempat tidur, dulu miliknya sekarang digunakan Holly. Senyum muncul di wajahnya saat sadar di mana dia berada, saat memeluk guling, menghirup bau dari bantal dan seprei, bau deterjen, sepertinya seprei baru diganti. Rasa hepi menyergap saat membayangkan Holly yang setiap malam tidur di tempat tidur yang sama, tak lama dia jatuh tertidur.


Jam lima lewat Tenry terbangun, kamar ini gak punya AC, hanya sebuah kipas angin standing dan itu tidak cukup buat Tenry, makanya sekarang badannya berkeringat, gerah saat terbangun, tapi lumayan, rasa lelah di tubuh seolah lenyap, walaupun masih sedikit lemas tapi dia merasa segar.


Di ruang makan, Hanie sedang minum sore ditemani sepiring camilan yang dikirim Ci Cun tadi, cape seharian karena begitu banyak orang yang belanja dan ada karyawan yang gak masuk karena sakit, kerjaan jadi lebih rumit dari biasanya, ditambah harus mengontrol bangunan baru.


Tenry duduk di sekitar meja yang sama.

__ADS_1


"Mau minum teh atau kopi?"


Hanie menyambut dengan sebuah tawaran.


"Ada kopi instan?"


"Ada... bentar..."


"Ada creamer gak? Tambahin 2 sendok Han..."


"Ok..."


"Lingling belum kelihatan, belum pulang?"


Hanie gak menjawab, masih bingung untuk terus terang, apalagi dititipin pesan yang berat untuk disampaikan. Hanie meletakkan cangkir kopi yang mengepul serta mengeluarkan aroma yang kental.


"Ini udah sore loh Han... emang jam berapa sih, Lingling pulang?"


Hanie menatap mata Tenry yang menuntut jawaban, dan gak mungkin menghindar lagi, dia hafal ekspresi Tenry yang gak bisa ditolak itu.


"Lingling gak pulang ke sini..."


Hanie menjawab dengan nada rendah.


"Gak. Lingling ngekost di kampus..."


"Hahh? Sejak kapan? Kenapa gak kasih tahu aku sih? Lingling juga gak pernah bilang mau ngekost... Gimana ceritanya?"


"Dia... dia denger waktu itu..."


"Apanya?"


"Denger kalau Ci Cun suruh kamu ngalah untuk Cici, suruh aku menolong Cici... dia denger Ci Cun gak menerima dia..."


"Jadi? Ahhh... kenapa gak kasih tahu aku Han?? Pantas dia jarang ngangkat panggilan, malah gak balas chat aku..."


"Dia gak mau ketemu kamu sekarang Ten... dia bilang dia yang harus ngalah dan kita berdua harus melakukan keinginan Ci Cun..."


"Gak bisa gitu Han, gak bisa... dia ngekost di mana?"


"Dia gak kasih tahu aku, dia nyari sendiri..."


"Jangan bohong... masa kamu gak tahu..."

__ADS_1


"Aku gak bohong Ten... aku gak tahu kostannya..."


"Han!! Kenapa kamu biarin sih dia ambil keputusan kayak gitu, kenapa sih gak kasih tahu aku, ini penting banget buatku, kamu tahu aku gak main-main soal Lingling..."


"Aku juga gak mau dia seperti itu, dua hari dia gak keluar kamar, sedih ngeliat dia seperti itu, aku juga kaget dia ngomong bahwa dia yang harus ngalah demi kebaikan semua..."


"Mana ada buat kebaikan semua... Seharusnya kamu nahan dia paling tidak lakukan sesuatu supaya dia gak lakukan ini..."


"Udah Ten, aku juga heran dia keukeuh banget..."


"Kenapa bisa kita kalah langkah sama Lingling sih? Ahh..."


Tenry memukul meja di depannya dengan dua tangannya yang mengepal. Hanie terperanjat melihat emosi Tenry.


" Bodoh banget sih aku yang gak peka soal perasaan Lingling..."


Tenry meremas rambut di kepalanya. Tiba-tiba sesak menghampiri dadanya, dia menyesali gak datang menemui Holly karena ingin menenangkan dulu mama Cun yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian ini. Dia bisa membayangkan gimana Holly melewati kesedihan ini sendiri padahal dia punya janji hati untuk selalu membuat gadis kecil itu gak merasakan kesedihan lagi.


"Kita harus selesaikan ini... aku minta kamu tegas sama mama menolak menikahi Cici, kecuali kamu memang menginginkan Cici dan gak jujur padaku... Aku akan melakukan apa yang harus kulakukan."


Tenry gak menyentuh kopi yang sudah diseduh untuknya, balik ke kamar Holly untuk mengambil ponsel dan kunci mobil. Saat berada di kamar itu lagi Tenry membuka semua laci lemari dan nakas mencoba mencari sesuatu berharap ada sesuatu yang ditinggal Holly atau apa saja... semua kosong. Tenry menggelengkan kepalanya gak ada pikiran sama sekali akan berakhir seperti ini dan heran dari mana gadis itu berani memutuskan hal sebesar ini tanpa bilang apa-apa --ya kan kalau bilang dulu gak mungkin Koko, alurnya beda lagi--


Tenry turun tanpa ngomong apapun pada Hanie, dia marah dan kecewa kenapa Hanie selemah itu dan gak punya kemampuan untuk menghalangi Holly atau pun berhadapan dengan situasi ini.


.


🦋


.


Readers...


Maaf tdk update bbrp hari.


Sedikit penjelasan, selain sibuk, aku moodnya up n down, semoga membaik lagi 😊


Maklum ya, mood aku bergantung pd respon readers semua. Karena aku gak dpt apapun di sini selain rasa bahagia jika pembaca suka sama cerita aku, maaf jika aku terpengaruh sama respon kalian, karena hanya itu reward buat aku di sini... udah setahun nulis di sini say... yg ada keluarin duit beli kuota hehehe 🤭


.


Happy reading


.

__ADS_1


💚


__ADS_2