Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 93. Pikirkan Kebahagiaan yang Menanti


__ADS_3

Tenry tahu dia gak boleh berkunjung ke rumah calon mertua dengan tangan kosong, maka Tenry membeli banyak makanan dari restoran Chinesse food. Membawa sesuatu bisa menjadi pembuka jalan bagi kemulusan rencananya malam ini.


Semua orang dewasa di rumah ini akhirnya tahu maksud Tenry datang ke rumah. Pembicaraan dilakukan setelah acara makan malam. Semua anggota keluarga jadi pengen mendengar langsung, makanya mereka duduk gak jauh-jauh dari ruangan depan.


Ada Hanie yang sengaja duduk tak jauh dari Tenry tepat di samping Holly. Mama sendiri hanya duduk sebentar, seolah gak memiliki emosi apapun untuk hal sepenting ini.


"Ngomong sama papamu aja..."


Begitu kalimat si mama Ibeth kemudian kembali ke ruangannya dengan alasan banyak jahitan.


Holly merasa sedih dalam hati melihat tanggapan mama yang tak acuh. Perasaan bahagia karena merasakan keyakinan dalam sikap Tenry saat meminta ijin menikah tergusur oleh perasaan gak enak yang segera merajai akibat respon mamanya.


Tenry selesai menyatakan niat hatinya meminta ijin untuk menikahi Holly, kalimat demi kalimat yang dia ucapkan dengan lancar. Meski disertai rasa gugup, tapi melegakan bisa mengungkapkan pada orang tua Holly.


Selepas Tenry bicara, papa Dol dengan suara dibuat sedih dengan lagak seperti seorang ayah yang gak rela kehilangan anak kesayangan mulai melakukan 'orasi' tentang keadaaan dirinya yang sakit-sakitan, soal kondisi ekonomi keluarga, dan betapa berharganya Holly sebagai anak bungsu.


Sejak papanya bicara Hanie menahan diri sekuat-kuatnya karena tidak suka dengan cerita pilu papanya yang basi, dia tahu ke mana muaranya. Mendengar itu semua seperti mendengar suara knalpot racing yang memekakkan telinga, padahal suara papanya beralun lemah.


Saat mengatakan soal harta tiba-tiba suaranya berubah menjadi berwibawa.


"Jadi Tenry, kamu gak mungkin meminta anak orang begitu saja. Kalau kamu bersedia memenuhi apa yang saya minta, silahkan menikahi Holly. Saya gak matre ya, hanya terang-terangan bahwa saya masih memegang kebiasaan keluarga ada harta yang diberikan mempelai pria."


"Iya om, saya mengerti..."


"Beritahu orang tuamu tentang hal ini, setiap keluarga ada aturan turun-temurun..."


"Iya om nanti saya sampaikan..."


"Saya tunggu sebelum pernikahan... biar kalian gak susah-susah, rumah nanti saya yang cari, di sekitar sini banyak yang mau dijual, saya sudah tawar ada beberapa... kalau harga cocok nanti saya kasih tahu... Saya gak mau pindah ke tempat lain.


"Pa... jangan keterlaluan, gak wajib kan itu sebenarnya, Herlina sana Helny mereka nikah aja gak bawa harta mereka ke sini, malah mereka yang tinggal di sini..."


Hanie mulai berang melihat papanya yang terlihat jelas memang sudah merencanakan ini.


"Diam kamu Hanie! Kamu tahu apa? Ini untuk kepentingan nama baik keluarga si Tenry... semua tetangga sudah tahu Holly pacarnya orang kaya, apa gak kehilangan gengsi mereka kalau tetangga tahu mereka tidak memberikan harta..."


"Papa melebih-lebihkan, kalau pun Tenry ingin memberi sesuatu itu kerelaan dia saja, jangan menuntut pa..."


"Kamu keluar dari sini, Hanie, mengganggu saja..."


Hanie tersenyum sinis dan gak beranjak dari kursinya, sudah lama dia gak akur dengan si papa. bahkan sering mencela kelakuan sang papa. Holly duduk gelisah juga perasaan tak berdaya karena gak mungkin menghentikan papanya.

__ADS_1


"Tenry dengar... saya tidak mau asal memberikan anak perempuan saya... anak saja gak murah ya... Kamu meminta Holly jadi istri, jadi kamu wajib memberikan apa yang kami orang tua inginkan..."


"Jadi ini... papa mau menjual Holly begitu? Mau menukar Holly dengan harta?"


Hanie bersuara lagi semakin tinggi karena udah gak bisa menahan dirinya lagi.


"Han..."


Tenry menenangkan sahabatnya supaya berhenti berargumen dengan papanya sendiri. Dia tahu sejak dulu Hanie suka sinis pada papanya dan menjadi anak yang paling banyak mendebat kelakuan papanya. Dia ingin mengakhiri pembicaraan ini dengan segera, perasaan Holly nampak jelas di ekspresi wajah Holly, jalan satu-satunya adalah menyetujui permintaan calon mertuanya.


"Lebih baik kamu keluar sekarang...mengganggu saja..."


Papa Dol mengusir Hanie. Hanie melengos, matanya bersirobok dengan Tenry, gelengan kecil kepala Tenry seperti sebuah isyarat untuk dia agar diam aja.


"Semua permintaan om tadi saya usahakan sebelum nikah sudah ada..."


"Saya mengikuti tradisi..."


"Iya om saya mengerti... Nanti mama dan papa saya beserta keluarga akan datang ke sini melamar Holly secara resmi, rencananya di awal tahun, mungkin di minggu kedua bulan Januari..."


Tau-tau mama Ibeth muncul dengan senti melingkar di lehernya. Kalimat terakhir Tenry bisa sampai ke telinga mama Ibeth.


"Ma... di rumah aja ... itu lebih baik..."


Hanie menimpali, semakin gusar dengan kedua orang tuanya.


"Anaknya bu Reinny lamaran sekaligus tunangan diadain di restoran..."


"Kenapa harus melihat orang lain sih?"


"Rumah ini gak layak untuk jadi tempat acara, sempit... lagian sekarang orang-orang mengadakan acara di restoran..."


Hanie menghembuskan napas jengkel.


"Nanti saya omongin sama orang tua dulu..."


Tenry akhirnya menengahi sebelum menjadi tajam lagi dan otomatis akan semakin lama.


"Om, tante... yang penting saya udah kemukakan maksud saya,.. nanti selanjutnya dengan orang tua saya aja..."


"Jangan lupakan apa yang om sampaikan sebelum ini, dan om gak menerima janji aja ya... harus direalisasikan sebelum pernikahan..."

__ADS_1


"Iya om... saya akan usahakan..."


Tanpa basa-basi lagi baik mama Ibeth maupun papa Dol meninggalkan Tenry. Tenry dan Hanie menarik napas dan membuangnya dengan alasan berbeda. Satunya kesel banget yang satunya lega karena telah satu langkah maju ke titik orientasi yang dia mimpikan.


Tenry segera berdiri mendekati Holly, meraih lalu memegang Lembut tangan Holly, dia dapat merasakan Holly yang sejak tadi ingin segera keluar dari sini.


"Kita pulang aja?"


Holly hanya mengangguk, sejak tadi dia menunduk dalam seolah menyimpan emosinya untuk diri sendiri, beda dengan Hanie yang segera meluapkannya.


"Kalian duluan aja... aku mau di sini sebentar lagi..."


Hanie masih belum puas, ada yang harus dia tuntaskan dengan kedua orang tuanya.


.


Setelah masuk ke dalam mobil, Tenry yang tahu keadaan hati Holly segera meraih tubuh kecil itu.


"Sini sebentar... peluk dulu..."


Tangan Tenry yang satu mengusap kepala Holly.


"Gak usah nangis ya... belajar kuat nahan emosi... ya..."


Holly coba menguasai dirinya, kepalanya masuk lebih dalam ke pelukan Tenry, mencari tenang dan damainya di sana. Di dekapan ini dia merasakan kehangatan kasih yang menjadi penguat jiwanya... emosi semenjak berangkat ke sini hingga berhadapan dengan papa dan mamanya, sekarang menguap terlebih saat tangan Tenry terus mengusap bagian punggungnya, meninggalkan kesejukan yang menetralkan semua kegusaran dan kesedihan.


"Satu langkah udah kita lewati... pasti selanjutnya semakin mudah, pikirkan kebahagiaan yang besar yang menanti setelah nikah... ya... kita akan terus sama-sama... jadi mulai sekarang buang sedihnya jauh-jauh... ya..."


"Iya..."


"My baby... sayangnya Koko..."


Pelukan itu semakin erat, hanya cinta yang mereka inginkan dan cinta itu telah mengisi relung hati, tiap tetes cinta mengganti tetes airmata di pipi Holly, cinta yang membuat dia belajar tegar dan belajar menjadi kuat.


Tenry melepaskan napasnya yang sebenarnya sesak. Dalam hati berpikir apa orangtuanya bisa menyetujui semua permintaan orangtua Holly. Dia risau soal ini, sudah menyanggupi tadi, tapi belum tentu dengan orang tuanya.


.


🦋


.

__ADS_1


__ADS_2