Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 51. Berantem?


__ADS_3

Pagi di hari sabtu, Holly memandang kamarnya dengan puas, sudah rapih dan wangi lagi. Lebih dari seminggu ini setiap pulang kuliah dua teman baiknya selalu mampir ke kost dan pulang larut malam, mereka belajar bersama karena sedang ujian semester, kata mereka kamar Holly nyaman untuk belajar. Kemarin hari terakhir ujian, semua tugas sudah dimasukkan, artinya mulai hari ini dia libur. So exited merasakan liburan pertama sebagai mahasiswa.


Rencananya hari ini mau mengunjungi mama, siapapun mama tetap aja ada rasa rindu bertemu, hanya sempat mengunjungi saat baru pindah ke sini. Semalam mama menelpon tapi isinya pengeluhan dan mengungkit-ungkit Holly yang dianggap anak tak tahu diuntung. Pengen sebenarnya merasakan dirindukan sang mama gak usah yang lain, mama aja, itu udah sesuatu buat dirinya. Apa sebenarnya mama rindu juga tapi gak tahu bagaimana mengalimatkannya...


Setelah mandi dan sudah berpakaian rapih, Holly mengecek ponselnya... gak ada berita apapun dari si Koko ganteng, ini udah mau jam sepuluh, biasanya pagi-pagi udah datang dengan membawa sarapan, hari ini gak ada sarapan gak ada sms gak ada telpon, gak jawab telpon juga. Holly kemudian memutuskan pergi sendiri aja.


Holly memasukkan beberapa pakaian baru untuk mama dan papanya, serta sebuah sandal baru untuk sang mama. Sudah lama dia membelikan ini dari tabungannya, tapi sudah lama juga gak pernah pulang rumah, baru sekarang akhirnya bisa membawa sekaligus mengunjungi mama. Dia banyak menghemat pengeluaran, ada Koko yang suka membelikan keperluannya, jadi kadang uang dari Hanie gak terpakai, termasuk menghemat pengeluaran untuk makan, suka dapat rantang gratis dari kak Mel. Hidup seperti berpihak padanya sekarang. Pernah ada di musim di mana penderitaan seperti bayangan gak pernah lepas kecuali saat dia terlelap. Tapi sekarang dia menikmati banyak hal yang baik.


"Kak Nul..."


Holly mengetuk pintu kamar persis di depan kamarnya.


"Kak..."


Muka baru bangun tidur menyembul di pintu yang ditahan sama badan Nuella.


"Baru bangun kak?"


"Iya... semalam begadang, banyak yang harus diperbaiki..."


"Susah ternyata nulis skripsi ya kak..."


"Ya gitu deh... mau ke mana Ling?"


"Mau nengokin mama, udah lama gak bertemu orang rumah..."


"Oh.. ok, langsung balik apa nginap?"


"Kayaknya langsung balik deh... tapi mungkin sorean..."


"Oke... rantang kamu nanti aku simpan buat makan malam..."


"Kak Nul... gak apa-apa ya aku gak bayar?"


"Apanya?"


"Masa digratisin rantang sama Kak Mel..."


Holly mendorong pintu hingga akhirnya Nuella membuka lebar pintunya dan Holly bisa masuk ke dalam kemudian duduk selonjoran di karpet bersandar di lemari. Nuella setelah menutup pintu langsung berbaring lagi sambil memeluk guling.


"Kak Mel yang ngasih sendiri... aku juga gak minta untuk diriku kan... katanya sih sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah bayarin kamar ini..."


"Bukan aku kan..."


"Iya secara tidak langsung..."


"Tapi aku gak enak aja sama kak Keke..."


"Santai Ling... mereka orang baik kok..."


"Mmh... tapi pengen ngucapin terima kasih juga, tapi gimana caranya ya..."


"Udahlah, gak usah sungkan, mungkin satu saat ada kesempatan untuk itu."


"Emm kak... tanyain aja ke kak Mel, kalau butuh bantuan aku udah libur..."


"Iya nanti aku tanyain..."


Nuella sudah menutup mata lagi, belum ada niat bangun meskipun udah jam sepuluh pagi. Melihat itu, Holly jadi gak enak untuk lebih lama di kamar ini.


"Ya udah kak, aku pamit ya..."


Holly dan Nuella sama-sama berdiri.


"Selamat bersenang-senang deh... daah..."


Nuella menutup pintu dengan senyum, sepertinya mau melanjutkan tidurnya lagi. Holly membalas dengan senyum kecut, mana ada pulang ke rumah itu untuk bersenang-senang, yang ada pasti kerja rodi. Meskipun tahu apa yang akan dia hadapi di rumahnya Holly tetap exited untuk pulang.


Saat sudah menjalankan motornya hampir keluar ke jalan protokol, sebuah sedan mewah berwarna hitam menghalangi jalannya dibarengi klakson panjang. Holly yang kaget segera berhenti tapi akhirnya tertawa saat melihat kepala si Koko menyembul keluar dari jendela.


"Kalau aku nabrak, Koko yang rugi loh, mobilnya lecet..."


Si Koko senyum saat Holly menepikan motornya lalu maju sedikit hingga mereka bersisian.


"Mau ke mana?"


"Pulang..."


"Ya udah... balik, bawa ke kost lagi motornya, Koko anterin..."


Holly senyum lalu mengangkat tangan kanannya ke pelipis dengan dua jari lurus lainnya ditekuk...

__ADS_1


"Siap boss..."


Tenry tertawa, gambaran gadis kecil berwajah sedih udah jarang terlihat, sekarang gadisnya banyak senyum, dan dia suka senyum itu, sebab jika dua bibirnya terangkat diikuti mata yang menyipit ekspresi itu entah kenapa selalu ingin dia tatap lama-lama, setiap kali seperti memancarkan rasa sejuk yang membuat adem saat melihat itu.


.


🌿


.


Di mobil Holly menyimpan tas plastik besar bawaannya di jok belakang.


"Bawa apa? Mau nginap ya?"


"Ehh gak... Lingling ada beliin mama sama papa baju, ada sandal juga... udah lama gak pulang rumah... bawain sesuatu biar mama gak terlalu marah sama Lingling..."


"Nyogok ceritanya..."


"Hehehe... anggap aja seperti itu. Hanie suka gitu juga belakangan, belanja macam-macam kalau kita pulang ke rumah, dan mama gak begitu cerewet jadinya, gak kasar-kasar ngomongnya... hehehe..."


"Ya udah, nanti mampir di supermarket, kita belanja kebutuhan rumah, apa aja belanja yang banyak... biar kamu bisa mulus balik lagi ke kost..."


"Koko tahu ya, aku suka ditahan mama?"


"Iya... Lingling sendiri yang ceritain kan?"


"Masa?"


"Iya..."


"Kapan?"


"Gak ingat ya kamu?"


"Lingling ngomong apa waktu itu?"


"Udah... nanti keterusan nanya-nanya..."


"Ihh Koko..."


"Apa? Jangan gitu ekspresinya... Koko jadi kepengen nyium kamu jadinya..."


"Gak boleh... lagi nyetir..."


"Ehh... nanti nabrak mobil di depan..."


"Gampang... paling minta ganti rugi..."


"Ihh... kan mobilnya dua-duanya bisa rusak..."


Tenry menyimpan senyumnya, jadi kepengen lanjut menggoda...


"Gampang juga, bawa ke bengkel aja..."


"Ihh Koko mau cari masalah namanya..."


"Gak papa... yang penting bisa nyium Lingling..."


"Apa sih... Koko nyebelin..."


Holly merapat ke pintu mobil, seperti membuat jarak.


"Hahahaha..."


Tangan Tenry terulur, punggung jemarinya mengusap pipi kanan Holly.


"Tapi kamu punya hutang ciuman loh... waktu itu bilang mau cium Koko..."


"Eh... gak ada..."


"Jangan pura-pula lupa ya... waktu dari gramed?"


"Hehe... itu ya... udah kadaluarsa Ko... udah lewat lama..."


"Gak ada kadaluarsa sayang, gak ada perjanjian seperti itu..."


"Siapa suruh Koko gak langsung nagih waktu itu aja..."


"Eh ni anak... pokoknya hutang tetap hutang ya..."


"Gak mau..."

__ADS_1


"Kalau gak mau bisa ada bunganya, jadinya bukan hanya sekali loh..."


"Apaan, gak ada yang kayak gitu di novel-novel..."


"Ya emang adanya di dunia nyata kan, dunia yang isinya kita berdua..."


"Tapi masa Lingling harus cium Koko sih..."


"Loh... kan Lingling yang bilang sendiri, bukan Koko yang minta loh..."


"Ihh Koko... udah ahh... masa kita berantem... Lingling pengen nangis nih..."


Hahh yang seperti ini dianggap berantem? Tenry menyimpan tawanya yang mau meledak, berusaha sekuat tenaga hingga pipinya memerah. Dia berkonsentrasi dengan setirnya dengan mata terarah ke jalanan sambil meredakan rasa gemas yang membahagiakan ini. Saat memandang sekilas wajah kekasihnya, ternyata beneran dia nangis. Tenry menepikan mobil di sisi jalan agak naik ke trotoar.


"Eh... kenapa nangis, kita gak berantem tadi... Ling... sorry... Koko keterlaluan ya becandanya?"


Tenry menarik Holly masuk dalam rangkulannya, kemudian menggantikan tangan Holly menghapus sisa airmata.


"Udah ya... bedaknya kehapus kan... udah ya..."


Holly mengangguk. Jadi malu sendiri karena merasa sedikit lebay pakai acara nangis kayak anak kecil aja. Tapi beneran dia memang gak mau dipaksa mencium Koko Tenry, waktu itu kan bo'ongan biar dia bisa pulang dengan motornya sendiri.


"Bisa jalan sekarang?"


Holly mengangguk. Tenry menjalankan lagi sedan hitamnya. Jadi ingat 'petuah' Hanie dulu, siap-siap aja repot sama anak kecil. Tenry senyum tipis, ibaratnya ini repot yang manis, dia suka yang seperti ini.


"Kita mampir makan ya..."


Tenry berujar lembut sambil mengelus sayang kepala Holly. Holly menikmati usapan sayang itu dengan kepala yang bergerak-gerak karena tekanan lembut tangan besar Tenry, efek dari tindakan Koko ini lebih dari sekedar kata-kata tentang rasa indah yang menyelusup di dadanya. Wajah mulai cerah ceria.


"Baru jam segini, Ko... baru sejam Lingling sarapan..."


"Sarapan apa?"


"Masak mie instant pakai telur..."


"Jangan sering-sering makan mie instant..."


"Iya... iya..."


"Sorry ya... Koko gak bawain sarapan..."


"Gak papa, gak usah setiap hari juga... Lingling bisa masak kok yang simple atau beli deket sini... Koko udah sarapan?"


"Udah sih... di rumah... Untung kamu masih deket kost ya... kalau gak kita selisih jalan..."


"Kan bisa telpon... Emm tadi Lingling nungguin Koko nelpon..."


Wajah yang tadi mulai cerah berubah lagi,


"Kenapa gak telpon aja?"


"Ada kok... sekali..."


"Sekali doang... harusnya berkali-kali..."


"Biasanya walaupun sekali doang Lingling nelpon, Koko langsung telpon balik..."


"Oh... tadi ada sedikit masalah di rumah... tapi besok-besok kalau Lingling butuh Koko gak usah ragu hubungi Koko ya..."


Tangan Tenry beralih menggenggam jemari Holly, sementara Holly hanya memandang Tenry sekilas. Sejujurnya dia takut menelpon duluan, takut ada Ci Cun di sekitar Koko, makanya jika pun dia menelpon dalam nada ketiga biasanya sudah dia matikan, menunggu si Koko yang menelpon balik.


"Tadi Cici Bey mengamuk... gak tahu kenapa tiba-tiba bangun pagi Cici menjerit-jerit... jadi Koko tenangin Cici lama... makanya gak bisa datang pagi-pagi..."


"Oh... Cici masih sakit ya..."


"Udah mendingan sih sekarang, tapi itu... kadang suka tiba-tiba histeris..."


Sekarang wajah cerah ceria seratus persen menghilang dari wajah Holly, tahu bahwa kesehatan Cici adalah hal paling utama yang sekarang diperjuangkan keluarga itu, termasuk Koko. Perasaan bersalah dengan cepat menyusup, dia masih mengingat dengan baik dan jelas permintaan Ci Cun waktu itu, tangisan Ci Cun waktu itu, Holly mulai merasakan sesuatu lagi, bahwa hubungan mereka tidak benar.


.


.


Hi.... tengkyuuu


masih ada yang nungguin gak ya....


Maaf jarang update 🙏🙏🙏


.

__ADS_1


🦋


.


__ADS_2