
Sudah ada feeling yang kuat bahwa gak akan terjadi sesuatu hari ini, bahkan ucapan selamat pun gak ada. Jadi merasa bahwa Tenry bukan seseorang yang memusingkan tentang hari spesial, mengingat lagi bahwa pesta kejutan tahun lalu itu ide Nuella.
Beberapa panggilan mau pamitan pada si Koko gak diangkat. Dengan sedih Holly berpamitan pada Hanie di toko saat teman-temannya menjemputnya.
"Han... pergi ya..."
"Yakin mau pergi... kalau setengah hati mending gak usah, mau liburan kayak gak punya semangat..."
"Udah dijemput, masa batal..."
"Tenry gimana?"
"Gak ngangkat telpon... sebel deh..."
"Gak usah sedih gitu... dia bener-bener sibuk, pasti kalau ingat dia langsung ke sini..."
"Iya kalau ingat... kalau gak?"
"Ya udah berangkat sana, udah ditungguin... enjoy aja tripnya... jangan matiin hp ya... entar Tenry panik lagi..."
"Biarin..."
Holly melangkah keluar toko dengan menenteng dua tas miliknya.
"Eh sini..."
Tas yang berisi pakaian diambil Hanie. Ada Faithly yang turun dari mobil, sebuah mobil SUV hitam besar yang mewah sudah menunggu di luar.
"Hi Kak Hanie..."
Faithly yang sudah beberapa kali bertemu Hanie menyapa ramah..."
"Faith... titip Holly ya..."
"Siap Kak... don't worry... kita banyak orang kok, semua pasti jagain anak kecil ini, hehehe..."
Holly memberengut dibilang anak kecil, dia meninju lengan Faithly yang cengengesan. Victory teman cowok yang jadi driver turun dari kursi kemudi lalu membukakan pintu belakang untuk menyimpan tas Holly.
"Kak Han... pamit ya... bye..."
"Udah... naik sekarang Fet... udah jadi pacar orang masih tebar pesona..." Joy menimpali aksi sok akrab Faithly.
"Hehehe... Kakaknya Holly ganteng sih, sayang untuk dilewatin gitu aja..."
Holly mengambil tempat duduk tengah di deret kedua mobil itu di samping kiri kanan Faithly dan Joy, di belakang ada dua orang cewek-cowok yang dikenali Holly sebagai kakak tingkat mereka. Karena gak kenal dekat Holly gak menyapa, hanya memasang senyum kecil. Di depan selain Tory sang ketua kelas juga ada seorang cowok yang gak bisa Holly kenali, kepalanya tersembunyi karena memakai hoodie hitam plus kacamata hitam.
Perasaan Holly gak nyaman karena ada teman seperjalanan yang gak terlalu kenal, tapi udah duduk di sini, mobil udah melaju maka perasaan itu harus disingkirkan. Dia duduk bersandar sekarang, diam di tengah cerita yang mengalir bersahut-sahutan dari muka sampai belakang, kecuali si cowok yang memakai baju serba hitam. Dari bayangan di kaca depan yang sempat ditangkap Holly cowok itu bersandar entah tidur atau apa. Dia sempat penasaran siapa itu, tapi malas untuk bertanya.
Holly mengambil ponselnya di laci depan tas selempang miliknya yang dia pangku, jam sembilan pagi, setelah memastikan chatnya gak dijawab juga gak ada panggilan masuk ponsel dia masukkan lagi.
Masih ada beberapa jam ke depan, si Koko melupakan hari istimewanya, dua sahabatnya juga sepertinya gak ingat. Dia juga sebetulnya biasa aja dengan hari lahirnya hingga perayaan setahun lalu yang begitu berkesan. Hari ini dia membuang semua harapannya tentang sesuatu yang istimewa yang akan dia dapatkan... hari ini kembali menjadi hari biasa seperti sebelum-sebelumnya, gak ada perayaan, gak ada kado dan gak ada ucapan selamat, bahkan Hanie yang tahu tadi gak memberi ucapan. Jadi, biarkan saja hari ini berlalu seperti banyak hari yang lain.
.
"Ly... bangun..."
Joy membangunkan Holy. Holly celingukan lalu sadar ada di mobil.
__ADS_1
"Udah sampe ya?"
"Belum, masih setengah perjalanan. Ini di resting area... ayo turun, kakak yang di belakang juga mau turun..."
"Oh..."
Holly cepat-cepat turun, lalu berjalan setelah matanya menemukan toilet.
"Ke arah rumah makan Ly, kita sekalian makan... yang lain udah di sana..."
Joy menarik tangan Holly.
"Aku ke toilet dulu..."
"Mau aku temenin?"
"Gak usah..."
Dia melihat ponselnya, ada jaringan. Sebelum masuk toilet Holly berniat melakukan panggilan, siapa tahu si Koko mengangkat panggilan kali ini. Eh... tapi sebelum melakukan panggilan justru ada panggilan masuk... dari Koko Sayang.. Aduuuh senangnya hati ini tapi bersamaan dengan itu rasa jengkel juga sama besarnya.
.
π±
"Koko..."
"Iya sayang..."
Sebutan sayang yang membuat derajat jengkelnya surut ke titik minus, ahhh...
"Ehh apa? Ini Lingling? Eh salah nelpon..."
.
Klik, telpon mati.
"Ko???"
.
Benar-benar mati. Itu dari si Koko apa bukan? Holly memastikan id panggilan masuk terakhir, gak salah emang dari si Koko. Tapi kenapa bilangnya salah telpon, maksudnya apa? Kalau salah, kenapa jawabnya iya sayang tadi... apa ada orang lain yang suka disebut sayang juga? Jangan-jangan... Sirkuit di otak langsung mengirim signal yang aneh ke dalam hati Holly, pikirannya pun langsung menuju satu titik...
Koko punya pacar lain?
Telaah singkat yang membuat rusuh di hati, di sisi lain dia perlu kamar mandi... Holly bergegas karena tiba-tiba merasakan desakan pembersihan kantung kemih. Saat keluar dari kamar mandi khusus wanita, korneanya menangkap tubuh cowok berpakaian serba hitam berjalan pelan di depannya mungkin baru dari toilet juga. Ada tas cowok berbahan kanvas hitam diselempangkan di bahunya. Langkahnya sangat lambat sehingga Holly berhasil mendahului. Karena merasa gak kenal Holly gak mencoba bertegur sapa walaupun tadi semobil. Terlebih sekarang pikiran tentang Tenry memenuhi otaknya sehingga rasa ingin tahu tentang cowok itu tereliminasi dari otaknya,
Saat melewati cowok itu, tiba-tiba pergelangan tangannya sudah diraih tangan berbalut bahan kaos hitam itu.
"Ehh? Siapa sih?"
Holly mendongak sambil terus berjalan, karena cowok berhoodie itu gak menghentikan langkah juga.
"Kak Brill???"
Cowok itu hanya senyum kecil dan gak melepaskan tangan meskipun Holly berusaha menarik tangannya.
"Lepaskan tanganku Kak..."
__ADS_1
Brill tak acuh dengan permintaan Holly, dia tetap memegang erat pergelangan tangan Holly, malah mengenyahkan jarak hingga terlihat tindakan Brill seperti tindakan seseorang pada pacarnya.
"Kak... sakit..."
"Kayak gini aja masa sakit, jangan bohong... diam dan jalan terus aja..."
"Ihh... Kak..."
Brill membawa Holly ke meja teman-teman mereka yang udah duluan mengambil tempat duduk. Holly dibantu Brill duduk dan dia tetap berdiri hingga Holly duduk dengan baik lalu dia mengambil posisi duduk di sebelah Holly.
Holly jelas aja cemberut karena gak suka dengan tingkah Brill padanya. Di sisi sebelah ada Joy sedang melihat menu.
"Kenapa gak bilang ada Kak Brill ikut kita?"
Holly berbisik pada Joy.
"Kalau kita kasih tahu kamu bakalan gak ikut."
"Iya emang... gimana sih kamu Joy... mau balik udah jauh ini..."
"Tenang aja, ada pacar si Brill di depan... tuh si Aldea."
"Ada pacarnya? Terus kenapa dia duduk deket aku?"
"Gak tahu... acuhin aja lah..."
Holly menghembuskan napasnya dengan kuat, jadi sadar ikut atau gak ikut nyatanya sama aja jadi masalah buat dia. Ada dua cowok yang mengganggu ketenangan bathinnya, yang satu cowok yang paling disayang, satunya lagi bukan siapa-siapa tapi paling nyebelin. Air mata selalu menjadi penyelesaian buat hatinya yang resah dan sakit. Dia keluar dari tempat duduk pura-pura batuk lalu ke luar dari rumah makan itu, di luar dia mengeringkan airmatanya sambil membujuk hatinya sendiri untuk tegar, ada banyak orang di sini, masa harus menangis.
.
π±
.
Di sisi lain, Tenry sibuk banget. Tapi ada hal yang mengganggu sepanjang hari, setiap kali angka tanggal hari ini disebutkan entah oleh mulutnya sendiri atau karyawannya, dia merasa ada sesuatu dengan tanggal delapan belas ini tapi gak bisa mengingat apa itu. Pekerjaan yang begitu padat, mengontrol sendiri memastikan semua pekerjaan berjalan baik, membuat dia gak sempat berpikir tentang arti angka delapan belas buatnya.
Saat malam hari, dia mengecek ponselnya, ada banyak panggilan dari Holly seperti kemaren, kali ini dia merasa harus memastikan apa yang diinginkan Holly Tenry tertawa membaca beberapa chat Holly, hanya sebuah kata, yaitu namanya...
Ada rasa kangen dengan cepat menyebar ke seluruh pori-pori, gadisnya mulai manja sekarang, tapi sejauh ini kemanjaan itulah yang sering membuat dia bahagia. Terlebih belakangan suka menyentil soal nikah, itu menggemaskan.
Panggilan dia lakukan, terjawab tapi gak ada suara. Diulang lagi, sama nasibnya.
Tenry membaringkan tubuh lelahnya di tempat tidur, pikirannya menghitung, ternyata tiga hari gak melihat kekasih hati, dan gak menelpon juga. Rentetan panggilan tak terjawab pasti karena rindu, apalagi bentar lagi dia ulang... taaahun.
Bodoooh... kenapa aku lupain ulang tahun Lingling sih...
Tenry berdiri terburu-buru dari tempat tidur, langsung turun dan menyambar kunci kontak.
Pantas aja tanggal delapan belas seperti sesuatu yang penting, ternyata emang penting...
Kokoooo... no comment akunya πΆπΆππ
.
π¦
.
__ADS_1