Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)

Musim Akan Selalu Berganti (Cerita Cinta Holly)
Eps. 33. Koko Nyebelin


__ADS_3

Hari ini sejak tiba di rumah jiwanya langsung terpanggil membereskan rumah. Ajaibnya, gak ada yang berani suruh-suruh termasuk mama walau tetap aja omongan masih nyelekit.


Akhirnya setelah beberapa jam Holly bisa istirahat, sejenak ia meregangkan tangannya melepas rasa lelah di tubuh kecilnya, cape langsung terasa karena udah lama gak pernah beraktivitas seberat ini. Tapi Holly senang bisa 'memanusiakan' lagi tempat tinggal sempit itu, udah bersih dan rapih lagi sekarang.


Dengan perasaan puas Holly memanaskan air untuk membuat teh, minuman hangat yang selalu jadi pelarian saat tubuhnya seperti ini. Di luar hujan masih turun walau tidak selebat tadi, cuaca yang pas untuk minuman hangat. Teringat mama, Holly sekalian membuatkan untuk sang mama.


"Ma... ini teh hangat, aku taroh sini ya..."


Mama hanya melirik dan meneruskan menjahit. Holly duduk di depan meja besar tempat mama menggunting bahan. Ada baju-baju yang udah selesai tinggal dikelim aja, Holly tergerak untuk melakukan apa yang dulu jadi kerjaannya.


"Kamu gak balik dengan Hanie kan?"


Suara besar mama mengejutkan Holly yang sedang konsentrasi dengan keliman baju.


"Hahh? Eh... masih balik sama Hanie ma, aku udah lulus ujian masuk, udah daftar ulang, gak lama lagi kuliah..."


"Keras kepala bener kamu Holly, ingat mama gak mau direpotin dengan uang kuliah segala macam."


"Gak ma, Hanie janji dia yang biayai kuliahku..."


"Ya udah, balik ke rumah lagi, terserah mau kuliah kek mau apa yang penting tinggal di sini lagi..."


"Nanti aku ngomong ke Hanie, ma..."


"Otakmu di lubang wc hahh? Siapa yang orang tua, kenapa harus tanya Hanie?"


Holly gak menyahut lagi, diam meneruskan pekerjaannya. Udah lama telinganya tidak mendengarkan kosakata serta intonasi 'indah' begini jadi berdengung telinganya. Beberapa saat kemudian...


"Ses Ibeth... selamat sore..."


Seorang ibu dandanan sosialita masuk ruangan sambil menutup payung besar warna-warni, dan meletakkan sebuah plastik hitam besar di lantai.


"Oh sore bu Rikha... mari-mari..."


"Gimana baju saya?"


"Holly... sudah selesai soomnya?"


"Tinggal 1 ma, di bagian tangan... gak lama lagi tante..."


"Oh syukur deh... biasanya kan berapa kali saya bolak-balik baru selesai..."


Si tante Rikha senyum sinis dan tanpa disuruh langsung duduk di sebuah kursi plastik.


"Lima-limanya udah selesai kan ya?"


"Iya bu Rikha..."


Mama berusaha menjawab sopan, maklum bu Rikha salah satu pelanggan yang masih setia menjahitkan pakaian dengan jumlah yang banyak setiap kali karena gak suka model yang dijual di toko katanya, padahal sih mungkin alasan ukurannya aja yang jarang tersedia.


"Ses Ibeth, gimana... ada gak orang yang mau kerja di tempat saya?"


"Masih saya cari bu Rikha..."


"Secepatnya ya... kerjaannya ringan kok, cuma bersihin tempat kost sama bantu-bantu sedikitlah di tempat laundry punya saya... ini mau rame lagi kan, udah mulai banyak mahasiswa lagi nyari kost, saya butuh orang secepatnya..."


"Iya bu Rikha, nanti saya nanya ke orang-orang kompleks mana tahu ada yang butuh kerja?"


"Atau anaknya ses Ibeth aja? Ada kan anak perempuan ses ibeth yang belum nikah? Siapa tahu mereka butuh kerja?"


"Nanti saya tanya anak-anak dulu bu Rikha..."


"Ini yang suka anter jahitan kan ke rumah?"


Ibu Rikha menatap Holly tepat saat Holly mengangkat muka.


"Eh... iya itu saya bu..."


"Ini... udah selesai bu Rikha..."

__ADS_1


Mama mengalihkan sambil menyimpan lima buah dress yang sudah selesai di sebuah kantong.


"Oh iya... saya bawa bahan lagi, ada tujuh potong... saya bawa modelnya juga ses..."


Holly beranjak dari ruang jahit mama saat melihat Hanie muncul di ambang pintu.


"Berangkat sekarang?"


Holly berbisik, Hanie menatap heran.


"Mama gak kasih aku pulang ke toko..." lanjut Holly.


"Ya udah, bentar... aku kunci kamarku, kamu duluan aja keluar ke jalan besar, nanti aku nyusul dengan motor... mumpung mama ada tamu, dia gak akan pedulikan kita lagi..."


Merasa berat sebenarnya pergi tanpa pamit sama mama, sebulan lebih tinggal beda rumah perasaan Holly terhadap mama justru berubah. Dulu dia sering merasa dianaktirikan tapi sekarang jadi kasihan karena gak bisa membantu sang mama.


Holly bergegas masuk, ponselnya ada di kamar Hanie.


.


Sore hingga malam Holly tertidur di sofa, tadi saat sampai di toko, badannya udah gak kuat menahan lelah dan mengantuk akhirnya dia melempar tubuh kecilnya ke sofa itu. Holly terbangun saat merasakan usapan di pipinya, tadinya dia pikir sedang bermimpi, tapi kakinya terasa sakit sebuah sensasi karena ciuman mesra nyamuk yang banyak masuk ke toko menjelang malam hari.


Usapan makin terasa, itu nyata, karena ibu jari kakinya yang dia gosok-gosokkan ke area kulit yang sakit di punggung telapak kaki, juga terasa nyata. Tak lama kemudian terasa sesuatu melekat di pipinya...


Ini mimpi kan ya... kok indah banget sih...


Holly merasa masih sedang tidur tapi juga seperti nyata ada seseorang sedang memberi beberapa ciuman kecil di pipi dan dahinya. Napas wangi yang tercium karena sebuah tiupan di matanya, Holly menggerakkan kepalanya menghindari angin buatan yang sangat lembut yang terus menerus menerpa kelopak matanya.


Apa sih ini?


Holly masih enggan membuka mata sekalipun dia kini sudah benar bangun. Dia hanya menutup matanya dengan tangannya. Sebuah tangan menyingkirkan tangan Holly yang baru mendarat sempurna di bagian wajahnya, kemudian tiupan angin lokal kembali terasa kali ini lebih kencang dan bukan hanya di mata tapi di seluruh wajahnya.


Holly membuka mata dengan malas dan kaget ada wajah tampan sedang memamerkan senyum terbaiknya deket banget. Spontan mau bangkit berdiri tapi tertahan lengan kokoh yang kemudian mengunci tubuhnya.


Sejak kapan aku tidurnya di pangkuan Koko? Kenapa Koko jadi suka nempel-nempel kayak gini?


"Muaaaach... kangen sama Lingling..."


"Ehhh... ini... Holly berdiri ya Ko..."


"Gak usah..."


Si Koko malah mendekatkan wajah lagi dan mengambil satu ciuman kali ini lembut banget, menempel di bibir mungil Holly. Ahh... Holly jadi kehilangan gaya angkat pada tubuhnya, tekanan di bagian punggung untuk bangkit langsung menghilang, ciuman lembut itu begitu membius seorang Holly.


Sesaat setelah sebuah keintiman kecil, Holly mendapatkan lagi gaya angkat melawan gravitasi yang mengikat punggungnya tanpa bertanya lagi langsung berdiri dan duduk menyempurnakan kesadaran akalnya dengan melakukan regangan kedua lengannya ke atas. Aduuhh si Koko mulai sering kasih afeksi yang membuat Holly merinding.


"Kenapa?"


"Sedikit kebas Ko... kelamaan tidur kali..."


Holly menjawab pelan padahal sedang menentramkan jantung yang tiba-tiba berdentum.


"Cape banget ya... tidurnya lama banget?"


"Koko udah lama di sini ya?"


Holly balik bertanya mengusir deburan dada yang belum normal.


"Udah hampir dua jam, kamunya pulas banget..."


"Terus, Holly tidur di... di... itu ehh kakinya Koko sejak kapan?"


"Sejak Koko dateng lah..."


"Hahh?"


"Hahaha... barusan kok, sengaja Koko gituin biar cepet bangunnya... Mandi Ling... ikut Koko makan di luar..."


Si Koko mengusap lembut rambut pendek Holly.

__ADS_1


"Makan di mana?"


"Ada lah... ikut aja..."


"Mau makan apa?"


"Nanti kita cari bareng..."


"Di mall ya?"


Tenry tertawa, mode anak kecil yang suka bertanya dengan pertanyaan pendeknya membuat dia gemesss. Pipi Holly dijawil si Koko.


"Udah... sana mandi dulu, udah bau keringat tau gak..."


Holly berdiri dengan senyum malu.


"Siapa suruh deket-deket Holly..."


Ucapan dengan reaksi malu juga sedikit rajukan keluar dari bibir mungilnya sebelum melesat ke kamarnya, jadi menyesal udah tertidur di luar. Gak lama...


"Mandi kok cepet banget? Jangan-jangan gak bersih..."


"Ihh... Holly udah mandi sebenernya tadi sehabis Holly kerja di rumah mama, tapi karena Koko bilangnya Holly bau jadi Holly mandi lagi..."


Sekarang bener-bener merajuk, senyumnya menghilang lalu balik lagi ke kamarnya, udah gerak cepat biar Koko gak menunggu lama, malah dibilang gak bersih mandinya...


"Eittt mau ke mana, ayo berangkat... Koko udah laper..."


Tenry meraih tangan Holly yang sudah menjauh darinya.


"Holly mau mandi lagi..."


"Hahaha... Koko becanda tadi..."


Tenry menjepit hidung Holly dengan gemes, lalu mengamit tangan Holly lalu menuju tangga turun, Holly mengikuti tapi masih dengan mode merajuk, bibir mengerucut.


"Koko bilang Holly bau juga becanda?"


"Iya... sayang... hehe"


Holly mengerling kesal, Tenry tertawa.


"Bentar Ko... mau pamit Hanie..."


"Hanie udah berangkat sejam yang lalu..."


"Ke mana?"


"Gak tau... ke rumah pacar kali..."


"Hanie gak punya pacar, Ko..."


"Tau dari mana gak punya pacar?"


"Ya tau lah... gak pernah liat juga nelpon atau bilang punya pacar..."


"Sok tau ahh..."


"Eh gak sok tau Holly... ihh Koko dari tadi nyebelin..."


Holly melepaskan rangkulan Tenry dan berjalan lebih cepat, langkah kecilnya dengan cepat dijejeri Tenry sambil meraup jemari gadis kecil yang udah mulai lepas gak menjaga jarak dengannya lagi, udah mulai banyak macam sikap yang ditunjukkan pada Tenry, dan cinta seperti mencuci otak cowok ini, semakin Holly menunjukkan sesuatu, semakin banyak yang Tenry lakukan... sebuah ciuman gemas dilabuhkan di pipi Holly.


"Aduuh Koko... ini lagi jalan, Holly lagi marah juga... dicium-cium gitu..."


Hahhh... Tenry tambah gemes melihat tampang marah Holly.


.


Maafkan yaaaa, lagi banyak kerjaaan...

__ADS_1


Sampe gak tau mo nulis seperti apa... maafkan kali ini datar dan mungkin receh banget...


🤦🤦🤦🤦🤦


__ADS_2