
Di kamar mereka, menjelang tidur...
"Koko... masih gak mau ngomong sama Lingling?"
Tak ada reaksi... Tenry tidak mengacuhkan Holly sejak dari kafe.
"Koko... Lingling salah apa?"
Holly menggoyang lengan suami, dia merapat ke tubuh suaminya memeluk dari samping. Tenry malah membalikkan tubuh membelakangi Holly.
"Koko marah ya, karena kak Brill datang tadi? Lingling gak ngundang dia loh, Lingling gak tahu siapa yang ngajak dia datang... masa Lingling harus cari tahu ke teman-teman siapa yang ngajakin, entar mereka mikir terus kepoin terus jadi tahu Koko tuh cemburu sama kak Brill..."
Tenry bangkit berdiri, melirik dengan wajah kesal...
"Koko gak cemburu ya!! Koko gak suka aja ada dia... sekali lagi Koko gak cemburu!! Ngapain cemburu!!"
[Koko... perkataan gak cemburu yang diulang-ulang dengan sikap marah seperti itu justru semakin menunjukkan dengan jelas perasaanmu, penyangkalan menunjukkan yang sebaliknya, isshh Koko ck ck 🙄]
Tenry keluar dari kamar dan menutup pintu dengan kasar, meninggalkan istri yang sakit hati mendengar suara besar dalam teriakan suami, gak terima juga kemarahan suami jika soal Brill, dia merasa gak salah. Sempat berperang dalam hati, ada sih sedikit perasaan bersalah soal pelukan ucapan selamat dari Brill, tapi itu kan dia gak minta... gimana besarnya kemarahan suami ya... kalau suami datang lebih awal lalu menyaksikan adegan tadi... tapi sakit merajai sekarang, buliran airmata jatuh tak tertahan lagi.
Beberapa hari berlalu, Koko konsisten bersikap dingin membuat Holly juga malas untuk mencoba memperbaiki hubungan, karena dia juga merasa gak salah.
.
🕷
.
Suatu sore... setelah berhari-hari pasangan ini gak saling bicara...
"Pak... tadi ibu titip pesan... ibu udah pulang lebih dulu..."
Tenry hanya menganggukkan kepala pada karyawan kafe saat Tenry muncul di sana. Tanpa naik lagi ke ruang atas Tenry berbalik ke mobilnya, langsung menuju rumah.
Di rumah...
"Malam pak... ibu udah makan duluan, bapak mau makan sekarang?"
Nita si ART yang menyambut Tenry pulang.
"Ibu mana?"
"Ada di rumah depan sama Echa pak..."
Tenry terdiam sejenak, istri gak mau pulang bersama, gak menunggu dia makan malam, gak ada di rumah saat dia pulang, apa mau bersikap marah juga? Tenry menghembuskan napas kesal.
"Saya mandi dulu baru makan..."
"Baik pak..."
Keesokkan harinya, Tenry terbangun dan menyadari Holly dan si kecil tidak masuk kamar mereka, dia tertidur agak larut sebenarnya menunggu mereka juga hingga akhirnya tertidur.
Apa tidak pulang semalam? Apa nginap di rumah mama?
Tenry turun ke lantai bawah rumah mereka. Biasanya dia akan turun setelah mandi, kali ini dia penasaran tentang istri dan anaknya.
"Echa mana? Apa sarapan di rumah mama?"
"Udah ke kafe pak... bareng ibu, katanya ibu ada perlu penting, saya diminta ibu siapin sarapan buat bapak, ibu gak bangunin bapak karena kasihan bapak cape katanya jadi ibu duluan berangkat.
"Tadi malam emm... apa ibu nginap di rumah depan? Saya kelelahan langsung tertidur setelah makan..."
"Iya pak... katanya Echa udah tertidur di depan... kasihan mau dibawa pindah lagi jadi sekalian ibu tidur di depan..."
__ADS_1
Tenry menjadi geram dengan kelakuan istri.
Jadi mau marahan ya? Oke!
Sore hari di hari yang sama, Tenry sudah ada di rumah, sengaja gak menjemput ke kafe karena kemarin istri pulang tanpa menunggunya. Sesampainya di rumah istri dan sang anak gak ada, ingin menelpon tapi gengsi. Setelah makan malam sebuah bunyi notifikasi di ponselnya, Tenry menyambar ponselnya dan membaca chat dari istri...
Kami di kafe...
Pendek aja tapi langsung membuat Tenry meninggi emosinya, hampir dia membanting ponselnya sendiri. Istrinya sedang membuat jarak... iya dia juga begitu. Tapi soal meninggalkan rumah, Tenry sangat emosi soal ini. Tenry naik ke kamar mereka dengan dada yang seperti mau meledak karena amarahnya, dia berkacak pinggang sambil mengatur napasnya mengendalikan emosi. Selama pernikahan ini kejadian pertama mereka terpisah rumah karena pertengkaran.
Tenry jadi menyesali membuat rumah kedua buat mereka tapi di saat bersamaan dia menyadari rumah itu kebutuhan mereka juga, tapi bukan untuk dijadikan tempat melarikan diri, dia sama sekali tidak suka kelakuan istri yang ini.
Tenry keluar kamar dan menuju teras di bagian luar lantai dua, berdiri di sana sambil bersandar di railing pagar teras itu. Dia mengatur napas untuk mengontrol diri sendiri. Perlahan kilas balik semua hal memenuhi otaknya, menelisik hingga akar masalah. Dia kemudian menyadari masalah berawal dari dirinya, bersikap gak dewasa karena terbakar api cemburu yang enggan diakuinya.
Brill penyebab rasa cemburu sehingga dia gak berpikir logis lagi sekalipun istrinya sudah memberi penjelasan. Sikap dinginnya beberapa waktu, mungkin dua atau tiga minggu ini membuat istrinya pergi, tapi egonya juga masih memunculkan lagi emosinya ke permukaan, dia gak suka Holly meninggalkan rumah seperti sekarang...
.
🕷
.
Hari kelima menginap di kafe...
Setelah mengirimkan sebuah chat singkat, Holly gak menghubungi suaminya. Tenry juga sama, gak pernah singgah di kafe atau pun mengirim chat atau menelpon. Sama-sama sedang bertahan di titik kebenaran masing-masing, Holly yang sakit hati suami mendiamkannya, tersinggung karena suami pertama kali berteriak dan membanting pintu untuknya, gak terima kemarahan suami yang menurutnya gak beralasan... dan Tenry yang marah karena Holly meninggalkan rumah.
Entah... apa mereka saling merindu? Mengingat cinta mereka sekuat maut, sepertinya hidup berjalan begitu indah dan selalu hepi... ternyata ada fase ini buat mereka berdua.
Ci Cun muncul di kafe diantar Ivy...
"Ling mama ada pertemuan dengan beberapa teman mama, ada kegiatan sosial mama jadi panitia... mama mau menggunakan ruang VIP..."
"Iya ma... untung aja belum ada yang booking loh..."
"Syukurlah... teman mama sekitar dua belas orang, minta tolong siapin makan siang nanti ya... setelahnya ada snack sore juga..."
"Nanti Lingling yang kontrol sendiri soal itu..."
Ci Cun tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan yang dia minta untuk mempersiapkan ruangan itu.
Di sore hari, setelah selesai kegiatan ibu-ibu perkumpulan sosial yang Ci Cun ikuti. Ci Cun melihat jam di tangannya, anak lelakinya belum muncul juga. Di tempat lain di kafe itu Holly sedang gelisah, gak ingin Ci Cun mencium pertengkarannya dengan si Koko. Dia berhatap kesibukan Ci Cun akhir-akhir ini membuat dia tidak sempat mengetahui kalau Holly sekarang tinggal di kafe. Dia takut sebenarnya jika Ci Cun mencari Ezar, tapi saat bertanya pada ARTnya, Ci Cun tidak pernah menanyakan Ezar.
"Ling... Koko ke sini kan?"
"Ehh gak tahu ma... Koko gak kasih tahu, tapi biasanya jam segini udah di sini..."
"Coba kamu telpon..."
"Ehh ohh udah ma... tapi gak tersambung, Koko mungkin ke proyek..."
"Jadi... biasanya kamu nunggu di sini atau langsung pulang?"
"Biasanya nunggu di sini ma..."
"Ehh beberapa hari ini mama gak lihat Echa kayaknya... kalian nginap di sini ya?"
"Hah? Ehh iya ma... karena Koko sibuk di proyek..."
Ci Cun mangut-mangut, tapi Holly mulai gugup. Sejak tadi dia membangun lapisan perlindungan diri dengan beberapa dusta pada mama mertua, biar aroma pertengkaran suami istri gak tercium mama mertua terbaik ini.
"Ohh... Di sini ada mobilmu kan? Mama numpang pulang ke rumah ya... Ivy gak bisa ke sini, dia masih di rumah temannya lagi buat tugas kelompok..."
"Ehh? Iya ma..."
__ADS_1
Bagaimana ini? Harus pulang ya? Aduuh gimana cara menolak mama mertua? Gengsi mau pulang, Koko sendiri gak ngapa-ngapain, dicariin kek, ditanyain kek... ini malah didiemin... Apa gak kangen Lingling eh... maksudnya masa gak kangen anak sendiri...
Batin Holly bergolak, dan tentu saja sungkan mau menolak sang mertua, bisa-bisa Ci Cun jadi tahu pertengkaran mereka, dia malu.
"Ayo Ling... kita pulang aja, nanti kamu kasih tahu Koko gak usah ke sini lagi... Echa mana?"
"Ehh ada di ruang atas ma..."
"Suruh mereka turun aja, kita pulang... mama cape..."
Holly gak berdaya, mau tidak mau harus pulang ke rumah, merasakan jengkel juga harus dia yang mengalah tapi mau bagaimana lagi.
Di ruang atas...
"Suster... kita pulang ke rumah sekarang... gak usah bawa apa-apa dari sini..."
"Iya bu..."
"Echa... ayo turun... kita mau pulang..."
Holly meraih tangan anaknya.
"Puyang... puyang... Piji papi..." [pergi]
Echa mengikuti langkah sang mami sambil berceloteh dan melompat-lompat.
"Papi?"
Holly heran tiba-tiba anaknya menyebut papinya.
"Tadi bapak menelpon bu, bicara dengan Echa..."
"Ohh..."
Kangen juga ternyata sama anaknya... sama istri gak...
[Yang lagi merajuk ternyata pengen dikangenin 🤭]
.
Mau tidak mau Holly memarkir mobilnya di rumah sendiri, gak lucu juga minta menginap di rumah mertua sekarang sementara rumah mereka hanya berhadapan. Waktu kemaren bisa pura-pura gak ada apa-apa dan memakai alasan kasihan Echa sudah tertidur... ini si Echa masih segar bugar, sepanjang jalan berceloteh menjawab semua pertanyaan si Ama, mengikuti si Ama bernyanyi lagu bahasa ibu dari sang mertua yang sering diajarkan pada Echa.
Turun dari mobil Echa gak sabar dengan langkah cepatnya masuk ke dalam rumah, anak sekecil itupun bahkan mengingat rumahnya. Holly menghembuskan napas sambil menyusun rencana di pikirannya bagaimana berhadapan dengan suami...
Di dalam rumah... sang anak dan papinya saling melepas kangen, Echa sudah ada di gendongan sang papi dengan tubuh melayang sedang bermain pesawat terbang. Holly berdiri sejenak menunggu sapaan sang suami... saat suami seperti tidak mengacuhkan dirinya, Holly naik ke ruang atas, dia belum sempat mandi tadi, baju mereka ada di atas jadi dia harus naik ke atas, ke kamar mereka.
Holly masuk ke kamar mandi, membersihkan diri juga menyelidiki hatinya, apa masih tersimpan marah pada suami... yang ada sekarang justru rasa sedih suami enggan melihat padanya.
Beberapa waktu menunggu, suami dan anaknya gak muncul di kamar, akhirnya Holly naik ke sisi dalam tempat tidur, berbaring di sana masih dengan sedih yang menguasai hati, butiran airmata luruh sekarang, Holly memutar tubuh menghadap dinding tangisan tanpa suara akhirnya kembali mewarnai saat sendiri di kamar besar mereka.
Waktu terasa lambat berlalu sampai akhirnya pintu kamar berderit tanda sedang dibuka, langkah berat suami mendekati ranjang, tekanan di kasur serta erangan kecil yang dikenalnya, suara Echa jika tidurnya terganggu, rupanya anaknya bermain hingga tertidur bersama sang papi. Spontan Holly membalikkan badan, tak sempat mengeringkan airmatanya tangan langsung terulur menepuk bagian luar paha anaknya, seperti biasa untuk menidurkan Echa lagi, Tenry juga melakukan hal yang sama, tangan sempat bersentuhan...
"Udah lama bobonya?"
"Udah"
Tanpa sengaja mereka bercakap, tapi terlihat sama-sama enggan meneruskan, sampai keduanya tertidur di tempat tidur yang sama, gak ada yang coba memulai untuk berinteraksi...
.
🍀
.
__ADS_1