
~ Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang terbaik dalam hidupnya. Sepanjang waktu dia coba melakukan sesuatu yang baik tetapi menyesalinya kemudian, lalu mencoba lagi. ~
"Koko, temenin mama ya..."
Ci Cun bersabda dari kursi kebesarannya.
"Ke mana?"
"Mama mau menghadiri undangan nanti malam..."
"Ma... sekarang gak hadir orang udah maklum..."
"Tapi ini penting Koko... undangan bu Gubernur, masa mama remehin. Gak usah khawatir protokol kesehatan mereka pasti ketat... aman mama rasa... Lagi pula ini private party katanya, ketahuan kalau mama gak hadir..."
"Kalau gitu pergi sama papa dong... masa Koko..."
"Tahu sendiri papa gimana, malas hadir acara resmi, gak suka memakai pakaian resmi..."
"Koko malas juga, ma..."
"Ko... Cici nikah sebentar lagi, mama udah terlanjur ngomong sama ibu Gub, gak enak udah meminta beliau hadir secara pribadi kemudian acara beliau mama gak peduliin..."
"Cici dong yang diajak, lebih cocok... lagian masa aku cowok diajak ke acara orang tua..."
"Ko... Cici lagi sibuk-sibuknya... kita juga perlu menjaga hubungan baik kan dengan orang-orang seperti mereka..."
"Mama udah jadi ibu sosialita sekarang... mainnya sama ibu-ibu pejabat sama ibu-ibu pengusaha... dulu mana pernah... mama keren sekarang Ci..."
Ivy yang mengoles roti nimbrung, Beyvie hanya senyum dan tetap menikmati sarapannya. Suasana hangat pagi hari kembali bisa dinikmati mereka di sekeliling meja makan ini.
"Koko..."
Ci Cun masih menunggu anak lelakinya mengatakan ya... gak menanggapi ocehan Ivy.
"Iya... iya... Koko mengantar doang, gak ikutan masuk..."
"Tapi harus rapih..."
Tenry menekukkan wajahnya, terpaksa banget mengiyakan permintaan mama.
"Cici, mama pinjam dress kamu ya... yang polos dan gak norak..."
"Ya ampun ibu sosialita minjam baju... beli dong ma..."
"Untuk apa De... buang-buang uang, punya Cici banyak..."
Tenry selesai sarapan, keluar tanpa bicara.
"Koko... jangan ke kost dulu..."
"Iya..."
Teriak Tenry dengan nada kesal.
.
🌱
.
Setelah sempat terhenti beberapa bulan, usaha di ruko ini mulai menggeliat lagi. Kesehatan Keke semakin pulih baik dirinya maupun kandungannya, itu sebabnya mereka kembali ke sini. Dengan perut membuncit di usia kandungan delapan bulan, Keke gak tahan untuk gak bekerja. Beberapa karyawan masih minta waktu lebih panjang untuk tidak masuk, tidak masalah karena usaha belum kembali normal, pelanggan catering berkurang setengah, pesanan juga belum banyak.
Holly mengawasi Junior yang sedang asyik bermain motor mini di depan ruko. Sesekali matanya menatap rumah kost berlantai tiga warna hijau putih beberapa puluh meter dari sini, berharap seseorang muncul dari sana. Dia akhirnya menyerah, rindu dan cinta terlalu menyiksa tapi dia gak punya keberanian untuk mengubungi lewat telpon, biarlah jika Koko yang menemukan dia sekarang, dan berharap Koko masih sama masih mencintai dirinya.
"Adek... gak boleh ke jalanan, banyak mobil..."
"Ndak ada tuh... mana?"
Anak kecil ini pintar menjawab semua hal, Holly harus punya banyak cara untuk membujuk biar anak ini mengikuti.
"Bawa ke jalan samping ruko aja, Holly..."
Tante Lenda baru pulang menenteng dua tabung gas, meletakkan di depan ruko lalu mengibaskan tangannya.
"Iya tante..."
Holly memegang motor yang menggunakan aki itu dan perlahan mengarahkan motor ke jalan samping.
"Biar saya yang jagain Junior, maminya Nior butuh bantuan..."
"Oh... iya om..."
__ADS_1
Benaya si papi yang mengambil alih sekarang, Holly masuk ke dalam. Padahal dia pengen berada selama mungkin di luar, siapa tahu ada yang lewat...
"Kak Keke katanya butuh bantuan..."
"Iya... ini dessertnya belum selesai udah siang... tolong kamu potong-potong jellynya dulu... Terus yang di sana nanti bantu packing ke keranjang..."
Keke menunjuk dessert yang sudah dalam kemasan dan sudah ready.
"Holly, nanti sore kak Keke minta bantuannya untuk ikut tante Lenda, ada pesanan katering, tapi orang kerja belum masuk semua, bantuin menata meja aja... tapi harus stay di sana selama acara, karena mereka minta full service, nanti tante Lenda jelasin gimana... Boleh ya..."
"Junior gimana, kak..."
"Ada papinya, nanti sore juga oma opa mau ke sini... Via juga bisa bantuin kan..."
"Ok kak..."
"Gak papa kan kamu, nanti kak Keke bayar sendiri deh untuk kerjaan yang ini..."
"Eh... gak usah kak... gak papa kok, hanya takut salah aja nantinya..."
"Gak berat hanya mengatur meja aja, mengontrol makanan entar saat udah jamuan makan... itu aja...
"Ok kak..."
"Ada seragam ya... kayaknya ada yang baru, tanya tante Lenda nanti..."
.
🌱
.
Ternyata gak sesuai perjanjian awal, Tenry akhirnya masuk menemani sang mama, pesta diadakan di sebuah rumah pribadi orang nomor satu di provinsi ini. Benar saja, hanya ada sedikit tamu dengan penerapan protokol yang ketat. Tenry harus menggunakan faceshield sama seperti tamu-tamu yang lain.
Dengan bangga Ci Cun menggandeng anaknya. Ibu-ibu temennya si mama mulai dengan pembicaraan klasik mereka, tak terkecuali tuan pesta. Acara malam ini adalah silver wedding serta syukuran dua anak di keluarga yang telah selesai pendidikan di strata satu dan dua. Tenry lelah berbasa-basi, dia tipikal yang gak menyukai pesta.
"Ma... nanti Koko jemput ya... males aku mulai dijodoh-jodohin kayak gini..."
"Bukan mama loh, mama gak ngomong apa-apa kan sejak tadi..."
"Sama aja, mama bawa Koko ke sini, itu udah jadi umpan..."
Tanpa persetujuan mamanya, Tenry meninggalkan kursi. Bosan menunggu, karena belum jam acara dimulai. Tadi mama takut terlambat jadinya seperti ini, Tenry melihat ibu-ibu yang anggun-anggun dan cantik-cantik ngebahas anak masing-masing, dan yang punya anak gadis mulai menyatakan keinginan mereka menjadi menantu Ci Cun.
"Tenry... ini anak sulung saya... Bierna... siapa tahu kalian bisa berteman baik..."
Tenry terhenti untuk keluar, di belakang ibu tuan pesta ada gadis dengan dandanan bak putri, ukuran setengah size dari sang mama berdiri tersenyum mengulurkan tangan.
Tenry menyambut malas dengan senyum singkat.
"Bierna..."
"Tenry..."
"Na... bawa Tenry, Kalian ngobrol aja... cari tempat yang baik, kasihan Tenry sendirian sejak tadi..."
Tenry menggaruk kepalanya, ini mau pergi bukan mau nyari temen ngobrol, tapi mau tak mau langkahnya mengikuti Bierna diikuti celotehan ibu-ibu yang merasa anak mereka gak bisa bersaing dengan anak dari sang ibu yang terhormat.
"Maaf..."
Tenry bersuara membuat langkah Bierna terhenti.
"Iya..." senyum manis dia di depan Tenry.
"Saya mau ke toilet, di mana ya?"
"Oh... ayo, masuk aja ke dalam kalau gitu..."
"Yang di luar aja, sebelah mana?"
Tenry punya niat mau kabur setelah acara ke toilet.
"Di belakang rumah, jauh... di dalam aja, deket kok, sebelah sini..."
Udah terlanjur bohong, terpaksa mengikuti gadis tinggi langsing itu. Di ruang tengah...
"Tenry?"
Seorang cowok dengan pakaian casual kemeja putih dan celana chino warna abu berdiri dari sofa besar khas rumah orang kaya. Ada beberapa anak seumuran di sana dengan gadget di tangan. Tenry coba mengingat, hafal sih mukanya tapi lupa nama. Jari telunjuk terangkat dengan mimik bertanya...
"Mmm..."
__ADS_1
"Brill... temen Holly... lupa ya?"
Fix... dia menyebut dengan jelas kegalauan yang belum tuntas di hati Tenry.
"Oh... iya, yang di mall kan?"
"Iya... bener banget..."
"Kamu... anaknya bu Gub juga?"
"Ponakan..."
"Anaknya walikota dia..."
Bierna menyambung.
"Serius?"
"Iya... kan papiku sama mami dia kakak adek..."
Bierna kembali menjelaskan, Tenry mengangguk paham. Tenry baru ingat kalau keluarga ini keluarga terpandang dan terkenal di sini, banyak di antara mereka yang terpilih menjadi pejabat publik.
"Pantas saat lihat kamu, kayak kenal pernah lihat di mana gitu..."
"Emang pernah lihat di mana..." Brill senyum masam.
"Di... baliho di jalan-jalan mungkin, setahun lalu?"
"Oh... baliho keluarga bahagia..."
Brill sekarang tertawa tapi sinis, entah pada siapa.
"Bierna... aku diantar Brill aja, gak enak kamu yang nganterin ke toilet..."
"Ya udah... aku juga perlu masuk ke kamarku, aku tunggu di sini nanti..."
Setelah Bierna berjalan Tenry berbisik pada Brill...
"Di mana jalan ke luar?"
"Bukannya nyari toilet?"
"Nyari jalan untuk kabur... gerah di sini..."
Mata Tenry melirik sebentar pada Bierna yang punggungnya baru menghilang di balik sebuah pintu.
Brill tertawa geli sekarang.
"Ayo... rupanya kamu mau dijadiin mangsa berikutnya..."
Kedua pria ini melangkah cepat mencapai pintu samping. Setelah di luar...
"Makasih bro..."
Tanpa menunggu jawaban Brill Tenry berlari menuju mobilnya.
"Udah bro aja baru sekali aku tolong..."
Brill teriak dan dibalas lambaian Tenry tanpa berbalik.
"Tenry... aku minta kamu lepasin Holly buatku..."
Brill teriak lagi dengan permintaan kacaunya, Tenry berbalik hanya karena mendengar nama Holly disebut.
"Hahh??"
"Holly!!!"
Tenry yang sudah jauh gak mengerti apa maksud Brill hanya melambai lagi lalu meneruskan menuju mobilnya. Halaman ini meskipun tertata apik tapi terlalu luas, sementara semua mobil parkir di luar pagar.
"Kakak memanggil saya?"
Holly berdiri di belakang Brill...
.
Maafkan jika ada hal2 yg tdk berkenan entah dalam cerita ataupun dalam balasan komen aku buat kakak2 semua, mungkin ngaco kayak Brill dan bikin tersinggung... maaafkan ya....
Terima kasih... Semangat semua 🙏🙏🙏🙏
.
__ADS_1
🦋
.